Arabisme, Cina, Orientalis dan Iman

Saya ingat, sewaktu saya ditempatkan bekas perusahaan saya dahulu untuk mengisi kantor cabang di Makassar, salah seorang teman wanita pernah meminta bantuan untuk mentransliterasi sebuah tulisan Arab beraksara latin kedalam aksara Arab. Dari bacaan yang saya lihat sepintas, tulisan disecarik kertas itu adalah sebuah bacaan doa. Bukan doa biasa, karena dari struktur kata dan kalimat, meski ditulis dalam bahasa Arab klasik, tapi sangat asing dari model doa yang dikenal umat Islam. Tidak terlalu lama bagi saya untuk menyadari bahwa tulisan tersebut adalah sebuah doa Kristen yang sering dibaca pada saat-saat tertentu, yakni doa “Bapak Kami di Sorga”. Saya menyadari isi tulisan tersebut, insting saya berusaha mencerna maksud dan motif teman saya ini. Apa sesungguhnya niat yang melatari permintaannya tersebut, lagi juga apa dan dari mana dia mendapat terjemahan doa tadi dalam bahasa Arab? Tapi alih-alih menyikapi motif teman saya secara kritis, saya justru lebih tertarik untuk melihat isi doa dalam bahasa Arab itu hingga habis dan kemudian menyelesaikan proses transliterasi hingga selesai.

Kebetulan teman saya ini seorang penganut agama Kristen Protestan, meski bukan tipikal orang yang saleh. Seandainya dia seorang muslimah, tentu saya tidak akan mentransliterasi tulisan tersebut. Saya hanya berprasangka baik padanya bahwa ia ingin mengenal kultur Arab, yang selama ini identik dengan Islam. Mungkin juga dia ingin memuaskan dirinya dengan aksara-aksara Arab sehingga membuatnya lebih dekat dengan teman-temannya yang muslim. Dari sudut pandang paling ekstrim, saya juga berpikir mengenai ide-ide misionaris yang mungkin melingkupi kepala dan hati teman saya tersebut. Mungkin dia ingin menyerahkan tulisan “Arab” tadi ke seorang teman Muslim yang tidak tahu sama sekali mengenai bahasa Arab dan menganggap tulisan tadi sebagai bagian dari Al-Quran, yang nyatanya seribu persen salah.

Bukan rahasia lagi, jika kita selalu mengidentikkan Arab dengan Islam. Untuk negara-negara seperti Saudi Arabia, Qatar, Kuwait, Oman bahkan Yaman, identifikasi ini adalah benar. Tapi negara-negara sepanjang pantai Mediterania atau Levant, identifikasi tersebut tidak seratus persen benar. Beberapa negara seperti Lebanon, Irak dengan suku Kurdinya, atau bahkan Israel, populasi non-muslim jauh lebih banyak daripada kelompok negara yang saya sebutkan pertama tadi. Para non-muslim ini kebanyakan adalah penganut agama Kristen Timur yang bertahan sejak masa kelahiran Islam. Enam ratus tahun sebelum Islam, wilayah “bulan sabit subur” adalah pusat kebudayaan Kristen. Mereka bukan Arab, tidak berbicara dengan bahasa Arab, dan mungkin pula sangat memusuhi orang-orang Arab. Tapi berbeda dari para penakluk Arab-Muslim yang datang kemudian, mereka hampir tidak memiliki sebuah kebudayaan tunggal untuk mengidentifikasi keberadaan mereka di wilayah tersebut.

Isa, atau Yashua atau Yesus, berbicara dalam bahasa Aram, bukan Ibrani. Setelah kolonialisasi bangsa Romawi, dan pengaruh Helenisme yang sangat kuat, bahasa Yunani mulai menguasai kultur dan pikiran para penduduk Kristen ini. Akan hal tersebut, saya teringat tulisan Russell yang mengatakan bahwa agama Kristen itu secara teologis mengadopsi ajaran Yahudi, kultur mereka Yunani dan hukum mereka Romawi. Dan demikianlah, tiga kultur yang berbeda ini yang membentuk Kristen sebagaimana kita lihat sekarang. Tapi definisi paling pas mengenai Kristen bukanlah dataran Levant, tapi Eropa. Agama Kristen yang dibawa ke Indonesia oleh orang Eropa sejatinya adalah sebuah Kristen-Eropa daripada Kristen Levant dan Timur Dekat. Di sini kita melihat identifikasi Eropa sebagai kumpulan negara-negara Kristen, sama seperti kita mengidentikkan Arab sebagai Islam.

Namun fakta sejarah sering kali berbeda. Meski Islam tumbuh menjadi gerakan utama di wilayah kelahiran Kristen, tapi eksistensi agama tersebut masih tetap ada. Kebijakan dzimmi yang dianut para khalifah memberikan perlindungan legal terhadap gereja dan aset-asetnya. Lagi semangat toleransi yang tinggi dari orang-orang Arab yang tercerahkan ini, yang berhasil melestarikan Gereja Kristen Timur hingga sekarang. Satu hal yang pada akhirnya membedakan mereka dengan rekan-rekannya di Eropa adalah penggunaan bahasa Arab sebagai lingua franca dalam beribadah. Di sini sekali lagi kita melihat perubahan budaya, dari Helenisasi kepada Arabisasi. Dan diakui, bahwa orang-orang Kristen ini jauh lebih Arab daripada kita umat Muslim di Indonesia.

***

Selama di Makassar, saya pindah kos beberapa kali. Terakhir, selama setahun lebih, saya tinggal di rumah seorang Cina-Makassar yang juga beragama Kristen Protestan. Saya menyukai kos baru saya itu, karena terletak di pusat kota dan dekat dengan kantor cabang, tapi pelajaran kultural yang saya terima jauh lebih penting dari itu semua. Kebetulan keluarga pemilik kos juga tinggal bersama kami di satu atap. Saya bisa menyaksikan dari dekat kehidupan sehari-hari mereka yang bisa dikatakan sangat religius. Setiap pagi, bapak dan ibu kos biasanya membaca beberapa pasal Perjanjian Baru dengan suara dikeraskan dan setiap minggu mereka pergi ke gereja tanpa pernah absen. Boleh dikatakan, itulah saat pertama kali saya merasakan keintiman dengan sesama penganut agama Abrahamik ini. Meski kadang-kadang saya merasa geli dengan bacaan yang mereka ucapkan, karena bagaimanapun juga, saya masih seratus persen Muslim dan sedikit banyak tahu tentang konsep teologis Kristen. Kedua anak perempuan pasangan ini benar-benar ABG Cina, yang selalu berpakaian tipikal mereka. Di rumah, tidak ada bedanya kehidupan keluarga ini dengan kehidupan keluarga saya. Ternyata mereka benar-benar telah menyatu dengan ke-Indonesiaan.

Saya tidak pernah memberi tahu identitas saya sebagai seorang santri kepada pemilik kos, karena saya berpikir barangkali akan ada hambatan kultural dalam komunikasi diantara kami. Apalagi begitu menyadari sikap ibu kos yang sangat terbuka, membuat saya merasa ada yang tidak beres akan hubungan mereka dengan dunia luar yang sedikit tertutup. Ibu kos itu hampir sepanjang hari tinggal di dalam rumah, selalu mengunci pintu dan menggemboknya rapat-rapat. Seolah terdapat ketakutan traumatik yang membuatnya melakukan hal tersebut. Dari perbincangan kami, saya akhirnya mengetahui bahwa ia atau kakaknya pernah sekali mengalami sejenis pelecehan seksual sehingga sangat sensitif dengan pintu rumah yang terbuka. Dari segi kultural, ia adalah seorang Cina yang sangat rentan menjadi korban stigma sosial, meski tidak selamanya benar. Sehingga perlawanan yang kalaupun mungkin dilakukan adalah mengomel kepada dirinya sendiri bukan orang lain atau setidaknya menumpahkan seluruh unek-unek kepada para anak kos yang tinggal di rumahnya. Dan saya mampu menjadi salah satu pendengarnya yang terbaik.

Tidak seluruh orang Cina sebaik ibu kos saya. Beberapa bahkan menunjukkan watak rakusnya, dalam berbagai transaksi perdagangan. Saya pikir itu juga bukan salah mereka, perdagangan di Indonesia kayaknya sudah sangat erat berhubungan dengan berbagai macam penyimpangan dan dikondisikan demikian sehingga bukan menjadi ciri khas sebuah etnis atau suku tertentu. Sogok-menyogok, penyuapan bahkan tindakan pemberian diskon yang benar-benar tidak masuk akal. Singkatnya, trading is a battle that we never win.

Selain keluarga pemilik kos, orang Cina selanjutnya yang berhubungan dekat dengan saya adalah seorang profesor dokter. Kebetulan dia adalah mitra kerja perusahaan, sehingga saya memiliki kesempatan yang banyak untuk mengenal watak dan karakternya. Meski lahir di Makassar, mitra kerja saya ini menghabiskan sepuluh tahun masa mudanya di Melbourne, Australia. Ia mendapat beasiswa kedokteran untuk belajar kedokteran di negara tersebut. Anaknya, kuliah di Amerika Serikat dan sangat menjiwai kehidupan mereka sebagai keluarga kelas atas berpendidikan luar negeri yang tinggi. Meski profesor, bukan berarti dia pintar di segala hal. Suatu ketika dia bingung waktu saya berkata tentang paradigma, dan bertanya soal itu pada saya. Untuk urusan teknik, jelas profesor ini termasuk kelas gagap teknologi yang tidak mau ambil pusing dengan teknologi presentasi mereka yang sudah sangat ketinggalan jaman.

Dari segi agama, ia penganut Katholik yang sangat tertutup dan enggan berbicara mengenai agama dengan saya. Hal berbeda saya temui dengan seorang klien di Jakarta yang beragama Protestan dan merupakan orang Manado. Boleh dibilang, bahwa dengan dialah saya pertama kali mengenal sebuah diskusi lintas agama. Mungkin karena tertarik dengan pendidikan filsafat saya, si dokter Manado ini justru memperkenalkan beberapa pasal Genesis kepada saya dan mengajak diskusi. Yang membuat saya menyesal, pada saat itu pikiran saya sudah tersetting dengan dunia kerja sehingga tampak sangat bodoh saat menjawab beberapa pertanyaannya yang menyangkut perbandingan agama. Pelajaran berharga yang saya dapatkan dari dokter Manado ini, adalah sebuah keinginan untuk bisa menjawab pertanyaannya dengan baik, apalagi kalau bukan dengan cara mengetahui agama yang dia anut.

***

Sejak peristiwa 11 September, pandangan Barat tentang Islam mulai menunjukkan sebuah perubahan yang signifikan mesti tidak sepenuhnya positif. Di awal abad ini, pandangan eksklusif mengenai keimanan dalam Kristen juga mengalami perubahan. Dalam konsili terakhir, Vatikan mulai mengakui adanya keselamatan di luar iman Kristen mereka. Ini adalah perkembangan yang sangat maju, mengingat sejarah permusuhan yang dilancarkan Barat yang telah mendarah daging selama berabad-abad. Mulai dari Dante Alligheiri hingga mitos mengenai Baphomet atau legenda Saladin. Pandangan Eropa terhadap Islam selalu bias dan subjektif bahkan picik. Semua informasi tentang Nabi dan kehidupan umat Islam selalu jatuh kepada stereotip yang tidak memiliki kebenaran yang bertanggung jawab.

Pemahaman tentang Islam dan Al-Quran yang semakin meningkat di Barat berkaitan dengan jasa para orientalis mereka yang telah susah payah menganalisis sejarah dan pemikiran umat Islam dengan sangat menakjubkan. Saya yang terbiasa dengan kajian modern, menemukan sebuah sumber pemikiran Islam yang baru dari para orientalis ini. Metode mereka memberikan semacam inspirasi untuk melakukan hal serupa dengan niat yang berbeda. Bahwa agama bagi saya tidak berhenti pada tataran intelektual semata, tapi juga kejiwaan, praksis dan iman. Hal ini bertambah setelah saya mulai disibukkan menulis sebuah buku menganai sejarah para nabi. Boleh jadi, inilah untuk pertama kalinya saya mendalami Perjanjian Lama meski melalui sumber sekunder. Karena saya buta akannya.

Satu hal yang paling mengganjal dalam kajian Orientalis adalah kekeraskepalaan para komponen studi ini yang menganggap Islam tak lebih dari sebuah sekte Kristen yang menyimpang. Mereka menyimpulkan hal tersebut berdasarkan logika empiris, bahwa sesuatu tidak mungkin ada tanpa pengaruh dari budaya dan kultur yang meliputinya. Meskipun mereka mengakui bahwa selama masa Nabi, tidak ada satupun Bible yang diterjemahkan kedalam bahasa Arab, tapi mereka yakin bahwa Muhammad SAW, menerima ajaran Kristen secara lisan dari orang-orang Arab Kristen bahkan Yahudi yang telah tinggal di Madinah, atau bahkan Buhaira, yang masih kerabat Khadijah. Kekeraskepalaan mereka bahkan telah mencapai level dogmatis. Sehingga beberapa deduksi yang mestinya benar harus berakhir menyedihkan akibat dogma tersebut.

Bagi saya, fakta bahwa Nabi tidak mengetahui ajaran Kristen atau Yahudi dengan benar tanpa adanya campur tangan wahyu adalah sebuah premis dasar yang harus diterima. Pertanyaan mengenai bagaimana beliau dapat merumuskan ajaran agama yang bersifat Abrahamik tanpa adanya mentor Kristen yang memberinya pengajaran, sama seperti kita mengajukan pertanyaan mengenai siapa penemu kalkulus, Newton atau Leibniz? Bahkan apabila keduanya bersikeras sebagai penggagas original metode matematika itu, ilmu pengetahun modern pun tidak tahu bagaimana caranya dua orang yang tidak berhubungan sama-sama memiliki pemikiran serupa tentang kalkulus. Jika hal ini mampu dipahami dengan simpatik oleh para orientalis, bukan tidak mungkin mereka akan jauh lebih Islamicate dari mayoritas umat Islam saat ini yang merasa asing dengan tradisi dan warisan budaya Islam mereka.

Kembali ke sejarah para nabi, satu hal penting yang dapat dipetik adalah, kita harus terbiasa dengan kerangka historis untuk memahami sesuatu. Kisah-kisah Al-Quran yang tidak memiliki kerangka waktu sebenarnya diperlukan sebagai sebuah etos untuk menghayati perilaku dan tindakan para tokoh utama. Untuk sebuah kitab suci, pola Al-Quran ini bisa diterima, namun pemikiran kita yang sangat modern menuntut sebuah sudut pandang kesejarahan yang berbeda yang memandu kita untuk memahami dunia dengan lebih logis dan teratur. Di sinilah kita memerluka beberapa sumber Kristen atau Yahudi sebagai pembantu untuk memahami pesan ketuhanan yang terdapat dalam Al-Quran.

Diskusi:
  1. Penggunaan kata Allah oleh umat Kristen Indonesia sebenarnya sangat a historis, menyimpang dan salah kaprah. Apabila Kristen Arab menggunakan kata tersebut, hal itu bisa diterima mengingat kata Allah adalah kata khas Arab bukan Indonesia. Toh, dalam Perjanjian Lama dan Baru, terdapat banyak sekali koleksi nama-nama Tuhan, mulai El, Yahweh, bahkan Tuhan/ Lord. Lalu kenapa harus menggunakan kata Allah yang murni Islam?
  2. Bagi saya, Perjanjian Baru itu tidak identik dengan Injil sebagaimana dimaksud oleh Iman Islam. Keduanya adalah dua buku yang berbeda dan tidak ada bukti apa-apa yang menjelaskan bahwa kedua buku itu serupa. Sama halnya dengan Taurat dengan Perjanjian Lama. Meski beberapa sarjana Yahudi menganggap Torat adalah Panteutach, senyatanya kelima buku tersebut bukanlah karangan Musa, melainkan sejumlah penulis profesional sejak zaman Yahuda dan Israil hingga masa Ezra. Para penulis itu: E, J dan D.
  3. Kristen itu lebih Yunani daripada Semit dari segi ajaran agama. Konsep Trinitas sendiri adalah sebuah inovasi Yunani daripada pemikiran khas Semit. Dalam tubuh Kristen, kita menemukan sebuah persaingan antara dua pola pikir yang berbeda ini. Padahal, apa yang kita maksud dengan nashara atau nasrani tak lebih daripada kultur Semit warisan Yahudi bukan Yunani.
  4. Meskipun semua fakta lapangan sangat berbeda dari definisi Al-Quran, akan tetapi Al-Quran tetap memasukkan mereka kedalam domain Ahlul Kitab. Sejumlah Islamisis yang berpegang teguh pada Al-Quran menghadapi jurang epistemologi ini sehingga dengan dogmatis “menolak” konsep Al-Quran yang jauh bersahabat dengan Ahlul Kitab dan memilih sejumlah ayat  yang bersifat polemik. Tantangan terbesar dalam dunia Islam bila demikian adalah menjembatani wahyu dengan realitas untuk membangun sebuah konsep baru yang memuaskan dan sesuai dengan tuntutan zaman.
P.S.
Mungkin suatu saat nanti kajian studi Islam juga membutuhkan pengetahuan yang dalam tentang bahasa Aram, Ibrani, bahkan juga arkeologi, sehingga kita bisa mengerti jalan pikiran Tuhan yang sebenarnya.

3 komentar:

  1. Pengalaman yang menarik bro...
    Mungkin ente bisa lebih eksplore lagi tuh pengalaman. Jangan langsung lompat ke kajian sejarah...
    He he....
    Btw, bukunya apa sudah jadi?

    BalasHapus
  2. Sebenarnya hanya ingin menampilkan cuplikan-cuplikan saja, bukan membangun sebuah narasi yang lengkap jadi memang melompat-lompat model tulisannya. Buku, isinya sudah. Sekarang lagi membangun pembukaannya yang jauh lebih rumit karena modelnya teoritis. :D

    BalasHapus
  3. Iman Islam yang gw pahami, Perjanjian Baru berbeda dengan Injil yang diwahyukan kepada Isa as. Kalo yang dimaksud dg Perjanjian Baru adalah Bible versi King James atau versi Protestan yang mengeliminir beberapa bagian yang dianggap "tercemar." Injil, wahyu yang tidak tercemar sama sekali dari tahriif, bagi gw, tidak pernah sampai ke generasi kita. Kajian sejarah Bible mengungkapkan bahwa Bible ditulis oleh beberapa penulis, yang sebahagiannya kita akui sebagai Hawariyyun," tapi dengan kerangka pikir yang tidak sinkron satu sama lain. Otentikasi jelas bermasalah. Belum lagi adanya campur tangan Konsili yang digagas Kaisar Roma.

    Pembagian qashas ala Khalafullah amat beresiko untuk disalahpahami. Qashas usturi, taarikhy & tamsily. Sepertinya gw harus baca bukunya Khalafullah untuk bisa memahami klasifikasinya. Tapi mengatakan qashas ustury mendapat pengaruh Yudeo-Kristiani tidak bermasalah jika Allah dimasukkan sebagai variabel meta-nalar. Jika ada kesamaan dalam agama-agama Abrahamic kita bisa menganggapnya berasal dari Tuhan yang sama, terlepas dari adanya klaim kebenaran oleh masing-masing agama.

    Memang dilematis. Bila variabel TUhan tidak dimasukkan, bisa jatuh pada kesimpulan bahwa Muhammad mendapat pengaruh Yudeo-Kristen di masa kehidupannya sebagaimana yang terang-terangan dituding oleh Abu Zayd.

    Coba sebutkan kisah-kisah yang mana yang masuk dalam qashas tamtsily? Apakah Allah sedang mendongeng ketika berfirman tentang Yajuj & Ma'juj, Dzulqarnain, Musa yang naik ke Bukit ThurSina? Definisi dongeng, mitos, atau legenda punya nilai negatif dalam tata bahasa kita jika kita mempermasalahkan fakta atau fiksinya cerita tersebut. Tapi kalau yang dimaksud oleh Khalafullah bahwa qashas demikian sebagai 'ibaaroh yang lebih mengutamakan ibroh mungkin saya bisa setuju.

    Al-Qur'an tentu saja bukan Kitab Sejarah. Ia tidak bercerita secara kronologis. Terkadang ia memverifikasi fakta yang bisa jadi di masa Nabi hidup kisah-kisah tersebut sudah mengalami tahriif.

    Ada 2 cerita luar biasa dalam al-Qur'an. Pertama, soal Ruum - Persia. Kisah itu menandakan bahwa al-Qur'an bukan buatan Nabi. Karena dengan tepat menceritakan akhir dari kisah Ruum - Persia sebelum peristiwanya terjadi. Kedua, tentang abadinya jasad Fir'aun. Jasad Fir'aun baru ditemukan di akhir abad 18, tapi Al-Qur'an sudah menyatakan bahwa jasadnya akan dijaga sebagai contoh bagi generasi-generasi mendatang. Lalu, bagaimana para Shahabat mengimani cerita tentang jasad Fir'aun itu karena bahkan setelah Fathu Mishro, jasad Fir'aun tidak ditemukan. Dan jasad itu pula yang membuat Maurice Bucaille, seorang Dokter Bedah Perancis, akhirnya menjadi mualaf.

    Khalafullah, Jabiri, Abu Zayd, dan mungkin Himawan beresiko untuk disalahpahami :)

    BalasHapus