3:10 to Yuma dan Sebuah Tikungan



3:10 to Yuma (Widescreen Edition)Ada yang menarik saat pertama menonton film 3:10 to Yuma. Suguhan aksi ala koboi di masamasa revolusi Amerika, ketika pembangunan jalur kereta api sedang dalam tahap permulaan, dan slogan go west, menjadi mantra pemicu yang aduhai. Tapi, memang bukan itu kiranya yang hendak diangkat oleh film yang disutradarai oleh James Mangold ini. Penokohan yang pas oleh para aktornya dan jalinan cerita yang baik, sudah lebih dari cukup untuk setia menonton setiap detil adegannya. Dan pantaslah kiranya ia menjadi pengisi kerinduan akan filmfilm bertema wild west.

Saya sendiri bukan penggemar fanatik film western, tokoh yang masih terbayang diingatan saya hanya Billy the Kid, selebihnya tidak ada. Dalam 3:10, tokoh antagonis dan protagonis bersatu dalam sosok seorang Ben Wade yang diperankan oleh Russell Crowe. Ups, sekali lagi bukan dia yang menjadi titik fokus film ini, tapi Dan Evans oleh Christian Bale. Yah, pemeran Batman ini berhasil menjiwai perannya sebagai seorang rancher "kacangan" dengan pas. Bahkan selama pemutaran berlangsung, saya nyaris tidak mengenalinya sebagai sosok Batman yang perkasa itu. Berbeda dengan Crowe, yang bayangbayang karakter seorang Maximus di Gladiator masih terlihat jelas di mata saya.

Rancher sederhana


Adalah Dan Evans seorang peternak sapi yang tanahnya selalu diganggu oleh landlord, memutuskan diri mengawal bromocorah yang kejam dan bengis, Ben Wade, ke kereta yang berangkat jam 3:10 menuju penjara Yuma. Evans sendiri seorang family man yang hidup sederhana bersama istri dan kedua orang putranya, William dan James. Sebelah kakinya putus saat perang revolusi, hingga membuat dirinya diremehkan orangorang di kotanya. Scene pembuka menggambarkan betapa tertekannya Evans saat dirinya tak mampu melindungi peternakannya yang kecil dari serangan para berandal.

Suatu pagi, sebuah kereta kuda yang membawa sejumlah uang dirampok oleh gerombolan Wade. Evans dan anakanaknya secara tidak sengaja berpapasan dengan Wade. Inilah pertemuan pertama mereka. Anak buah Wade pimpinan Charlie Prince, Ben Foster, menyita kuda mereka dan membiarkan Evans hidup untuk mengambil ternaknya yang hilang. Gerombolan ini kemudian pergi ke kota, dan dengan cara mereka yang cerdik berhasil membuat sherrif pergi ke luar kota mengejar para perampok.

Di sebuah bar, Wade tertangkap basah oleh sherrif. Dan Evans yang merasa selama ini tidak berharga menawarkan diri untuk mengantar tahanan tersebut bersama rombongan kecil petugas kota. Demi $ 200 katanya, untuk membebaskan diri dari penindasan Lanlord. Dalam perjalanan, satu persatu anggota rombongan mati terbunuh. Baik oleh pembalasan anak buah Wade yang terus mengikuti mereka maupun oleh aksi brutal sang tahanan. Wade sendiri adalah sosok yang humanis. Meskipun brutal, tapi ia hampir tidak mencelakai orang yang tidak mengusik dirinya. Terbukti, tidak ada anggota rombongan yang ia celakai, kecuali seorang sherrif yang mengolokolok dirinya yang kemudian mati secara mengenaskan. Bahkan, di beberapa tempat, ia malah membantu rombongan kecil ini keluar dari sergapan orangorang Apache.

Sindroma Lima

Salah satu fenomena yang menarik dari kisah ini adalah munculnya sebuah sindroma Lima antara Evans dan Wade. Berbeda dengan sindroma Stockholm, dimana muncul loyalitas dari para korban kepada para penindasnya, maka dalam sindroma Lima, orang yang menindas justru menjadi loyal kepada korban mereka. Para rombongan kecil ini, meski secara defenitif merupakan penjaga keamanan, tapi secara de facto, mereka bukan tandingan anak buah Wade. Sehingga bisa dikatakan kalau mereka adalah juga korban dari kebrutalan para penjahat tersebut. Selama perjalanan Wade sama sekali tidak menunjukkan dirinya sebagai tahanan, ia malah terlihat jauh lebih santai daripada para pengawalnya. Situasi serupa yang sering kita jumpai dalam penahanan penjahatpenjahat kelas kakap macam Hannibal Lecter.

Salah satu hal, yang mungkin membuat Wade merasa simpati kepada Evans adalah keteguhan hatinya dalam mengantar penjahat tersebut menuju stasiun kereta api. Dalam adegan di kamar hotel, ketika Evans dengan tegang menunggu kereta datang, Wade berusaha menyuap si rancher miskin ini dengan uang hingga $1000 agar mau melepaskannya. Evans tetap bersikeras menolak, meskipun ia tahu, imbalan yang diterima hanyalah $ 200 dan kemungkinan besar, ia akan mati terbunuh oleh anak buah Wade. Bahkan tatkala temantemannya akhirnya menyerah dan kemudian dibantai dengan kejam oleh Charlie Prince, ia masih juga berkeras.

Maka munculah sindroma itu. Wade yang dalam statusnya sebagai tahanan, malah membantu Evans membawa dirinya menuju stasiun, di tengah hujan peluru anak buahnya. Beberapa kali, ia menyelamatkan Evans yang memberitahu keberadaan musuh yang hendak menembaknya. Charlie Prince yang kejam itu tidak menyadari perubahan yang ada di dalam diri bosnya. Ia bahkan dengan bersemangat memuntahkan peluru sebanyakbanyaknya kepada Evans. Saat kemudian Evans tertembak dan terkapar di atas tanah, justru Wade malah merasa sedih. Dengan pistolnya sendiri, ia kemudian membantai anak buahnya dan Charlie Prince yang setia itu. Benarbenar ironis.

Tikungan hidup

Setiap kali, memutar ulang adegan ketika Evans mati terkapar dan Wade yang begitu emosional malah turun dari kereta untuk menolongnya, Saya masih juga belum memahami pikiran apa yang berkecamuk dalam diri seorang Ben Wade. Bahkan tatkala ia mengarahkan moncong pistolnya ke jantung Charlie Prince yang terbengongbengong melihat si bos membantai kawankawannya sendiri, seakan timbul suasana yang sangat mencekam saat itu. Pergolakan batin dan moralitas baik buruk disertai sebuah konklusi yang begitu kontras dengan pemikiran yang ada dibaliknya, benarbenar membuat alur film ini begitu unpredictable.

Saya jadi teringat hubungan antara Richard "The Lion Heart" dengan Shalahuddin al-Ayubi. Bagaimana, Shalahuddin datang sendiri malammalam ke tenda Richard yang kala itu tengah terluka dan memberinya pengobatan. Kedua musuh yang terlibat dalam perang Salib itu kemudian malah berteman. Atau, pengalaman pribadi saya dengan seseorang yang dahulu saya pernah berkelahi dengannya, di halaman sekolah lagi, kami malah berteman dekat. Sayang sekali dia sudah meninggal. Betapa hidup ini memang penuh dengan tikungantikungan yang tidak pernah kita duga sebelumnya.

Bisa jadi ada benarnya pepatah yang mengatakan, musuh yang tangguh itu jauh lebih berharga dari teman yang lemah. Karena, dari sanalah kita bisa berkaca akan kelebihan dan kekurangan diri kita masingmasing dan berusaha untuk memperbaikinya. Sekarang, sudah seberapa tangguhkan kita?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar