Membaca Kembali Chairil Anwar

Sia-sia

Penghabisan kali itu kau datang
Membawa kembang berkarang
Mawar merah dan melati putih
Darah dan Suci
Kau tebarkan depanku
Serta pandang yang memastikan: untukmu.

Lalu kita sama termangu
Saling bertanya: apakah ini?
Cinta? Kita berdua tak mengerti
Sehari kita bersama. Tak hampir-menghampiri

Ah! Hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak-koyak sep

i

                                                     Februari 1943

(Chairil Anwar - Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus)

Kemarin di Gramedia, beli History of Arabs-nya Phillips K. Hitti dan Sejarah Indonesia Modern 1200-2004-nya M.C. Ricklefs. Mata saya lalu terantuk pada sebuah buku kecil di pojok sana, Aku ini Binatang Jalang, sebuah antologi sajak-sajak penyair nomor wahid Indonesia, Chairil Anwar. Ada apa gerangan, saya begitu ingin membaca kembali sajaksajaknya yang indah itu, yang penuh semangat, kadangkadang jenaka, sembrono, tapi darahnya mengalir ke ujungujung jiwa. Ah, aku hanya ingin membaca Chairil.

Pertama kali, ku mengenal dirinya bahkan sebelum ku masuk SD. Bayangkan, dua sajaknya yang paling kuingat: Aku ini Binatang Jalang dan Antara Krawang-Bekasi, meski hanya beberapa penggalannya saja. Ayahku yang mendeklamasikannya, dan saat kucoba, ia malah terpingkalpingkal. Kenapa? Apa aku saat itu begitu kecil untuk mengenal pengorbanan?!

    Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
    tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi.

Hebat sekali dia, membayangkan dirinya laksana pejuang yang tewas dalam revolusi Indonesia itu. Sangat mendaging dan kental. Bahkan hingga kini pun, derunya masih menyihir saya.

    Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
    Kenang, kenanglah kami.


Apa boleh dikata, meski ku sangat memujanya, hampir boleh dikata, sangat sedikit yang saya tahu tentang dirinya. Bahkan, aku kekurangan metodologi sastra guna membedah sajaksajaknya itu. Ya, meski sastra hanya sepelemparan batu dari filsafat, tapi saya justru tidak terlalu akrab. Buku yang agak nyastra yang pertama kali kukenal hanyalah Saman, karya Ayu Utami. Sebelum itu, beberapa sajak Goenawan Moehammad dan Zaim Uchrowi yang sering saya baca di Jurnal Islamika, lalu Harmonium-nya Budhi Dharma. Yang terakhir bahkan saya tidak mengerti apaapa. Cuma gaya aja, baca buku yang tidak pernah saya tahu mau berbincang apa dia. Pram, Goethe dan Tolstoy pun baru saat aku di bangku akhir kuliah. Untuk puisi dan sajak blas kosong.

Pun, waktu di pesantren, saya juga pernah demam sama sastra jenis ini. Cuma memang sudah watak saya yang tidak mau bergabung dengan komunitaskomunitas sastra. Aku memilih jalur yang independen. Dan di kamarku yang sendiri itu, di kantin pelajar, semua orang terperangah waktu kucat kuning seluruh kamar - terakhir kali ke sana, cat itu masih belum juga dirubah, jadi kalau mampir di kantin dekat Indonesia Empat dan menemukan kamar berwarna kuning, sudah pasti itu dahulu kamar saya :p. Sebenarnya, karena tidak ada cat hijau lumut dan putih saja. Tapi karena sudah terlanjur, akhirnya malah lemari pakaian yang kubaringkan mendatar hingga terbentuklah sebuah panggung mini di depan jendela. Saat tidak ada orang kuberdiri tegak di atasnya sambil berteriak, "Aku ini binatang jalang!"

***

Tapi saat ini, bukan suara serak dan mata merah Chairil yang melandaku. Sajaksajak cintanya, ternyata jauh lebih hebat. Oh kawan, coba simak sajaknya ini.

Senja di Pelabuhan Kecil
                                                   buat Sri Ajati

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemui bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap


                                                                   1946
(Chairil Anwar - Aku ini Binatang Jalang)

Sebuah kesenduan yang muram, seperti sore yang gelap di hari gerimis. Benarbenar kelam. Pelabuhan, yang merupakan sebuah medium, adalah perlambang dari perpisahan sama seperti senja yang menggambarkan sebuah akhir. Dan meskipun saat itu hujan, tapi laut tiada berombak. Sebuah kesepian yang mencekam. Seperti tarik ulur antara melepaskan dan merengkuh. Merengkuh sesuatu yang tidak bakal tergapai. Lalu, sebuah perjalanan, ujung dan ucapan selamat tinggal. Menegaskan akan perpisahan yang tak mampu didekap. Melankolis.

Dan coba bandingkan dengan sajaknya berikut ini yang lebih menggambarkan sebuah penerimaan, dan bernada sentimentil, meski samasama bernuansa perpisahan.

Cintaku Jauh di Pulau

Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri.

Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak 'kan sampai padanya.

Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
ajal bertakhta, sambil berkata:
"Tunjukan perahu ke pangkuanku saja."

Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu yang bersama 'kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau,
kalau 'ku mati, dia mati iseng sendiri.


                                                                   1946
(Chairil Anwar - Aku ini Binatang Jalang)

Dan yang paling indah dari tematemanya yang begitu romantis adalah sajak putih yang ia persembahkan buat kekasihnya yang sayang sekali, tidak juga kesampaian, si Mirat.

Sajak Putih

Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku

Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama Kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah...


                                                                   1944
(Chairil Anwar - Deru Campur Debu)


***

Ah, sayang sekali pula ia mati muda, 26 tahun 9 bulan. Bahkan diusianya yang baru 22 tahun, gubahannya begitu abadi, seakanakan ia hidup seribu tahun kemudian. Lagi, tatkala hari kematiannya yang jatuh pada tanggal 28 April hendak dirayakan sebagai Hari Sastra, banyak juga yang menolak. Bukankah itu tanda kebesarannya?! Karena pada hari itulah, sastra Indonesia muncul dari keabadian para pelopor 45.

Semangat


Kalau sampai waktuku
Kutahu tak seorang 'kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu!

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulan terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap merandang-menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari

Hingga hilang pedih peri.

Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi.


                                                               Maret 1943
(Chairil Anwar - Kerikil Tajam dan Yang terempas dan Yan Putus)


Ah sayang, kenapa juga kubanyak sekali mengucapkan sayang pada hari ini?!

5 komentar:

  1. udah baca 'AKU'-nya Sjuman Jaya?
    menarik!
    barangkali kamu bisa 'membaca' Chairil Anwar juga disana :)

    BalasHapus
  2. Mbak Lia..aku udah baca.

    Mas Himawan, udah baca yang judulnya "mulutmu mencubit di mulutku" jugak? hehehe

    BalasHapus
  3. @ Adhya, Oh itukan sajak Chairil Anwar yang belum memiliki judul dan kemudian diberi nama demikian oleh editor. Setelah saya baca kesan yang ada kok aneh ya? Maaf, saya memang tidak memiliki pengalaman secuilpun soal "mulutmu mencubit di mulutku", jadi sedikit kurang berkesan. Apa mungkin yang punya pengalaman mau memberi tahu? Bagaimana Adhya?

    @ Lia, wah.. belum tuh. Kalau gak salah yang bukunya muncul di film AADC kan juga di beberapa media iklan? Kesan saya, kalaupun ada itu buku dihadapan saya, malah jadi segan untuk membeli. Bukan apaapa, saya kok merasa bahwa orang yang beli buku itu terkesan sebagai orang yang jarang baca buku ya? :D Mungkin kamu bisa meminjamkan buku itu pada saya.

    @ Ikyu_san, terima kasih telah berkunjung. Udara di Bromo saya rasa tidak terlalu dingin untuk orang yang telah lama menetap di Jepang. Nantilah, sewaktu kembali ke tanah air. Bromo itu indah kok.

    BalasHapus
  4. masukin juga dong mas puisi chairil yang paling romantis tentang taman kecil milik berdua...

    NB: lagi cari2 chairil, eh yang ditunjuk paling atas sama mas google adalah blog ini. salam kenal.

    BalasHapus
  5. Waduh, saya bukan ahli Chairil nih mas. Mengenai taman kecil milik berdua itu, dan sejumlah besar puisi Anwar, bukankah itu sudah dibukukan. Tapi, kalau berminat akan saya masukkin dah diposting yang akan datang.

    Iya nih, salam kenal. Alamat blognya apa ya?

    BalasHapus