Manusia & Waktu: Absurditas dalam Sejarah dan Selamat Tahun Baru!

Ada kejadian lucu di Senin pagi dua hari yang lalu. Awalnya seperti biasa, setiap senin pagi saya memasukkan rencana kerja mingguan via internet. Entah kenapa sewaktu saya masukkan rencana untuk hari ini, sistem langsung menolak terisi. Ada masalah apa pikirku, karena tidak menemukan pemecahan, sambil mengisi waktu, saya segera bergegas mandi dan berganti baju. Saya pikir hanya masalah jaringan seperti biasa, ternyata kok malah muncul peringatan di layar kerja, Selamat tahun baru Islam 1430 H. Oalah.. ternyata tanggal merah rupanya. Dan yang lebih parah ternyata itu adalah tahun baru Islam. Lebih parah lagi, saya tidak tahu bahwa ada tanggal merah di hari ini yang merupakan tanggal pergantian tahun baru Hijriah!

Tapi, bagaimana pula saya tidak tahu? Alasan utama adalah kalender di rumah raib entah kemana. Makanya untuk tahun depan sudah sedia lebih dari enam kalender untuk jagajaga. Satu Kalender Gontor, satu kalender Majlis Taklim, tiga kalender Bank Syariah DKI, bahkan ada juga kalender kampanye seorang caleg. Well, nice preparation. Alasan kedua karena, kok tidak ada acara di masjid ya. Biasanya, setiap tahun baru Islam pasti ada semacam acara silaturrahim antar sesama warga. Apa mungkin banyak yang berlibur dan pulang kampung? Bisa jadi. Toh, tahun ini saya memang tidak terlibat langsung di kegiatan masjid di RW kami. Gantian adikadikku yang terlibat. Dan, anehnya mereka juga tidak memberitahu bahwa hari itu libur. Uh, I don't like monday!

Berbicara mengenai tahun baru, berarti tidak lepas dari sebuah sistem penanggalan yang kita sebut dengan kalender. Setiap bangsa yang telah mengenal baca tulis, tentu memiliki kalender. Awalnya, kalender tersebut dibuat untuk menentukan musim bercocok tanam, daur panen, dan halhal lain yang berhubungan dgn irama alam serta pengolahan lahan. Sekali manusia berkenalan dengan agama, mereka pun memasukkan harihari suci ke dalam kalender mereka. Dan tentunya, perayaan hari suci agama tidak terlepas dari proses pertanian. Perayaan imlek, misalnya, dibuat sebagai sejenis perayaan untuk masa awal bercocok tanam. Pun, manusia juga memasukkan beberapa hari bersejarah, seperti tanggal kelahiran kaisar di Jepang, sebagai hari suci mereka. Hari suci, holy day, yang kemudian disambung menjadi holiday yang sekarang bermakna liburan, memiliki akar kata yang berhubungan dengan kesucian. Dan memang pada harihari suci itulah manusia mendapatkan kelonggaran untuk tidak bekerja, sekedar menghormati yang suci dalam kehidupan profan seharihari.

Kalender

Mungkin banyak yang tahu, bahwa sistem penanggalan yang kita gunakan saat ini, kalender Masehi, merupakan peninggalan dari bangsa Mesir kuno. Sebelum penanggalan berbasis solar (matahari) digunakan, manusia telah
lama mengenal sistem penanggalan berbasis lunar, bulan. Penanggalan
jenis ini banyak digunakan karena jauh lebih sederhana dan mudah.
Adapun sistem solar yang digunakan bangsa Mesir, lebih dikarenakan
kemampuannya untuk memprediksi musim yang sangat dibutuhkan oleh petani guna memulai masa tanam. Mereka menggunakan sistem penanggalan berdasarkan rotasi matahari dengan jumlah hari sebanyak 360 dan 12 bulan. Satu minggu terdiri dari sepuluh hari, dengan penambahan lima hari di akhir tahun, jadi semuanya berjumlah 365 hari dalam setahun. Awal tahun pada kalender Mesir kuno jatuh pada tanggal 20 Juli.

Bila bangsa Mesir kuno menganut sistem solar murni, maka bangsa Yunani menggunakan kombinasi sistem solar dengan sistem lunar, lunisolar - hal serupa yang dilakukan oleh bangsa Cina, tapi dalam setiap perayaan imlek yang muncul malah ucapan happy lunar year, yang mana seharusnya happy lunisolar year, karena hanya kalender Islam saja yang menggunakan sistem penanggalan lunar murni. Rumit juga melacak sistem kalender bangsa Yunani, karena setiap wilayah menggunakan sistem yang berbeda satu dengan yang lain dan tidak ada sistem yang serupa. Akhirnya, malah sistem kalender Romawi yang jauh lebih umum dan sederhana saja yang kemudian menjadi nenek moyang sistem penanggalan yang kita gunakan saat ini. Satu bukti bahwa kekuasaan dan kebodohan itu tidak selalu buruk. Coba saja kalau kita mengikuti sistem penanggalan Yunani, entah apa yang terjadi?!

Awalnya, sistem penanggalan Romawi ini juga menganut sistem lunar, tapi lama kelamaan mereka mengikuti sistem penanggalan bangsa Mesir. Tidak seperti yang kita duga, ternyata tahun baru bangsa Romawi jatuh pada tanggal 15 Maret, mengikuti awal musim semi. Semula mereka hanya memiliki sepuluh bulan dalam setahun, dengan jumlah hari antara 30 dan 31. Dengan demikian masih terdapat sisa 61 hari yang tidak masuk dalam kalender. Maka oleh Numa Pompilus, raja kedua Romawi kuno, dimasukkanlah bulan Januari dan Februari, sehingga lengkaplah terdapat 12 bulan dalam setahun, dengan jumlah hari sebanyak 355 hari. Namun dasar Romawi, karena takhayul, mereka menjadikan semua bulan dalam setahun berjumlah ganjil. Jadi, alihalih menggenapkan sebulan menjadi 30 hari, mereka malah menjadikan Januari, April, Juni, Sextile, September, November, Desember, menjadi 29 hari. Yang berarti terdapat kekurangan sepuluh hari. Namun, oleh pakar mereka, jumlah hari dalam setahun yang ideal itu adalah 377 dan 378 bukannya 364 hari. Maka kekurangan mereka jauh lebih besar, 22 hari!

Untuk mengatasi persoalan tersebut, mereka seringkali menambahkan jumlah hari yang tersisa di bulan Februari, yang merupakan bulan terakhir dan pada masa itu hanya terdiri atas 23 dan 24 hari saja. Kenapa juga mereka repot sekali membuat penanggalan? Well, mereka hanya ingin mencocokkan waktu dengan jam musim. Selain untuk keperluan pertanian, perhitungan musim yang pas jelas sangat bermanfaat untuk menentukan kapan sebuah ekspedisi militer harus dilakukan. Dampak dari rasionalisasi itu, maka seringkali pula penentuan kalender menjadi tidak menentu. Hal ini mendorong Julius Caesar untuk melakukan reformasi, sehingga uruturutan jumlah hari, persis seperti yang kita kenal saat ini.

Sebagai penghormatan terhadap reformasi Caesar, maka bulan Quintilis (yang berarti kelima, dimulai dari Maret) diganti dengan Juli, karena itu adalah hari kelahiran sang kaisar. Sedangkan bulan Sextile (keenam) diganti dengan Agustus untuk menghormati jasa Kaisar Agustus yang telah merebut Alexandria pada bulan tersebut. Yang menarik, sesuai uruturutan Caesar, bulan Agustus sebenarnya berjumlah 30 hari. Namun, oleh kaisar Agustus diganjilkan menjadi 31 hari, sekali lagi takhayul. Orang Romawi itu memang senang sama takhayul sih. Jenis kalender ini kemudian kita kenal sebagai kalender Julian.


Kelahiran

Dalam menamakan tahun, orang Romawi biasanya merujuk kepada masa pemerintahan seorang raja atau kaisar. Misalnya dengan menyebut tahun kelima Julius, untuk menyebut masa pemerintahan kaisar Julius. Perubahan tahun baru Romawi menjadi 1 Januari, sebenarnya juga tidak jelas. Tapi karena sejak tahun 158 SM, setiap raja yang memerintah masuk kantor pada tanggal 1 Januari, maka sejak itulah kemudian tanggal tersebut dijadikan awal tahun baru.

Pada tahun 525 M, seorang biarawan bernama Dionysius Exiguus tengah melakukan penghitungan tanggal paskah. Ia mendapati bahwa Yesus ternyata lahir 525 tahun yang lalu. Oleh beberapa ilmuwan terkemudian, penetapan tahun pertama Masehi oleh Exiguus itu mengandung kesalahan, karena ternyata Yesus lahir pada tahun 4 SM, merujuk kepada tahun kematian Herodes pada tahun 3 SM. Jadi terlambat empat tahun. Penentuan paskah dalam tradisi Kristen benarbenar masalah yang rumit. Dalam bahasa Inggris ia bernama easter, berasal dari kata Eostre atau Eostrae, Dewi musim semi bangsa Anglo-Saxon, dengan demikian masih berhubungan dengan festival pagan yang jatuh pada tanggal 25 Desember. Paskah sendiri adalah perayaan bangkitnya Yesus dari penyaliban. Yang membuat rumit, Yesus adalah orang Yahudi yang memiliki sistem penanggalan lunar, berbeda dengan Kristen yang mengadopsi sistem penanggalan ala Julian yang berbasis solar itu. Dalam pengamatan orang Kristen, hari kebangkitan Yesus juga bertepatan dengan eksodus bangsa Yahudi dari Mesir, yang dinamakan dengan pesah dalam bahasa Ibrani. Pesah, Pesach, pascha, paskah. Pada 325 M Konsili Nicaea memutuskan bahwa paskah jatuh pada hari Minggu (dari bahasa Portugis Domingos, Tuhan, lord, hari Tuhan) antara Maret 22 dan April 25. Rumit kan!

Kelak pula karena kerumitan ini pula, seorang doktor yang juga tengah meneliti hari Paskah, Aloysius Lilius, mendapati bahwa dalam satu milenium kalender Julian mengalami kelebihan hari sebanyak 7 hingga 8. Untuk mengatasi hal tersebut, maka dilakukan perubahan pada tahun jatuhnya tahun kabisat. Pada kalender Julian, setiap tahun yang bisa dibagi dengan 4 merupakan kabisat. Tetapi pada kalender baru ini, tahun yang bisa dibagi dengan 100 hanya dianggap sebagai tahun kabisat jika tahun ini juga bisa dibagi dengan 400. Misalkan tahun 1700, 1800 dan 1900 bukan tahun-tahun kabisat. Tetapi tahun 1600 dan 2000 merupakan tahun kabisat. Penelitian Lilius ini kemudian disahkan oleh Paus Gregorius XIIId pada tanggal 24 Februari 1582. Dan kalender yang berdasarkan dengan metode ini kemudian dikenal sebagai kalender Gregorian.

Kalender Gregorian adalah kalender yang kita gunakan saat ini dan merupakan kalender umum yang paling banyak digunakan di muka bumi. Meskipun demikian, adopsi dari sistem Julian ke Gregorian berbeda dari satu negara ke negara lainnya. Negara pertama yang menggunakan kalender jenis ini adalah Spanyol dan Portugal, negaranegara Protestan macam Jerman, baru mengadopsi pada tahun 1700-an, Rusia bahkan baru menggunakannya pada awal tahun 1900-an. Untuk membedakan antara kalender Julian dan Gregorian, diberikan notasi OS (old style) dan NS (new style) pada kalender yang ada.

Hijrah

Berbeda dengan proses penentuan tahun pertama masehi yang mengambil waktu kelahiran Yesus ( tahun masehi dalam bahasa Arab disebut tahun miladiyah, tahun kelahiran), umat Islam menggunakan peristiwa hijrah Nabi dari Makkah ke Madinah sebagai patokan awal tahun Hijriah. Sebelum penentuan kalender Hijriah, bangsa Arab sudah terbiasa dengan sistem penanggalan lunisolar, dimana bulan peredaran bulan digunakan dan untuk mensikronkan dengan musim digunakan penambahan jumlah hari. Sebenarnya pula tidak banyak yang bisa didapat dari penanggalan pra-Islam, yang pasti sistem penanggalan bangsa Arab saat itu ikut terpengaruh oleh sistem penanggalan Yahudi dengan bebarapa ciri khas Arab seperti adanya bulanbulan suci dan ritual haji. Setelah kelahiran Islam, kebiasaan menambah jumlah hari dihilangkan menjadi pengamatan empirik semata dengan melihat munculnya bulan baru. Menjadikan tahun Islam sebagai satusatunya sistem penanggalan bulan yang benarbenar murni.

Sama seperti peristiwa penetapan khalifah yang dramatik, penetapan tahun pertama hijriah juga serupa. Pada tahun 17 H, Abu Musa Al-Asyari, seorang pejabat Basrah di masa kekhalifahan Umar bin Khattab, melaporkan bahwa surat yang sampai kepadanya dari khalifah tidak memiliki tanggal. Umar kemudian memanggil para sahabat untuk mendiskusikan masalah ini. Ada yang mengusulkan untuk menggunakan sistem penanggalan Julian tapi ditolak karena sangat susah menentukan tanggal jatuhnya sejumlah Hari Raya. Ada juga yang mengusulkan tahun kelahiran Nabi Muhammad yang digunakan sebagai awal mula, tapi ditolak juga karena tidak begitu pasti. Akhirnya Umar memutuskan untuk menggunakan tahun kedatangan Nabi di Madinah sebagai awal penanggalan. Alasan utama dibalik itu karena peristiwa ini telah dikenal luas dan beberapa sahabat juga telah menggunakan peristiwa hijrah sebagai patokan penanggalan.

Masalah yang kemudian muncul adalah dalam penentuan tahun baru. Ada beberapa argumen yang mengusulkan Ramadhan sebagai awal tahun baru Islam. Ada juga Rajab, karena itu adalah bulanbulan kejayaan bangsa Arab sebelum Islam. Kemudian Ustman bin Affan mengusulkan bulan Muharram sebagai awal tahun baru, karena kebiasaan masyarakat Arab untuk menjadikannya sebagai awal tahun baru setelah ibadah Haji. Usul Ustman ini lantas disetujui semua yang hadir, dan sejak itulah kita mengenal tanggal 1 Muharram sebagai awal tahun baru Hijriah. Dalam perjalanannya, kalender Hijriah digunakan untuk tujuan keagamaan dan kenegaraan. Tapi karena bentuknya yang bersistem lunar murni, sehingga tidak dapat digunakan untuk tujuan agrikultural, masyarakat Islam kemudian juga menggunakan sistem penanggalan lain, macam kalender Mesir kuno, Iran, dan kalender Ottoman, yang merupakan modifikasi kalender Julian.

Bagi yang memiliki kecenderungan matematika, penanggalan yang pasti untuk konversi penanggalan Hijriah bisa diperoleh dari rumus:

G= H - H/33 + 622

H= G - 622 + G - 622
                32

G= Gregorian
H= Hijriah

Perayaan


Dan akhirnya, sampailah kita di penghujung tulisan ini, sama seperti harihari yang juga berujung dan malammalam gelap yang kembali berganti terang. Sebuah perbatasan, tepi laut dan ujung langit, temboktembok Berlin yang telah punah dan sengketa Ambalat. Pergantian adalah sebuah waktu yang berhenti dalam keramaian. Ia begitu mendamba, meliputi dan berkuasa. Menjadikan jiwa kita laksana anakanak yang terpukau oleh sihir kembang api dan pentas panggung gebyar meriah. Akhir selalu merupakan sebuah feast, jamuan, perut, raga dan pelepasan. Akhir adalah sebuah pentas dan pementasan.

Bagaikan seorang pesulap yang menampilkan triktrik menakjubkan, perayaan akhir tahun selalu memukau kita dengan kebiasaannya dan kejarangannya. Dan kita para penonton hanya ingin sekali lagi melihat kedangkalan itu. Karena kita tahu, meski juga enggan. Tapi mau, meski pula abai, bahwa kita ingin dibohongi dan ingin digombali. Karena hakekat waktu dan batasbatas itu bukanlah dalam misterinya yang abadi, tapi dalam sebuah kemegahan dan kesementaraan. kombinasi yang membuat kita selalu ketagihan merayakannya tahun demi tahun, tak peduli betapa absurdnya tindakan kita itu.

Dan malammalam panas penuh gemerlap, dalam hitungan mundur yang takzim itu, saat bautbaut, gerigi dan jarum menyatu dalam sebuah titik yang biasa kita lihat hari demi hari. Entah mengapa ia begitu lain, seperti baru pertama kali bersua. Saat itulah yang mekanik menundukkan rotasi bumi, sama seperti kita yang keranjingan menundukkan ruang dan waktu. Atau usaha gila manusia menaklukkan Tuhan. Karena sebuah pergantian, tak lebih dari transisi ringan dalam otak kita. Yang memaksa berkehendak dan berkuasa. Sebuah perayaan adalah sebuah pernyataan bahwa kita umat manusia dapat berdiri di atas kedua kaki, entah apa yang akan dilakukan setelah itu.

Selamat tahun baru 1430 H dan 2009 M. Selamat! Seabsurd apapun ia bermakna.

Liburan dan Festival Film Kecilkecilan

Libur panjang, tidak ada rencana kemanamana, apalagi yang mau dibuat kecuali nonton filmfilm bermutu. Jadilah, di sore hari menjelang tanggal duapuluhlima, hunting sebentar di ITC Kuningan samping mall Ambassador. Ternyata susah juga ya mencari filmfilm yang bagus. Awalnya, lihatlihat sebentar judul yang ada, setelah acakacak rak DVD, malah tidak ada yang berkenan. Terpaksa deh, mengeluarkan jurus terakhir. Buka situs IMDB, dan cari daftar duaratuslimapuluh film terbagus sepanjang masa. Saya lihat, ratarata film yang masuk daftar limapuluh terbaik hadir pada era sebelum sembilanpuluhan. Saya perkecil area pencarian setelah tahun duaribuan, gotcha! Ada beberapa. The Lord of the Rings, Batman Begins, The Dark Knight. Ah, rasanya sudah pernah nonton tuh. Gak rame! Saya pindai sekali lagi, dan dapatlah sebuah daftar kecil: The Pianist, The Prestige, Memento, No Country for Old Men dan Untergang. Sekarang tinggal cari DVD-nya.

Astaga, ternyata mencari empat film ini lumayan susah. Beberapa counter saya datangi, saya tanya satusatu, ternyata tidak ada. Bolakbalik deh dari lantai empat, tiga, dasar, basement, lalu naik lagi keatas. Dari yang besar, lumayan besar, hingga yang agak kecil. Bahkan di salah satu counter si penjaga sampai bete waktu saya tanya satusatu tuh film dan tidak ada sama sekali. Mau gimana lagi, saya biasa menggunakan referensi yang otoritatif untuk mencari sesuatu sih. Dan bagi saya, daftar film yang dikeluarkan oleh IMDB lumayan otoritatif, paling tidak informasinya lumayan lengkap dan bagus. Film yang bagus itu seperti buku dan musik yang bagus. Inspiring dan melezatkan. Untuk dua hal pertama tadi, selera saya memang tinggi. Dan kadang saya sampai berdebat dengan teman saya mengenai sebuah film, garagara ia bilang tuh film bagus dan saya berkeras bahwa film tersebut jelek, tidak bermutu serta payah. Kelak, teman saya ini balas dendam demi lihat ikat pinggang butut saya yang kucel sanasini. "Katanya berselera tinggi, kok ikat pinggang butut masih dipake!" Walah, mati kutu deh. Untuk berpakaian, saya memang standar habis :).

Sebenarnya juga, sore hari itu mau nonton bareng dengan temanteman seprofesi dari perusahaan lain. Tapi setelah browsing di cinema21, ternyata film yang diputar di Planet Hollywood (bioskop terdekat) gak ada yang pas. Bayangkan saja, masa sih saya nonton bareng film romantis macam twilight, Dua cinta dua doa dan Australia sama temanteman cowok. Aneh kan. Yang action, ada sih Transporter3, tapi sudah pernah lihat. "Sorry Dwi, gak ada yang bagus nih", kataku. "Lain kali saja deh". Soal nonton film yang gak pas memang sudah beberapa kali terjadi. Dulu, waktu di Makassar, garagara ingin nonton aja, saya ajak temanteman perempuan menonton bareng. Waktu itu yang diputar adalah film 300 dan dua buah film Indonesia. Temanteman perempuan yang enggan lihat film Indonesia malah memilih nonton 300. Dalam hati, apa gak salah nih orang pilih film, 300 itukan cowok banget! Dan terbukti, waktu ada adegan perang yang berdarahdarah, Ida sampai histeris :D.

Lain kiranya sewaktu nonton Nagabonar Jadi 2 bareng Suhaemi. Sebenarnya nih film keluarga, tapi ada juga unsur romantik di dalamnya. Apalagi pas adegan Tora Sudiro minta dicium oleh Wulan Guritno, pas gua lihat ke samping, jadinya malah ketawa. Halah, kenapa juga saya ajak dia, mending sama Eli saja tadi. Dan yang paling aneh, adalah sewaktu nonton film The Lake House sendirian, menyaksikan Keanu Reeves dan Sandra Bullock beradu akting setelah sebelumnya di film Speed. Hah, jadi seperti alien saja :(. Kalau mau aman ya, beli DVD dan nonton di rumah. Khusus yang ini, saya jarang beli film yang baru keluar di bioskop. Lebih baik menunggu barang enam bulanan hingga salinan aslinya selesai dirilis, jadi nontonya lebih puas.

Singkat kata, sore itu saya hanya berhasil mendapatkan The Pianist, No Country for Old Men dan The Prestige saja.  Demi melengkapi, saya pilih tambahan film yang bergenre aksi drama, American Gengster, dan sebuah film lawas favorit, Forrest Gump. Yup, lima film untuk ditonton sehari semalam, sebuah festival film kecil untuk liburan di rumah.


***


The PianistFilm Pertama, saya tonton mulai pukul 22.00 WIB, judulnya The Pianist. Cerita mengenai ghetto Yahudi di Warsawa, Polandia, yang semasa Perang Dunia Kedua dijadikan kamp tawanan Yahudi oleh Nazi Jerman. Agak pesimis sih pada awalnya sewaktu menonton filmfilm macam begini, hampir seperti propaganda Yahudi saja. Dan saya pikir film semacam ini banyak, mulai dari Schindler's List-nya Spielberg, hingga Beautiful Life. Yang berbeda adalah, tokoh sentral dalam film ini merupakan seorang musisi terkenal Polandia Wladyslaw Szpilman, seorang pianis Yahudi.

Yang membuat film ini menarik justru seperdua bagian terakhir, yang mengisahkan persembunyian Szpilman dari gestapo dan penyisiran tentara Jerman terhadap warga Yahudi. Adrien Brody, sangat menjiwai sosok Szpilman yang lugu, bodoh, dan tak berdaya. Benarbenar weak hero. Bagaimana pula ia yang kurus kelaparan melarikan diri dari perang jalanan dan membuatnya dikejarkejar bak maling. Dalam pelariannya yang parah itu, ia lalu berlindung di sebuah rumah yang ternyata adalah markas kompi Jerman. Di sinilah ia bertemu dengan Captain Wilm Hosenfeld, perwira menengah di markas tersebut. Saat ditanya, apa pekerjaannya, Szpilman menjawab bahwa ia adalah seorang pianis. Hosenfeld yang juga memiliki ketertarikan terhadap musik, sangat tergugah saat menyaksikan kemahiran Szpilman memainkan komposisi gubahannya sendiri. Maka alihalih membunuhnya, ia malah memberikan Szpilman makanan dan tempat berteduh.

Saat Jerman dipaksa keluar dari Polandia, ada kejadian lucu. Szpilman yang sangat bahagia keluar dari persembunyiannya bersorak gembira. Tapi iringiringan warga menjadi begitu takut demi melihat pakaian yang ia pakai. Ternyata, Szpilman menggunakan jas milik perwira Jerman tadi, dan nyaris saja ia mati diterjang peluru sebelum berteriak bahwa dirinya adalah orang Polandia. Kelak pula, ia tidak berhasil menemukan si perwira yang telah menolongnya itu, yang lalu mati dalam kamp tahanan Rusia di Siberia.

Selain memenangkan tiga Oscar untuk pemeran pria terbaik kepada Brody, sutradara terbaik untuk Roman Polanski dan skrip terbaik, kita juga disuguhi alunan piano yang sangat indah, komposisi Mozart, Chopin dan Szpilman sendiri. Di akhir film bahkan mucul sebuah pagelaran orchestra yang menampilkan kemahiran permainan piano sang komposer. Szpilman memang pianis terkenal Polandia, yang meninggal tahun 2000 silam pada umur hampir sembilanpuluh tahun.


Film kedua
, baru mulai pada pukul 00.30. Kali ini bercerita tentang persaingan dua orang pesulap dalam mencapai kemasyhuran, the Prestige. Dengan setting London di awal abad duapuluh, ramuan akting Hugh Jackman dan Christian Bale memang begitu bagus. Semula Robert Angier, Jackman, dan Alfred Borden, Bale, tumbuh dan besar di sebuah grup sulap keliling. Dalam sebuah pertunjukan, istri Angier tewas tenggelam, akibat tidak mampu melepaskan ikatan Borden. Sejak itu keduanya saling bermusuhan dan bersaing menjadi nomor satu.

The PrestigeKetika Borden melakukan pertunjukan atraksi menangkap peluru, Angier datang menyamar hendak balas dendam. Beruntung Borden tidak tewas, tapi ia harus kehilangan dua jaritangannya. Saat nama Borden kembali masyhur dengan atraksi teleporternya, Angier berusaha menyaingi dengan memberikan aksi yang jauh lebih hebat. Sayangnya, di tengahtengah pertunjukan Borden menyabotase dan mempermalukan Angier di hadapan penonton. Angier yang tidak terima secara terangterangan membuka konfrontasi dengan Borden. Ia lalu mengirim asistennya Olivia, Scarlett Johansson, guna mencuri buku harian Borden.

Saat itu, setiap pesulap memiliki sebuah buku catatan berisi triktrik rahasia pertunjukkannya. Tak dianya, Olivia malah jatuhcinta kepada Borden, dan bukannya membawa rahasia sulap Borden, ia malah mengatur siasat agar Angier pergi ke Amerika mencari sulap yang sangat hebat dari seseorang bernama Tesla. Nikola Tesla sendiri merupakan sosok historis, seorang fisikawan dan insinyur elektrik. Ia bereksperiman membuat sebuah teletransport dengan perantaraan aliran listrik tegangan tinggi (mungkin ada insinyur elektrik yang mau menerangkan Tesla lebih lanjut?). Hasilnya sangat mengejutkan, karena ia bukan saja berhasil memindahkan sebuah objek dalam arti sebenarnya, tapi juga membuat duplikasi dari objek tersebut. Dengan penuh kemenangan, Angier membawa mesin penemuan sulap tadi ke London dan berniat membalaskan dendam kesumatnya kepada Borden.

Sebenarnya, Angier selalu membuat duplikasi dirinya saat ia masuk ke mesin buatan Tesla. Untuk menjaga agar tidak terjadi banyak duplikat, maka setiap ia berteletransport, sebuah lubang sudah siap menenggelamkan duplikat dirinya sehingga tidak menjadi banyak. alkisah, Borden yang juga penasaran menyelinap masuk ke bawah panggung. Di sinilah ia begitu terkejut menyaksikan Angier, yang sebenarnya hanya duplikasi darinya, tewas tenggelam di dalam kotak air. Ketika Angier yang asli kemudian menghilang, Borden kemudian di hukum mati dengan dakwaan telah membunuh pesaingnya tersebut.

Sepertinya, Angier telah memenangkan persaingan ini dengan telak. Tapi Borden punya suatu rahasia yang tidak di miliki oleh Angier. Dalam trik teletransport, Borden menggunakan orang kedua yang merupakan kembarannya sendiri. Keduanya begitu serupa dan sehati, hingga kembarannya tersebut tidak keberatan sewaktu menyerahkan dua jarinya untuk dipotong agar serupa dengan Borden. Saat cerita ini ia sampaikan di hadapan Angier, ia begitu sangat terkejut hingga Borden memuntahkan peluru dan membuatnya roboh bersama seratus duplikat Angier lainnya. Benarbenar sebuah ambisi dan persaingan yang gelap dan penuh pengorbanan.

American GangsterFilm Ketiga, Saya baru saja menyalakan film ini pada pukul empat pagi hari. Mata saya benarbenar tidak kuat. Setelah semalaman bergadang melihat The Pianist dan The Prestiege. Belum lagi, keping cakram yang tidak terlalu bagus, membuat penayangannya tersendatsendat. Hanya setengah jam pertama saja saya melihat, setelah itu subuh dan langsung terkapar tidur. Paginya, bangun setengah sembilan langsung menonton kembali. Sayang sekali banyak adegan kasar dan adegan seks serta pornografi yang bertebaran. Tidak terlalu eksesif, karena memang film ini berusaha mengungkap kerasnya hidup di dunia gangster yang kejam, jadi pengungkapannya lumayan proporsional. Sayang sekali, saya menonton di ruang keluarga, pagi hari lagi. Gak enak aja kalau disangka merubah mood orang terlalu dini. Akhirnya saya undur hingga malam ini untuk ditonton kembali.

Keseluruhan, American Gangster bertutur tentang geng orang kulit hitam, yang mengalami pergantian pemimpin. Di sini, Franc Lucas, Denzel Washington, si pemimpin baru berusaha mengokohkan dirinya sebagai penguasa daerah Harlem dengan melakukan penjualan heroin besarbesaran di New York. Richie Roberts, Russell Crowe, si detektif yang bekerja di kantor polisi yang korup berhadapan dengan Lucas. Keduanya dengan cara masingmasing berusaha menggapai American dream mereka. Maaf nih, gak bisa kasih bayangan yang jelas. Yang jelas, film ini tidak masuk kedalam duaratuslimapuluh film terbaik versi IMDB dan hanya memenangkan Oscar untuk kategori pengarah seni terbaik dan pemeran pendukung terbaik. Dan setelah saya tonton sekali lagi, ternyata memang tidak terlalu bagus dan inilah film terburuk dari lima film yang saya tonton.

No Country For Old Men
Film keempat
, No Country for Old Men, Saya tonton tak beberapa lama ketika American Gengster yang hanya limabelas menit itu saya keluarkan. Well, saya harap ia serupa dengan filmfilm Clint Eastwood  macam The Flag of Our Father, yang merupakan sebuah satire dan kritik terhadap personafikasi hero dalam kultur modern, tapi yang saya harapkan ternyata lebih dari itu. Pembunuhan, pelarian dan polisi tanggung, ia adalah crime story, tapi lebih lagi. Sebuah cerita tentang manusia kuno yang tidak lagi berada di zamannya. Tiga tokoh utama dalam film ini, Serif Ed Tom Bell (Tommy Lee Jones), si pembunuh berdarah dingin Anton Cigurgh (Javier Bardem) dan si lugu veteran rancher Llewelyn Moss (Josh Brolin) di pertemukan oleh sebuah nasib saling mengejar satu sama lain.

Adalah Moss yang tengah berburu rusa mendapati mayatmayat bergelimpangan di tanah lapang. Rupanya mereka kawanan gengster yang saling membunuh dalam bisnis narkoba. Moss lalu menemukan sebuah koper berisi uang jutaan dolar. Ia begitu gelisah, dan karena kebodohannya juga membuat ia dikejarkejar kawanan gengster lainnya. Di tempat lain, Cigurgh yang berkalikali membunuh setiap orang yang bertemu dengannya melacak koper uang tadi yang ternyata telah terpasang transpoder di dalamnya. Ia tipikal pembunuh berdarah dingin lengkap dengan senjata mematikan yang tidak dapat terlacak. Kisah pelarian Moss yang tidak cerdas berhadapan dengan si genius pembunuh itu seperti melihat perburuan singa terhadap antelop, kita hampir tahu hasil tragis yang bakal menimpa. Tapi Moss adalah orang yang ulet. Ia berkalikali selamat, meski dengan luka yang parah. Di tempat lain, serif Bell yang juga berhasil menemukan kasus ini, mulai melacak petunjukpetunjuk yang masih gelap itu. Caranya bekerja yang standar, membuat dirinya tidak pernah berhasil menemukan baik Cigurgh maupun Moss. Ia hanya mendapati mayatmayat yang bergelimpangan ulah pembunuh sadis itu.

Suatu ketika, Moss terluka parah dan harus dirawat di rumah sakit. Setelah sembuh ia berbicara untuk pertama kalinya dengan Cigurgh lewat telepon. Ia menawari Moss dua opsi, menyerahkan uang tersebut dan mati terbunuh atau membiarkan istrinya tewas. Moss memilih yang pertama dan berusaha menemui Cigurgh. Tapi ditengah jalan, rupanya kawanan gengster yang lain malah menghabisi nyawa Moss. Adapun Cigurgh yang telah mendatangi rumah istri Moss, malah tidak berhasil menemukan koper incarannya itu. Ia mendapat kecelakaan dan tangannya patah. Sedangkan si serif, sekali lagi datang belakangan tidak dapat memecahkan misteri yang terjadi.

Sepanjang film berlangsung, saya masih belum juga mengerti kenapa film ini disebut tidak ada negara untuk orangorang tua. Apa karena pemeran utama film ini adalah lakilaki berumur lanjut di atas empatpuluhtahunan? Atau mungkin gaya mereka yang benarbenar seperti orang tua, tidak cerdas, terlalu idealis (ini untuk Cigurgh yang berkeras membunuh siapa pun yang pernah bertemu dengannya) hingga tidak berhasil menemukan yang ia cari, atau polisi yang tidak berpengharapan sama sekali dalam memecahkan kasus? Atau semuanya? Di akhir cerita, akhirnya saya mengerti ternyata tidak satupun di antara tiga orang yang berbeda karakter dan nasib itu yang berhasil mencapai citacitanya. Sesuram dan seaneh apapun citacita, jelas hanya mereka yang memiliki jiwa muda saja yang mampu meraihnya. Dan tiga orang ini tidak memenuhi kriteria tersebut. Good movie!

Forrest Gump (Two-Disc Special Collector's Edition)Film kelima, ah Gump never dies! Dan begitulah ia. Ini kesekian kali saya menyaksikan Tom Hanks beraksi. Rasanya tidak ada yang lebih bagus ketimbang Forrest Gump atau filmnya yang kemudian, Philadelphia. Dan sepertinya sudah basi kalau saya menceritakan film yang meraih banyak Oscar ini. Mungkin lebih baik menceritakan impresi saya saja terhadap Mr. Gump.

Berbeda dengan No Country for Old Men, Forrest Gump jelas sebuah kisah tentang orang muda. Cara Gump berpikir mengenai orangorang terdekatnya yang ia ekspresikan dengan berlari selama tiga tahun enam bulan; ketabahannya mencari sang kekasih, Jeanny, yang meski ia harus menerimanya dalam keadaan hancur terkena virus mematikan (kemungkinan AIDS atau Hepatitis C) dan tengah sekarat serta tidak begitu lama kemudian meninggal; bagaimana pula ia menepati janji konyolnya kepada sahabat terdekatnya Bubba; Kesetiaannya kepada atasan; serta ketangguhan hatinya; Forrest Gump berbicara banyak terhadap kita tentang American's dreams yang kesohor itu.

Sebenarnya bukan itu saja, dalam beberapa adegan yang mungkin hanya dapat dipahami oleh mereka yang tahu sejarah Amerika, ia menjadi sebuah karikatur yang tragis. Coba lihat latar belakang pemecatan Gump dari Angkatan Darat yang terlihat seperti kasus Watergate. Atau kisah persahabatannya dengan Bubba yang berlatarbelakang kerusuhan rasial yang pecah medio 50 - 60-an, juga pertemuan pertamanya dengan Jeanny yang berseting pidato legendaris Martin Luther itu. Sejarah dalam parodi. Sama seperti Gump yang juga parodi mengenai masyarakat Amerika yang mendambakan kesempurnaan dan kedigdayaan yang ternyata masih kalah jauh di bawah seseorang dengan I.Q. 75 macam Gump.

Yeah, it's so inspiring! Dan seperti kata Gump, 'Life is like a box of chocolates... you never know what you're gonna get'. Dan saya mungkin akan berkata bahwa Forrest Gump adalah sebuah cerita tentang a complex life for a simple boy.


***


Bila menyaksikan dari Awal, mulai The Pianist hingga Forrest Gump, kita akan menyaksikan kilasan sejarah abad yang lampau mulai dari awal hingga medio delapanpuluhan. Perjalanan masyarakat dan budaya di Eropa dan Amerika. Sebuah evolusi, mulai dari cara berpakaian tahun duapuluhan yang gentleman dan sopansopan itu, hingga era flower generation yang berciri pemberontakan, spiritualitas kelompok, environmentalism, seks bebas dan narkoba. Atau seperti kata Faucoult terjadi ledakan wacana di masyarakat Barat. Dan mau tidak mau hal tersebut berkaitan dengan kekuasaan dan seks. Dua wacana ini meliputi hampir keseluruhan tema yang ditonjolkan filmfilm tadi. Dan kalau mau saya tambahkan, barangkali tema yang tepat untuk festival film kecilkecilan ini adalah Life in the mid of twenty century.

Purnama di atas Bromo (3)

IMG_2775

Ah, puas rasanya menikmati pemandangan yang tiada duanya ini. Tak terasa, rasa lapar sudah melilit perut kami. Maka, setelah semua berkumpul kembali, bersama pergi menikmati sarapan di rumahmakan bagi pengamatan aktivitas gunung berapi. Tidak terlalu jauh, kurang dari satu kilometer ke arah Timur, di puncak salah satu kaldera trim Bromo. Hmm.. lezat sekali, suguhan nasi goreng ditambah telur dadar. Bu Wulan yang lagi diet bahkan sampai nambah dua kali. Maklum saja, sejak semalam kami belum berjumpa dengan nasi. Lagipula, udara dingin memang selalu membawa efek begitu. Setelah mencuci muka dan ke kamar kecil, sekitar jam delapan pagi, kami pun bertolak dari Bromo kembali ke Malang, mengambil rute serupa dengan waktu perjalanan pergi, kami kembali.

Bahkan pada saat mentari sudah lebih dari sepenggalah, teriknya yang menyengat masih juga belum kami rasakan. Baru terasa, saat memasuki Malang yang tibatiba terasa sumpek dan gerah. Uh, lengket sekali badan terasa. Seandainya kami mandi saat di Bromo, tapi siapa juga yang mau bermandi ria bersama air sedingin freezer. Jadilah, jamjam antara pukul sepuluh hingga duabelas siang menjadi begitu panas. Ingin rasaya lekas sampai di hotel, membasuh tubuh ini dengan air dan menghilangkat keringat di sekujur ruas badan. Ah, tapi itu masih satu setengah jam lagi.

***

Perkampungan di lereng gunung Bromo masih sangat asri. Bukitbukit permai dengan suasana hijau khas dataran tinggi tersebar di seluruh mata memandang. Bila dibandingkan dengan resor dataran tinggi di Malino, dataran tinggi Bromo jauh lebih indah. Memang, hutanhutan pinus sudah mulai jarang. Tandatanda peradaban telah mencapai batasbatas tertingginya. Perkebunan kol dan bawang, adalah hal yang lazim di sini. Agak kebawah baru terlihat perkebunan apel yang tidak terlalu besar. Dari sisi administrasi, wilayah gunung Bromo terbagi ke dalam empat kabupaten: Malang, Pasuruan, Probolinggo dan Lumajang. Mayoritas warga di bagian atas beragama Hindu, sedang di bawah keadaan mulai heterogen. Di beberapa tempat saya bahkan dapat melihat masjid dan gereja.

Memang, dibandingkan dengan daerah lain di pulau Jawa, kawasan tapal kuda pulau ini yang dulu disebut dengan Blambangan merupakan daerah paling akhir yang penduduknya memeluk agama Islam. Di dataran tinggi, macam Batu dan daerahdaerah lain seperti Magelang, Puncak bahkan Malino, yang sejak zaman kolonial sering digunakan sebagai tempat tertirah
official Belanda, pengaruh Kristen cukup kuat. Meskipun demikian, barangkali khas masyarakat Jawa, toleransi yang terjalin antar tiga kepercayaan ini berlangsung damai, meski di sana sini kadang terjadi riak kecil. (Untuk lebih memperdalam wawasan sosiografi masyarakat Tengger, saya menyarankan anda untuk membuka situs Desantara, dan Interseksi. Kedua situs ini memberikan sebuah sudut pandang baru tentang Tengger berikut hakhak minoritas di sana, dari berbagai aspek. Beberapa tulisan yang lebih populer, bisa anda dapati di situs Sejarah, dan Tengger People. Beberapa bahan saya dapat disana. Saya sendiri awalnya memang berminat menggabungkan dua sudut pandang dalam wisata Tengger ini, tapi karena masih begitu awam, terpaksa saya batasi pada pandangan mata semata. Jadi agar tidak meluas kemanamana bisa cek ke keempat situs tadi. Maaf, kalau ada kesalahan. :p)

IMG_2786
IMG_2785

***

Kembali ke Jakarta

Hampir tengah hari, dan kami baru sampai di penginapan. Seperti biasa, saya langsung menuju kamar mandi dan membersihkan diri. Ari dan Ida sudah menunggu di sana. Kedua penganten baru ini, terlihat berbinarbinar ceria. Dengan membawa buah tangan bakso bakar khas Malang, mereka menemani kami berkemas dan bersiap pulang kembali ke Jakarta. Sejam kemudian, setelah check out, kami berangkat bersama menuju stasiun.  Kali ini menumpang angkutan kota bertanda ABG, sementara penganten baru itu naik sepeda motor menemani kepulangan kami. Every body happy, I allways see smile attached at our faces along the trip

Tepat pukul tiga sore, ketika petugas perjalanan kereta api meniup peluit panjang tanda keberangkatan. Dengan perlahan, kereta Matarmaja yang membawa kami berenam beranjak meninggalkan kota Malang. Sinyal kuno peninggalan Belanda tergantung lusuh di tepi rel, anakanak kecil berlarian di kirikanan jalur kereta yang membelah perkampungan miskin masyarakat kota. Debu berterbangan mengiringi setiap perjalanan, dan setiap kali kereta ini selesai menerobos kesemerawutan, kulihat anakanak kecil itu berkerumun kembali di atas rel tua memainkan permainan yang dulu pernah kita lakukan. Layangan, bola sepak, tubuhtubuh dekil, sampah yang bertebaran, jelaga dan rasa letih. Dari tempat dudukku yang menghadap ke belakang, kulihat itu semua. Kulihat pendakian itu, malammalam dingin, perjamuan, perjalanan dan kegembiraan. Kulihat Malang.

Bak sebuah sihir. Dan di atas kereta ini, kumelihat sebuah sihir yang tak lagi mampu menampakkan karomahnya. Maryamah Karpov. Lebih dari empat hari sebelumnya, dan saya masih belum juga merasa in saat membaca. Apa mungkin kedigdayaan Bromo begitu memikat saya? Entahlah, yang ada di pikiran saya pada saat itu hanyalah sebuah tulisan yang mengendap lama dan baru kali ini ingin saya ungkapkan.


Maryamah Karpov atawa Kemana Perginya para Intelektual Kita

Sejak pertamakali ku menyentuh Laskar Pelangi, kubilang dalam hatiku. Betapa mulianya citacita itu. Berkalang debu kau pergi mengejar, hanya untuk sekolah reot yang tak sanggup tegak. Maka di sanalah, perkenalan dengan khazanah dunia. Kemudian pergi jauh nun ke ujung Eropa, berteman Edensor. Adakah suatu yang terbawa pulang. Ataukah itu hanya jejakjejak kosong yang tak sanggup terhapus? Saat yang maya terantuk uang. Bisakah kau sebut itu sebagai cita? Atukah, kita yang menyebut dirinya seorang intelektual harus terhempas pasrah di kaki dunia?

Marx dahulu bilang bahwa tugas filosof, baca: intelektual, adalah mengubah dunia. Mengubah yang timpang ini kembali kepada equilibrum, mengubah yang tidak sempurna menjadi karyakarya agung. Bisakah kau mengatakan dapat, saat dirimu sendiri tak sanggup kau rubah? Setidaknya untuk hidupmu dahulu. Saat sekolah menjadi sebuah tujuan, apakah kau lupa ada hal lain bersembunyi di baliknya. Sebuah ikrar yang kita baca saat wisuda. Sebuah tanggung jawab intelektual, sebuah manifesto.

Ah, kemudian kau katakan banyak dari kita lalu melacurkan dirinya untuk kehidupan. Dan kau akan mengenali mereka di kabarkabar siang dan malam. Tentu aku setuju padamu. Itu karena kita mengharap terlalu banyak dan begitu sedikit yang kita beri. Dan jadilah kita tak ubahnya mereka yang tak mengenal sama sekali bangku kuliah. Kalau begitu, buat apa sampai capek bahkan hingga jauhjauh pergi ke luar negeri, bila watak kita masih tetap sama dengan mereka. Tapi, bersusahsusah membuat kapal demi sebuah A ling, apa kau pikir itu kerja intelektual? Bukankah itu lelucon gelap yang tak layak untuk ditertawakan.

Mungkin kau bilang bahwa aku tidak lebih baik dari itu. Dan memang sering ku tersentak oleh mimpi di siang bolong. Tentang para intelektual Indonesia yang lalu terkucil dan hilang. Atau malah pergi ke arena cinta dan keduniawiaan. Memang benarbenar kondisi yang pelik. Pada akhirnya, ku kan kembali kepada konsepkonsep ubermancsh-nya Nietzsche, atau meneladani Nabi. Tentang sebuah perjalanan menuju pengendapan dan pemurnian apa yang kita sebut sebagai oleholeh dari taman pendidikan yang santun dan rendah hati. Dan dengan segala pembebasan yang telah ditanamkan ilmu pengetahuan itu, ku hanya berharap bisa merubah, setidaknya diriku sendiri.

Andai kubisa hidup seribu tahun. Tapi untuk apa, bila itu hanya untuk menunda kekalahan saja. Bukankah lebih baik sekali berarti sudah itu mati.

***

Pagi hari baru menyingsing dan kereta baru tiba di Cirebon. Berarti masih empat jam lagi ke Jakarta. Memang panjang dan melelahkan. Yah, bukankah itu perjalanan, panjang dan melelahkan. Dan karena itulah ia disebut demikian, sama seperti hidup kita yang panjang dan melelahkan. Entah itu berarti ataukah tidak. Bromo yang tinggi dan malammalamnya yang gelap. Bagiku itu seperti isra dan miraj.

IMG_2773



Behind the scene

Ada yang bertanya mengenai bagaimana cara pergi ke Bromo. Well, kita dapat memulainya baik dari Malang maupun Surabaya. Kami sendiri menggunakan jasa travel untuk ke sana. Sayang sekali, karena kesibukan, saya masih belum mendapat informasi yang jelas tentang travel apa yang kami sewa. Maklum, kawankawan Malang yang mengurusnya. Bila dapat, akan saya revisi kembali kolom informasi ini.

Tentang biaya perjalanan, berikut saya kutip dari rincian yang disampaikan oleh Lala:

Kereta Jakarta – Malang PP: Rp. 55.000 x 2 = Rp. 110.000 (Ekonomi)
Hotel  1 hari 1 malam : Rp. 100.000 s/d 160.000
Jasa travel ke Bromo (sudah termasuk tiket pass, naik kuda sekali jalan, kalau mau bolakbalik tambah Rp. 20.000, dan sarapan): Rp.175.000
Angkot: Rp. 50.000

Siapkan juga celana untuk pendakian, jangan pake jeans, jaket hangat, slayer, dan sepatu hiking. Dan uang tambahan untuk jagajaga dan beli oleholeh :D

Perjalanan ini tidak akan terlaksana tanpa bantuan dari berbagai pihak. Terimakasih penulis ucapkan kepada tim Merck Malang yang telah membantu mempersiapkan transportasi dan akomodasi. Kepada temanteman seperjalanan, bu Wulan, Agus, Lala, Indah dan Erna. Juga kepada pasangan pengantin baru Ari dan Ida. See you in the next trip!

 

Membaca Kembali Chairil Anwar

Sia-sia

Penghabisan kali itu kau datang
Membawa kembang berkarang
Mawar merah dan melati putih
Darah dan Suci
Kau tebarkan depanku
Serta pandang yang memastikan: untukmu.

Lalu kita sama termangu
Saling bertanya: apakah ini?
Cinta? Kita berdua tak mengerti
Sehari kita bersama. Tak hampir-menghampiri

Ah! Hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak-koyak sep

i

                                                     Februari 1943

(Chairil Anwar - Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus)

Kemarin di Gramedia, beli History of Arabs-nya Phillips K. Hitti dan Sejarah Indonesia Modern 1200-2004-nya M.C. Ricklefs. Mata saya lalu terantuk pada sebuah buku kecil di pojok sana, Aku ini Binatang Jalang, sebuah antologi sajak-sajak penyair nomor wahid Indonesia, Chairil Anwar. Ada apa gerangan, saya begitu ingin membaca kembali sajaksajaknya yang indah itu, yang penuh semangat, kadangkadang jenaka, sembrono, tapi darahnya mengalir ke ujungujung jiwa. Ah, aku hanya ingin membaca Chairil.

Pertama kali, ku mengenal dirinya bahkan sebelum ku masuk SD. Bayangkan, dua sajaknya yang paling kuingat: Aku ini Binatang Jalang dan Antara Krawang-Bekasi, meski hanya beberapa penggalannya saja. Ayahku yang mendeklamasikannya, dan saat kucoba, ia malah terpingkalpingkal. Kenapa? Apa aku saat itu begitu kecil untuk mengenal pengorbanan?!

    Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
    tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi.

Hebat sekali dia, membayangkan dirinya laksana pejuang yang tewas dalam revolusi Indonesia itu. Sangat mendaging dan kental. Bahkan hingga kini pun, derunya masih menyihir saya.

    Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
    Kenang, kenanglah kami.


Apa boleh dikata, meski ku sangat memujanya, hampir boleh dikata, sangat sedikit yang saya tahu tentang dirinya. Bahkan, aku kekurangan metodologi sastra guna membedah sajaksajaknya itu. Ya, meski sastra hanya sepelemparan batu dari filsafat, tapi saya justru tidak terlalu akrab. Buku yang agak nyastra yang pertama kali kukenal hanyalah Saman, karya Ayu Utami. Sebelum itu, beberapa sajak Goenawan Moehammad dan Zaim Uchrowi yang sering saya baca di Jurnal Islamika, lalu Harmonium-nya Budhi Dharma. Yang terakhir bahkan saya tidak mengerti apaapa. Cuma gaya aja, baca buku yang tidak pernah saya tahu mau berbincang apa dia. Pram, Goethe dan Tolstoy pun baru saat aku di bangku akhir kuliah. Untuk puisi dan sajak blas kosong.

Pun, waktu di pesantren, saya juga pernah demam sama sastra jenis ini. Cuma memang sudah watak saya yang tidak mau bergabung dengan komunitaskomunitas sastra. Aku memilih jalur yang independen. Dan di kamarku yang sendiri itu, di kantin pelajar, semua orang terperangah waktu kucat kuning seluruh kamar - terakhir kali ke sana, cat itu masih belum juga dirubah, jadi kalau mampir di kantin dekat Indonesia Empat dan menemukan kamar berwarna kuning, sudah pasti itu dahulu kamar saya :p. Sebenarnya, karena tidak ada cat hijau lumut dan putih saja. Tapi karena sudah terlanjur, akhirnya malah lemari pakaian yang kubaringkan mendatar hingga terbentuklah sebuah panggung mini di depan jendela. Saat tidak ada orang kuberdiri tegak di atasnya sambil berteriak, "Aku ini binatang jalang!"

***

Tapi saat ini, bukan suara serak dan mata merah Chairil yang melandaku. Sajaksajak cintanya, ternyata jauh lebih hebat. Oh kawan, coba simak sajaknya ini.

Senja di Pelabuhan Kecil
                                                   buat Sri Ajati

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemui bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap


                                                                   1946
(Chairil Anwar - Aku ini Binatang Jalang)

Sebuah kesenduan yang muram, seperti sore yang gelap di hari gerimis. Benarbenar kelam. Pelabuhan, yang merupakan sebuah medium, adalah perlambang dari perpisahan sama seperti senja yang menggambarkan sebuah akhir. Dan meskipun saat itu hujan, tapi laut tiada berombak. Sebuah kesepian yang mencekam. Seperti tarik ulur antara melepaskan dan merengkuh. Merengkuh sesuatu yang tidak bakal tergapai. Lalu, sebuah perjalanan, ujung dan ucapan selamat tinggal. Menegaskan akan perpisahan yang tak mampu didekap. Melankolis.

Dan coba bandingkan dengan sajaknya berikut ini yang lebih menggambarkan sebuah penerimaan, dan bernada sentimentil, meski samasama bernuansa perpisahan.

Cintaku Jauh di Pulau

Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri.

Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak 'kan sampai padanya.

Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
ajal bertakhta, sambil berkata:
"Tunjukan perahu ke pangkuanku saja."

Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu yang bersama 'kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau,
kalau 'ku mati, dia mati iseng sendiri.


                                                                   1946
(Chairil Anwar - Aku ini Binatang Jalang)

Dan yang paling indah dari tematemanya yang begitu romantis adalah sajak putih yang ia persembahkan buat kekasihnya yang sayang sekali, tidak juga kesampaian, si Mirat.

Sajak Putih

Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku

Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama Kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah...


                                                                   1944
(Chairil Anwar - Deru Campur Debu)


***

Ah, sayang sekali pula ia mati muda, 26 tahun 9 bulan. Bahkan diusianya yang baru 22 tahun, gubahannya begitu abadi, seakanakan ia hidup seribu tahun kemudian. Lagi, tatkala hari kematiannya yang jatuh pada tanggal 28 April hendak dirayakan sebagai Hari Sastra, banyak juga yang menolak. Bukankah itu tanda kebesarannya?! Karena pada hari itulah, sastra Indonesia muncul dari keabadian para pelopor 45.

Semangat


Kalau sampai waktuku
Kutahu tak seorang 'kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu!

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulan terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap merandang-menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari

Hingga hilang pedih peri.

Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi.


                                                               Maret 1943
(Chairil Anwar - Kerikil Tajam dan Yang terempas dan Yan Putus)


Ah sayang, kenapa juga kubanyak sekali mengucapkan sayang pada hari ini?!

3:10 to Yuma dan Sebuah Tikungan



3:10 to Yuma (Widescreen Edition)Ada yang menarik saat pertama menonton film 3:10 to Yuma. Suguhan aksi ala koboi di masamasa revolusi Amerika, ketika pembangunan jalur kereta api sedang dalam tahap permulaan, dan slogan go west, menjadi mantra pemicu yang aduhai. Tapi, memang bukan itu kiranya yang hendak diangkat oleh film yang disutradarai oleh James Mangold ini. Penokohan yang pas oleh para aktornya dan jalinan cerita yang baik, sudah lebih dari cukup untuk setia menonton setiap detil adegannya. Dan pantaslah kiranya ia menjadi pengisi kerinduan akan filmfilm bertema wild west.

Saya sendiri bukan penggemar fanatik film western, tokoh yang masih terbayang diingatan saya hanya Billy the Kid, selebihnya tidak ada. Dalam 3:10, tokoh antagonis dan protagonis bersatu dalam sosok seorang Ben Wade yang diperankan oleh Russell Crowe. Ups, sekali lagi bukan dia yang menjadi titik fokus film ini, tapi Dan Evans oleh Christian Bale. Yah, pemeran Batman ini berhasil menjiwai perannya sebagai seorang rancher "kacangan" dengan pas. Bahkan selama pemutaran berlangsung, saya nyaris tidak mengenalinya sebagai sosok Batman yang perkasa itu. Berbeda dengan Crowe, yang bayangbayang karakter seorang Maximus di Gladiator masih terlihat jelas di mata saya.

Rancher sederhana


Adalah Dan Evans seorang peternak sapi yang tanahnya selalu diganggu oleh landlord, memutuskan diri mengawal bromocorah yang kejam dan bengis, Ben Wade, ke kereta yang berangkat jam 3:10 menuju penjara Yuma. Evans sendiri seorang family man yang hidup sederhana bersama istri dan kedua orang putranya, William dan James. Sebelah kakinya putus saat perang revolusi, hingga membuat dirinya diremehkan orangorang di kotanya. Scene pembuka menggambarkan betapa tertekannya Evans saat dirinya tak mampu melindungi peternakannya yang kecil dari serangan para berandal.

Suatu pagi, sebuah kereta kuda yang membawa sejumlah uang dirampok oleh gerombolan Wade. Evans dan anakanaknya secara tidak sengaja berpapasan dengan Wade. Inilah pertemuan pertama mereka. Anak buah Wade pimpinan Charlie Prince, Ben Foster, menyita kuda mereka dan membiarkan Evans hidup untuk mengambil ternaknya yang hilang. Gerombolan ini kemudian pergi ke kota, dan dengan cara mereka yang cerdik berhasil membuat sherrif pergi ke luar kota mengejar para perampok.

Di sebuah bar, Wade tertangkap basah oleh sherrif. Dan Evans yang merasa selama ini tidak berharga menawarkan diri untuk mengantar tahanan tersebut bersama rombongan kecil petugas kota. Demi $ 200 katanya, untuk membebaskan diri dari penindasan Lanlord. Dalam perjalanan, satu persatu anggota rombongan mati terbunuh. Baik oleh pembalasan anak buah Wade yang terus mengikuti mereka maupun oleh aksi brutal sang tahanan. Wade sendiri adalah sosok yang humanis. Meskipun brutal, tapi ia hampir tidak mencelakai orang yang tidak mengusik dirinya. Terbukti, tidak ada anggota rombongan yang ia celakai, kecuali seorang sherrif yang mengolokolok dirinya yang kemudian mati secara mengenaskan. Bahkan, di beberapa tempat, ia malah membantu rombongan kecil ini keluar dari sergapan orangorang Apache.

Sindroma Lima

Salah satu fenomena yang menarik dari kisah ini adalah munculnya sebuah sindroma Lima antara Evans dan Wade. Berbeda dengan sindroma Stockholm, dimana muncul loyalitas dari para korban kepada para penindasnya, maka dalam sindroma Lima, orang yang menindas justru menjadi loyal kepada korban mereka. Para rombongan kecil ini, meski secara defenitif merupakan penjaga keamanan, tapi secara de facto, mereka bukan tandingan anak buah Wade. Sehingga bisa dikatakan kalau mereka adalah juga korban dari kebrutalan para penjahat tersebut. Selama perjalanan Wade sama sekali tidak menunjukkan dirinya sebagai tahanan, ia malah terlihat jauh lebih santai daripada para pengawalnya. Situasi serupa yang sering kita jumpai dalam penahanan penjahatpenjahat kelas kakap macam Hannibal Lecter.

Salah satu hal, yang mungkin membuat Wade merasa simpati kepada Evans adalah keteguhan hatinya dalam mengantar penjahat tersebut menuju stasiun kereta api. Dalam adegan di kamar hotel, ketika Evans dengan tegang menunggu kereta datang, Wade berusaha menyuap si rancher miskin ini dengan uang hingga $1000 agar mau melepaskannya. Evans tetap bersikeras menolak, meskipun ia tahu, imbalan yang diterima hanyalah $ 200 dan kemungkinan besar, ia akan mati terbunuh oleh anak buah Wade. Bahkan tatkala temantemannya akhirnya menyerah dan kemudian dibantai dengan kejam oleh Charlie Prince, ia masih juga berkeras.

Maka munculah sindroma itu. Wade yang dalam statusnya sebagai tahanan, malah membantu Evans membawa dirinya menuju stasiun, di tengah hujan peluru anak buahnya. Beberapa kali, ia menyelamatkan Evans yang memberitahu keberadaan musuh yang hendak menembaknya. Charlie Prince yang kejam itu tidak menyadari perubahan yang ada di dalam diri bosnya. Ia bahkan dengan bersemangat memuntahkan peluru sebanyakbanyaknya kepada Evans. Saat kemudian Evans tertembak dan terkapar di atas tanah, justru Wade malah merasa sedih. Dengan pistolnya sendiri, ia kemudian membantai anak buahnya dan Charlie Prince yang setia itu. Benarbenar ironis.

Tikungan hidup

Setiap kali, memutar ulang adegan ketika Evans mati terkapar dan Wade yang begitu emosional malah turun dari kereta untuk menolongnya, Saya masih juga belum memahami pikiran apa yang berkecamuk dalam diri seorang Ben Wade. Bahkan tatkala ia mengarahkan moncong pistolnya ke jantung Charlie Prince yang terbengongbengong melihat si bos membantai kawankawannya sendiri, seakan timbul suasana yang sangat mencekam saat itu. Pergolakan batin dan moralitas baik buruk disertai sebuah konklusi yang begitu kontras dengan pemikiran yang ada dibaliknya, benarbenar membuat alur film ini begitu unpredictable.

Saya jadi teringat hubungan antara Richard "The Lion Heart" dengan Shalahuddin al-Ayubi. Bagaimana, Shalahuddin datang sendiri malammalam ke tenda Richard yang kala itu tengah terluka dan memberinya pengobatan. Kedua musuh yang terlibat dalam perang Salib itu kemudian malah berteman. Atau, pengalaman pribadi saya dengan seseorang yang dahulu saya pernah berkelahi dengannya, di halaman sekolah lagi, kami malah berteman dekat. Sayang sekali dia sudah meninggal. Betapa hidup ini memang penuh dengan tikungantikungan yang tidak pernah kita duga sebelumnya.

Bisa jadi ada benarnya pepatah yang mengatakan, musuh yang tangguh itu jauh lebih berharga dari teman yang lemah. Karena, dari sanalah kita bisa berkaca akan kelebihan dan kekurangan diri kita masingmasing dan berusaha untuk memperbaikinya. Sekarang, sudah seberapa tangguhkan kita?

Purnama di atas Bromo (2)

IMG_2700

Ia disebut tengger karena di sanalah
Joko Seger menikahi Dewi Loro Anteng
Anteng dan Seger maka jadilah Tengger
Atau saat Ki Dadap Putih mengatakan bahwa
ini adalah tetengger, tengger atau tanda
maka untuk seterusnyalah ia dinamakan demikian.

Entah kenapa saya begitu alpa mencari tahu tempat tujuan saya, karena biasanya selalu saya cek terlebih dahulu di internet atau bukubuku yang banyak dijual tentang historigrafi atau sosiografi tempat yang akan saya tuju. Satu yang malah mengemuka dalam pikiran saya saat berangkat justru adegan Dian Sastro menggambar di atas pasir, dalam film Pasir Berbisik. Film bertempo lambat ini dan menurut saya bergenre surealis, setidaknya membawa imaji mengenai Bromo sebagai sebuah tempat yang penuh dengan mitologi dan eksotika. Bromo dari kata Brahma, salah satu dewa utama dalam sistem kepercayaan masyarakat Hindu, merupakan pengejewantahan dari sifat Tuhan yang Maha Pencipta dan damai, dibandingkan dengan Syiwa yang berada pada sisi perusak dan penghancur. Dan memang dalam bukitbukit yang meliuk di sudutsudut jalan, kutemukan kedamaian sepanjang waktu.

Barangkali kata kunci dari perasaan ini adalah pengalaman akan ketinggian. Dulu, saat Nabi dilanda kesedihan akibat ditinggal mati istri dan pamannya, Tuhan menghadiahkan sebuah perjalanan spiritual yang tiada duanya. Sebuah
return trip ke sidratul muntaha tempat di mana Tuhan "berada", dalam sebuah perjalan malam, isra, beliau lalu diangkat ke langit ketujuh, mi'raj. Melewati batasbatas tertinggi impian Einstein akan kecepatan cahaya, berjumpa dengan seluruh nabi dan menerima perintah shalat lima waktu. Kau tahu, saat dirimu terangkat jauh ke atas, semua yang ada di muka bumi ini begitu kecil. Kemacetan jalan, sosoksosok yang berusaha menjegalmu, kebencian dan permusuhan, mereka perlahan lenyap dan berubah menjadi titiktitik mungil cahaya malam yang berkelapkelip ringan. Dan lampulampu malam itu akan semakin indah saat dirimu berada jauh duaribumeter di atas permukaan air laut. Entah apa yang dirasakan oleh Nabi dengan segenap ketakziman isra mi'raj-nya, tapi pada malam saat ku pergi menuju Bromo, hanya ada kepuasan yang menyeruak di dada.

***

Hampir pukul dua dini hari. Sebuah KIA Pregio berwarna sepia telah menunggu di depan lobi hotel. Hanya ada Ali dari cabang Malang dan seorang supir yang akan membawa kami menuju Bromo. Kupikir akan ada kawankawan rep Malang lainnya yang juga menemani, tapi tengah malam itu, dengan kursi terisi lega, tak apalah. Lagi juga saya ingin space yang luas sekedar merenggangkan badan yang masih terasa penat.

Jalanan senyap, hujan telah membawa kesegaran di penjuru kota, membawa sisa debu dan kotoran pergi, menyapu badan jalan dan menyajikan sebuah kejernihan yang hening. Dari hotel Kalpataru kami pergi menuju arah stasiun. Entahlah, orientasi saya akan arah tibatiba saja kacau. Meski sudah pernah ke Malang sebelumnya, tapi masih saja belum profecient untuk mengetahui mana Utara dan mana Selatan. Satu hal yang pasti adalah, kami dibawa meluncur menuju jalan poros utama Malang - Surabaya. Ya, saya ingat jalan ini. Dua lajur jalan dibelah sebuah separator beton yang dipadati tiangtiang lampu. Lurus menuju arah stasiun Malang Lama, kemudian melompati sebuah fly over di atas rel kereta api hingga masuk ke kecepatan yang tinggi di areal yang rata dan landai. Beberapa menit kemudian menanjak sekali lagi ke atas sebuah fly over yang jauh lebih curam dan panjang. Benarbenar fly over yang aneh pikirku, tidak manusiawi!

Sepanjang perjalanan malam itu, Ali bercerita banyak tentang pengalamannya bekerja di Malang. Ia sendiri baru genap delapan bulan bergabung, sebelumnya pernah bekerja di perusahaan dalam negeri, dengan profesi yang sama. Selama bergabung itulah ia mendapat banyak sekali manfaat. Dengan biaya hidup yang sangat rendah, biaya kos hanya seratusdelapanpuluhribu rupiah sebulan dan biaya makan yang tidak sampai limaratusribu rupiah, berarti banyak sisa uang yang ia terima dan digunakan untuk menabung. Bu Wulan menimpali dengan pengalaman rep Jogja yang meninvestasikan uangnya untuk membeli berhektarhektar tanah. Ah, jadi iri rasanya. Dua tahun lebih bekerja, apa sebenarnya yang saya dapatkan? Kalau saja bukan karena keinginan untuk belajar, saya sudah lama hengkang dari sini. Betul itu, karena pekerjaan kita adalah pegawai, rugi besar kalau cuma berharap dapat uang bulanan. Jadi teringat nasehat ust. Syukri, kalau mau kaya, berdagang! Oke, oke, saya kan sedang belajar berdagang :p.

IMG_2606
IMG_2617

Tigapuluh menit berlalu sejak kami meluncur dari hotel. Di sebuah pertigaan, kami keluar dari jalan besar dan masuk menuju jalanan desa yang sempit. Lenggang sekali, pintupintu dan jendela tertutup rapat, tidak ada orang sama sekali. Hanya lampulampu rumah yang berbaik hati menemani perjalanan ini. Kawankawan yang lain juga sudah mulai mengantuk. Ali kembali diam, Erna dan Lala benarbenar tenggelam dalam mimpi. Indah juga tidak bersuara, sesekali kepala bu Wulan terlihat menyembul dari balik penahan kepala, melihat sisi kanan jalan yang kami tempuh. Aku dan Agus duduk di bagian belakang, kadang kami mengobrol ringan mengenai perjalanan ini, tapi lebih banyak diam.

Dari perkampungan penduduk yang padat, perlahan terus merayap ke dukuhdukuh kecil. Jalanan masih terus menanjak. Di beberapa bagian, bahkan mencapai empatpuluhlima derajat, sehingga kecepatan mini van harus diturunkan ke gigi satu. Saya benarbenar memuji cara berkendara si supir yang halus dan cekatan. Di malammalam gelap seperti ini, supir yang cakap adalah aset yang sangat berharga. Apalagi saat kendaraanmu bergerak diatas punggung bukit yang terjal, dengan jurang yang dalam di kanan kiri jalan. Atau ketika kendaraan harus berputar tigaratusenampuluh derajat sambil menanjak curam, bila bukan pengendara yang ahli, tentu akan jadi pengalaman terburuk mendaki ke gunung Bromo. Dan di sini, saya bukan saja terganjar dengan keahlian mengemudi sang supir, tapi juga sebuah pemandangan yang tiada duanya.

Sudah dua jam kami berjalan, dan diantara pohonpohon pinus itulah kusaksikan gambaran indah dari sebuah malam. Di bawah tampak Malang yang bermandikan cahaya terapit antara gunung Kawi yang begitu besar dan gunung Bromo Tengger yang tengah kami daki. Siluetnya begitu agung, ditambah lautan halimun tipis yang seakan samudera putih menaungi dari atas. Seperti negeri di atas awan. Aku kini tengah pergi ke negeri di atas awan.

***

Mereka yang menghuni kawasan Bromo-Tengger-Semeru adalah orangorang Tengger. Mereka keturunan langsung dari Majapahit. Dari sudut pandang sejarah, setelah kebesaran Majapahit memudar, Islam menjadi sebuah agama mayoritas di tanah Jawa. Karena sebagian besar penduduk Majapahit beragama Hindu, maka mereka yang tetap setia dengan ajaran lamanya itu, ber
gerak mengasingkan diri ke puncak gunung Tengger, dan menetap di sana. Kisah yang nyaris sama dengan keterasingan suku Baduy di Banten yang mengaku keturunan Padjadjaran. Yang berbeda adalah, masyarakat Baduy tidak pernah mengakui diri mereka sebagai pelarian, hanya saja wilayah mereka mendapat madala 'kawasan suci' secara resmi dari raja. Pun, agama kedua suku ini juga berbeda. Tengger adalah Hindu, sedangkan Baduy adalah Sunda Wiwitan. Bagi saya, cerita mengenai perpindahan tempat karena suatu kepercayaan hampir ada dalam agamaagama besar dunia. Nabi juga pernah hijrah ke Madinah guna membentuk komunitas yang lebih baik dan menghindar dari agresi orangorang Quraish.

Ada kalanya terjadi friksi antara dua kelompok yang berbeda agama dan budaya. Antara tahun 1955 hingga 1965, Tengger juga mengalami hal serupa. Adalah NU yang Islam dan Tengger yang Nasionalis yang berkonflik, ketika sekelompok aktivis muslim (yang secara longgar terkait dengan fraksi radikal NU) menyerbu salah satu tempat yang paling dikenal dihuni dhanyang, yang berlokasi di tengah-tengah reruntuhan pemandian Hindu abad XIV M (lihat). Di bawah gelapnya malam, orang-orang militan tersebut memasuki tempat keramat, menghancurkan patung-patung Hindu Kuno dan menurunkan patung itu lalu membuangya di dekat sungai. Berita penyerangan itu menyebarkan teror di seluruh pegunungan, yang menyebabkan perasaan takut di kalangan warga Tengger. Itulah barangkali peristiwa yang melatari
penulisan buku Geger Tengger: Perubahan Sosial dan Perkelahian Politik (LKIS) karya Bob Hefner. Menarik sekali, karena buku tersebut membuka sejarah gelap NU, padahal LKiS sendiri merupakan salah satu penerbit bukubuku karya warga Nahdhiyin. Sepertinya mereka berusaha berdamai dengan masa lalu, meski dampaknya ke grassroot tidak terlalu besar (Lihat).

***

Pukul tiga pagi kami sudah sampai di bukit Pananjakan. Di sinilah terletak viewpointpaling masyhur untuk melihat gunung Bromo dari dekat. Kawasan Bromo memang unik. Ia memiliki sebuah kaldera, lautan pasir, yang luas hinga sepuluh kilometer persegi. Ibarat gunung Toba di Sumatera Utara, maka danau yang ada di di gunung itu adalah pasir bagi Bromo. Ditengahnya mencuat gunung Batok yang bergerigi, dengan sebuah kawah di samping kanannya. Di sinilah setiap tahunnya masyarakat Tengger mengadakan upacara Kasada untuk memperingati pernikahan Joko Seger dengan Dewi Loro Anteng. Sayangnya, kami tiba bukan pada waktunya, jadi tidak sempat menyaksikan peristiwa budaya tersebut.

Udara cukup dingin. Tokotoko cinderamata menjajakan berbagai pakaian pengusir rasa menggigil. Mulai kupluk, slayer, hingga sarung tangan yang masingmasing terbuat dari wol. Awalnya saya berkeras hanya memakai jaket kulit saja, tapi begitu pintu mobil dibuka, brrrr... semburan hawa dingin langsung menusuk kedalam poripori. Jemari saya langsung beku. Kawankawan perempuan mulai membeli perlengkapan penghangat, saya tidak. Hanya sebuah kupluk biasa untuk menutupi kepala dan telinga dari udara. Ali yang sebenarnya sudah membawa sarung tangan bikernya, malah membeli sarung tangan lagi, demi melihat saya yang tidak memakai sarung tangan ia meminjamkan miliknya tersebut. Saya menerimanya, tapi hingga kami turun belum pernah kupakai sarung tangan biker tersebut. Belum tahu ya efek dari kelebihan lemak tubuh?! Hee...

IMG_2646
IMG_2648IMG_2610
IMG_2585

Sambil menunggu waktu fajar, kami berkumpul bersama di atas tungku bara yang hangat, menikmati kopi, sereal dan cokelat panas. Berbincang ngalor ngidul tentang berbagai hal, dan bercerita sekedar mengahangatkan badan saja. Beberapa turis mancanegara juga ada di dekat kami, dari bahasanya besar kemungkinan berasal dari Jepang. Mungkin Cina, bisa juga Korea, ah, tapi Taiwan pas juga tuh. Suer, saya tidak benarbenar tahu asal mereka, lagi malas saja menyapa. Mereka berbicara dengan bahasa mereka sendiri. Hmm... ini adalah world heritage, jadi kupikir kenapa tidak membiarkan mereka merasa at home tanpa harus menyapa dengan bahasa Inggris yang kacau balau. :p

Dan tibalah saatsaat yang dinantikan, ketika matahari menyembul dari balik awan. Para turis bergerak menuju ke view point yang sempit itu. Mendaki beberapa puluh anak tangga dan mengabadikan momenmomen berharga. Ya, ini adalah wisata waktu, sayang sekali kalau tidak diabadikan. Bahkan, meskipun dapat diabadikan, belum tentu akan tertangkap dengan pas. Seperti kamera saya yang luluh lantak kalau memotret malam hari, tapi suasana malam yang terlindas hujan benarbenar membuat matahari enggan beranjak dari peraduan. Hanya mega merah yang berpendar di antara awanawan di ujung kaki langit, tidak ada bola terang nan aduhai itu, atau pancaran sinar yang menembus tentram. Tapi tak apalah, suasana benarbenar menakjubkan bagi saya. Dan di atas pelataran itu, dengan bangkubangku kayu bak amphitheater orangorang ramai mengambil gambar. Hey, aku turis! Dan layaknya turis, kami fotofoto di sana. Maaf nih, hanya beberapa foto saja yang layak untuk disajikan.

IMG_2630

IMG_2666IMG_2665
IMG_2679
IMG_2669IMG_2677

Puas melihat sunrise yang invalid itu, kami melanjutkan perjalanan menuju kawah gunung Bromo. Kembali mengendarai mini van Korea, mengambil rute yang sama dengan arah menuju bukit Pananjakan, hanya kali ini, sinar mentari telah menyibak segalanya. Keindahan alam yang samarsamar terlihat di malam hari berangsur pulih dari tidur panjangnya. Kami disuguhi pemandangan yang begitu rupawan. Deretan pohon pinus berikut hijau bukit yang terlukis sempurna, beradu dengan legamnya aspal yang berani. Bumi mulai bangkit dari tidurnya. Di sebuah persimpangan, kami mengambil arah ke kiri menuju kaldera Bromo. Ini jalan yang sangat curam. Seperti goresan grafiti yang terukir dalam di dinding lereng yang terjal. Beberapa kali disalip oleh Jeep yang membawa penumpang turun ke bawah, maklum ini mini van dan jalan macam ini memang bukan tandingan jeepjeep Jepang itu.

Ternyata, pemandangan dari atas kaldera tidak kalah menariknya! Kami masuk dari arah Barat, keluar di sebuah jalan yang bumpy langsung di sambut lautan pasir yang indah. Di sebelah kanan terbentang gugusan stepa nan hijau, kontras pasir berwarna abuabu di sis kiri. Tidak ada jalan di sini, hanya tapaktapak roda kendaraan yang lama kelamaan membuat keras pasir dan membentuk sebuah rute off road yang lembut. Di kejauhan tampak pura Luhur Poten tempat diadakannya ritual Kasada dan Karo oleh masyarakat Tengger. Di sekitar tempat tersebut, berjajar patokpatok beton. Saya tidak mengerti arti patokpatok itu, apa mungkin sebuah pagar, atau seperti yang disebut dalam beberapa situs, merupakan petunjuk agar tidak tersesat saat berjalan di atas kaldera pada malam hari. Entah mana yang benar, tapi di sekitar petakpetak itu banyak sekali penunggang kuda menawarkan jasa kepada para pengunjung.

Ini pertama kalinya saya naik kuda. Awalnya sedikit limbung karena belum terbiasa, lama kelamaan bisa juga menyesuaikan gerakan jalan si kuda. Pemilik kuda ini anak Tengger asli, umurnya baru enambelas tahun. Setiap hari bekerja mencari nafkah bersama kuda tunggalnya yang baru berumur tiga tahun di kaldera. Seperti kebanyakan orang Tengger, ia beragama Hindu. Sayang sekali saya lupa menanyakan namanya, yang kutahu hanya nama si kuda, Sally. Kenapa juga dinamakan begitu, padahal kuda yang kutunggangi ini kan berkelamin jantan. Masa bodoh pikirku, toh di Belitong sana ada pria tulen yang bernama Andrea. Hee..

IMG_2724IMG_2726
IMG_2742

IMG_2689IMG_2685

Dari tempat parkir kendaraan di bagian luar patokpatok beton, kami berjalan melewati pura menuju dasar anak tangga. Dari atas kuda kulihat beberapa orang terperosok ke dalam pasir. Lumayan juga sih pikirku kalau berkuda, tidak perlu merusak sepatu. Tapi alasan yang paling tepat justru akibat banyaknya kotoran kuda di sepanjang jalur menuju kawah. Baunya benarbenar menyengat! Belum lagi jalur yang lumayan terjal saat menuju dasar anak tangga. Saya sendiri sempat sangsi dengan kemampuan Sally, tapi ia terbukti membawa saya pulang pergi dengan selamat. Kawankawan lain bahkan memiliki pengalaman yang berbeda. Lala misalnya langsung melejit dengan kudanya saat turun dari kawah, untung tidak apaapa. Sedangkan kuda Indah terus menerus buang angin membuat Agus yang berada di belakangnya menutup hidung. Adapun Erna, berbakat menjadi penunggang kuda teraneh. Bagaimana tidak, waktu berada di atas sadel, tangan kanannya memegang haluan sedang tangan kirinya memegang buritan. Dan dengan ekspresi orang ketakutan ia terus saja berdoa sepanjang perjalanan itu. Sewaktu peristiwa itu diceritakan kembali di atas kereta, sontak semua tertawa terbahakbahak.

Sesampai di bawah tangga, kami segera turun dari kuda. Para pemilik kuda kemudian menunggu dengan sabar di bawah untuk membawa kami kembali kedalam mobil. Tangga di dinding Bromo lumayan curam, sekitar tujuhpuluhlima derajat. Awalnya kupikir dapat kulalui dengan mudah, ternyata baru beberapa anak tangga, nafas sudah tersengalsengal. Saya lupa menghitung jumlah anak tangga yang ada. Ada yang bilang duaratuslimapuluh, ada juga yang bilang duaratusempatpuluh, bahkan sampai ada yang korting hingga seratusduapuluh anak tangga. Saya juga heran, apa mungkin yang bilang begitu melompati dua anaktangga sekaligus. Hebat juga sih kalau seperti itu. Pastinya, ketahuan deh di sini siapa yang tidak pernah olah raga :p.

Saat menanjak, beberapa material kecil yang terbawa oleh pembakaran dari dapur magma menguap ke atas dan mengguyur kami dengan abu vulkanik yang turun perlahan laksana salju, membuat kamera saya kotor. Beberapa ibuibu sibuk berjualan minuman dan makanan ringan. Beberapa turut menjajakan bungabunga eidelweis yang banyak ditemukan di lerenglereng gunung. Saya lupa mengabadikan bunga tersebut, entahlah, mungkin karena gambarannya yang tidak begitu menarik dan kasar. Khas bungabunga liar. Bagaimanapun juga, ia dupuja berkat letaknya tumbuh, dimana seseorang harus mendaki tinggi agar dapat mengambilnya, serta kemampuan survival bunga tersebut. Makanya ia dijadikan perlambang bagi usaha keras (tolong koreksi kalau saya salah). Ingat eidelweis, ingat pula Sound of Music. Film lawas ini memang begitu menarik, apalagi ada salah satu lagunya yang berbicara tentang edidelweis. Gimana ya liriknya, eidelweis... eidelweis...

IMG_2696IMG_2688
IMG_2698IMG_2701

Yap, inilah kami berdiri di bibir kawah gunung Bromo, menyaksikan ujungujung kaldera yang bagaikan benteng permai mengitari kawasan kawah yang luas ini. Asap terus mengepul dari celahcelah kawah, mengingatkan saya akan legenda lama Dewi Loro Anteng.

Alkisah, setelah menikah dengan Joko Seger, selama lebih dari sepuluh tahun, pasangan ini belum juga memiliki keturunan. Keduanya lalu meminta kepada dewata agar memberi mereka keturunan. Permintaan keduanya dikabulkan, tapi dengan satu syarat. Anak keduapuluhlima harus dikorbankan kepada para dewa. Singkat cerita, Dewi Loro Anteng sukses melahirkan keduapuluhlima anaknya, kini giliran dewata meminta balasan. Rupanya Anteng tidak berkenan dan mencoba melarikan diri dari janjinya. Dewata marah sampai sang Dewi pasrah agar anaknya dikorbankan. Raden Kusuma, si putra bungsu kemudian berkenan mengorbankan dirinya dengan terjun ke kawah gunung Bromo. Ketika jasadnya hilang tertelan bumi, bergema suara agar saudarasaudaranya tinggal menetap di gunung Bromo dan agar tiap tahun mereka memberi persembahan di kawah gunung ini.

Dari legenda inilah dasar diadakannya upacara Kasada. Dan sebagaimana mitosmitos serupa di tanah air, lewat mitos tentang Dewi Loro Anteng inilah kita melihat bagaimana proses historis suku Tengger yang menyingkir ke Bromo terjadi. Saat bahasa yang jelas tersurat begitu riskan digunakan, mereka menggunakan bahasa tersirat yang penuh kreativitas. Di sinilah kenyataan berkelindan dengan mitos. Alam memberikan sajian yang dahsyat tentang sebuah eksodus. Dan di tanah Jawa inilah, bangunan alam jauh lebih abadi dari segala monumen buatan manusia. Bila Syah Jehan membangun Taj Mahal sebagai perlambang cintanya yang agung, maka manusia Jawa cukup menunjuk kepada Gunung-gunung sebagai monumen abadi yang tak tergantikan.

Sebelum Rara Anteng dinikahi Joko Seger, banyak pria yang naksir. Maklum, kecantikannya sangat alami sebagaimana Dewi. Di antara pelamarnya, terdapat Kyai Bima, penjahat sakti. Rara Anteng tidak bisa menolak begitu saja lamaran itu. Ia menerimanya dengan syarat, Kyai Bima membuatkan lautan di atas gunung dan selesai dalam waktu semalam.

Kyai Bima menyanggupi persyaratan tersebut dan bekerja keras menggali tanah untuk membuat lautan dengan menggunakan tempurung (batok) yang bekasnya sampai sekarang menjadi Gunung Bathok, dan lautan pasir (segara wedhi) terhampar luas di sekitar puncak Gunung Bromo. Untuk mengairi lautan pasir tersebut, dibuatnya sumur raksasa, yang bekasnya sekarang menjadi kawah Gunung Bromo.

Rara Anteng cemas melihat kesaktian dan kenekatan Kyai Bima. Ia segera mencari akal untuk menggagalkan minat Kyai Bima atas dirinya. Ia pun menumbuk jagung keras-keras seolah fajar telah menyingsing, padahal masih malam. Mendengar suara orang menumbuk jagung, ayam-ayam bangun dan berkokok. Begitu pula burung. Kyai Bima terkejut. Dikira fajar telah menyingsing. Pekerjaannya belum selesai. Kyai Bima lantas meninggalkan Bukit Penanjakan. Ia meninggalkan tanda-tanda: 1.Segara Wedhi, yakni hamparan pasir di bawah Gunung Bromo. 2.Gunung Batok, yakni sebuah bukit yang terletak di selatan Gunung Bromo, berbentuk seperti tempurung yang ditengkurapkan. 3.Gundukan tanah yang tersebar di daerah Tengger, yaitu: Gunung Pundak-lembu, Gunung Ringgit, Gunung Lingga. Gunung Gendera, dan lain-lain. (Alpha Savitri)


Coba bandingkan mitos ini dengan mitos Dayang Sumbi, Candi Sewu, dan lain sebagainya. Perhatikan pula tokohtokohnya, baik yang antagonis dan yang protagonis. Lihat juga bagaimana taktik perempuan keluar dari sebuah persoalan dilematis, saat tantanganya mampu dipenuhi sedang ia berharap bahwa itu tidak akan terjadi. Atau bagaimana gambaran para cerdik pandai yang mampu mencipta seribu candi dalam semalam atau menggali gunung dan membuat perahu yang besar, yang selalu ditampilkan dalam bentuk yang buruk rupa, jelek dan penuh hawa nafsu. Apakah ini sebuah sindiran? Sindiran terhadap kaum pendeta yang kala itu memegang obor pengetahuan. Melawan kaum bangsawan yang tahunya hanya berperang dan berwajah tampan. Siapapun mereka, tampaknya sangat membekas dalam alam pikiran masyarakat Jawa yang kemudian menghidupkan mitos dalam kehidupan mereka seharihari. Mitos tentang baik dan buruk, mitos tentang kecantikan, mitos tentang apa yang seharusnya seseorang perbuat di masa hidupnya. Semuanya, tanpa meninggalkan satupun catatan tertulis tentang apa yang terjadi sebenarnya. Semuanya, saat pengetahuan dibungkam dan tersimpan rapih dalam agendaagenda politik penguasa. Dan itulah yang mungkin terjadi pada Supersemar dan peristiwaperistiwa aneh yang kerap terjadi di negeri ini. Kita dibawa kembali ke alam mitos, sama seperti para leluhur kita yang kerap memanipulasi sejarah.

Ah, aku hanya ingin melihat, merasakan, menghirup apa yang ada didepanku saat ini. Karena purnama di atas Bromo adalah sebuah sajian yang tak akan pernah terlupa sepanjang hidup dan suatu saat aku akan kembali lagi kesana.

IMG_2751
IMG_2753
IMG_2755

Purnama di atas Bromo (1)

IMG_2652

Kamis, pukul 11.16, sebuah pesan singkat masuk ke telepon genggam saya.

    fren bsk gmn jd ikut gak kalo ya kt naik dr senen jam 2 siang.


Sebuah undangan untuk menghadiri resepsi pernikahan kawan sekantor, Ida  dan Ari, di Malang datang menghampiri saya. Ya, beberapa kawan memang merencanakan perjalanan ke kota Apel ini. Lala, yang merupakan koordinator trip, bersama Agus, Indah, Erna dan bu Wulan sudah sepakat untuk berkunjung ke kota tersebut. Mereka berlima mengajak saya untuk ikut liburan singkat ini.
 
   Kita ke Bromo
fren, bujuk Agus.

Hmm... Malang tanpa apaapa, bagi saya hanya memori lama. Tapi ke Bromo. Pegunungan Tengger, Semeru. Bukankah itu sebuah pengalaman tersendiri yang menarik untuk diikuti. Gununggunung agung yang menjulang bak raksasa yang tenggelam dalam semedi. Lautan pasir, dan kudakuda. Seperti menyaksikan waktu yang berhenti di sudut tertinggi pulau Jawa. Akhirnya kuputuskan juga untuk ikut bersama rombongan kecil ini, setelah memastikan sisa cuti tahun ini bisa saya pindah ke hari Jumat.

  ... saya harap km bisa ikut

Allright, I am coming.


Di atas Kereta

IMG_2792IMG_2478
IMG_2482
IMG_2463


Keesokan harinya saya berkemas, lalu pergi ke stasiun Bekasi. Benar, kami naik kereta. Sama seperti perjalanan terakhirku ke Madiun, menumpang Matarmaja. Di stasiun, Erna sudah menunggu. Masih dengan kepolosannya yang tak pernah dibuatbuat, gadis Solo ini berdiri mematung di tengah peron, seolah anak hilang.
   
   nomor telponmu berapa wan? kok ga bisa dihubungi?

Karena tidak mau diganggu siapasiapa, saya lupa kalau dari pagi ini saya aktifkan mode Blacklist di hand phone saya.

   oh, sorry. Nanti pesanmu juga masuk sebentar lagi.

Begitulah, meskipun dulu kami samasama satu angkatan waktu masuk perusahaan ini, bahkan nomornya pun aku tak punya. Apa mungkin karena saya lama di Makassar, hingga kami tidak akrab lagi seperti dulu? Entahlah, cuma memang kalau mau diperbandingkan cara berpikir kami berdua itu mirip langit dan bumi. I am extremely complicated, and she is extremely simple. Barely simple.

Setelah chitchat ringan dengan Erna seputar masalah kantor, kereta pun tiba. Kami dapat tempat di gerbong tiga, di sana temanteman yang lain sudah menunggu. Agus, Indah dan Lala, naik bareng dari St. Pasar Senen. Ketiganya hampir saja tertinggal kereta garagara mode terlambat dan santai Agus sedang on :), sedangkan bu Wulan berangkat dari Jatinegara.

Kalau Agus dan Erna bertemu, suasana pasti rame. Si usil sama si latah, begitulah pemandangan yang ada. Belum lagi kalau logat Jawa Erna yang medok keluar, semua pasti tertawa terpingkalpingkal. Belum lagi bu Wulan yang antusias sekali dengan perjalanan naik kereta ekonomi ini. Yang pertama katanya, dengan putaran bola mata bak penari Bali dan gerakangerakan tangan yang artikulatif, suasana menjadi sangat ceria. Ceritacerita pun dengan lancar keluar dari mulutnya. Kisah kemenakannya yang baru kelas 4 SD dan harus pulang sendiri ke Solo naik kereta eksekutif, kecemasannya karena ternyata kereta yang ditumpangi mogok hampir 3 jam, serta kepanikan ditelpon kakak dan kerabatnya. Wah, sambung menyambung tuh. Lain kiranya dengan Indah dan Lala yang hanya sedikit menimpali. Kalau ada yang perlu disematkan penghargaan, ya dua orang ini, Erna dan bu Wulan. Bintangnya ngrumpi :p. Tak terasa jadinya perjalan yang menempuh waktu hampir 18 jam ini. Berbincang, ketawa, makan, ketawa, berbincang, tapi capek juga. Memang berjalan ramairamai tuh menyenangkan.

IMG_2502IMG_2477
IMG_2490IMG_2476

Pukul satu malam, selepas Semarang, semuanya sudah hampir terlelap dengan mimpi. Di sebuah persilangan kereta berhenti. Tibatiba, sesosok tubuh merengsek masuk dari celah jendala. Aku masih setengah sadar, tapi sekali waktu dulu kupernah mendengar ceritacerita pencuri yang mengambil barangbarang penumpang lewat jendela. Tanpa pikir panjang, langsung kesergap tangannya yang merogoh kedalam hendak mengambil dompet dan handphone Lala. Dalam sepersekian detik, dan Agus juga sudah menyergap mencekal pergelangan tangan si maling, buku Maryamah Karpovku terpental entah kemana. Kuatkuat kuremas dan kupukuli lengannya. Penumpang lain juga sudah berkerumun hendak menghajar pencuri ini. Kutatap matanya dalamdalam, ia tenang, cukup tenang malah untuk orang yang menggantung di atas jendela kereta. Bajunya kuning dengan stripstrip biru di bagian atas. Kulitnya bersih, profesional rupanya.

Lala menjerit keraskeras, menggenggam erat ia punya handphone. Indah tak dapat bersuara, bu Wulan panik mencaricari kamera saya dan memeriksa telpon genggamnya, Erna lebih panik "Setan! Setan!" Si copet ikutikutan panik, puihpuih ia meludah, mungkin maksudnya mau bilang bahwa ia bukan setan kali. Iya, kamu bukan setan tapi maling, kamu maling setan! Dan kereta pun mulai berjalan kembali. Setelah yakin tidak ada kehilangan sesuatu, kulonggarkan remasanku dan si maling pun terjatuh keluar sesaat sebelum kereta benarbenar bergerak kencang, ia hilang dalam kegelapan. Banyak yang menyayangkan kenapa si maling tuh dilepas. Ah, dia kan juga manusia. Aku sendiri malah lebih takut kalau ia terus tersangkut di atas jendela, sedangkan didepan banyak sekali palangpalang yang kemungkinan bisa saja melukai tubuh si pencuri. Bukan tidak mungkin kita yang bermasalah karena membahayakan nyawa manusia. syukurlah tidak ada kurang.

Setelah peristiwa itu, sudah tidak ngantuk lagi rasanya.Orangorang juga kembali ramai membicarakan kejadian buruk tadi, dengan versi yang berbedabeda tentunya. Muka Lala masih tegang, dan Erna tambah aneh. Waktu bahas lontarannya tadi, semua malah tertawa terbahakbahak. Huh, tidak ada yang tidak bisa dijadikan bahan tertawaan di atas gerbong itu.

The Wedding

IMG_2528
IMG_2523IMG_2512
IMG_2536


Sekitar pukul delapan pagi harinya, kami tiba di stasiun Malang Kota. Agak mendung rupanya, jadi masih terasa sejuk. Dua puluh menit kemudian sebuah Taruna perak datang, rupanya Agus Malang, Medical Representatif yang station di kota ini menjemput kami meminjam kendaraan Area Manajernya. Setelah keliling kota sebentar, dan sarapan di sebuah warung kecil, kami pun diantar menuju tempat penginapan di hotel Kalpataru. Lelah sekali rasanya, maka akupun segera terlelap saat masuk ke kamar. Benarbenar perjalanan yang panjang.

Siang hari, hawa semakin dingin. Hujan deras rupanya. Jalanan depan hotel sudah tergenang setinggi mata kaki. Kasihan juga pikirku, pernikahannya Ida. Mana tidak ada tandatanda bakal selesai hujannya. Sekitar pukul dua, tiga rep Malang datang menjemput, mereka juga hendak menghadiri resepsi pernikahan. Setelah bersalin dan berbincangbincang di beranda kamar, kami segera berangkat. Hujan lebat, mobil yang sumpek dipenuhi penumpang berangkat. Tidak jauh, hanya dua ratus meter dari tempat kami menginap. Dan suasana benarbenar basah.

Di atas panggung, dua mempelai tengah duduk di atas singgasana mereka. Tidak terlalu ceria, tapi mereka berusaha tegar. Kusalami satu persatu, juga kedua orang tua kedua penganten. Dari pegangan mereka yang tidak bersemangat kutahu betapa hujan telah mengubah harapan mereka mengenai hari bahagia ini. Maka kusambut pegangan tangan itu dengan genggaman percaya diri. Ayo jangan bersedih, bersemangatlah. Yang penting kan sudah menikah. Itu barangkali katakata yang hendak kusuarakan, tapi pada siang hari itu tidak ada satu pun ujaran yang keluar dari mulutku.

Pada sesi hiburan, Lala dan Ali, reps Malang, menyumbangkan sebuah lagu untuk kedua mempelai. Cocok sekali kedua orang ini. Agus Malang juga turut bernyanyi menghibur. Hujan masih turun, tapi semua menjadi ceria. Hey Ari dan Ida, selamat menempuh hidup baru. Semoga kalian bahagia selamanya ya!

IMG_2544
IMG_2541IMG_2556

Malammalam dingin

Sore harinya, setelah menunggu hujan reda, kami kembali lagi ke penginapan. Beruntung sekali karena sesampai di sana air tumpah dengan hebatnya. Kami tidak bisa menikmati sore hari yang hangat dan terkurung di kamar hotel hingga malam. Sudah lapar sekali perut terasa padahal baru saja ikut makan saat resepsi Ida, dingin benarbenar menambah nafsu makan saya. Ternyata, bukan cuma saya yang lapar, kawankawan perempuan juga begitu. Akhirnya Agus dan Lala pergi keluar mencari makanan, sekedar mengganjal perut.

Satu cup mie instan, tiga potong martabak, dan segelas air Aqua. Kami bertiga berbicang sebentar di teras, menikmati kedinginan itu.

    Kenapa kamu masuk filsafat? Tanya Lala padaku. Kenapa juga pertanyaan ini yang keluar setiap mereka berbicara tentangku. Filsafat itu benarbenar distinctive.
   
    Entahlah,
jawabku asal.
    Tahu tidak, kalau pelajaran yang kubenci dulu itu filsafat, kata Lala.
    Tidak jelas.

Benar tuh, setuju. Aku cengengesan saja.
Ah, kembali ke masa lalu. Kenapa juga harus hadir di saatsaat seperti ini. Tentang segala pilihanku dan semua yang tidak pernah sinkron. Bagaimana mungkin anak filsafat bekerja di perusahaan farmasi.

   Berapa IPmu wan? Tanya Agus
   3,76 Jawabku ringkas. Apa peduli dengan nilai setinggi itu. Di sini saya benarbenar memulai dari nol.
   mungkin karena itulah kamu diterima.

Mungkin saja, atau janganjangan yang wawancarai saya dahulu sedang asyik masuk baca bukubuku filsafat. Hee... siapa yang tahu. Tapi itulah, hampir tiga tahun saya bekerja di sini. Dan selama itulah ada banyak hal yang kucerap. Terimakasih Merck karena mengajarkan banyak hal kepada saya.

IMG_2576IMG_2573
IMG_2566
IMG_2569

Karena terlalu lelah, pembicaraan hangat itu berlangsung singkat. Kusetel alarm handphone di jam 12.30. Sepertinya baru rebahan sebentar, sampai terdengar ketukan di pintu. Ali sudah datang rupanya. Ooops, aku lupa memberi tahu, kalau kami akan berangkat ke gunung Bromo tengah malam ini. Pukul 1.30 dini hari, dengan sisasisa tenaga yang terkuras oleh lamanya perjalanan. Malam itu, dimulailah petualangan yang sesungguhnya, pergi ke Bromo melihat matahari bangun. Udara malam selalu membawa ilusi tentang mimpi yang datang sebelum waktunya.

to be continued...