Masuk UGD (1)

Semuanya bermula pada hari Sabtu lalu (16/7), ketika saya, adik, dan sepupu menghabiskan akhir pekan di kolam renang. Kondisi badan saya saat itu memang tidak benar-beanar fit. Malam hari, sepulang dari kantor, saya tidak lekas istirahat, tapi sibuk membenahi masalah driver di komputer yang baru bisa diatasi pada pukul 3.35 dini hari. Setelah itu, saya hanya tidur sebentar dan hampir saja lupa kalau pada pagi harinya saya ada janji untuk pergi ke kolam renang bersama sepupu. Akibat jam istirahat yang kurang, maka mudah saja saya terpapar flu. Jadilah hingga pukul 8 pagi saya belum beranjak dari tempat tidur. Sementara adik dan sepupu saya dengan suka cita pergi ke kolam renang.

Rupanya, niat untuk berenang mengalahkan kondisi tubuh saya yg kurang fit saat itu. Saya pun berusaha semampu mungkin untuk dapat pulih dengan melakukan gerak tubuh ringan di kamar. Untungnya, tubuh saya dapat segera beradaptasi dengan keinginan otak saya. Setelah merasa mampu untuk beranjak dari tempat tidur, saya pun segera meraih sepeda dan memulai pemanasan 20 menit sambil menuju ke kolam renang untuk bergabung dengan adik-adik saya di sana, dan jadilah pada pukul 9 pagi hari itu saya memenuhi janji saya untuk berenang bersama.

Memang tidak ada yang dapat menebak apa yang akan terjadi pada diri kita. Namun mengingat kondisi tubuh yang belum benar-benar fit, saya pada mulanya beranggapan jika saya hanya akan duduk-duduk saja di pinggir kolam menonton dua bocah itu dengan senangnya berenang-renang di depan saya. Rupanya, daya pikat kolam sekali lagi mengalahkan suasana tubuh yang belum siap itu. Dengan serta merta saya pun turut bergabung untuk berenang bersama mereka, melupakan kondisi tubuh yang tidak disetting untuk berolahraga. Hasilnya ternyata sangat menakjubkan. Saya bisa berenang dengan menggabungkan gaya bebas dan gaya punggung untuk pertama kalinya tanpa terputus. Hari itu juga, saya sudah dapat berenang gaya punggung tanpa harus menggunakan penjepit hidung. Benar-benar sebuah kemajuan yang pesat, mengingat pada Kamis sebelumnya, saya sama sekali tidak dapat melakukan kedua hal tersebut. Hidup ini benar-benar penuh dengan kejutan.

Entah karena terlalu bersemangat atau karena saya sangat enjoy pada saat itu, tanpa saya sadari, saya telah memforsir tenaga saya melakukan kedua penemuan baru tersebut--meski masih enggan berenang di kolam 2 meter. Saya pikir itu cuma masalah waktu saja, tapi tidak untuk saat itu. Jadilah sekeluar dari kolam saya mulai merasakan rasa sakit di dada kiri saya. Seperti biasa saya menganggap itu sakit dada biasa, tapi setelah beberapa hari lewat tidak kunjung sembuh, saya jadi curiga ada yang bermasalah dengan jantung saya. Kebetulan, pada hari Ahad keesokan harinya, saya mendapat musibah kecelakaan di depan kantor. Memang tidak ada luka yang tergolong parah, hanya lecet-lecet di jemari dan telapak tangan saja. Tapi yang saya takutkan bukan soal kecelakaan itu, melainkan masalah sakit di dada kiri yang masih tetap ada, bahkan tambah parah paska kecelakaan. Untuk meyakinkan diri bahwa tidak ada masalah yang berarti, maka pada Selasa (19/7) saya pun segera pergi ke dokter untuk memeriksakan kondisi tubuh.

Sebagai orang yang pernah bekerja di dunia farmasi, saya tahu jika rasa nyeri di dada tidak boleh diabaikan begitu saja. Ia bisa merupakan indikasi dari penyakit serius macam jantung, meski ada kemungkinan lain yang lebih ringan, macam spasma otot dada. Hanya, mana dari dua kemungkinan ini yang benar-benar menimpa diri saya? Memang ada orang yang mampu membedakan antara rasa nyeri akibat ketegangan otot dengan rasa nyeri akibat infark miokard di jantung. Tapi siapa sih yang mampu membedakan kosa kata nyeri dan sakit yang menimpa dirinya? Iya, kita tahu apa itu rasa nyeri dan bagaimana sakit, tapi perasaan kita kan tidak serta merta mengkorelasikan apa yang kita alami dengan kapasitas linguistik yang kita kuasai. Dalam kondisi subjektif ini, kita pasti akan terjerat kedalam solipsisme. Dan sungguh, debat filosofis ini tidak akan memecahkan masalah yang terjadi pada diri saya. Saya butuh penilaian yang lebih objektif dan empirik untuk mendiagnosis kondisi yang terjadi di dada kiri saya itu. Tempat paling tepat untuk mengetahui jawabannya adalah rumah sakit.

Selepas Isya, saya pun segera berangkat ke RS. Global untuk mengecek kondisi dada saya itu. Kebetulan saya pernah berobat di sana sebelumnya, dan rumah sakit tersebut masuk dalam daftar asuransi kesehatan kantor. Jadi tidak terlalu risau soal biaya pengobatan. Setelah menyelesaikan soal administrasi, saya pun diminta untuk menunggu giliran masuk ke kamar dokter. Sambil menunggu, suster melakukan pengecekkan tekanan darah dan menimbang berat badan saya. Saya tidak terlalu risau mendengar penjelasan suster yang mengatakan TD saya diatas rata-rata normal, toh saya memiliki riwayat tekanan darah tinggi. Yang membuat saya risau, justru hasil timbangan badan saya yang lebih tinggi 5 kilogram dari pengukuran berat badan di rumah. Terus terang, saya mendapat kesan buruk dari kalibrasi alat penimbang berat badan di rumah sakit ini. Sebelumnya, saya sempat menimbang di alat timbangan yang berbeda di rumah sakit tersebut, dan hasilnya berat badan saya lebih ringat 5 kg dari hasil yg saya peroleh di rumah. Padahal, jeda waktu antara menimbang di rumah dan di rumah sakit hanya 3 hari. Bagaimanan mungkin dalam tiga hari saya bisa mengalami perubahan berat badan drastis. Hal yang sama juga terjadi pada malam itu, berat badan saya tiba-tiba naik 5 kg hanya dalam jangka waktu 2 hari saja!

Mendengar argumentasi saya itu, si suster malah tertawa dan memberikan pertanyaan aneh. Jadi bapak mau berat badan berapa? D'oh! Baru kali ini ada tawar menawar soal berat badan. :D. Well, saya serius dengan pernyataan saya itu. Ketika tidak adalagi benda eksternal yang dapat kita percaya untuk mendapatkan kondisi objektif, bisa dipastikan kita tidak akan mampu keluar dari jeratan solipsisme. Dalam dunia modern yang sepenuhnya bergantung pada mesin, ketidakakuratan pengukuran jelas sebuah bencana. Contoh nyata saat kita kehilangan orientasi waktu dalam ruang tertutup, meski ada jam dinding, tetap kita tidak tahu waktu yang sebenarnya pada saat itu. Karena dalam jam analog, representasi pukul 02:00 pagi serupa dengan representasi dari pukul 14:00. Apakah saat itu pagi dini hari atau tengah hari, alat pengukur waktu itu tidak mampu memberikan jawaban yang memuaskan. Kasus yang lebih serius adalah soal keakuratan altitumeter pada instrumen pesawat. Dalam kondisi cuaca yang buruk, dengan jarak pandang yang sangat minim, ketidakakuratan alat pengukur akibat kalibrasi yang salah jelas sebuah bencana. Untungnya, saya tidak sedang dalam pesawat, dan pada malam itu saya memenangi argumentasi dengan si suster. Hehehe...

Akhirnya waktu saya pun tiba. Setelah dipanggil masuk, saya bertemu dengan dokter yang tengah praktek pada saat itu. Dokter umum ini masih muda, dan kemungkinan besar umurnya di bawah saya. Begitu saya mendeskripsikan problem kesehatan saya, seperti yang saya duga, ia membeberkan dua kemungkinan infark dan spasme kepada saya. Dan karena ia tidak memiliki alat yang objektif untuk mencapai kesimpulan itu, ia pun segera merujuk saya ke UGD guna melakukan pemeriksaan lebih lanjut dengan EKG. Ya, pada malam itu untuk pertama kalinya saya masuk ke ruang gawat darurat dan melakukan pengecekkan jantung. Tapi sungguh bukan itu permasalahannya. Asosiasi kita tentang UGD rupanya sangat berpengaruh dalam cara kita bertindak dan merespon. Saya sebenarnya tidak begitu panik dengan keputusan si dokter umum itu, karena tindakannya benar-benar textbook, tapi lain halnya dengan suster yang tadi menimbang berat badan saya yang jadi tampak sibuk dan cekatan. Asosiasi semantik dari kata UGD rupanya telah memicu sekresi hormon fight and flight dalam dirinya. Ya, linguistik rupanya benar-benar mempengaruhi biologi tubuh manusia.

Namun, yang muncul dalam benak saya bukanlah kondisi si suster yang agak panik itu. Yang saya pikirkan saat itu hanyalah, apakah saya benar-benar tidak panik? Saya mencoba bertanya pada diri sendiri, apakah saya panik? Dan secara positif saya memperoleh jawaban bahwa tidak ada masalah apa-apa dengan diri saya saat itu. Saya menganggap mampu menguasai keadaan. Sayangnya, afirmasi sepihak ini tidaklah objektif, karena jawaban sesungguhnya dari pertanyaan saya tersebut baru saya ketahui ketika masuk ke ruang UGD. Di ruang ini, tekanan darah saya kembali diukur oleh petugas jaga ruang emergency tersebut. Tensimeter yang digunakan untuk pengukuran memang berbeda dari tensimeter si suster yg dalam bentuk digital. Begitu juga angka yang dihasilkan. Pada tensimeter manual ini, saya mengetahui jika sistolik saya meningkat dengan tiba-tiba sebesar 20 mmHG hanya dalam kurun waktu 8 menit. Bagi saya, perubahan drastis tersebut dapat dianggap sebagai jawaban bahwa sistem tubuh saya bereaksi secara negatif dengan tiba-tiba dari asosiasi kata UGD. Dengan kata lain, saya saat itu tengah panik, meski kesadaran saya menolak mentah-mentah atribusi tersebut.

Memang sih, kalau mau kritis bisa saja kita meragukan keakuratan kalibrasi kedua alat ukur tersebut, tapi dalam kondisi saat itu saya tidak terlalu mengambil pusing. Toh, dalam dunia medis, fenomena ini juga dikenal sebagai sindroma kerah putih, "white collar Syndrome", yakni peningkatan tekanan darah tiba-tiba oleh kondisi psikologis yg disebabkan rasa takut, terkejut, atau bahkan wow, saat kita melihat petugas medis berbaju putih yang seksi itu. :p Dan rupanya saya benar-benar mengalami sindroma tersebut. Bukan karena perawat tadi seksi, tapi karena suasana dari ruang UGD yang membenarkan konsepsi semantik saya tentang tempat tersebut. Dingin, dan sepi.

Kolam Renang

Saya masih ingat pembicaraan saya dengannya di YM beberapa bulan yang lalu. Tentang bagaimana dirinya memulai untuk belajar berenang. Mengambang katanya, ia sudah dapat mengapung dan sedikit demi sedikit membiasakan dirinya untuk tidak takut lagi kepada air. Dan itu ia lakukan karena sadar bahwa kota tempat ia tinggal sangat rentan sekali terhadap bahaya tsunami. Sehingga jika dirinya dapat berenang setidaknya ia mampu menyelamatkan diri sendiri, seandainya bahaya air bah itu datang menerjang.

Saya mengikuti penuturannya itu dengan takjub. Meski belum mampu mencerna apa iya seorang perenang yang hebat dapat selamat dari kejaran air bandang yang kecepatannya hingga 80 km/ jam? Bahkan jika si perenang hebat itu tengah menghadapi kedatangan tsunami, barangkali ia akan berpikir sama dengan mayoritas penduduk kota, pergi mengungsi ke tempat yang tinggi dan berusaha untuk tidak tertelan oleh gulungan ombak liar tersebut. Dan pastinya, berenang di atas terjangan tsunami jelas bukan ide yang keren untuk dilaksanakan. :)

Namun pemikiran rasional tadi tidak serta merta muncul di benak saya, sama seperti kata renang yang tidak memiliki bekas apa-apa dalam kesadaran diri. Kegagalan untuk dapat berenang 3 tahun lalu rupanya yang menyebabkan saya menjauhkan diri dari olah raga air tersebut dan tetap berdiri di pinggir kolam menyaksikan dengan iri orang-orang yang bergembira ria dengan cipratan air. Saya tidak dapat berenang, dan itu adalah sebuah cela yang tidak bisa saya maafkan. Maka kuceritakan padanya tentang asal-usul aquaphobia dan kegagalan saya untuk dapat mengatasi rasa takut tersebut.

"Semua bermula pada saat saya masih belia", saya sampaikan kalimat ini kepadanya dengan rasa enggan.

Saat itu saya diajak oleh tante saya untuk belajar berenang di sebuah kolam renang umum. Tentu saja saya sangat senang. Meski mempelajari teknik-teknik dasar renang seperti mengapung, bukanlah perkara yang bisa saya pelajari dengan mudah. Saya tergolong murid yang bodoh. Tante saya yang rupanya tidak sabaran justru memilih jalur pintas, memaksa saya menyelam dengan menenggelamkan saya kedalam air. Sekuat tenaga saya memberontak dan berusaha keluar guna menarik napas. Tentu saja saya berhasil, dan ia tidak lagi melakukan tindakan bodoh tersebut. Satu-satunya hal yang tersisa hingga saat itu hanya rasa trauma dan takut. Disadari atau tidak, perlakuan tersebut telah membuat saya trauma untuk mendatangi kolam renang hingga saya dewasa.

"jadi kamu tidak pernah belajar renang lagi?" Katanya penuh selidik.

"Meski trauma dengan air, tapi saya masih memiliki keinginan untuk dapat berenang. Sayangnya, les renang yang ditawarkan oleh guru olah raga saya di SD, pak Bandi tidak bisa saya ikuti." Kali ini masalah yang muncul datang dari luar diri saya. Ibu benar-benar sibuk, sehingga ketika ia pergi bekerja, sayalah yang disuruh menjaga rumah dan adik. Maka les renang yang biasa dilakukan setiap sore hari, tidak pernah saya hadiri. Lagi, ibu juga tidak benar-benar memiliki uang buat membayar uang les yang hanya 7500 rupiah saat itu. Dan saya hanya bisa membiarkan angan-angan itu terbang begitu saja.

"Saya memang anak rumahan, seperti katamu. Benar-benar penurut" sambil membubuhkan tanda senyum di layar komputer.

"ya, dan pemalas, sehingga tidak mau mengejar cita-citanya." dia menulis tanda melet di atas layar. :p

"Dan di pondok, yang kolam renang terdekat berjarak 15 km, mempelajari olah raga ini di masa-masa remaja adalah omong kosong. Bahkan ketika ada beberapa teman yang mengajak pergi ke kolam renang di hari Jumat, saya hanya dapat mengeles bahwa tidak memiliki uang yang cukup untuk pergi ke kota."

"Tapi itu kisah masa lalu" tulisku melanjutkan. "Usaha saya untuk dapat berenang yang sebenar-benarnya justru terjadi pada saat saya merantau ke Makassar."

"O ya?" tulisnya, menimpali.

"Saat itu kantor kami mendapatkan voucher gratis dari pihak hotel di Makassar untuk menggunakan fasilitas kolam renang milik mereka. Alasannya, perusahaan telah berkali-kali menyelenggarakan acara di hotel tersebut. Kesempatan ini pun ikut saya manfaatkan. Sayangnya, saya hanya sempat pergi ke kolam renang hotel sebanyak 4 kali. Dan di setiap kunjungan itu, saya benar-benar tidak bisa mengatasi fobia terhadap air. Singkatnya saya belum dapat berenang"

"ya, sayang sekali. Mungkin kalau saya jadi kamu, saya sudah bisa berenang saat ini :p"

"I know. you're smart enough to learn swimming :)"

Ujarannya membekas di otak saya sejak saat itu. Perempuan yang aku sukai ini tengah belajar berenang, dan saya tidak bisa apa-apa kecuali hanya memandang dari jauh ke kolam renang yang sedang ia gunakan. Tiba-tiba saya merasa iri sekaligus malu. Bagaimana mungkin saya tidak bisa berenang, sedang ia dengan suka cita berenang-renang di dalam air. Jika ia meminta tolong, siapa yang harus menyelamatkannya? Hati saya pun tergelitik, dan perlahan-lahan kuucapkan dalam diri untuk bisa berenang. Saya harus bisa, karena ia bisa.

***

Langit pagi begitu cerah. Ini adalah kali pertama saya pergi ke kolam renang sendirian. Sebelumnya, saya selalu pergi bersama adik yang telah terlebih dahulu menguasai teknik-teknik renang. Perjalanan kerja yang ia lakukan, termasuk diving di kepualauan Raja Ampat, membuatnya mahir berenang. Menyalib saya yang lebih awal memulai usaha untuk berenang tapi gagal. Harus saya akui, jam terbang yang ia miliki memang jauh lebih tinggi, tapi bukan itu kan permasalahannya. Untuk dapat berenang, kita harus merasa nyaman terlebih dahulu dengan air, dan pada saat itu saya masih belum mampu lepas dari jerat aquaphobia.

"Terlalu banyak teori!", katanya menertawakan saya yang sibuk membaca tata cara berenang di sebuah buku.

"Ya, bagaimana mungkin kita bisa berenang kalau tidak tahu cara yang seharusnya untuk berenang bukan?" tangkis saya, sambil terus membayangkan ilustrasi cara mengapung pada buku di hadapan saya.

"Renang itu soal praktek, bukan hanya teori. Begitu kamu masuk ke air, secara alamiah tubuh kamu akan menyesuaikan diri untuk berenang dengan cara apapun. Jadi percuma saja baca buku", timpal ibu yang ikut mentertawai kerajinan saya yang tidak kunjung membuahkan hasil itu.

"Ah, apapun itu. Tetap, teori yang paling utama. Kita harus memulai dari sana bukan?", jawab saya yang tidak mampu menahan tawa mengolok-olok kebodohan diri sendiri soal renang. Apa yang lebih bodoh dari membaca buku Renang Untuk Pemula selama tiga tahun tanpa sekalipun berhasil untuk berenang. Tiga tahun, dan yang ada di kepala saya hanyalah teori bagaimana mengapung, mengambang, dan menghentakkan kaki membelah lautan air, tapi bukan berenang.

"Cukup!" Kataku dalam hati,  sambil mengambil ancang-ancang untuk melakukan kayuhan pertama. "Hari ini saya pasti bisa!"

Tidak banyak momen yang mampu kau hafal sepanjang hidupmu. Suasana saat pertama kali dirimu mulai dapat mengendarai sepeda atau berciuman dengan seorang perempuan, mungkin diantara momen-momen yang tidak mudah untuk terlupa. Tapi bagiku, suasana ketika berat air menghantam wajah, menyaksikan lantai kolam dengan bening dari atas, merasakan sekujur tubuh terangkat oleh massa jenis air, adalah bagian dari momen yang tidak terlupakan itu. Untuk pertama kalinya saya mampu mengambang dan berenang membelah kolam renang. Hari itu, saat tidak ada orang yang mengenalku menyaksikan momen terindah ini, saya dapat berenang.

"Kakimu terlalu kaku", kata seorang kakek kepadaku. "Cobalah untuk mengikuti ritme air. Seperti ini", katanya sembari menekuk lurus telapak kakinya seperti penari balet. Ia kemudian menghentakkan kedua kakinya di dalam air memperagakan gerakan flutter kick  kepada saya.

"Tidak terlalu susah bukan?"  Sambil memperhatikan gerakan kakiku.

"Memang, hanya saja jadi cepat lelah. Lagi paha saya tidak terlalu kuat untuk melakukan gerakan seperti itu"

"Kalau sudah mengerti cara berenang, kamu tidak perlu mengayunkan kakimu sesering mungkin. Cukup menggerakkannya secara ritmik dan biarkan bagian tubuh lainnya yang mengambil alih. Tanganmu. Ayunkan dengan mantap seperti ini" dengan gerak perlahan kakek itu masuk kedalam air, mengayuh perlahan dengan kedua kakinya dan muncul kembali ke permukaan air dengan gerakan mendayungnya yang mulus. Ia memperlihatkan pada saya cara renang gaya bebas yang sangat baik.

"Oi! Saya belum dapat berenang dengan baik sepertimu!" 

"Tidak masalah. Ayo susul saya ke pinggir sebelah sini!" Teriaknya sambil melambaikan tangannya ke arah saya.

Memang bukan masalah, yang jadi soal hanyalah bagaimana mengambil napas kedua dan tetap berenang tanpa harus tenggelam. Saya pun mengikuti gerakan kakek itu ke pinggir kolam sebelah Timur. Setelah mengambil napas panjang dan menahannya kuat di muluat, saya pun mulai menyelam. Dengan refleks kaki saya menendang-nendang keras kebelakang menciptakan riak yang sedikit demi sedikit mengangkat saya ke atas. Kini giliran kedua tangan saya yang mulai mengayuh kedepan. Membelah air dan mendorong gerakan tubuh jadi lebih cepat. Saya melaju. Petak-petak lantai kolam perlahan-lahan berjalan mundur kebelakang mengikuti luncuran badan yang maju kedepan. Tidak ada yang saya perhatikan di dunia ini selain pergerakan lantai kolam tersebut. Dan saat dinding telinga berderak seperti kapal selam, dan oksigen yang saya telan telah habis, tiba-tiba muncul rasa takut yang membayang. Bagaimana saya akan bernapas? 

"Streamline! Streamline!" teriak si kakek di luar sana.

Ya, saya tahu. Menjaga kepala agar sejajar dengan badan dengan memandang lurus ke bawah. Tapi bagaimana saya bernapas dalam posisi tersebut? Dengan sia-sia saya menengadahkan kepala saya keatas mencoba mengabil napas. Sayang, refleks tubuh saya terhenti dan lagi, saya tercebur jatuh kedalam air.

"Hoa! Ini teknik yang sangat susah!" Teriakku padanya setelah mengeluarkan air yang tertelan saat tenggelam tadi.

"Caramu mengambil napas salah. Daripada mengangkat kepala keatas, cobalah menoleh dan putar tubuhmu kesamping mengikuti aksis sehingga bagian kanan atau kiri lebih tinggi dari bagian lainnya. Kamu harus belajar renang dengan posisi miring dan berputar sejajar poros tubuh." Ia mengatakan itu seolah semudah membalikkan telapak tangannya. Tapi tidak bagiku, yang baru saja memulai sebuah loncatan yang lumayan hebat, renang gaya bebas dengan satu tarikan napas kemudian tenggelam. 

"Saya masih harus banyak belajar dan berlatih".

"Bukannya demikan." Ia mendatangiku sambil tersenyum.

Jadi katakan padaku, kenapa baru pada umur setua ini saya harus belajar berenang? Jangan katakan jika aku melakukannya demi dirinya. Meski aku tahu mungkin saja dengan berenang aku bisa menarik perhatiannya. Semoga saja. Tapi bukan itu kan yang hendak aku capai? Bahkan jika ia memang sudah dapat berenang, toh kecil kemungkinannya kamu dapat menyaksikan ia berenang. Ia masih terlalu jauh untuk aku capai. Tapi renang, bukankah aku bisa menguasainya? Ya, menguasai cara berenang gaya bebas dengan satu kali tarikan napas, sedikit menyerupai bunuh diri singkat, dan aku terbangun dengan tenangnya di tengah ayunan tangan yang membelah air. Menopang tubuhku dengan lembut, membiarkan segala ingatan dan harapan mengalir keluar dengan mudahnya. Seperti air. Merendam diriku dalam bak raksasa, memaksa kotoran-kotoran keluar dari ujung sinap, memberiku kata "ya" yang tidak pernah aku kumandangkan. Aku tiba-tiba tertarik kepada air, tergila-gila dengan sensasinya, kasmaran dengan rasanya yang basah. Meski tidak sekasmaran diriku dengan dirinya. Yang mana? Bahkan kali terakhir, tiada pesan tersampai. Aku ingin bertemu dengannya. Aku ingin berenang kearahnya. Aku ingin mengatakan ini padanya, "aku bisa berenang".

"Jadi begitulah, air bisa membawa efek yang menyenangkan dan membuatmu mantap. Ia membangun rasa percaya diri dan mengikis efek sakit atau patah hati. Dan renang, akan menjadi olahraga favorit sepanjang hidupmu" Ujar si kakek memandang lurus kepadaku

"Kau terlalu banyak bicara." Kataku, sambil berusaha untuk terus mengapung.

"Tidak juga. Kau yang terlalu banyak berkhayal, dengan menganggap misimu untuk dapat berenang sebagai misi romantik. Dan mencoba mencampuradukkan antara imajinasi dan kenyataan". Ia kini menyelam ke bawah dan muncul kembali ke permukaan, memperagakan gaya aneh yg tidak pernah saya lihat, dog paddler.

"Kenyataan bahwa dirimu tidak ada?" Saya menyusulnya dengan terngah-engah, sambil terus menjaga kestabilan.

"Bukan. Kenyataan bahwa sebenarnya kamu memiliki bakat untuk berenang." Ia membelok ke kiri dan berotasi dengan unik

"Yang tidak pernah dapat saya capai hingga momentum romantik itu?" Aku masih heran melihat gerakan-gerakannya.

"That's your answer. Why don't you tell her about that." Katanya bergema, meninggalkan cipratan keras di muka saya. Ia menghilang.

***

Siang hari terik, usai pengalaman pertama itu, saya untuk pertama kali mencoba mencari tahu tempat ia belajar. Mendatangi lembaga budaya itu dan dengan malu-malu meminta izin untuk membaca buku-buku di perpustakaannya yang dingin, tapi tidak basah. Sejam dua jam saya terus menunggu, dan kini tinggal 4 menit lagi aku akan bertemu kembali dengannya. Bukan penantian yang lama memang, tapi waktu seakan berhenti selama setahun. Kebekuan yang memaksa saya untuk membaca komik berbahasa aneh ini. Yang maknanya sama sekali tidak mampu aku pahami. Selain dua nama itu, Tintin dan Herge. Ah, saya sudah membaca komiknya dalam bahasa Inggris. Tapi bukan komik ini, yang entah bagaimana membicarakan komik favoritku itu dalam bahasa yang sangat berbeda.

"Perpustakaan sini hebat juga, Buku-bukunya banyak" tulisku dalam SMS kepadanya.

"Great! Enjoy then. I prefer the other yang lebih lengkap" balasnya.

"Are you there?" Tidak ada jawaban. Hanya sepi sesaat, sebelum riuh suara mengelilingi ruangan. Ada langkah kaki berlari pelan kearahku. Dia di sini.

"Saya pulang bersama yang lain. Kamu tidak keberatan bukan?" diam.

"Naik motor bisa lebih cepat." singkat.

"Tapi naik mobil lebih nyaman." tidak ada jeda.

"ya." dan ia berlari keluar, meninggalkan saya yang masih duduk ternganga melihat bayangnya berlalu.

"Hai, saya bisa berenang sekarang."