Masuk UGD (1)

Semuanya bermula pada hari Sabtu lalu (16/7), ketika saya, adik, dan sepupu menghabiskan akhir pekan di kolam renang. Kondisi badan saya saat itu memang tidak benar-beanar fit. Malam hari, sepulang dari kantor, saya tidak lekas istirahat, tapi sibuk membenahi masalah driver di komputer yang baru bisa diatasi pada pukul 3.35 dini hari. Setelah itu, saya hanya tidur sebentar dan hampir saja lupa kalau pada pagi harinya saya ada janji untuk pergi ke kolam renang bersama sepupu. Akibat jam istirahat yang kurang, maka mudah saja saya terpapar flu. Jadilah hingga pukul 8 pagi saya belum beranjak dari tempat tidur. Sementara adik dan sepupu saya dengan suka cita pergi ke kolam renang.

Rupanya, niat untuk berenang mengalahkan kondisi tubuh saya yg kurang fit saat itu. Saya pun berusaha semampu mungkin untuk dapat pulih dengan melakukan gerak tubuh ringan di kamar. Untungnya, tubuh saya dapat segera beradaptasi dengan keinginan otak saya. Setelah merasa mampu untuk beranjak dari tempat tidur, saya pun segera meraih sepeda dan memulai pemanasan 20 menit sambil menuju ke kolam renang untuk bergabung dengan adik-adik saya di sana, dan jadilah pada pukul 9 pagi hari itu saya memenuhi janji saya untuk berenang bersama.

Memang tidak ada yang dapat menebak apa yang akan terjadi pada diri kita. Namun mengingat kondisi tubuh yang belum benar-benar fit, saya pada mulanya beranggapan jika saya hanya akan duduk-duduk saja di pinggir kolam menonton dua bocah itu dengan senangnya berenang-renang di depan saya. Rupanya, daya pikat kolam sekali lagi mengalahkan suasana tubuh yang belum siap itu. Dengan serta merta saya pun turut bergabung untuk berenang bersama mereka, melupakan kondisi tubuh yang tidak disetting untuk berolahraga. Hasilnya ternyata sangat menakjubkan. Saya bisa berenang dengan menggabungkan gaya bebas dan gaya punggung untuk pertama kalinya tanpa terputus. Hari itu juga, saya sudah dapat berenang gaya punggung tanpa harus menggunakan penjepit hidung. Benar-benar sebuah kemajuan yang pesat, mengingat pada Kamis sebelumnya, saya sama sekali tidak dapat melakukan kedua hal tersebut. Hidup ini benar-benar penuh dengan kejutan.

Entah karena terlalu bersemangat atau karena saya sangat enjoy pada saat itu, tanpa saya sadari, saya telah memforsir tenaga saya melakukan kedua penemuan baru tersebut--meski masih enggan berenang di kolam 2 meter. Saya pikir itu cuma masalah waktu saja, tapi tidak untuk saat itu. Jadilah sekeluar dari kolam saya mulai merasakan rasa sakit di dada kiri saya. Seperti biasa saya menganggap itu sakit dada biasa, tapi setelah beberapa hari lewat tidak kunjung sembuh, saya jadi curiga ada yang bermasalah dengan jantung saya. Kebetulan, pada hari Ahad keesokan harinya, saya mendapat musibah kecelakaan di depan kantor. Memang tidak ada luka yang tergolong parah, hanya lecet-lecet di jemari dan telapak tangan saja. Tapi yang saya takutkan bukan soal kecelakaan itu, melainkan masalah sakit di dada kiri yang masih tetap ada, bahkan tambah parah paska kecelakaan. Untuk meyakinkan diri bahwa tidak ada masalah yang berarti, maka pada Selasa (19/7) saya pun segera pergi ke dokter untuk memeriksakan kondisi tubuh.

Sebagai orang yang pernah bekerja di dunia farmasi, saya tahu jika rasa nyeri di dada tidak boleh diabaikan begitu saja. Ia bisa merupakan indikasi dari penyakit serius macam jantung, meski ada kemungkinan lain yang lebih ringan, macam spasma otot dada. Hanya, mana dari dua kemungkinan ini yang benar-benar menimpa diri saya? Memang ada orang yang mampu membedakan antara rasa nyeri akibat ketegangan otot dengan rasa nyeri akibat infark miokard di jantung. Tapi siapa sih yang mampu membedakan kosa kata nyeri dan sakit yang menimpa dirinya? Iya, kita tahu apa itu rasa nyeri dan bagaimana sakit, tapi perasaan kita kan tidak serta merta mengkorelasikan apa yang kita alami dengan kapasitas linguistik yang kita kuasai. Dalam kondisi subjektif ini, kita pasti akan terjerat kedalam solipsisme. Dan sungguh, debat filosofis ini tidak akan memecahkan masalah yang terjadi pada diri saya. Saya butuh penilaian yang lebih objektif dan empirik untuk mendiagnosis kondisi yang terjadi di dada kiri saya itu. Tempat paling tepat untuk mengetahui jawabannya adalah rumah sakit.

Selepas Isya, saya pun segera berangkat ke RS. Global untuk mengecek kondisi dada saya itu. Kebetulan saya pernah berobat di sana sebelumnya, dan rumah sakit tersebut masuk dalam daftar asuransi kesehatan kantor. Jadi tidak terlalu risau soal biaya pengobatan. Setelah menyelesaikan soal administrasi, saya pun diminta untuk menunggu giliran masuk ke kamar dokter. Sambil menunggu, suster melakukan pengecekkan tekanan darah dan menimbang berat badan saya. Saya tidak terlalu risau mendengar penjelasan suster yang mengatakan TD saya diatas rata-rata normal, toh saya memiliki riwayat tekanan darah tinggi. Yang membuat saya risau, justru hasil timbangan badan saya yang lebih tinggi 5 kilogram dari pengukuran berat badan di rumah. Terus terang, saya mendapat kesan buruk dari kalibrasi alat penimbang berat badan di rumah sakit ini. Sebelumnya, saya sempat menimbang di alat timbangan yang berbeda di rumah sakit tersebut, dan hasilnya berat badan saya lebih ringat 5 kg dari hasil yg saya peroleh di rumah. Padahal, jeda waktu antara menimbang di rumah dan di rumah sakit hanya 3 hari. Bagaimanan mungkin dalam tiga hari saya bisa mengalami perubahan berat badan drastis. Hal yang sama juga terjadi pada malam itu, berat badan saya tiba-tiba naik 5 kg hanya dalam jangka waktu 2 hari saja!

Mendengar argumentasi saya itu, si suster malah tertawa dan memberikan pertanyaan aneh. Jadi bapak mau berat badan berapa? D'oh! Baru kali ini ada tawar menawar soal berat badan. :D. Well, saya serius dengan pernyataan saya itu. Ketika tidak adalagi benda eksternal yang dapat kita percaya untuk mendapatkan kondisi objektif, bisa dipastikan kita tidak akan mampu keluar dari jeratan solipsisme. Dalam dunia modern yang sepenuhnya bergantung pada mesin, ketidakakuratan pengukuran jelas sebuah bencana. Contoh nyata saat kita kehilangan orientasi waktu dalam ruang tertutup, meski ada jam dinding, tetap kita tidak tahu waktu yang sebenarnya pada saat itu. Karena dalam jam analog, representasi pukul 02:00 pagi serupa dengan representasi dari pukul 14:00. Apakah saat itu pagi dini hari atau tengah hari, alat pengukur waktu itu tidak mampu memberikan jawaban yang memuaskan. Kasus yang lebih serius adalah soal keakuratan altitumeter pada instrumen pesawat. Dalam kondisi cuaca yang buruk, dengan jarak pandang yang sangat minim, ketidakakuratan alat pengukur akibat kalibrasi yang salah jelas sebuah bencana. Untungnya, saya tidak sedang dalam pesawat, dan pada malam itu saya memenangi argumentasi dengan si suster. Hehehe...

Akhirnya waktu saya pun tiba. Setelah dipanggil masuk, saya bertemu dengan dokter yang tengah praktek pada saat itu. Dokter umum ini masih muda, dan kemungkinan besar umurnya di bawah saya. Begitu saya mendeskripsikan problem kesehatan saya, seperti yang saya duga, ia membeberkan dua kemungkinan infark dan spasme kepada saya. Dan karena ia tidak memiliki alat yang objektif untuk mencapai kesimpulan itu, ia pun segera merujuk saya ke UGD guna melakukan pemeriksaan lebih lanjut dengan EKG. Ya, pada malam itu untuk pertama kalinya saya masuk ke ruang gawat darurat dan melakukan pengecekkan jantung. Tapi sungguh bukan itu permasalahannya. Asosiasi kita tentang UGD rupanya sangat berpengaruh dalam cara kita bertindak dan merespon. Saya sebenarnya tidak begitu panik dengan keputusan si dokter umum itu, karena tindakannya benar-benar textbook, tapi lain halnya dengan suster yang tadi menimbang berat badan saya yang jadi tampak sibuk dan cekatan. Asosiasi semantik dari kata UGD rupanya telah memicu sekresi hormon fight and flight dalam dirinya. Ya, linguistik rupanya benar-benar mempengaruhi biologi tubuh manusia.

Namun, yang muncul dalam benak saya bukanlah kondisi si suster yang agak panik itu. Yang saya pikirkan saat itu hanyalah, apakah saya benar-benar tidak panik? Saya mencoba bertanya pada diri sendiri, apakah saya panik? Dan secara positif saya memperoleh jawaban bahwa tidak ada masalah apa-apa dengan diri saya saat itu. Saya menganggap mampu menguasai keadaan. Sayangnya, afirmasi sepihak ini tidaklah objektif, karena jawaban sesungguhnya dari pertanyaan saya tersebut baru saya ketahui ketika masuk ke ruang UGD. Di ruang ini, tekanan darah saya kembali diukur oleh petugas jaga ruang emergency tersebut. Tensimeter yang digunakan untuk pengukuran memang berbeda dari tensimeter si suster yg dalam bentuk digital. Begitu juga angka yang dihasilkan. Pada tensimeter manual ini, saya mengetahui jika sistolik saya meningkat dengan tiba-tiba sebesar 20 mmHG hanya dalam kurun waktu 8 menit. Bagi saya, perubahan drastis tersebut dapat dianggap sebagai jawaban bahwa sistem tubuh saya bereaksi secara negatif dengan tiba-tiba dari asosiasi kata UGD. Dengan kata lain, saya saat itu tengah panik, meski kesadaran saya menolak mentah-mentah atribusi tersebut.

Memang sih, kalau mau kritis bisa saja kita meragukan keakuratan kalibrasi kedua alat ukur tersebut, tapi dalam kondisi saat itu saya tidak terlalu mengambil pusing. Toh, dalam dunia medis, fenomena ini juga dikenal sebagai sindroma kerah putih, "white collar Syndrome", yakni peningkatan tekanan darah tiba-tiba oleh kondisi psikologis yg disebabkan rasa takut, terkejut, atau bahkan wow, saat kita melihat petugas medis berbaju putih yang seksi itu. :p Dan rupanya saya benar-benar mengalami sindroma tersebut. Bukan karena perawat tadi seksi, tapi karena suasana dari ruang UGD yang membenarkan konsepsi semantik saya tentang tempat tersebut. Dingin, dan sepi.

1 komentar:

  1. Sudah, berobat sana.. Masih sempet-sempetnya berfilsafat.. :)

    BalasHapus