Stairway to Heaven

Just curious, mendengarkan musik rock era 70-an, googling beberapa situs dan ketemulah Led Zeplin. Berikut lirik dari lagu  Stairway to Heaven milik mereka yang diambil dari situs lyricsfreak. Untuk lebih menghayati, coba nyalakan speaker komputer anda dan dengarkan langsung nyanyian mereka. Mp3 ini diambil dari divine-music. Saya sendiri masih belum mengerti apa yang dibicarakan dalam lagu ini, ada yang punya ide?

Stairway to Heaven
by Led Zeplin

Theres a lady whos sure
All that glitters is gold
And shes buying a stairway to heaven.
When she gets there she knows
If the stores are all closed
With a word she can get what she came for.
Ooh, ooh, and shes buying a stairway to heaven.

Theres a sign on the wall
But she wants to be sure
cause you know sometimes words have two meanings.
In a tree by the brook
Theres a songbird who sings,
Sometimes all of our thoughts are misgiven.
Ooh, it makes me wonder,
Ooh, it makes me wonder.

Theres a feeling I get
When I look to the west,
And my spirit is crying for leaving.
In my thoughts I have seen
Rings of smoke through the trees,
And the voices of those who standing looking.
Ooh, it makes me wonder,
Ooh, it really makes me wonder.

And its whispered that soon
If we all call the tune
Then the piper will lead us to reason.
And a new day will dawn
For those who stand long
And the forests will echo with laughter.

If theres a bustle in your hedgerow
Dont be alarmed now,
Its just a spring clean for the may queen.
Yes, there are two paths you can go by
But in the long run
Theres still time to change the road youre on.
And it makes me wonder.

Your head is humming and it wont go
In case you dont know,
The pipers calling you to join him,
Dear lady, can you hear the wind blow,
And did you know
Your stairway lies on the whispering wind.

And as we wind on down the road
Our shadows taller than our soul.
There walks a lady we all know
Who shines white light and wants to show
How evrything still turns to gold.
And if you listen very hard
The tune will come to you at last.
When all are one and one is all
To be a rock and not to roll.

And shes buying a stairway to heaven.

Keep Your Hand Clean or Get Dirty!

Sebuah mail lagi dari bos. Isinya, tasji' (apa ya bahasa Indonesianya, sudah terbiasa sih mengartikan model seperti itu dengan bahasa Arab. Aha, tulisan penyemangat) yup, itu yang saya maksud. Jangan lekas cepat menyerah, harus percaya diri dan bekerja dengan penuh semangat, bla, bla, bla... Dalam bahasa Inggris, motivation letter. Dan tujuannya sebagaimana telah saya sebutkan adalah untuk memotivasi para karyawan agar bekerja lebih baik, bahkan walaupun hujan turun dan jalanan banjir, serta sungaisungai di Jakarta meluap. Intinya, sales bulan ini harus masuk. Ha, yang benar? Apa memang itu tujuannya? Apa mungkin ada korelasi antara suasana kejiwaan dengan suasana pasar yang entah kenapa sedang lemas terkulai? Atau janganjangan saya yang salah mengajukan pertanyaan. Semestinya, kenapa kamu dapat surat macam itu? Ada apa denganmu?

Well, semenjak saya bergabung dengan tim Jakarta ini, banyak sekali perubahan yang terjadi. Semua jadi jauh lebih etis dalam berbisnis. Kami tidak lagi menggunakan uang dalam melakukan deal dengan customer (peraturan ini sebenarnya sudah efektif diterapkan 3 tahun yang lalu). Penggunaan uang atau cash money bukan saja melanggar kode etik PEDFI, tentang pemasaran obatobat ethical kepada dokter tapi juga melanggar peraturan internal perusahaan sendiri, meskipun realitas di lapangan sangat berbeda sekali. Coba bayangkan, ada dua perusahaan farmasi yang menawarkan dua preparat yang serupa. Satu diantaranya mengimingimingi uang kepada dokter jika dia meresepkan obat produksinya dan perusahaan yang lain hanya mengatakan, 'dokter, saya sponsori untuk mengikuti event Kardiologi di Jakarta'. Kirakira? si dokter milih yang mana ya? Pilihan pertama, ia dapat uang sejumlah yang disepakati, dan kedua, ia hanya duduk dari jam 8 pagi sampai 4 sore, mendengarkan ceramah yang isinya lebih banyak disponsori perusahaan farmasi. Itukan seperti antara memilih dapat kail dengan 'cuci otak' obatobat terbaru! Kalau dia pintar, dan memang ratarata dokter itu begitu, dia akan terima uang tadi dan menunggu sampai detikdetik terakhir ditawari perusahaan farmasi yang gratisan. Dapat deh duaduanya, plus SKP untuk mengejar target 5 tahunan sebanyak 200-an SKP agar tetap buka praktek.

Tapi dalam undangundang PEDFI jelas. Pemberian uang atau cash money itu adalah sebuah pelanggaran. Dan sebagai wujud dukungan terhadap peraturan ini, sejumlah perusahaan farmasi asing (asing lho, PMA bukan dalam negeri) sepakat tidak menggunakan praktekpraktek kotor macam ini lagi. Dan memang di lapangan yang terjadi demikian. Perusahaan internasional besar macam Pfizer, Bayer, AstraZeneca dan Merck sudah bermain bersih. Dan syukurnya, dokterdokter pun sudah mengerti untuk tidak berbisnis uang bila yang berkunjung Medrep perusahaanperusahaan asing tadi. Cuma masalahnya, ya tadi. Ketika si dokter terjebak kedalam dilema moral dan katakan juga, ia tengah memiliki problem keuangan, pilihannya jelas dan sangat susah untuk ditolak. Lihat, betapa susahnya hidup lurus di negara ini. Si dokter tergoda dan Medrep-nya juga tergoda. Bukankah tujuan kunjungan mingguan itu agar timbul demand, kalau sudah sepakat, kenapa menolak? Win win solution bukan!

Tapi tidak semua dokter seperti itu lho. Beberapa diantaranya bahkan lebih kritis dan bergabung dalam sebuah kelompok bernama nofreelunch. Ini situs luar negeri, jadi permasalahan yang saya ungkapkan di atas, merupakan sebuah fenomena global. Industri farmasi dan healthcare sama seperti industri lainnya di dunia: profit! Ya iyalah, kalau ga profit, mana mungkin bisa gaji saya, memang uang datangnya dari langit apa!? Sekarang kita bayangkan lagi, dua kelompok yang memiliki pendirian yang serupa, samasama tidak berkeinginan untuk berbuat jelek, apa mereka bisa bekerja sama? Eeitts tunggu dulu, keinginan untuk tidak berbuat salah itu satu poin, tapi apakah preparat kamu bakal digunakan dokter, itu persoalan yang berbeda. Complicated ya.

Seperti profesi lainnya, dokter juga terikat dengan aturanaturan baku dalam penanganan pasien. Seorang pasien hipertensi, misalnya, mungkin cukup ditangani dengan Enalapril saja. Tapi, pasien hipertensi yang lain, sudah harus diberikan Bisoprolol karena memiliki komplikasi CHF atau post-myocardial infaction. Semuanya telah tertulis dalam guidelineguideline pengobatan yang diterbitkan lembagalembaga nasional dan internasional. Rujukan utama untuk hipertensi misalnya AHA (American Heart Association) di Amerika, ESC (European Society of Cardiology) di Eropa dan BHS (British Heart Society) di Inggris. Semuanya memiliki guideline pengobatan hipertensi masingmasing, yang meskipun mirip tapi memiliki sejumlah perbedaan kecil. Beta-Blocker seumpamanya, bisa digunakan sebagai firstline theuraphy pada hipertensi dengan komplikasi di AHA dan ESC, tapi tidak rupanya di BHS. Ia memiliki argumentasi berbeda, karena sumber penelitiannya yang berbeda dengan kedua lembaga lainnya. Masalahnya, hampir setiap penelitian yang berkaitan dengan guideline tadi, disponsori oleh perusahaan farmasi internasional. Dan jelas, sebuah penelitian level internasional itu harganya sangatlah mahal, bisa miliaran bahkan triliunan rupiah. Jadi, siapa sih yang mau rugi?!

Tambah pelik lagi, setiap asosiasi dokterdokter spesialis juga memiliki guideline pengobatan sendiri. Gaya pengobatan seorang internis misalnya berbeda dengan pengobatan kardiolog dan neurolog. Tidak ada yang lebih lucu dari perdebatan soal apa yang harus ditangani terlebih dahulu pada pasien hipertensi. Kata kardiolog jantungnya terlebih dahulu, agar tidak terjadi gagal jantung. Kata neurolog otaknya, agar tidak terjadi stroke. Yang lebih seru, macammacam obat yang berguna untuk hipertensi itu memang ada yang berguna untuk mengatasi stroke tapi ada juga yang mencegah gagal jantung. Semuanya memiliki indikasi yang spesifik. Jadi ada obatobat hipertensi tertentu yang laku keras di neurolog, tapi gagal total di kardiolog. Nah, di sinilah orangorang seperti saya masuk dan "mengkampanyekan" sejumlah guideline terbaru. Benarbenar perang konsep dan psywar!

Ah, tapi itu kan hanya di atas kertas saja. Realitas di lapangan kadang berbeda. Sewaktu saya tanya seorang dokter,
"...dok, apa dokter terpengaruh oleh guideline?"
ia hanya menjawab, "penggunaan obat itu individual, kadang satu cocok dengan obat ini, sedang yang lain tidak".
Lanjutku,  "...kalau pasien hipertensi, apa dokter bisa menggunakan Beta-blocker?"
dan jawabnya
"bisa saja...".
"atas dasar apa dok?"
"banyak hal" tanggapnya diplomatis.
Banyak hal. Dalam kamus besar perniagaan, ia bisa berarti apa saja. Mulai yang terpuji hingga yang tidak terpuji. Dari kerajinan mengunjungi dokter hingga permainan bawah tangan. No body know, because everybody knew! Kata sebagian orang, healthcare was'nt completely business field. Sebagian lagi bilang, business is business, ga peduli kamu terjun di bidang apa. Etika dan uang, sayangnya yang pertama selalu datang terlambat :D

Kembali menanggapi email bos saya tadi, sepertinya cuma itu saja yang dibutuhkan untuk mempertahankan eksistensi di dunia farmasi. Tasyji', tasyji', tasyji'! Apalagi saat ini di luar sana tengah hujan deras. Dan memang ini adalah tantangan yang berat kalau terjun di dunia bisnis. Stay keep your hand clean or completely involved and get dirty. Hey, ada ga sih pilihan yang lain?!



Big Bang for The Buck

Akhirnya, jadi juga. Setelah sekian lama merencanakan dan sudah begitu kesal akibat kerja komputer yang teramat lambat, pagi ini saya install ulang seluruh sistem operasi di PC. Tidak ada yang sulit dengan tindakan ini, tapi berhubung terdapat datadata penting yang tidak mungkin diabaikan begitu saja, proses install ulang harus melalui beberapa proses penyortiran terlebih dahulu. Langkah pertama, membeli UFD ukuran sedang, 4GB, sebagai storage sementara. Kemudian memindahkan berkasberkas penting kedalamnya, lalu format dan install.

Sistem operasi yang saya pasang adalah Windows XP SP2, sehingga bisa mencopot beberapa komponen bawaan Windows. Browser tetap menggunakan Mozilla Firefox 3.0.4, e-mail Thunderbird 2.0.0.16, photo viewer dengan Picasa 3, antivirus dan firewall Norman. Semuanya didapat dari DVD CHIP edisi Desember 2008 kemarin. Sebenarnya juga tidak ada yang berubah dari konfigurasi PC yang baru ini. Semua masih menggunakan mesin lawas Athlon XP 1600+, dengan memory DDR 256 + 512 MB Kingston. Hardisk masih Seagate Barracuda 80 GB PATA. Ada satu hardisk lagi, tapi sepertinya defect dan masih nganggur di dalam casing. VGA GeForce Fx 5200 , beli setahun yang lalu seharga tiga ratusan ribu, menggantikan ATI Radeon 9600 yang sewaktu merakit pada tahun 2004 silam berharga 1,3 juta. Sekarang, saat googling harganya cuma 300 ribu. Berarti defisit 1 juta rupiah atau 250 ribu setahun. Lumayan.

Kompi ini adalah pc kedua saya. Sebelumnya menggunakan sistem Intel Celeron dengan memori 128 MB dan hardisk 20 GB. Tetangga yang merakit. Waktu itu masih gatek bangat. Dan sebagai pembalasan, pc pertama itu jadi korban keisengan saya mengotakatik barang. Hasilnya, lebih dari 20 kali install ulang sistem operasi, dari mulai Windows 98, 98 SE, Millenium Edition, 2000 dan Linux Mandrake. Terkahir, waktu XP muncul, saya coba sekali tapi karena tidak kuat saya ganti lagi ke Windows ME. Benarbenar penasaran saja. Empat tahun kemudian, sistem ini mati total. Mungkin power supply, chipset motherboard, atau.. entahlah. Pastinya saya punya alasan untuk membeli PC baru. Dan setelah mengajukan anggaran yang tepat dengan alasan membuat skripsi, berangkatlah ke Mangga Dua 'hunting ria' komponen komputer dengan spesifikasi budget gaming!

Setelah beres, mulailah hardisk saya yang defect tadi dijejali berbagai permainan, mulai GTA, Morrowind, KONAMI PES 2, Mafia, Max Payne 2, Railroad Simulation 2006. Benarbenar mesin gaming yang tangguh, sampai kemudian mulai munculah bercakbercak aneh di layar komputer. Rupanya VGA ATi-nya rusak. Tapi tidak saya gubris. Baru kemudian sistem tidak stabil, dan Power Supply mati. Terpaksalah ganti dengan komponen yang baru. Yang saya sesali waktu merakit sistem ini adalah keputusan saya menggunakan chipset SiS, yang ternyata sangat lambat. Dan kemungkinan besar, ia kurang kompatibel dengan Ati Radeon. Saya bahkan hingga dua kali kembali ke toko guna menukar graphic card tadi. Benarbenar bikin kesal! Meskipun demikian, ada keputusan lain yang begitu saya syukuri. Saya menggunakan Logitech untuk keyboard dan mouse dan setelah lebih dari empat tahun, kedua benda itu masih awet dan responsif. Begitu halnya dengan Monitor SPC 15" yang meski telah diservis berkalikali dan berganti IC, masih juga kuat menemani hingga 8 tahun! Satusatunya barang "mewah" yang menemani PC jadul ini hanyalah speaker Klipsch Promedia 2.1, suaranya bulat dan mantap, meski kadangkadang sember ( saya rasa berhubungan dengan audio output motherboard yang sudah soak ).

Usai menginstall ulang, saya malah berpikir untuk mengganti sistem ini bila kemudian mati total lagi. Coratcoret sebentar, jadilah spek sebagai berikut:

  1. Athlon64 X2 5000
  2. Corsair Twin2x2048 PC 6400
  3. Enlight 450 watt
  4. Biostar 790GX XE Full Capasitor
  5. Sapphire HD 4830 512MB 256Bit GDDR
  6. Samsung LCD 17" 743NX
Pilihan saya masih pada AMD, karena perbandingan kinerja dan harga yang seimbang. Selain itu, sistem AMD saat ini ternyata jauh lebih dingin daripada sistem Intel. Dengan Chipset terbaru 790G ditambah ATi Radeon 4830 PCIe, dan monitor LCD Samsung, jadilah cukup bertenaga menangani gamegame baru maca Crysis dan Farcry2 tanpa menimbulkan panas yang tinggi. Karena tidak terlalu boros, maka penggunaan PS 450 Watt sudah mencukupi. Terakhir dengan dual channel DDR total 2GB, lumayanlah  bertenaga. Kalau ditotal, keseluruhan sistem baru ini, ditambah beberapa komponen dari sistem lama memiliki harga: 6 juta rupiah. Tapi itu bukan harga mati. Tinggal coret VGA dan Monitor LCD, harganya bisa turun hingga 3 juta. Bahkan, kalau tidak diperlukan, PS Enlight juga gak dibeli, sehingga bisa seharga 2 jutaan saja. Asyik kan.

Ah, daripada berkhayal, lebih baik langsung mencoba kinerja PC lawas pasca install ulang. Ups, ternyata lumayan cepat dan responsif. Saya bahkan memainkan game Sid Meier's railroad tanpa patahpatah dan browsing lewat Firefox tanpa waktu tunggu yang lama. Yah, kalau yang lama masih bisa, buat apa beli baru. Kalaupun harus beli baru, setidaknya mesti memenuhi motto saya yang paling utama: Big bang for the buck! Seimbang antara harga dan kinerja. Yeah! Let's surf!

Black Swan & Jaya Suprana

The Black Swan: The Impact of the Highly ImprobablePernah ingat tentang falsifikasi dan cara kerja ilmu pengetahuan? Nilai sebuah proposisi sebenarnya sangat tergantung sekali dari penemuan sebuah fallacy. Diktum yang terkenal, semua angsa adalah putih, sampai kita menemukan angsa berwarna hitam. Nilai kebenaran sesuatu bertahan secara relatif, hingga kita dapat menemukan antitesis darinya. Sebelum penemuan benua Australia, para ilmuwan masih tetap pada pendiriannya bahwa semua angsa itu putih, hingga kemudian ditemukanlah angsa hitam di benua kanguru tersebut dan secara otomatis pandangan semua angsa adalah putih menjadi gugur. Peristiwa eksklusi ini dinamakan dengan Black Swan, Angsa Hitam.

Dalam buku yang memiliki judul serupa, The Black Swan: The Impact of The Highly Improbable, karangan Nassim Nicholas Taleb, seorang Yunani Kristen kelahiran Lebanon, istilah Black Swan memiliki arti yang lebih dalam dari sekedar keruntuhan epistemik belaka. Black Swan bisa berarti sebuah loncatan sejarah, dalam riwayat ilmu pengetahuan sama seperti yang digambarkan oleh Thomas Khun dengan retakan epistemologi, sebuah keterputusan antara paradigma baru dengan paradigma lama. Sebuah perubahan yang tidak dapat diantisapasi bahkan oleh ramalanramalan para ekonom paling hebat sedunia. Dalam bahasa Wittgenstein, ia berarti sebuah peneguhan bahwa das welt itu berbeda dengan weltanschauung. Dimana yang kedua hanya ada dalam pikiran kita belaka, sedangkan yang pertama merupakan realitas yang unpredictable.

Ambil contoh, peristiwa Sebelas September di New York. Siapa yang bisa sangka bahwa al-Qaedah yang sebelumnya merupakan mitra bisnis dan partner Amerika dalam melawan hegemoni Uni Soviet di Afghanistan dapat menjadi musuh bagi negara adidaya itu. Dalam konteks yang lebih luas, seorang pemikir abad kesembilan belas tidak akan pernah menyangka bahwa umat Islam dan Yahudi bisa masuk kedalam konflik yang begitu dalam. Karena dalam pola pikir abad kesembilan belas, konflik yang potensial muncul justru antara Kristen Fundamentalis dengan kalangan Yahudi, adapun dunia Islam tidak pernah menganggap mereka sebagai musuh, hingga pemberian protektorat Israel oleh Inggris seabad kemudian. Sejak itu hingga sekarang, umat Islam dan Yahudi itu seperti musuh bebuyutan. Dunia selalu memberi kejutan yang diluar prediksi para pakar.

Skeptisisme empirik

Apa dengan demikian, Black Swan menjadi sebuah anti-knowledge? Atau seperti yang digambarkan oleh sang pengarang dengan anti-library-nya Umberto Eco? Atau mungkinkah ia serupa dengan Blink-nya, Malcolm Gladwell, sebuah kemampuan berpikir tanpa berpikir? Well, saya tidak akan melangkah lebih jauh, karena baru seperempat isi buku yang saya jelajahi. Tapi kalau mau berhipotesis barang sejenak, untuk sekedar membunuh sang pengarang dari otak saya, apa mungkin Barat telah mengingkari rasionalitasnya sendiri?

Begini, semenjak era Aufklarung, pengetahuan telah menjadi begitu positivis dan empirik. Semenjak itu, hanya yang rasional saja yang menjadi paradigma pemikiran modern kontemporer. Mereka mengacuhkan what behind reason, seperti agama. Dalam khazanah filsafat, pola pikir itu berpuncak pada positivis logis yang bersifat skeptik empiris. Mereka hanya mau menerima halhal yang dapat dibuktikan secara empirik semata, di luar itu tidaklah dapat mereka terima. Tapi sepertinya keadaan tidak terlalu berpihak. Dua perang dunia yang dahsyat, sudah cukup membuat rasio menjadi buntu. Mungkin sebagian besar Barat masih ada yang menolak adanya Tuhan, tapi sebagian besar dari mereka akan beranggapan bahwa ternyata rasio itu tidaklah mencukupi. Kehancuran sistem ekonomi yang berulangulang, dan kebangkitan new emerging nation jelas merupakan sanggahan akan kredibilitas pemikiran mereka yang superior itu. Puncaknya adalah post-modernisme.

Dengan situasi dunia yang semakin flat, tapi juga jomplang, post-modernisme berarti sebuah jalan alternatif yang terus tumbuh. Dan meskipun ia masih berlandaskan tradisi ilmiah yang ketat, tapi logika jauh lebih penting di sini. Sebenarnya juga, melandaskan pemikiran pada logika tidak serta merta membuat pemikiran itu ilmiah. Kita masih membutuhkan verifikasi empiris. Karena itulah, sebuah pemikiran yang terlalu logis akan membentuk sebuah dunia baru yang terkadang menjauh dari batasbatas ilmiah. Yang saya katakan di sini adalah mistisisme, psikologi Freudian, bahkan post-modernisme. Mereka membentuk sebuah meta-ilmu, id, alam bawah sadar pengetahuan manusia. Dalam bahasa Taleb, menemukan sesuatu yang tidak signifikan tapi memiliki high impact dalam kehidupan seharihari.

Dalam pembacaan selanjutnya, saya pikir apa yang dimaksud oleh Taleb dengan Black Swan itu sama seperti yang telah saya kemukakan di atas tadi, ternyata saya salah. Ia merangkak lebih jauh kepada skeptisisme empirik macam Hume. Berbicara mengenai skeptisisme, kita selalu menduga bahwa orang yang skeptis itu cenderung pesimis dan tidak percaya diri. Dari penjelasan sang penulis, baru tahu, ternyata Hume itu tipikal orang terbuka dan optimis yang tentunya seorang yang percaya diri. Di sini, skeptisisme tidak ditujukan untuk membatalkan suatu pemikiran, tapi lebih kepada sebuah pencarian sejati akan kebenaran.

Sebuah pernyataan "karena 90% teroris adalah Muslim, maka kebanyakan Muslim adalah teroris" jelas merupakan sebuah kesalahan berpikir. Bahkan apabila proposisi pertama diterima, maka angka 90% dari populasi teroris yang katakanlah berjumlah 20 ribu orang masih terlalu kecil bagi populasi umat Islam yang lebih dari satu milyar itu untuk disebut bahwa kebanyakan umat Islam adalah teroris. Hal yang sama dengan nasib seekor kalkun. Bila selama lebih dari seribu satu hari ia hidup makmur, bukan berarti kita dapat menyimpulkan bahwa kehidupan kalkun itu makmur. Karena kita semua tahu bahwa suatu saat kalkun akan menjadi santapan di meja makan kita. Tak peduli seberapa lama waktu yang digunakan untuk bersenangsenang, cukup satu kejadian yang dapat merubah semua pendapat terbaik tadi. Peribahasa kita mengatakan, karena nila setitik susu sebelangga tercemar.

Sayang sekali, kita tidak dapat mengenali pola pikir yang mampu melihat kemunculan Black Swan ini. Oleh Taleb hal tersebut dikarenakan pikiran kita yang telah terpola untuk menerima segala hal dalam konteksnya yang normal. Dan sayangnya, dunia memang tidak memadai untuk ditafsirkan dalam konteks tersebut. Beberapa kesalahan penalaran juga menambah sebab kenapa kita tak mampu menangkap fenomena Black Swan.

Kelirumologi

Seminggu yang lalu, dalam meeting nasional perusahaan, hadir Jaya Suprana sebagai pembicara dalam sesi motivasi. Sebenarnya juga, setiap tahun akan ada sesi ini. Tiga tahun yang lalu di Surabaya Andri Wongso yang tampil, setahun kemudian di Kuta, James Gwee dan tahun ini di Yogyakarta, Jaya Suprana. Mereka dihadirkan dengan tujuan memacu semangat kerja para karyawan. Yang menarik di sini  adalah si pembicara, Jaya Suprana. Bila dibandingkan dengan dua orang lainnya, ia jelas bukan seorang motivator. Pendekatannya begitu kultural dan sangat informal, tidak sistematis, dan dalam beberapa poin irrelevan. Selama sesi motivasi ia hanya bercerita ngalorngidul saja, bahkan judul utama yang terpampang jelasjelas, mengenai enterpreneurship hampir tidak dibahas sama sekali. Saya sendiri tidak begitu mengerti alasan pemilihan beliau. Meskipun demikian, dibalik pemilihan yang tidak tepat dari seorang pembicara, sebenarnya ada untungnya mengetahui pola pikir orang dekat Gus Dur ini.

Pada mulanya, pembicaraan dibuka dengan membahas krisis ekonomi di Amerika yang membuat sejumlah besar perusahaan ikut kedalam pusaran badai keuangan global. Suprana, sangat memuji perusahaan kami karena ditengah bertambahnya PHK justru menambah personil marketingnya. Ia pun melanjutkan dengan membahas betapa langkah berani ini merupakan sebuah pola pikir yang sangat positif. Krisis tidak dipandang sebagai sebuah halangan tapi lebih kepada kesempatan. Dengan penuh guyonan ia menggambarkan betapa bangsa Indonesia itu sebenarnya merupakan bangsa yang sangat tangguh. Ia mampu melewati sejumlah rintangan dengan selamat.

Bila dibandingkan masyarakat Jerman yang segala suatu direncanakan dengan seksama, krisis moneter yang terjadi di Indonesia, dengan struktur masyarakat yang kacau balau, mampu dilewati karena kita memiliki sebuah sense of urgensi yang sangat hebat. Istilah yang diperkenalkan adalah kepepetisme. Sebuah reaksi spontan yang melecutkan tenaga statis menjadi begitu dinamis. Hal ini jelas menjadikan dunia di Indonesia sangat tidak unpredictable. Penuh humor digambarkan tentang sejumlah mitologi kuno macam Sangkuriang, Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang, yang semuanya melibatkan pembangunan maha karya dalam waktu semalam sebagai bentuk kepepetisme masyarakat Indonesia. Dan mungkin karena itulah hanya bermodalkan bambu runcing kita mampu mengalahkan Belanda. Kata Jaya Suprana, itu karena kita tengah kepepet. Dan karena itulah ia juga percaya bahwa kenaikan target penjualan hingga 30% mampu dilewati dengan sukes, karena kita punya sense tersebut. :D

Yang menakjubkan, fenomena kepepetisme ini, ketika digunakan secara luas dimasyarakat juga menimbulkan banyak sekali kekeliruan. Yang paling lazim adalah kekeliruan penggunaan bahasa. Semacam penamaan air putih, dimana seharusnya air bening. Suprana mengakui hal ini sebagai sesuatu yang berwatak Indonesia, makanya ia menulis buku tentang kelirumologi yang bermaksud meluruskan halhal yang tidak lurus tersebut. Kalau saya perhatikan, inti dari kelirumologi adalah common sense sebagaimana yang diungkapkan oleh Russell. Dan memang dalam banyak sisi, saya melihat misi kelirumologi mirip sekali dengan citacita filsuf analitik di Inggris itu. Semua kembali ke akal sehat dan penggunaan logika formal yang baku. Dalam benak saya, apa mungkin Jaya Suprana tidak mengenal Saussure? Bukankah bahasa itu selalu memiliki dua buah kutub, kreativitas yang semenamena, arbritrary, dan kesepakatan sosial, conventional. Dalam kasus air putih tadi, jelas yang bekerja adalah sisi arbitrary bahasa baru kemudian masyarakat luas menerimanya sebagai sebuah penanda yang baku untuk H2o yang kita minum setiap hari itu.

Conscience

Kalau begitu, apa sih sebenarnya yang dituju oleh bang Jaya Suprana ini? Beberapa analisis kelirumologinya jelas tidak memiliki implikasi serius, bahkan saya malah memandangnya sebagai guyonan di warung kopi saja. Namun bila kita mendalami sejumlah analogi yang diketengahkan, tak pelak ia mengacu kepada sebuah pengetahuan yang lebih tinggi dari pengetahuan kita seharihari yang latah itu. Dalam bahasa Inggris dikenal dengan conscience, dua science. Orang Jerman menamakannya verstehen, kesadaran. Sebuah pola pikir yang sadar diri dan mampu berpijak pada landasanlandasan logis yang dapat dipertanggungjawabkan. Bila kita hubungkan dengan fenomena Black Swan, apa mungkin, metode Suprana tadi merupakan ikhtiar yang dalam untuk memahami adanya Black Swan?

Entahlah, tapi bila kita melihat paparan Taleb mengenai anti-library-nya Eco, bisa kita simpulkan bahwa penyingkapan Black Swan sendiri bukanlah melalui caracara yang tidak ilmiah dan tidak logis, tapi kepada sebuah pengetahuan yang secara tidak sadar kita tinggalkan dan dalam banyak hal belum kita ketahui karena sifatnya yang telah tertutup corak pemikiran kita yang telah terpola begitu dalam. Dan disadari atau tidak, cara Jaya Suprana tadi berhasil menumbuhkan kesadaran ulang mengenai pentingnya berpikir logis. Sebuah syarat utama mengenai kesadaran akan Black Swan. Sebuah kebodohan Socratic, kecerdikan Nasyruddin Hoja, serta kisahkisah aneh Abu Nawas.

Api & Cahaya (1)

Nurani itu berhubungan dengan dua cahaya, nur, cahaya,
dalam bahasa Inggris disebut conscience, dua pengetahuan
sayangnya bahasa Arab tidak mengenal kata nurani
mereka lebih kenal lubb, rongga, jantung.

ilmu itu berhubungan dengan 'amal, aksi, dan lam'un, kilapan cahaya
makanya dikatakan ilmu itu nur, cahaya.
nur punya akar kata yang serupa dengan nar, api.
karena memang pertama kali cahaya berasal dari api.

term nur 'ala nur, selalu merujuk kepada cahaya murni
yang digambarkan tidak tergantung lagi pada keberadaan api
ia merujuk kepada gagasan ilmu sebagai kilapan cahaya, nur yang berpendar
sebuah intisari yang telah terpisah dari keganasan api yang membakar, sebuah nurani.

Hawa nafsu itu sama seperti api yang membakarbakar liar
entah kenapa, pasangan Adam disebut Hawa, apa memang ia seperti itu?
Dalam tradisi Kristen, Adam jatuh karena memakan buah pengetahuan.
Makanya mereka bilang pengetahuan itu terlarang.

Dalam tradisi Islam, itu adalah pohon keabadian, syajarah khuldi
orang Arab pra-Islam itu memandang dunia sebagai khulud
sekarang dan selamalamanya, kita adalah abadi lalu mati
pemikiran tanpa konsekuensi.

Apa itu yang dahulu didekati oleh Adam?
Kehidupan tanpa tanggung jawab?
Hedonisme, seksualitas terlarang, hawa nafsukah?
makanya ia pun jatuh ke dunia, yang serupa dengan kata danaah, bawah dan rendah, hina dina.

Bisa jadi, pengetahuan Adam itu tak lain dari raw material yang belum selesai
ia masih sebuah hasrat yang teramat kuat dan rasa penasaran
ia masih berupa api yang membakarbakar dan menyalanyala di dada
ia masih iblis dan belum menjelma malaikat

Iblis dari api dan malaikat dari cahaya
hawa nafsu dari api dan ilmu dari cahaya
yang bergolak dari api dan yang tenang dari cahaya
nafsu lawwamah, jiwa yang terbakar, dan nafu muthmainnah, jiwa yang tenang

Karena iblis dari api, maka ia pun memiliki cahaya
cahaya ilmu yang panas membakar, merah dan menghitam
tapi cahaya Tuhan itu lebih biru dan murni
maka dikatakan, ilmu itu cahaya
dan cahaya Tuhan tidak diberikan kepada mereka yang berdosa


entah cahaya yang mana yang ada di rongga hati kita.

The Blueprint of My Life

Term blueprint, awal mulanya berasal dari disiplin ilmu arsitektur. Istilah ini bermakna sebuah lembaran kertas besar di mana struktur dan denah dasar sebuah bangunan dibuat, didokumentasikan dan kemudian disimpan agar apabila sesuatu hal terjadi dengan struktur bangunan tersebut, kita cukup melihat lembaran kertas ini. Menganalisis letak kesalahan yang ada tanpa harus membongkar bangunan yang telah jadi. Sebagaimana istilah lain yang bersifat trans-discipline, maka saya memaknai istilah ini sebagai sebuah guideliness perjalanan hidup saya yang akan datang. Ia melebihi sebuah resolusi yang hanya setahun itu, bahkan juga road map yang bersifat taktis. Boleh dikatakan, istilah blueprint saya gunakan dalam kapasitasnya sebagai sebuah kompas tujuan bukan jalan kaku yang getas. Dalam bahasa marketing, plan of action, rencana aksi.

Dasar

Lebih dari tiga tahun sudah saya merancang blueprint ini, yang memiliki cakupan lebih dari empat puluh lima tahun kehidupan saya ke depan. Berkalikali saya sempurnakan, saya renungkan konsekuensikonsekuensi yang ada, dan berapa besar cost yang akan dikeluarkan. Dan lebih dari tiga tahun itu pula saya belum melakukan start. Well, mungkin pikiran saya masih terbagi antara memenuhi panggilan hati dengan keinginan orang lain. Yang saya maksud itu orang tua saya. Itulah repotnya jadi anak pertama, semuanya kita yang bawa. Tapi ketika beban itu berangsurangsur pergi, dan mereka mulai bisa memahami jalan pikiran saya, berarti tinggal menjawab pertanyaan terakhir. Kapan kita akan memulainya? Dan dalam hemat saya, tahun ini akan saya mulai rencana empatpuluhlima tahun kehidupan saya yang akan datang.

Kalau ditanya, apa dasar dari rencana aksi ini. Saya hanya bilang bahwa itu merupakan hasil pergumulan pemikiran saya sejak kelas 4 di Gontor hingga saatsaat terakhir di bangku kuliah. Mungkin itu sebuah kemuakan yang sangat terhadap masyarakat kita, sebuah ajang pembuktian diri, sebuah loncatan spiritual dan intelektual yang dalam, sebuah kegelisahan yang kerap merongrong saya, bahkan juga sebuah etos. Yang entah saya sadari atau tidak senantiasa hadir dalam mimpimimpi saya. Dan setiap kali saya mencoba keluar dari rancangan ini, entah kenapa selalu muncul rasa bersalah dan gamang. Meski ketika kembali lagi kejalurnya, sebuah tantangan maha dahsyat yang menciutkan nyali telah menanti. Cuma entahlah, meski saya tahu jalan yang akan saya tuju itu tidaklah mudah, saya selalu melihat cahaya di sana.

Memang yang akan saya ketengahkan di sini, jauh dari sebuah blueprint yang sempurna, yang seharusnya: resonable, specific, challenging, dan measurable, sesuai koarkoar bos saya. Tapi setidaknya, sebuah rencana yang matang itu lebih baik dari rencana yang tidak matang. Dan rencana yang tidak matang itu jauh lebih baik daripada tidak ada rencana sama sekali. Entah apa yang bakal terjadi di tengah jalan, itu bukan urusan saya. Tanggung jawab saya adalah menjalankan blueprint ini sebaikbaiknya.

POA

Tujuan utama saya adalah membuat negeri ini jauh lebih baik. Bagi saya ini adalah tanggung jawab intelektual yang harus kita emban. Tapi apa bisa kita merubah negeri ini? Kawan, ia terlalu besar. Mungkin lebih baik bila kita turunkan sedikit sekedar memperbaiki daerah kita saja terlebih dahulu. Masih besar? Kenapa bukan lingkup RT dahulu. Masih besar lagi? Yang kecil. yang paling kecil. Yang atomis. Diri kita dahulu. Dari situlah akan saya mulai.

Untuk merubah sebuah bangsa kita harus berada dalam jajaran eksekutif. Legislatif tidak akan pernah memuaskan. LSM hanya penggembira, guru dan dosen? Bisakah mereka merubah? Anggap saja kita adalah produk mereka dan kita adalah agen perubahan itu. Tapi untuk menjadi eksekutif, kau butuh modal. Tidak ada profesi yang menjanjikan modal besar selain seorang kelas menengah yang kuat. Industriawan, usahawan, dan yang sejenis. Jaman macam ini, kalau bukan karena kamu keturunan orang yang sangat kaya, atau koruptor kelas kakap, serta oportunis sejati, jelas sangat susah mengumpulkan modal yang besar. Karenanya saya akan mengambil strategi menjadi anggota kelas menengah itu.

Tapi apalah saya. Lulusan pesantren dan fakultas filsafat. Apa bisa menjadi pengusaha. Tentu bisa, asal memiliki mental enterpreneur sejati. Tapi saya tidak punya. Keluarga saya hanya keluarga PNS biasa, dan pola pikir mereka hanyalah pola pikir karyawan. Hidup mati untuk negara, jauh bukan. Akhirnya saya memilih kompromi. Saya akan belajar sebagai seorang karyawan untuk kemudian meniti karir hingga tingkat tertinggi, baru kemudian memulai tahapan sebagai seorang usahawan. Anggap saja, saat saya memutuskan beralih profesi, saya telah memiliki back up knowledge dan skill yang mencukupi. Dan dalam usia yang masih muda, tentu saja masih memiliki tenaga dan semangat yang tinggi. Karenanya saya akan memilih umur 40 tahun sebagai titik tolak dari karyawan menjadi pengusaha.

Lalu apa yang saya kerjakan untuk ke sana? Coba lihat karakter bangsa kita, apa mereka masih melihat ijazah sebagai hal penting? Saya rasa begitu. Untuk meniti karir dari bawahan hingga CEO, kalau bukan merupakan orang yang sangat hebat dan pintar, kau harus pandaipandai menjilat. Itu realitas. Dan saya bukan termasuk dari kedua orang tadi. Jadi bagaimana? Selalu ada cahaya dalam pendidikan. Yup, saya akan sekolah lagi. Pindah jurusan, ambil bisnis, dan melaju dalam karir hingga pensiun dini di usia 40 tahun pada level CEO. Itu berarti tigabelas tahun lagi dari sekarang.

Dari 40 ke 50, adalah waktu yang cukup membesarkan sebuah perusahaan, sekaligus belajar bagaimana memanage organisasi, karyawan, keuangan dan lain sebagainya yang tentunya sangat bermanfaat saat terjun sebagai eksekutif, entah di level nasional maupun daerah. 50 tahun, saya akan mencalonkan diri saya, masuk ke arena politik. Pertanyaan yang paling krusial, apa yang akan saya lakukan?

Memberantas kemiskinan? Menurunkan angka pengangguran? Itu bagus. Tapi yang penting bagi saya adalah memberi ruang kepada setiap warga negara. Saya rasa itu masalah kita. Terlalu banyak manusia dan terlalu sedikit yang dapat dikerjakan. Medan ekspresi yang tidak terlalu sempit juga terlalu longgar, itulah letak dari pergerakan manusia. Awal dari sebuah kebangkitan. Sebuah gerak dinamis yang memiliki sasaran. Dan itu adalah garis besar misi saya. Saat ini memang belum spesifik, tapi akan saya sempurnakan lagi pemikiran ini.

Sepuluh tahun merubah sebuah bangsa memang tidak mungkin. Tapi saya kira itu adalah waktu yang pas bagi seseorang menduduki kursi jabatan. Kurang dari itu, rencananya tidak akan berhasil. Lebih dari itu, ia akan terlena dan menjadi seorang diktator yang korup. Banyak sekali contoh yang bisa kita lihat dalam sejarah. Untuk itu saya akan kembali lagi ke dunia pendidikan pada umur 60. Mendirikan sebuah lembaga think tank dan berkutat pada bidang filantropi pendidikan yang mampu menelurkan pemimpinpemimpin masa depan bangsa ini. Menulis buku? Itu sudah saya lakukan sejak sekarang.

***

Lalu di mana saya letakkan intelektualitas saya? Kawan, itu sudah inheren dalam diri saya. Apapun yang saya kerjakan selalu memiliki pertimbangan intelektual tersendiri. Saya selalu memiliki reason, my life is philosophy. Dan cinta? Ah, tak perlu jualah kujabarkan di sini, yang pasti saya juga telah memiliki rencana yang matang.

Kata orang, manusia yang merencanakan Tuhan yang memutuskan, I agree than. Kata bos saya, rencana yang matang adalah setengah dari kesuksesan, itu juga benar. Dan di tahun 2009 ini saya mulai dengan merebut hak saya dalam beasiswa S2 Sampoerna di bidang Bisnis. So, wish me luck and I wish you all for the best!

Bismillah.