Inklusivitas Beragama, Klaim Keselamatan, dan Millat Ibrahim: Tafsir atas ayat 2:120

Barangkali tidak ada ayat Quran yang begitu populer dalam persoalan hubungan antar umat beragama melebihi ayat 2:120. Ayat ini, yang sering kita dengar di setiap khutbah yang berhubungan dengan penjajahan atas bangsa Palestina, hingga konflik-konflik horizontal antara Islam-Kristen di tanah air, seakan menjadi argumen utama yang direproduksi terus menerus untuk membenarkan kepercayaan sekelompok orang bahwa umat beragama lain selalu menaruh rasa benci, dan curiga kepada umat Muslim dan senantiasa mempengaruhi mereka untuk meninggalkan ajaran Islam yang luhur dan lurus.

Sayangnya pretensi buruk ini sering diterima begitu saja tanpa kritik, dan menjadi raison d'etre bagi sejumlah pelaku tindak kekerasan yang mengatasnamakan agama. Bahwa apa yang mereka lakukan merupakan sebuah pernyataan resmi Islam, dan dengan begitu segala bentuk negativitas mendapatkan justifikasinya. Tentu, saya tidak menampik fakta bahwa terdapat banyak luka sejarah yang melatarbelakangi hubungan antar ketiga agama Abrahamik ini. Namun bukan berarti pembacaan atas ayat tersebut harus dilakukan berdasarkan beban sejarah yang tidak mengenakkan itu, karena jika kita teliti lebih lanjut, masih banyak ayat-ayat Quran yang justru menyuburkan rasa saling percaya dan toleran dengan umat beragama lainnya macam 5:82 dan 5:44. Jika demikian, dengan cara apa semestinya kita menafsirkan ayat tersebut?

Struktur pembacaan
Sebagaimana permasalahan lainnya dalam penafsiran ayat-ayat Quran, akar utama dari pemahaman yang keliru atas ayat 2:120 adalah bagaimana kita membaca ayat tersebut. Mereka yang menerima teori mengenai kebencian, biasanya membaca ayat ini secara terpisah dari lingkungan ayat tempat ia berada, atau lebih parah, hanya membaca frase pertama dari ayat kita ini dan mengabaikan dua frase terakhir yang membentuk kesatuan ide, atau lebih tepat petunjuk bagi pengungkapan makna yang hendak disampaikan. Cara pembacaan seperti ini bisa kita gambarkan dengan notasi [120] atau 1[120]. Pembacaan satu frase ini, jelas sangat tidak memadai untuk digunakan sebagai cara memahami ayat Quran. Kita membutuhkan model pembacaan yang jauh lebih konfrehensif, untuk mengerti maksudnya.

Salah satu fakta tekstual yang tidak bisa kita abaikan dari ayat 2:120 adalah, keberadaan kata penghubung di awal kalimat, wa. Hal ini secara logis menandakan bahwa ayat tersebut merupakan bagian dari sebuah paragraf yang memiliki kesatuan tema yang lebih kuat, dan bukan tema tersendiri yang terpisah begitu saja dari rangkaian ayat yang mendahului atau datang sesudahnya. Ayat yang paling mungkin menjadi pendahulu dari ayat ini jelas ayat 119. Ayat tersebut memiliki 2 frase, dengan frase pertama sebagai pembuka, sedang frase berikutnya sebagai penjelas.

Meski demikian, jika kedua ayat ini digabungkan menjadi satu kalimat utuh, kita akan melihat paduan komposisi kalimat yang tidak seimbang, karena penekanannya yang sangat berlebih pada karakter Ahli Kitab sebagaimana diwakili oleh seluruh frase yang terdapat di ayat 120. Hal ini menunjukkan bahwa makna kalimat [119,120] bergantung pada kalimat lain yang menjadi bagian dari narasi yang jauh lebih luas. Yang saya maksud adalah, bahwa ayat-ayat yang berada pada rentang 2:104 hingga 2:141 saling terhubung satu sama lain, sehingga untuk menafsirkan makna ayat [119,120] mau tidak mau kita harus menempatkannya kedalam konteks rangkaian 37 ayat tersebut. Untuk itu saya akan memecah [119,120] kedalam 5 bagian sesuai dengan jumlah frase yang membangunnya dan membuat sebuah daftar indeks ayat yang berkorelasi dengannya.
1[119] Kami mengutusmu dengan Haqq sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan
2[119] dan kamu tidak akan ditanya tentang penghuni neraka.
1[120] dan tidak akan pernah rela umat Yahudi dan Kristen kepadamu hingga kamu mengikuti millat mereka.
2[120] Katakanlah, sesungguhnya petunjuk Allah adalah Petunjuk.
3[120] Dan seandainya kamu mengikuti ahwa mereka, setelah datang padamu al-'ilm, maka kamu tidak akan mendapat perlindungan dan pertolongan dari Allah.
Pada bagian pertama, frase 1[119] yang menjadi frase pembuka menerangkan kepada kita tentang misi Nabi SAW, yakni sebagai pembawa kabar baik dan pemberi peringatan. Term ini memperkuat pernyataan di 2:104 untuk tidak mendebat wahyu yang diterima oleh beliau. Perdebatan soal wahyu bagi Quran jelas akan membuat umat Islam kehilangan anchor untuk mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, padahal mereka tidak akan dimintai pertanggungjawaban apapun dengan apa yang dikerjakan oleh umat-umat sebelumnya. Oleh karena itu, kenapa harus membandingkan wahyu yang diterima Nabi SAW dengan ajaran-ajaran dua agama sebelumnya, Yahudi dan Kristen.

Term dimintai pertanggungjawaban, tus`al, yang menjadi tema utama dari frase 2[119] muncul beberapa kali di rangkaian ayat-ayat ini. Yang pertama hadir di ayat yg sama, 2:119 dan merujuk kepada perilaku penganut Yahudi dan Kristen yang kafir. Oleh Quran, mereka digambarkan sebagai penghuni neraka, ashhabul Jahim. Adapun dua term lainnya, muncul di dua ayat berbeda, 2:141 dan 134, dan secara definitif merujuk kepada Ibrahim dan anak cucunya, yang dalam tradisi Judeo-Kristen dikenal sebagai para patriark. Para patriark ini menempati posisi yang khusus dalam konsep keberagamaan Quran. Mereka digambarkan sebagai para hanif, yang menganut agama, millat, yang lebih murni dari Yahudi dan Kristen.

Kemurnian millat para patriark inilah yang membuat Quran membedakan posisi mereka dari agama Yahudi dan Kristen. Bagi Quran, para patriark bukanlah Yahudi apalagi Kristen, mereka merupakan entitas berbeda, yang tidak serupa dengan keduanya. Hal inilah yang membuat umat Yahudi dan Kristen tidak pernah rela dengan definisi Quran tersebut. Dalam frase 1[120] kita menemukan term tardha 'anka, merujuk kepada misi kenabian Muhammad SAW yang tertera secara implisit di frase 1[119]. Membawa kembali kepada pengulangan tema di 2:104, ketika para sahabat mengalami kebingungan akibat informasi yang berbeda soal agama yang mereka dapatkan dari komunitas Yahudi di Madinah.

Karena ada beberapa ajaran Islam yang tidak dapat didamaikan begitu saja dengan ajaran Yahudi dan Kristen, maka umat Islam pun diperintahkan untuk mengikuti ajaran agamanya saja. Bagaimana pun kebenaran hanya milik Tuhan dan Dialah yang akan menilai perbuatan semua manusia di akhirat kelak. Tema ini menjadi ide utama dari frase 2[120]. Secara semantik ia berkorelasi dengan ayat 2:115 yang menggambarkan relativitas kebenaran dalam satu rumpun agama Abrahamik, sekaligus memperkuat teologi lakum dinukum wa liy al-din, yang juga tertera secara simbolik di ayat 2:139 dan menjadi tema sentral Islam dalam berhubungan dengan penganut agama-agama serumpun.

Namun alasan paling utama mengapa Quran mengambil posisi yang berseberangan dengan tradisi Judeo-Kristen adalah, karena para penganut kedua agama ini telah mengikuti hawa mereka dalam beragama. Kata hawa yang lebih tepat diartikan sebagai spekulasi dalam soal agama, dirinci pengertiannya oleh Quran kedalam: Perilaku  ra'ina umat Yahudi yang berujung pada kekafiran dan kedengkian (108); eksklusivitas keselamatan di akhirat (111); perilaku merendahkan dan mengkafirkan satu dengan lainnya (113); penolakan terhadap kebebasan beragama(114); Trinitas (116); serta antropomorfisme atas Tuhan (118). Keenam jenis hawa inilah yang menjadi tema utama dari frase 3[120] yang diakhiri dengan pernyataan jika Nabi SAW melakukan hal serupa, maka beliau tidak akan mendapatkan perlindungan dan pertolongan dari Allah.

Narasi besar
Dari survey singkat atas ayat 2: 120 tadi kita menuju kepada tema utama yang membangun narasi besar ayat 2:104-141. Narasi ayat-ayat ini dibuka dengan perintah kepada umat Islam agar tidak berkata, ra'ina, kepada Nabi SAW berkenaan dengan wahyu yang diturunkan kepadanya, dan disarankan untuk menunjukkan sikap lain: lihatlah kami, dan dengarkan apa yang dikatakan Tuhan kepada Nabi SAW, unzhurna wa isma'u (2:104). Kata ra'ina yang berasal dari akar kata r ' y, menggembala, setidaknya termaktub dua kali dalam Quran, ayat lain yang mencantumkan kata ini adalah 4:46. Keduanya merujuk secara definitif kepada perilaku Bani Israil yang membangkang kepada rasul dan nabi mereka.

Tabari dalam tafsirnya, memberikan beberapa makna dari Ra'ina, diantaranya: bertolak belakang, khilaf, dan perilaku demokratis, isma minna wa nasma' minka-- dengarlah pendapat kami maka kami akan mendengarkan pendapatmu. Larangan mengatakan ra'ina kepada Nabi SAW terkait dengan sejumlah keputusan agama yang sedikit demi sedikit mulai berpaling dari semangat Judeo-Kristen, seperti perubahan waktu shalat yang berevolusi menjadi shalat lima waktu, hingga perubahan arah kiblat dari Jerussalem ke Makkah. Perubahan aturan-aturan agama ini dijelaskan dengan rendah hati di ayat 106, yang menjelaskan bahwa Tuhan memberikan yang lebih baik kepada umat Islam atas aturan-aturan agama, ayat, yang telah di hapus, mansukh.

Perubahan-perubahan yang terjadi dalam aturan agama, bagi sebagian orang tentu memunculkan tanda tanya besar. Apa sebenarnya yang diinginkan oleh Tuhan dengan perubahan tradisi keagamaan ini? Namun efek yang paling utama dari rasa penasaran yang berlebihan bukanlah diskusi segar yang saling mencerahkan, melainkan tumbuhnya rasa sangsi atas kebenaran agama. Di ayat 108, Quran memberikan analogi Musa yang tidak kuasa menghadapi kritik, pertanyaan, dan permintaan Bani Israil kepadanya. Bahkan meski semua permintaan kritis itu dapat dijawab dengan tuntas, tetap saja sebagian besar dari mereka berpaling dari ajaran yang ia sampaikan. Hal serupa juga dialami Nabi SAW yang juga mendapat kritik pedas atas aturan-aturan agama yang ia terima.

Pada titik ini umat Islam dihadapkan pada dua otoritas yang saling bersaing, otoritas agama Judeo-Kristen yang lebih mapan dan mayoritas, serta otoritas agama yang diterima oleh Muhammad SAW melalui wahyu yang masih belia dan minoritas. Sementara Islam tidak menolak kebenaran yang ada dalam tradisi Judeo-Kristen, di lain pihak terdapat beberapa aturan dalam Islam yang bertentangan dengan ajaran kedua agama tersebut. Menghadapi masalah pelik ini, Quran kemudian memberikan sebuah solusi keagamaan yang inklusif dan pluralis. Di ayat 115 secara metaforik dijelaskan bahwa kepunyaan Allah-lah Timur dan Barat, dan kemanapun seseorang menghadap, maka akan ditemukan Wajah Tuhan di sana.

Metafora Timur dan Barat di ayat tersebut secara tidak langsung merujuk kepada polaritas tradisi keagamaan yang mungkin terjadi antara Islam dan Judeo-Kristen. Penekanan bahwa ada banyak wajah Tuhan di berbagai penjuru mata angin, menyiratkan keberadaan banyak jalan untuk menuju Tuhan. Jalan-jalan yang banyak inilah yang digunakan oleh berbagai tradisi keagamaan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Implikasi utama dari pluralitas jalan kebenaran ini adalah, tidak satupun tradisi yang mampu mengklaim bahwa dirinyalah yang paling berhak atas surga. Tema utama ini kita temukan ekspresinya di ayat 111 serta 113, dan kembali diulang pada ayat 135, menjelaskan eksklusivitas kebenaran yang dibawa oleh tradisi Judeo-Kristen.

Meskipun jalan Tuhan itu banyak, tapi bukan berarti semua ajaran yang terdapat di setiap jalan direstui oleh Tuhan. Ajaran yang sama sekali tidak direstui Tuhan adalah ajaran yang menurut Quran muncul berlandaskan hawa para pengikutnya sebagaimana telah kita bahas sebelumnya.

Millat Ibrahim
Apabila tradisi Judeo-Kristen tidak benar-benar layak untuk dijadikan pedoman bagi keberagamaan tiga agama Abrahamik ini, lalu tradisi keagamaan apakah yang ditawarkan oleh Quran sebagai titik temu keberagamaan Yahudi, Kristen dan Islam? Jawabnya adalah, tradisi agama yang dipelopori oleh Ibrahim, yang dalam bahasa Quran dinamakan sebagai millat Ibrahim.

Kata millat dalam Quran memiliki makna yang mirip dengan kata din, keduanya secara sederhana merujuk pada satu makna yang sama, agama. Dari 15 kata millat dalam Quran, setengah diantaranya selalu merujuk kepada nama Ibrahim. Sisanya, dengan merata merujuk kepada agama Yahudi, Kristen, dan pagan Arab. Millat Ibrahim dalam Quran dikenal juga dengan kata hanif. Kata ini, yang secara sederhana berarti condong, mayl, dan sering digunakan oleh masyarakat Arab pra-Islam untuk merujuk kepada pola peribadatan yang hanya menyembah satu Tuhan yang dilawankan oleh kultur politeis yang menjadi pola keberagamaan utama masyarakat Arab pada saat itu.

Dalam tradisi Judeo-Kristen, sosok Ibrahim dan anak cucunya, asbath, hanya menempati fungsi biologis sebagai keluarga yang darinya bangsa Israel berasal. Fungsi teologis yang dibawa Ibrahim hampir tidak dikenal oleh masyarakat Yahudi dan Kristen. Berkenaan hal ini, kedudukan Musa bagi agama Yahudi, dan Isa bagi agama Kristen jauh lebih sentral. Problem teologis yang muncul kemudian, apakah Ibrahim dan anak cucunya itu dapat disebut sebagai orang beriman ataukah tidak, karena ia tidak pernah menjalankan perintah Taurat, juga tidak percaya bahwa Isa adalah juru selamat (pada kasus Islam, ia tidak pernah bersaksi bahwa Muhammad SAW adalah rasul Allah)?

Pemecahan atas persoalan ini adalah penetapan Ibrahim dan asbath sebagai orang-orang beriman. Keberimanan Ibrahim dan anak cucunya yang dalam perspektif ketiga agama tidak sempurna justru memberikan implikasi teologis yang sangat besar. Apa yang ia tunjukkan dengan kepasrahannya dalam menyembah Tuhan, ketulusannya dalam berdoa, dan concern yang ia berikan kepada keturunananya, sebagaimana terbaca dalam  2:124-133 menjadi model utama dalam beragama yang patut ditauladani oleh para penganut ketiga agama serumpun ini. Dengan indah Quran menggambarkan orang-orang yang hendak meniru perilaku Ibrahim tersebut (entah ia seorang Yahudi, Kristen maupun Muslim) sebagai mereka yang telah dimurnikan jiwanya, terpilih di dunia, dan di akhirat mereka termasuk orang-orang yang shalih (2:130).

Kesimpulan
Model pembacaan kontekstual sebagaimana saya demonstrasikan dalam tulisan ini menunjukkan bahwa ayat 2:120 bukanlah sebuah ayat permusuhan dan kebencian sebagaimana dipahami oleh banyak pihak, melainkan sebuah petunjuk untuk bersikap yang benar dalam pluralisme beragama. Ketika setiap tradisi agama berkeras kepala dengan kebenaran yang ia bawa, maka tidak ada jalan lain bagi umat Islam selain berpegang teguh pada ajaran agamanya sendiri. Karena bagaimanapun juga, setiap agama telah mengambil cara tersendiri yang berbeda satu sama lain dalam usahanya menuju Tuhan.

Wa Allah A'lam bi al-shawwab.

Menafsir Surat al-Fil: Sebuah Tinjauan Historis & Semantik (2)

Salah satu problem dalam tafsir tradisional seputar surat al-Fil adalah interpretasi berlebihan terhadap kata ababil. Sementara bahasa Arab tidak mengenal perbedaan penulisan antara noun dan proper noun, kata ababil hampir tidak memiliki indeks relasi sama sekali dalam Quran. Kata ini terbilang hanya sekali termaktub sehingga tidak memiliki referensi makna dengan ayat-ayat Quran lainnya. Meski demikian, sejumlah ahli tafsir yang menganggap ababil sebagai sebuah kata sifat, menafsirkan kata tersebut sebagai berbondong-bondong, berlapis-lapis, atau gelombang demi gelombang. Dalam kasus ini, term yang terkait dengan ababil, seperti thayr, burung, diterima taken for granted.

Lain halnya dengan mereka yang menafsirkan ababil sebagai proper noun (Ababil). Mereka terjebak pada imajinasi liar tentang burung besar yang membawa bebatuan panas dari neraka. Beberapa menjelaskan secara rinci karakter burung tersebut, menceritakan kisah-kisah legendaris dan menarasikan mitologi baru akan sosok algojo adi kodrati yang diutus Tuhan untuk menghukum Tentara Gajah. Penafsiran tipe kedua yang lebih populer inilah yang berusaha dikritik oleh sejumlah sarjana modern. Arthur Jeffery misalnya, menyatakan bahwa para filolog Arab hampir tidak memahami makna dari kata ababil yang menurutnya berasal dari akar kata asing, ibalah, yang berarti rombongan. Ia kemudian mengutip pendapat Burton yang menyatakan bahwa kata tersebut berasal dari bahasa Persia abilah yang berarti bisul. Hal ini juga diyakini oleh Sprengel beberapa abad sebelumnya, yang menerangkan bahwa kata itu berasal dari gabungan dua kata, ab (bapak) dan abilah (kesedihan), sembari menerangkan bahwa masyarakat Persia menggunakan kata abilah untuk merujuk kepaa kata cacar. Sayangnya, pendapat Sprengel dan Burton ini bermasalah, karena kata abilah sendiri adalah sebuah kata pinjaman dari bahasa Arab, sehingga diragukan keasliannya teorinya.

Menafsir Surat al-Fil: Sebuah Tinjauan Historis & Semantik (1)

Setiap pembacaan atas surat ke-105 dalam Quran ini benar-benar penuh intrik. Permasalahan yang utama adalah posisi surat Al-Fil yang berada di penghujung Quran membuat surat ini begitu populer. Bahkan sejak usia dini, hampir seluruh umat muslim telah hafal surat tersebut. Kisahnya yang imajinatif direproduksi terus menerus oleh guru agama, dan menjadi bagian dari pop culture yang terus dipahami demikian, bahkan hingga dewasa. Beberapa ada yang mempertanyakan historisitas kisah ini berdasarkan logika dewasa mereka, namun sebagian besar masih memegang makna yang mereka cerap saat kanak-kanak. Disparitas makna yang lebar inilah yang membuat setiap penafsiran terhadap surat Al-Fil bermasalah. Adakah burung Ababil? Bagaimana burung itu mencapai neraka dan membawa bebatuan dari sana? Haruskah kita memahami surat tersebut secara figuratif atau literal? Pertanyaan-pertanyaan sederhana tapi penting inilah yang membuat usaha untuk memaknai surat Al-Fil dalam nalar modern menjadi penuh tantangan. Namun sebelum kita beranjak kedalam diskusi menarik mengenai state of affair ayat tersebut, ada baiknya kita melakukan survey singkat atas wilayah geografis dimana semua kejadian ini bermula, Yaman.

Memahami Narasi Al-Quran tentang Hari Raya (1)

Untuk hadits online dalam bahasa Indonesia
dapat dibuka di http://id.lidwa.com/app/ 
Berapa harga sebuah hari raya? Dalam dunia modern yang penuh dengan komodifikasi, pertanyaan yang mengemuka tentang makna hari raya memang pantas kita lontarkan. Mulai dari latar belakang ekonomi yang spektakuler; klaim dan otoritas; perpindahan manusia, barang dan jasa; hingga ingar bingar wacana di layar kaca dan dunia maya. Hari raya Idul Fitri jelas sebuah perayaan akbar yang menyita perhatian banyak pihak di negara ini. Bukan saja karena makna hari tersebut yang sangat penting bagi miliaran umat Islam (terutama di Indonesia), tapi juga keterputusan semantik term 'idul fithri dalam Quran.
Terdapat kontras yang tajam antara Idul Fitri sebagai sebuah fenomena sosial, dengan Idul Fitri sebagai fenomena kitab suci. Kita akan segera memahami keretakan epistemologis ini tatkala kita mencari ayat-ayat Quran yang berhubungan dengan kata 'id, atau setidaknya memuat tema tentang hari raya. Dari 63 kata 'wd, yang menjadi akar dari kata 'id dalam Quran, hanya ada satu ayat yang merujuk secara jelas makna literal kata tersebut, yakni Q. 5:114. Itupun tidak menandakan hubungan apa-apa dengan hari raya umat Islam, karena mengacu pada permintaan Isa agar Tuhan menjadikan peristiwa perjamuannya dengan para hawari sebagai festival, hari raya dan 'id, bagi para pengikutnya. Ketiadaan penyebutan kata 'id membawa masalah tersendiri dalam pendefinisian makna kata tersebut, apalagi jika kita benar-benar berhasrat untuk mengetahui geneologi perayaan Idul Fitri. Jika demikian, lalu darimana asal makna perayaan Idul Fitri sebagaimana kita persepsi saat ini?