Tentang Rokok

Sebulan ini entah kenapa isu merokok mencuat ke permukaan. Barangkali hal tersebut berkenaan dengan rancangan undang-undang rokok atau mungkin fatwa haram rokok yang dikeluarkan oleh PP Muhammadiyah. Imbas dari ini semua adalah membanjirnya sejumlah posting dan status di Facebook yang membicarakan soal rokok secara terbuka. Di sini saya sebagai salah seorang warga Facebook yang rajin update status melakukan komentar kepada dua orang kawan yang kebetulan memiliki perhatian mendalam terhadap fatwa tersebut. Entah ia sebagai sebuah produk agama, maupun sebagai sebuah produk sosial.

Sekedar perkenalan, kedua orang tokoh di bawah ini memiliki cara pandang sama terhadap rokok. Meskipun demikian, cara pikir mereka dalam hemat saya cukup berbeda. Tokoh pertama, lahir dari kalangan aktivis kampus yang sangat familiar dengan ide-ide filsafat, meski akhir-akhir ini senang berkelut dengan permasalahan agama. Tokoh kedua, telah memiliki nama di dunia layar kaca nasional dan memiliki latar belakang pesantren yang kuat. Sekarang ia tengah sibuk sebagai aktivis anti-rokok nasional. Karena masalah privasi, saya hanya akan menyebut nama keduanya secara anonim. Berikut catatan pesan berkait antara saya dengan kedua tokoh tersebut:

Tokoh Pertama,

Memulai statusnya dengan pemikiran apriori mengenai pengaruh fatwa merokok di kalangan umat Islam. Ia menulis: "Dulu, Muhammadiyah menyatakan bahwa rokok hukumnya makruh; kini, Majelis tarjih merumuskan bahwa rokok hukumnya haram. Maka, hukum agama adalah hasil keputusan manusia yang bisa berbeda-beda berdasarkan ruang dan waktu. Jadi, kepada para perokok dan pengusaha rokok ga perlu terlalu serius nanggepinnya. kecuali nanggepin fatwa dokter paru-paru."

Atas statusnya diatas, saya menanggapi di ruang komentar: "Apa bisa dokter keluarin fatwa? Kalaupun bisa, tentu bahasanya bukan halal dan haram, karena itu bahasa agama. Tapi kenapa juga harus dokter yg mengeluarkan fatwa kalau masalah rokok sebenarnya adalah sebuah masalah kultural, peninggalan politik etis Belanda, bukan individu per se? Yg hebat, stok tembakau selalu tersedia saat pasokan bahan pokok ... See moreberkurang. Apa jadinya negara ini jika para perokok demo soal kenaikan harga rokok. Nyatanya, meski mahal, tapi rokok gak pernah gak laku. Mungkin pemerintah harus memaksa warganya merokok biar mereka tunduk patuh dan dapat diatur seleranya. Dan agar tidak ada lagi demo sembako karena semua orang kecanduan batang pendek itu. Lagi, rokok juga menekan angka fertilitas sehingga tidak perlu pusing dgn ledakan penduduk. Alangkah enaknya punya penduduk yg bodoh dan ber-IQ rendah. Kalau mereka reaksioner, kritis, gampang. Kasih saja rokok, nanti juga diam kayak kerbau."

Jawabnya: "dalam kamus bahasa Indonesia online, http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php, fatwa berati nasihat orang alim, pelajaran baik, petuah. Jadi dokter tentu saja bisa mengeluarkan fatwa atau petuah. Saya bukan perokok, jadi tak tahu apatah ini merokok adalah tradisi atau kenikmatan individual. Setahu saya, iklan rokok tak ada yg menampilkan perokok sebagai model. Tapi asyik juga tuh kalau ada demo anti kenaikan harga rokok."

Jawab saya, "Iya, itu fatwa sinkretis yg keluar dari language game-nya. Sama seperti penggunaan kata Allah oleh non-Muslim Indonesia yg a historis dan tidak memiliki dasar teologi yg kuat. Itu jawabannya Ni. Karena tidak ada perokok yg jadi model iklan, manandakan bahwa rokok telah menjadi tradisi, ideologi, dan pernyataan kelas. Sebuah mitos yg berhasil dipelihara dgn baik oleh para produsen rokok, karena mereka tahu cara berkuasa dan hegemoni melalui sepuntung rokok."

Tokoh pertama ini kembali memberikan pernyataannya dengan mengabaikan persimpangan pertama: "'Mereka tak menyadarinya." Kalimat ini yg saya ragu. Apa beda merokok dengan memakai celana dalam, ya kan? Bagaiamana kta menelusuri bahwa pilihan merokok dan rokoknya apa adalah hasil dikte? Asumsinya bahwa manusia adalah robot yg bodoh dan kosong. produsen mengisinya. benarkah? " Atas jawabannya itu saya memberikan saran agar tidak memandang masalah rokok dari segi teologis semata. "Coba melihatnya dari perspektif biologis bukan dari kacamata teologis, free will vs predestinate."

Atas jawaban saya yang simpel, ia balas bertanya sambil mempertanyakan keabsahan maksud saya ini. Katanya, "nah apalagi biologis, memperlakukan saya bagaimana yang dengan sadar tidak tertarik merokok. apakah produsen gagal mendikte saya? atau saya memilih tidak mau didikte?" Saya pun menjawab dengan uraian retorik yang panjang lebar. "Kalau kamu makan, sebenarnya itu kemauan siapa? Asosiasi otak yg terpola bahwa didepan ada sebuah makanan yg sayang untuk dilewatkan, atau memang karena dorongan hormonal yg memberikan sinyal perintah dari sel2 tubuh untuk makan? Atau mungkin pandangan mata kepada sebuah objek mentriger bagian otak kita yg sensitif terhadap rasa lapar. Akhirnya ... See morejustru malah otak yg mempengaruhi hormon bukan sebaliknya. Kita tidak ingin makan, tapi karena indera kita mengasosiasikan makan sebagai sebuah nilai yg berharga kita jadi tertarik makan. Akhirnya malah tanpa harus melihat makanan secara langsung, tapi simbol2 tertentu macam pizza hut, masakan minang, kita malah ingin makan, meski sebenarnya kita tidak lapar. Sama halnya dengan seks, simbol2 tertentu sudah mampu membangkitkan sistem hormonal dan asosiasi otak. Bila demikian, kehendak siapa sebenarnya itu? "

Tapi rupanya tokoh pertama kita ini masih berkeras dengan logika free will-nya itu. Ia pun membalas dengan jawaban yang panjang lebar, "@ wan: siapa yg merangsang siapa, saya tidak banyak tahu. Dan karena cara pengukuranya adalah probalility, maka kita tidak bisa memastikan secara absolut: otak atau sel2 tubuh yang punya kuasa saat kita lapar. Lagi pula, membandingkan makan dengan merokok, menurut saya, tidak apple to apple, atau tidak sebanding. Dalam sejarah manusia, orang tidak bisa bertahan hidup bila tidak makan. sementara, ada banyak sekali makhluk yg kita sebut manusia hidup tanpa rokok. Menurut saya, merokok adalah hasil pilihan bebas para perokok. bahkan pilihan merek yg mereka pakai. Faktornya, kita belum bisa memastikan apakah iklan yang bahkan tiap detik kita terima atau yg lain. Faktor ga punya uang bisa menentukan orang memilih merek apa atau rokok tak bermerek (linting). Juga manusia yg tidak merokok, ada banyak faktor memengaruhi. Tetapi kita belum bisa memastikan apakah fatwa Muhammadiyah atau iklan layanan masyarakat departemen kesehatan atau perda Jakarta tenteng merokok di tempat umum, atau lainnya."

Rupanya diskusi kami telah berakhir sebelum waktunya. Untuk itu saya pun menutup dengan menulis bahwa dia harus memahami model logika genomik dahulu sebelum melangkah ke rasionalisasi yang saya maksud. Atas usul saya itu ia mempersilahkan untuk memberikannya link yang membahas masalah itu. Logika genomik.


Tokoh Kedua

Ia tidak memulai diskusi melalui status di Facebook, tapi dengan mengirimkan sebuah pranala luar berupa tulisannya di sebuah situs berita Muslim nasional yang dikaitkan di statusnya. Lalu ia memberikan pemikiran bahwa,  "Sangat aneh kalau ummat islam menolak fatwa haram rokok . 168 negara dunia yang mayoritasnya negara negara non muslim sudah sangat keras dalam mengontrol peredaran rokok , kenapa disini malah didukung . ?? Ayo ummat islam ... bangunlah ... bangunn ...." Dari narasi tulisan, jelas ia adalah seorang Muslim yang taat, dan benar-benar membenci rokok. Oleh karena itu, tanggapan saya sedikit berbeda dari tokoh pertama. Dengan ringan saya menjawab statusnya tersebut, "Sejauh itu tafsir dan ijtihad, perbedaan pendapat boleh saja. Dan pengharaman rokok itu tafsir juga ijtihad ulama. Kalau benar pahalanya dua dan kalau salah, pahalanya satu."

Rupanya sang pemilik akun menaruh perhatian yang tinggi dengan jawaban saya tersebut, ia pun langsung bertanya kepada saya. "@ Himawan : gimana kalau akibat dari kesalahan itu menjadikan puluhan juta orang sebagai korbannya ?? pls jelaskan .syukron." Sebenarnya saya merasa kaget dengan respon mendalam yang ia berikan. Untuk menghormatinya, saya berikan sebuah jawaban yang sedikit panjang. "Tuhan Maha Tahu dan Adil. Sebenarnya kalau cuma melarang saja itu gak masalah apalagi jika otoritas pelarangan itu medis. Tapi disini, yg digunakan adalah bahasa agama: haram. Kita berpindah dari sesuatu yg awalnya medis menjadi agamis. Ini dua sistem yg berbeda yg masing2 punya logikanya sendiri. Ambil contoh, 'anggur', wine. Dalam agama Islam ia jelas haram. Tapi bagaimana dengan penilaian medis? Beberapa penelitian malah membela minum anggur karena menaikkan kadar hdl-c. Kasus lain, transplantasi organ atau jaringan atau ekstrak dari babi untuk kesehatan manusia, bagi medis itu sah dan mampu menyelamatkan nyawa manusia, tapi bagi agama? Islam memiliki tradisi yg panjang soal fiqh dan ushulnya. Ada aturan main disana yg berbeda dengan aturan main dalam dunia medis. Hey, bukankah kita juga memiliki kosa kata lain selain haram: mubah dan makruh."

Di sini saya membedakan dua macam permainan bahasa, yakni agama dan medis sebagaimana yang saya gunakan dalam debat dengan tokoh pertama sebelumnya. Namun jawaban yang disampaikan tokoh kedua ini rupanya lebih dogmatis dari yang saya kira. Ia menjawab, "saya coba gabungkan jawaban atas dua komentar antum. Begini, Pertama : di hampir seluruh negara dunia , rokok sudah dinilai sebagai benda yang buruk dan membahayakan kesehatan. (ini sdh dibuktikan dengan 70.000 literatur ilmiah) kalau antum percaya bukti ilmiah ini , maka kita bisa memasukkan rokok sebagai golongan KHOBAITS kalau antum setuju , saya lanjutkan . Kalau antum gak setuju bahwa rokok termasuk KHOBAITS , maka jangan pusing baca sisa komentar saya. KHOBAITS , sudah jelas pengharamannya di surat Al A'raf ayat 157 . (jadi bukan MUI atauMuhammadiyah yang mengharamkannya) Kedua : kalau kita bandingkan dengan 168 negara yang sudah meratifikasi konvensi penanggulangan masalah rokok , jelas sekali bahwa pemerintah kita tidak berpihak kepada rakyat , tapi kepada industri rokok. Kalau demikian , apakah bukan saatnya ummat ini mengusahakan keberpihakan kepada masyarakat dengan mengusahakan perlindungan hukum, minimal berupa fatwa . yang maksudnya hanya menyuarakan kebenaran yang diyakini oleh sebagian ulama. silahkan ya akhi ..."

Karena mulai menggunakan dalil agama, maka saya pun meladeni jawaban tokoh kedua ini dengan sedikit diskusi tentang term khabaits sebagaimana yang ia maksud. Tulis saya.
"Kata khabaits, jamak dari khabits memiliki beragam arti. Dalam Q.21:74, ia bermakna homoseksualitas yg dikerjakan umat Luth. Dalam bentuk singular, kata ini sering dipadankan dgn kata lain dan biasanya bertentangan dgn kata thayib, seperti kalimat khabisat yg berlawanan dengan kalimat thayibat Q 14:25-26 yg bermakna pertentangan antara ajaran orang kafir dgn ajaran Islam yg lurus. Dalam ayat lain, pelaku khabits dibedakan oleh Tuhan dgn pelaku thayib dalam soal pernikahan: alkhabitsat lil khabitsin.. Q 24:26. Kedua ayat ini menunjukkan perbedaan khabits-thayyib kepada persoalan aqidah, yakni orang kafir itu khabits dan muslim itu thayyib.

Makna khabits yg dekat dgn soal makanan tertera pada Q 5:100 dimana didahului oleh ayat penghalalan buruan laut bagi jamaah haji dan diikuti sangkalan Tuhan mengenai penyariatan bahirah, saibah, wasilah dan ham. Meski merujuk kepada makanan, tapi makna khabits di sini berkaitan justru dgn aturan2 tertentu dalam beragama yg diikuti dgn larangan kepada umat Muslim untuk menanyakan hal2 yg memberatkan mengenai agama pada Nabi SAW.

Secara umum, khabits lebih bermakna perbuatan yg tidak direstui agama, seperti menggelapkan harta anak yatim Q 4:2, kekafiran Q 3:179, dan orang yg mengerjakannya hanyalah neraka sebagai balasannya. Dalam arti yg berbeda, khabits itu setara dgn dosa besar dan merupakan teguran keras dari Tuhan. ... See more

Apabila kita analogikan khabits dengan rokok, muncul pertanyaan, sekeji itukah para perokok di mata Tuhan? Sangat keji, sehingga seorang perokok tidak layak menikah dgn orang Muslim? Begitu keji sehingga tindakan mereka sederajat dgn homoseksualitas? Untung saya bukan perokok, tapi jelas saya tidak mengkategorikan tindakan para perokok sebagai khabits. Bagi saya, pengatributan ini terlalu berat bagi mereka.
Saya juga menambahkan sedikit bahwa,  "Tambahan, khamar, judi dan ramalan hanya sekelas 'rijsun min amal syaithan' bukan khabits pada Q 5:90. Ayat itu juga diakhiri dgn perintah untuk menjauhinya agar orang2 beriman beruntung. Meski sama2 haram, tapi tingkatan rijsun, kotoran, dan khabits itu berbeda. Khabits memiliki implikasi keimanan, sedang rijsun hanya berimplikasi sosial semata. Tidak ada ayat yg mengkafirkan pelaku rijsun, tapi khabits, dgn tegas dijelaskan bahwa pelakunya adalah kafir."

Sebagaimana yang saya perkirakan, ia menjawab dengan tajam pernyataan saya tersebut.
"@ Himawan : Ana gak brani komemntari lagi komantar antum karena ana sudah merasa ada semacam usaha mereduksi hukum hukum itu. ana tidak menuduh antum sengaja mereduksi itu , tapi kalau ini dipahami sebagai hal yang benar , maka ana khawatir umat akan semakin terpuruk. Saat ini ummat islam saja sudah "menyumbang" Rp.400 milyar SETIAP HARINYA kepada industri rokok yang notabene adalah usaha orang orang kafir yang sudah pasti menyengsarakan umat islam. Tidak bisa dipungkiri , bahwa mayoritas umat masih hidup dibawah garis kemiskinan. Adiksi rokok akan memperparah kemiskinan dan PASTI akan menjadikan generasi berikutnya tampah parah , karena bapak bapak mereka yg uangnya sangat terbatas , malah merasa lebih baik beli rokok daripada beli susu , malahan ada seorang nelayan muslim dari muara angke yang jelas jelas mengatakan di depan para undangan di aula depkes , pada mata acara testimoni : ' saya mah mendingan anak saya berhenti sekolah daripada saya berhenti merokok...' Ini gambaran keadaan ummat yang boleh jadi ana juga akan bertanggung jawab bila mereduksi hukum hukumnya . Fyi : 168 negara yang mayoritasnya kuffar sudah mengatur rokok dengan aturan aturan yang sangat keras dan Fyi juga , dari semua negara yang berpenduduk mayoritas muslimin , HANYA indonesia yang belum mengharamkan rokok. Buat ana sangat aneh bila antum tidak merokok tapi kurang paham akan ancaman bahaya besar dibelakang perdagangan rokok ini. Bahaya rokok BUKAN hanya penyakit yang akan dialami oleh perokoknya saja , tapi juga kerusakan generasi sesudahnya akibat berkurangnya kemampuan mayoritas perokok muslimin yang miskin dan dimiskinkan lagi oleh adiksi rokok ini .

Wassalaamu ala manit taba'al huda."
Sangat jelas nada keseriusan yang terkandung dalam setiap kalimat yang ditulis. Bagi saya sendiri, diskusi ini telah mengalami semacam jalan buntu. Untuk meringankan suasana saya membalas dengan sedikit tulisan simpatis sekaligus menutup perdebatan panjang tersebut. "Sebenarnya argumentasi saya tidak bertentangan dgn pendapat pak Fuad. Saya hanya berusaha mendudukkan persoalan ini secara proporsional dari sudut pandang pemahaman saya tentang ayat2 Al-Quran, yakni dgn menolak aktivitas merokok sebagai 'khabits' tapi mengklasifikasikannya sebagai 'rijsun', seperti khamr. Tenang pak, keduanya sama2 haram kok. :) Sebagaimana komentar saya yg pertama, ada dua metode berfikir dalam masalah ini. Mungkin juga tiga bila kita memasukkan unsur pemerintah. Bukankah di negara2 non-muslim rokok cukup dilarang tanpa memerlukan fatwa haram? Bisakah itu di Indonesia? Kalau tidak, seefektif apakah produk sebuah fatwa bagi usaha untuk berhenti merokok? Bukankah justru lebih efektif campur tangan pemerintah atau pendekatan sosial daripada fatwa yg tidak mengikat secara legal? Apalagi jika dasar fatwa itu memiliki distorsi semantik yg mengacaukan pesan2 Al-Quran. Apapun itu, mujadalah dalam agama sudah seharusnya santun, ilmiah dan tidak mendahulukan prasangka buruk. Qul alhaq wa law kana murran. "

Rupanya tulisan saya sedikit meredakan emosinya. Debat pun ditutup dengan komentarnya yang juga panjang. @ himawan : seandainya antum tahu bagaimana sikap pemerintah kita dalam menaggulangi masalah merokok , apalagi bila dibandingkan dengan 168 negara itu , saya yakin antum akan berpikir lain .
Saya dan rekan rekan di Jaringan Pengendalian dampak rokok atau Indonesian Tobacco Control Network (ITCN) sudah melakukan segala hal untuk menjelaskan dan meyakinkan efek kerusakan akibat rokok ini kepada pemerintah untuk segera diambil tindakan seperti yang telah diilakukan bangsa bangsa dunia .
Tapi seperetinya kita menghadapi tembok yang sangat tebal.
demo ke istana dan ke DPR sudah sering kami lakukan . Bahkan kami pernah menuntut presiden SBY dan ketua DPR ke pengadilan dengan alasan bahwa keduanya tidak memberikan perlindungan hukum kepada masyarakat dari bahaya adiksi rokok. Tapi ya itu lah ... seperti yang saya katakan , tembok.
Industri rokok dengan kemampuan finansialnya yang nyaris tanpa batas menjadikan masalah ini semakin runyam .... See more
merekapun membuat aksi aksi tandingan yang katanya untruk menyelamatkan 6 juta petani tembakau dan cengkeh. Trus , apa puluhan juta rakyat yang mayoritasnya muslimin ini gak perlu diselamatkan .
Untuk masalah pengendalian rokok ini saya malu jadi orang indonesia. (baca note saya yang berjudul SURAT KEPADA SBY) . Bagaimana tidak , Penanggulangan masalah rokok di Indonesia adalah yang terburuk di dunia !!
Laju pertumbuhan perokok remaja di Indonesia adalah yang tercepat di dunia !! adakah yang menganggap ini sebuah prestasi ?
Kalau keadaannya seburuk ini , bukankah fatwa bisa merupakan sebuah upaya ? Tolong jangan kembalikan kepada penjelasan tentang pemahaman syariatnya , karena di Muhammadiyah juga banyak ulama ulama yang mumpuni di bidang syariat. Tapi minimal mereka memahami urgensi penanggulangan rokok yang secara nyata menghancurkan ummat. Atau kita akan menunggu ummat ini 20 tahun lagi mengatakan : Ya , seandainya saja dulu .....
hadaanallohu wa iyyaakum.
Kesimpulan
Kedua dialog tadi meliputi dua macam sudut pandang saya dalam memandang rokok. Memang tidak ada sebuah argumen tetap di sini, cara membaca saya sesuaikan dengan kapasitas kepercayaan kedua orang tersebut. Meskipun jawaban saya saling bertolak belakang, namun keduanya berakhir dengan ending yang tidak sempurna. Sebagai info, ketiga orang yang terlibat pada dialog ini sama-sama tidak merokok. Untuk selanjutnya mungkin menarik jika tokoh pertama dan kedua sama-sama terlibat dalam diskusi tentang tema yang serupa. Kita nantikan saja.

Arabisme, Cina, Orientalis dan Iman

Saya ingat, sewaktu saya ditempatkan bekas perusahaan saya dahulu untuk mengisi kantor cabang di Makassar, salah seorang teman wanita pernah meminta bantuan untuk mentransliterasi sebuah tulisan Arab beraksara latin kedalam aksara Arab. Dari bacaan yang saya lihat sepintas, tulisan disecarik kertas itu adalah sebuah bacaan doa. Bukan doa biasa, karena dari struktur kata dan kalimat, meski ditulis dalam bahasa Arab klasik, tapi sangat asing dari model doa yang dikenal umat Islam. Tidak terlalu lama bagi saya untuk menyadari bahwa tulisan tersebut adalah sebuah doa Kristen yang sering dibaca pada saat-saat tertentu, yakni doa “Bapak Kami di Sorga”. Saya menyadari isi tulisan tersebut, insting saya berusaha mencerna maksud dan motif teman saya ini. Apa sesungguhnya niat yang melatari permintaannya tersebut, lagi juga apa dan dari mana dia mendapat terjemahan doa tadi dalam bahasa Arab? Tapi alih-alih menyikapi motif teman saya secara kritis, saya justru lebih tertarik untuk melihat isi doa dalam bahasa Arab itu hingga habis dan kemudian menyelesaikan proses transliterasi hingga selesai.

Kebetulan teman saya ini seorang penganut agama Kristen Protestan, meski bukan tipikal orang yang saleh. Seandainya dia seorang muslimah, tentu saya tidak akan mentransliterasi tulisan tersebut. Saya hanya berprasangka baik padanya bahwa ia ingin mengenal kultur Arab, yang selama ini identik dengan Islam. Mungkin juga dia ingin memuaskan dirinya dengan aksara-aksara Arab sehingga membuatnya lebih dekat dengan teman-temannya yang muslim. Dari sudut pandang paling ekstrim, saya juga berpikir mengenai ide-ide misionaris yang mungkin melingkupi kepala dan hati teman saya tersebut. Mungkin dia ingin menyerahkan tulisan “Arab” tadi ke seorang teman Muslim yang tidak tahu sama sekali mengenai bahasa Arab dan menganggap tulisan tadi sebagai bagian dari Al-Quran, yang nyatanya seribu persen salah.

Bukan rahasia lagi, jika kita selalu mengidentikkan Arab dengan Islam. Untuk negara-negara seperti Saudi Arabia, Qatar, Kuwait, Oman bahkan Yaman, identifikasi ini adalah benar. Tapi negara-negara sepanjang pantai Mediterania atau Levant, identifikasi tersebut tidak seratus persen benar. Beberapa negara seperti Lebanon, Irak dengan suku Kurdinya, atau bahkan Israel, populasi non-muslim jauh lebih banyak daripada kelompok negara yang saya sebutkan pertama tadi. Para non-muslim ini kebanyakan adalah penganut agama Kristen Timur yang bertahan sejak masa kelahiran Islam. Enam ratus tahun sebelum Islam, wilayah “bulan sabit subur” adalah pusat kebudayaan Kristen. Mereka bukan Arab, tidak berbicara dengan bahasa Arab, dan mungkin pula sangat memusuhi orang-orang Arab. Tapi berbeda dari para penakluk Arab-Muslim yang datang kemudian, mereka hampir tidak memiliki sebuah kebudayaan tunggal untuk mengidentifikasi keberadaan mereka di wilayah tersebut.

Isa, atau Yashua atau Yesus, berbicara dalam bahasa Aram, bukan Ibrani. Setelah kolonialisasi bangsa Romawi, dan pengaruh Helenisme yang sangat kuat, bahasa Yunani mulai menguasai kultur dan pikiran para penduduk Kristen ini. Akan hal tersebut, saya teringat tulisan Russell yang mengatakan bahwa agama Kristen itu secara teologis mengadopsi ajaran Yahudi, kultur mereka Yunani dan hukum mereka Romawi. Dan demikianlah, tiga kultur yang berbeda ini yang membentuk Kristen sebagaimana kita lihat sekarang. Tapi definisi paling pas mengenai Kristen bukanlah dataran Levant, tapi Eropa. Agama Kristen yang dibawa ke Indonesia oleh orang Eropa sejatinya adalah sebuah Kristen-Eropa daripada Kristen Levant dan Timur Dekat. Di sini kita melihat identifikasi Eropa sebagai kumpulan negara-negara Kristen, sama seperti kita mengidentikkan Arab sebagai Islam.

Namun fakta sejarah sering kali berbeda. Meski Islam tumbuh menjadi gerakan utama di wilayah kelahiran Kristen, tapi eksistensi agama tersebut masih tetap ada. Kebijakan dzimmi yang dianut para khalifah memberikan perlindungan legal terhadap gereja dan aset-asetnya. Lagi semangat toleransi yang tinggi dari orang-orang Arab yang tercerahkan ini, yang berhasil melestarikan Gereja Kristen Timur hingga sekarang. Satu hal yang pada akhirnya membedakan mereka dengan rekan-rekannya di Eropa adalah penggunaan bahasa Arab sebagai lingua franca dalam beribadah. Di sini sekali lagi kita melihat perubahan budaya, dari Helenisasi kepada Arabisasi. Dan diakui, bahwa orang-orang Kristen ini jauh lebih Arab daripada kita umat Muslim di Indonesia.

***

Selama di Makassar, saya pindah kos beberapa kali. Terakhir, selama setahun lebih, saya tinggal di rumah seorang Cina-Makassar yang juga beragama Kristen Protestan. Saya menyukai kos baru saya itu, karena terletak di pusat kota dan dekat dengan kantor cabang, tapi pelajaran kultural yang saya terima jauh lebih penting dari itu semua. Kebetulan keluarga pemilik kos juga tinggal bersama kami di satu atap. Saya bisa menyaksikan dari dekat kehidupan sehari-hari mereka yang bisa dikatakan sangat religius. Setiap pagi, bapak dan ibu kos biasanya membaca beberapa pasal Perjanjian Baru dengan suara dikeraskan dan setiap minggu mereka pergi ke gereja tanpa pernah absen. Boleh dikatakan, itulah saat pertama kali saya merasakan keintiman dengan sesama penganut agama Abrahamik ini. Meski kadang-kadang saya merasa geli dengan bacaan yang mereka ucapkan, karena bagaimanapun juga, saya masih seratus persen Muslim dan sedikit banyak tahu tentang konsep teologis Kristen. Kedua anak perempuan pasangan ini benar-benar ABG Cina, yang selalu berpakaian tipikal mereka. Di rumah, tidak ada bedanya kehidupan keluarga ini dengan kehidupan keluarga saya. Ternyata mereka benar-benar telah menyatu dengan ke-Indonesiaan.

Saya tidak pernah memberi tahu identitas saya sebagai seorang santri kepada pemilik kos, karena saya berpikir barangkali akan ada hambatan kultural dalam komunikasi diantara kami. Apalagi begitu menyadari sikap ibu kos yang sangat terbuka, membuat saya merasa ada yang tidak beres akan hubungan mereka dengan dunia luar yang sedikit tertutup. Ibu kos itu hampir sepanjang hari tinggal di dalam rumah, selalu mengunci pintu dan menggemboknya rapat-rapat. Seolah terdapat ketakutan traumatik yang membuatnya melakukan hal tersebut. Dari perbincangan kami, saya akhirnya mengetahui bahwa ia atau kakaknya pernah sekali mengalami sejenis pelecehan seksual sehingga sangat sensitif dengan pintu rumah yang terbuka. Dari segi kultural, ia adalah seorang Cina yang sangat rentan menjadi korban stigma sosial, meski tidak selamanya benar. Sehingga perlawanan yang kalaupun mungkin dilakukan adalah mengomel kepada dirinya sendiri bukan orang lain atau setidaknya menumpahkan seluruh unek-unek kepada para anak kos yang tinggal di rumahnya. Dan saya mampu menjadi salah satu pendengarnya yang terbaik.

Tidak seluruh orang Cina sebaik ibu kos saya. Beberapa bahkan menunjukkan watak rakusnya, dalam berbagai transaksi perdagangan. Saya pikir itu juga bukan salah mereka, perdagangan di Indonesia kayaknya sudah sangat erat berhubungan dengan berbagai macam penyimpangan dan dikondisikan demikian sehingga bukan menjadi ciri khas sebuah etnis atau suku tertentu. Sogok-menyogok, penyuapan bahkan tindakan pemberian diskon yang benar-benar tidak masuk akal. Singkatnya, trading is a battle that we never win.

Selain keluarga pemilik kos, orang Cina selanjutnya yang berhubungan dekat dengan saya adalah seorang profesor dokter. Kebetulan dia adalah mitra kerja perusahaan, sehingga saya memiliki kesempatan yang banyak untuk mengenal watak dan karakternya. Meski lahir di Makassar, mitra kerja saya ini menghabiskan sepuluh tahun masa mudanya di Melbourne, Australia. Ia mendapat beasiswa kedokteran untuk belajar kedokteran di negara tersebut. Anaknya, kuliah di Amerika Serikat dan sangat menjiwai kehidupan mereka sebagai keluarga kelas atas berpendidikan luar negeri yang tinggi. Meski profesor, bukan berarti dia pintar di segala hal. Suatu ketika dia bingung waktu saya berkata tentang paradigma, dan bertanya soal itu pada saya. Untuk urusan teknik, jelas profesor ini termasuk kelas gagap teknologi yang tidak mau ambil pusing dengan teknologi presentasi mereka yang sudah sangat ketinggalan jaman.

Dari segi agama, ia penganut Katholik yang sangat tertutup dan enggan berbicara mengenai agama dengan saya. Hal berbeda saya temui dengan seorang klien di Jakarta yang beragama Protestan dan merupakan orang Manado. Boleh dibilang, bahwa dengan dialah saya pertama kali mengenal sebuah diskusi lintas agama. Mungkin karena tertarik dengan pendidikan filsafat saya, si dokter Manado ini justru memperkenalkan beberapa pasal Genesis kepada saya dan mengajak diskusi. Yang membuat saya menyesal, pada saat itu pikiran saya sudah tersetting dengan dunia kerja sehingga tampak sangat bodoh saat menjawab beberapa pertanyaannya yang menyangkut perbandingan agama. Pelajaran berharga yang saya dapatkan dari dokter Manado ini, adalah sebuah keinginan untuk bisa menjawab pertanyaannya dengan baik, apalagi kalau bukan dengan cara mengetahui agama yang dia anut.

***

Sejak peristiwa 11 September, pandangan Barat tentang Islam mulai menunjukkan sebuah perubahan yang signifikan mesti tidak sepenuhnya positif. Di awal abad ini, pandangan eksklusif mengenai keimanan dalam Kristen juga mengalami perubahan. Dalam konsili terakhir, Vatikan mulai mengakui adanya keselamatan di luar iman Kristen mereka. Ini adalah perkembangan yang sangat maju, mengingat sejarah permusuhan yang dilancarkan Barat yang telah mendarah daging selama berabad-abad. Mulai dari Dante Alligheiri hingga mitos mengenai Baphomet atau legenda Saladin. Pandangan Eropa terhadap Islam selalu bias dan subjektif bahkan picik. Semua informasi tentang Nabi dan kehidupan umat Islam selalu jatuh kepada stereotip yang tidak memiliki kebenaran yang bertanggung jawab.

Pemahaman tentang Islam dan Al-Quran yang semakin meningkat di Barat berkaitan dengan jasa para orientalis mereka yang telah susah payah menganalisis sejarah dan pemikiran umat Islam dengan sangat menakjubkan. Saya yang terbiasa dengan kajian modern, menemukan sebuah sumber pemikiran Islam yang baru dari para orientalis ini. Metode mereka memberikan semacam inspirasi untuk melakukan hal serupa dengan niat yang berbeda. Bahwa agama bagi saya tidak berhenti pada tataran intelektual semata, tapi juga kejiwaan, praksis dan iman. Hal ini bertambah setelah saya mulai disibukkan menulis sebuah buku menganai sejarah para nabi. Boleh jadi, inilah untuk pertama kalinya saya mendalami Perjanjian Lama meski melalui sumber sekunder. Karena saya buta akannya.

Satu hal yang paling mengganjal dalam kajian Orientalis adalah kekeraskepalaan para komponen studi ini yang menganggap Islam tak lebih dari sebuah sekte Kristen yang menyimpang. Mereka menyimpulkan hal tersebut berdasarkan logika empiris, bahwa sesuatu tidak mungkin ada tanpa pengaruh dari budaya dan kultur yang meliputinya. Meskipun mereka mengakui bahwa selama masa Nabi, tidak ada satupun Bible yang diterjemahkan kedalam bahasa Arab, tapi mereka yakin bahwa Muhammad SAW, menerima ajaran Kristen secara lisan dari orang-orang Arab Kristen bahkan Yahudi yang telah tinggal di Madinah, atau bahkan Buhaira, yang masih kerabat Khadijah. Kekeraskepalaan mereka bahkan telah mencapai level dogmatis. Sehingga beberapa deduksi yang mestinya benar harus berakhir menyedihkan akibat dogma tersebut.

Bagi saya, fakta bahwa Nabi tidak mengetahui ajaran Kristen atau Yahudi dengan benar tanpa adanya campur tangan wahyu adalah sebuah premis dasar yang harus diterima. Pertanyaan mengenai bagaimana beliau dapat merumuskan ajaran agama yang bersifat Abrahamik tanpa adanya mentor Kristen yang memberinya pengajaran, sama seperti kita mengajukan pertanyaan mengenai siapa penemu kalkulus, Newton atau Leibniz? Bahkan apabila keduanya bersikeras sebagai penggagas original metode matematika itu, ilmu pengetahun modern pun tidak tahu bagaimana caranya dua orang yang tidak berhubungan sama-sama memiliki pemikiran serupa tentang kalkulus. Jika hal ini mampu dipahami dengan simpatik oleh para orientalis, bukan tidak mungkin mereka akan jauh lebih Islamicate dari mayoritas umat Islam saat ini yang merasa asing dengan tradisi dan warisan budaya Islam mereka.

Kembali ke sejarah para nabi, satu hal penting yang dapat dipetik adalah, kita harus terbiasa dengan kerangka historis untuk memahami sesuatu. Kisah-kisah Al-Quran yang tidak memiliki kerangka waktu sebenarnya diperlukan sebagai sebuah etos untuk menghayati perilaku dan tindakan para tokoh utama. Untuk sebuah kitab suci, pola Al-Quran ini bisa diterima, namun pemikiran kita yang sangat modern menuntut sebuah sudut pandang kesejarahan yang berbeda yang memandu kita untuk memahami dunia dengan lebih logis dan teratur. Di sinilah kita memerluka beberapa sumber Kristen atau Yahudi sebagai pembantu untuk memahami pesan ketuhanan yang terdapat dalam Al-Quran.

Diskusi:
  1. Penggunaan kata Allah oleh umat Kristen Indonesia sebenarnya sangat a historis, menyimpang dan salah kaprah. Apabila Kristen Arab menggunakan kata tersebut, hal itu bisa diterima mengingat kata Allah adalah kata khas Arab bukan Indonesia. Toh, dalam Perjanjian Lama dan Baru, terdapat banyak sekali koleksi nama-nama Tuhan, mulai El, Yahweh, bahkan Tuhan/ Lord. Lalu kenapa harus menggunakan kata Allah yang murni Islam?
  2. Bagi saya, Perjanjian Baru itu tidak identik dengan Injil sebagaimana dimaksud oleh Iman Islam. Keduanya adalah dua buku yang berbeda dan tidak ada bukti apa-apa yang menjelaskan bahwa kedua buku itu serupa. Sama halnya dengan Taurat dengan Perjanjian Lama. Meski beberapa sarjana Yahudi menganggap Torat adalah Panteutach, senyatanya kelima buku tersebut bukanlah karangan Musa, melainkan sejumlah penulis profesional sejak zaman Yahuda dan Israil hingga masa Ezra. Para penulis itu: E, J dan D.
  3. Kristen itu lebih Yunani daripada Semit dari segi ajaran agama. Konsep Trinitas sendiri adalah sebuah inovasi Yunani daripada pemikiran khas Semit. Dalam tubuh Kristen, kita menemukan sebuah persaingan antara dua pola pikir yang berbeda ini. Padahal, apa yang kita maksud dengan nashara atau nasrani tak lebih daripada kultur Semit warisan Yahudi bukan Yunani.
  4. Meskipun semua fakta lapangan sangat berbeda dari definisi Al-Quran, akan tetapi Al-Quran tetap memasukkan mereka kedalam domain Ahlul Kitab. Sejumlah Islamisis yang berpegang teguh pada Al-Quran menghadapi jurang epistemologi ini sehingga dengan dogmatis “menolak” konsep Al-Quran yang jauh bersahabat dengan Ahlul Kitab dan memilih sejumlah ayat  yang bersifat polemik. Tantangan terbesar dalam dunia Islam bila demikian adalah menjembatani wahyu dengan realitas untuk membangun sebuah konsep baru yang memuaskan dan sesuai dengan tuntutan zaman.
P.S.
Mungkin suatu saat nanti kajian studi Islam juga membutuhkan pengetahuan yang dalam tentang bahasa Aram, Ibrani, bahkan juga arkeologi, sehingga kita bisa mengerti jalan pikiran Tuhan yang sebenarnya.