Confession

Aku sering berbuat kesalahan, tapi aku terus belajar untuk memperbaikinya. Aku pernah berpikir untuk membangun duniaku dengan fondasi keuangan yang kuat. Semakin kukejar, semakin kosong jiwaku. Aku pernah pacaran dengan seorang perempuan. Sungguh, mereka benar-benar membuat dirimu gila dengan segala pesona yang mereka miliki. aku bahkan berani bertaruh, bahwa pesona itu telah merenggut 4/5 akal sehatku dan membuat nafsu menguasai jiwaku. Dan tatkala semuanya berakhir, hanya kesedihan yang pantas mengisi kesenangan singkat itu. Aku hancur, hingga setengah jiwaku hilang terbuang sia-sia. Mungkin khayalan dan harapanku terlalu tinggi. Mungkin juga mereka bertarung di kepalaku memperebutkan hak masing-masing atas diriku. Semua bagaikan baratayudha yang panas membara di hatiku.

Maka kubertanya, kemanakah kita menuju? Aku, diriku, jiwaku, tubuhku, nafsuku, rasionalitas dinginku, kepekaanku yang sangat ekstrim, kepesimisan hidupku, nalar antipati sosialku, keegoisan aku, dan segala atribut yang bercerai berai menuntut keinginannya tercapai. Kubertanya pada mereka sekali lagi, kemanakah kita menuju? Adakah kepentingan yang harus disisihkan, ditahan sebentar atau mungkin dibuang jauh-jauh agar tidak limbung kembali. Maka kulakukan apa yang seharusnya sejak dahulu aku lakukan. Aku berjalan di jalan yang dahulu aku ragukan. Tiada masa depan. Persetan dengan mereka. Hanya ketakutan-ketakutanlah yang ditimbulkan olehnya. Kebimbangan, tanpa kendali, hilang percuma.

Aku mengakui bahwa diriku berjalan dalam gelap. Tapi kutahu, tali itu masih setia menuntunku hingga kini. Ia jugalah yang mengikatku dari keolengan. Jangkar dikala badai. Walau pertolonganNya selalu datang terlambat, tapi Dia memberiku apa yang kuminta. Meski kutaktahu, hikmah apa yang Dia berikan padaku. Ah, kata itu. Kurasa hanya pantas kita ucapkan setelah segalanya berlalu. Bukan kini, bukan saat ini. Ini pengakuanku. Kuakui aku telah melakukan banyak kesalahan, tapi kuterus belajar untuk memperbaikinya.

Yang Tersisa


Assalamualaikum,

Aku tahu, mungkin kamu tidak akan membaca surat ini. Bisa juga, tatkala kamu melihatnya, langsung kau hapus dan buang kedalam kotak sampah di akun emailmu. Aku tahu itu. Aku mengkin akan menganggapnya sebagai hal yang wajar yang kau lakukan terhadap diriku. Aku tahu itu, dan aku bisa memahaminya, sejauh ungkapan-ungkapan kotor yang keluar dari mulutmu bisa reda. Menganggap keberadaanku dan segala hal yang berkaitan dengannya sebagai sebuah masa lalu yang tidak pantas untuk diingat.

Ah, tapi aku tetap mengirimkanmu surat, meski ku tahu kau tidak akan pernah mau membacanya. Aku tahu itu, aku hargai jerih payahmu menghapus masa lalu yang hanya sekejap saja. Tapi apa yang bisa kuperbuat selain menuliskan sebuah surat untukmu. Karena ku tak bisa bicara, atau barangkali, kita hanya putus melalui teks dan naskah. Entahlah. Tapi kutahu kau membencinya. Menganggapku gila, obsesif, dan mengeluh kalau dirimu selalu membuat orang merindu. Aku tahu itu. Aku juga tahu, kau akan mencibirku. Tapi kenapa?

Kenapa aku selalu mengirim surat kosong ini kepadamu? Mengetahui dengan pasti jawaban yang tak pernah disampaikan atau berusaha kau elakkan tentang keberadaan orang sepertiku di dunia ini. Aku bahkan sudah lupa tentang kamu. Dirimu, namamu, bayanganmu hanyalah yang tertinggal dalam memori di benakku yang kurasa juga sudah tidak akurat lagi. Tapi pertanyaan utama, kenapa aku terus mengirimkan surat ini belum kujawab.

Kau tahu, barangkali bertahun-tahun kedepan kita mungkin tertawa membaca isi surat-surat yang tidak mengenakkan ini. Bagaimana mungkin kita mencintai seseorang yang tidak kita cintai sama sekali. Seseorang yang memaksa dirinya untuk dicintai, meski dia tahu apa yang ada dalam tulisan-tulisannya hanyalah sebuah permohonan yang tak dijawab dan hanya memenuhi isi kotak surat ini saja. Ah, siapa yang tahu. Mungkin suatu saat, aku juga akan tertawa mengingat kebodohanku dahulu, pernah mencintai seseorang yang tidak lagi mencintaiku dan mengejar cintanya keujung langit, mesti ia tampik dan ia bantah. Bahwa kita memang tidak cocok, seperti katamu.

Kau tahu, aku menulis surat ini seakan aku sepuluh, dua puluh tahun yang akan datang. Tertawa dengan semua kenaifan dan kebutaan oleh cinta yang datang sesaat. Tapi, seandainya kau tahu, aku bahkan bisa menghargai segala kebodohan dan permainan aneh yang kubuat sendiri. Karena aku merasa, aku memiliki harapan. Meski ia suram, meski ia dikelilingi oleh berbagai stigma negatif, meskipun segala teori dan akal sehatku berbalik arah menentangnya, tapi harapan itu akan selalu ada, seburuk apapun kondisi dan probabilitas yang melingkupinya.

Ah, suatu saat aku akan tertawa membaca surat ini padamu, mengingat-ingat segala kejadian yang melingkupinya. Mungkin. Karena kemungkinan selalu berisi setengah. Tapi keyakinan, bahkan pada levelnya yang terendah, selalu berisi satu. Bulat, penuh, dan pasti. Entah apapun kenyataann yang akan menyertainya. Kuharap kau membaca surat ini, meski kutahu, kau akan menghapus tanpa pernah tahu isi yang ada di dalamnya. Siapa tahu.

Salam hangat,

Himawan Pridityo

Otoritas

Masalah otoritas lagi. Mendengar berita akhir-akhir ini tentang polemik nikah sirri, saya jadi teringat dengan perdebatan yang lalu-lalu dalam tubuh Umat Islam yang tidak pernah konstruktif. Apa benar kita hanya bersandar pada naluri saja sebagai umat beragama? Memang, salah satu kelebihan Islam adalah ketiadaan perangkat pendeta. Namun ketiadaan otoritas ini bukan berarti tidak ada otoritas dalam agama. Kita memiliki para kiyai, ustadz, guru-guru agama. Yang disayangkan, otoritas mereka saat ini tidak lagi bersandar kepada pengetahuan, tapi lebih kepada tradisi, kharisma dan struktur. Ketika ada dua pihak yang berdebat mengenai sebuah masalah, cara mereka berdebat jauh daripada ilmiah, lebih mendahulukan otoritas di luar itu. Saya kok merasa, pada akhirnya kelebihan yang dimiliki Umat Islam terlihat mubazir. Apa artinya agama tanpa pendeta, jika struktur dan pola pikir masyarakat kita masih tertawan oleh kecenderungan mendelegasikan "suara" kepada otoritas yang tidak jelas kebenarannya itu!

Sewaktu perdebatan soal jilbab di UIN, bertahun-tahun yang lampau. Isu filosofis hubungan Umat Islam dan negara, lebih tepatnya, hubungan elit agama dalam Islam dengan negara, selalu mengarah kepada dua hal. Kebebasan individu versus otoritas kenegaraan. Mereka yang mengatasnamakan kebebasan individu, beranggapan bahwa jilbab adalah urusan masing-masing, jadi tidak perlu diatur oleh negara.Atas dasar ini mereka kemudian menolak pewajiban jilbab di kampus. Namun, apa yang disampaikan pendukung ide ini sebenarnya problematik. Mereka berada pada kondisi yang seharusnya menerima, karena otoritas yang mereka lawan adalah otoritas kampus, yang nota bene jauh dibawah otoritas negara dan memiliki cakupan yang lebih kecil. Kalau mau berhipotesis, semakin kecil lingkup sebuah organisasi, seharusnya semakin besar pengaruh peraturan yang mereka terapkan kepada anggotanya per individu. Kenapa? Alasan yang paling masuk akal adalah, nilai tukar yang ditawarkan jauh lebih kecil.

Kampus sebagai lembaga pendidikan memiliki banyak pilihan. Bila hendak belajar agama Islam, seseorang tidak serta merta harus belajar di UIN. Masih banyak tempat lain yang bisa dijadikan pilihan. Oleh karena itu, status peraturan yang mengikat di lembaga yang kecil seharusnya memang ketat. Toh, jika anggotanya tidak puas, mereka masih memiliki pilihan yang lain. Derajat kampus berbeda dengan negara. Dengan demikian, sudah seharusnya peraturan negara tidak terlalu ketat mengatur warga negaranya. Alasannya adalah, nilai tukar negara yang jauh lebih besar. Bila untuk memilih kampus seseorang mempunyai banyak pilihan, tapi negara?

Apabila kita setuju dengan pola pikir seperti ini, seharusnya masalah privat seperti pelarangan pernikahan sirri tidak perlu terjadi, sama halnya dengan kasus pornografi dan cara kita berpakaian, negara tidak perlu campur tangan. Selama suatu isu masih berada dalam konteks kebebasan individu, sudah seharusnya kekuasaan negara melemah. Yang menjadi masalah, kita terkadang tidak memiliki konsistensi dalam berfikir. Relasi kuasa antara negara dengan individu kadang diabaikan, dan kita menggunakan jalur pintas untuk menolak atau mencederai prinsip ini: otoritas keagamaan. Coba perhatikan dalih para penentang kebijaksanaan anti-teror pemerintah. Mereka menggunakan prinsip kebebasan individu sebagai alasan penentangan kegiatan mata-mata pemerintah. Di saat bersamaan, mereka malah turut campur dalam urusan individual masyarakat dalam Undang-undang pornografi. Disini terlihat jelas ketidakkonsistenan berfikir dalam urusan bernegara. Terlepas dari benar atau salah sebuah keputusan, sebenarnya mereka telah mengabaikan satu hal yang sangat prinsip. Cara bermain.

Tentu saja, cara bermain memiliki dimensi yang berbeda. Mereka yang menggunakan cara bermain logis seperti diatas, menyerahkan sepenuhnya pola pengambilan keputusan secara ilmiah dan rasional. Adapun mereka yang menggunakan cara bermain berdasarkan kekuasaan, menyerahkan pola pengambilan keputusan secara irasional. Saya tidak mengartikan irasionalitas dalam bernegara ini sebagai sebuah keputusan yang tidak ilmiah, tapi lebih kepada keputusan yang terlepas dari konteksnya. Konteks bernegara. Lalu, apa hubungan antara ketidakkonsistenan ini dengan otoritas keagamaan dalam Islam di Indonesia? Well, selama kita tidak pernah mau menyerahkan otoritas keagamaan kepada domain ilmiah, dan membiarkannya berdiri pada domain tradisi dan kharisma, maka kita akan selalu menemukan irasionalitas dalam kebijaksanaan pemerintah yang tumpang tindih dengan wewenang keagamaan.