6 Tahun Gaming Bersama AMD


AMD Athlon XP 2800+ Barton CPU Socket A 462 512k 333FSB AXDL2800DLV4DSalah satu hal yang paling menarik dalam merakit komputer adalah menggunakan definisi pribadi atas sebuah mesin yang akan kita rakit.  Apabila merujuk kepada istilah ini, maka setidaknya sudah lebih dari enam tahun saya berkawan akrab dengan prosesor AMD. Advance Micro Devices (AMD), pembuat prosesor nomer dua setelah Intel Corporation, memang tidak terdengar akrab di telinga orang awam. Sistem berbasis AMD sendiri lebih dikenal oleh enthusias user, yang notabene penggemar game, sebagai prosesor alternatif dengan harga terjangkau dan kemudahan untuk dioprek, bila dibandingkan dengan produk Intel yang menjadi mainstream dan menguasai sekitar 80% pasar desktop.

Perkenalan pertama dengan prosesor AMD adalah pada saat membeli PC pertama saya. Saat itu, karena masih buta informasi, saya berusaha mencari tahu lewat media majalah. Tahun 2001, majalah komputer yang kemudian menjadi rujukan IT saya adalah CHIP. Saya ingat tema pertama yang muncul saat itu, berkaitan dengan racikan hardware untuk PC rakitan. Dua prosesor AMD menempati tempat terhormat sebagai komponen untuk PC kelas ekonomis sekaligus High End. Duron untuk budget terbatas dan Athlon sebagai Top End. Kala itu, memang terjadi perlombaan antara Intel dan AMD perihal mencapai batas 1 Ghz. Pentium III diuntungkan dengan suhu operasi yang jauh lebih rendah dibanding kedua prosesor saingannya. Meskipun demikian, penggunaan memori DDR yang lebih dahulu diaplikasikan oleh AMD, selain faktor harga dan kemampuan prosesor untuk dioverclock dengan mudah, memberi nilai tambah tersendiri bagi mereka yang berminat dengan dunia hardware. Sayang sekali, setelah berdiskusi dengan si perakit komputer, saya akhirnya memutuskan membeli sistem Celeron 1 Ghz, daripada mengikuti anjuran CHIP, Duron 800 Mhz.

Personal Computer saya ini, memang sangat stabil, tapi sayangnya hanya bertahan sekitar tiga tahun masa penggunaan. Pada tahun terakhir, motherboard Jetway tidak bisa masuk BIOS dan kemudian sistem mati total. Kalau mau bersusah payah, barangkali kerusakan BIOS itu bisa diperbaiki. Yang menjadi masalah, modul SDRAM yang digunakan oleh Celeron sudah jarang di pasar. Tidak sampai setahun setelah saya membeli PC ini, Intel mengumumkan dukungannya terhadap DDR dan membatalkan penggunaan memori RAMBUS bagi sistem mereka. Sejak itu, pasar di penuhi oleh jajaran memori DDR yang menjadi standar baru menggantikan SDRAM.

Jauh sebelum kematian si Celeron, rupanya saya sudah terasuki virus AMD. Saya bahkan selalu mengangankan  untuk merakit sistem PC sendiri menggunakan prosesor soket A sebagai otaknya. Keinginan saya kemudian terkabul, setelah seorang sahabat saya hendak merakit komputer. Kami berdua kemudian pergi ke Mangga Dua Mall untuk belanja komponen rakitan. Spesifikasi komputer yang saya susun itu adalah: Athlon XP 1800+, DDR 256 MB dan Motherboard VIA buatan Chaintech serta GeForce FX 5200 Karena isu razia software bajakan, maka toko hanya berani merakit kompenen tanpa mau menginstall aplikasi Windows.  Kebetulan, saya memiliki copy XP di PC, yang saat itu selalu berganti OS, mulai 98 SE, Millenium Edition, 2000 dan Win XP yang tidak berjalan stabil karena komputer hanya memiliki 128 MB sistem memori. Maka, setelah sampai di tempat kost kawan saya, saya instalasikan XP ke dalam PC rakitan saya yang pertama itu. Hasilnya, hebat. Apalagi, komputer tersebut memang didesain sebagai Gaming PC kelas mainstream. Tercatat, game Medal of Honor dan Mafia mampu dieksekusi dengan mulus pada komputer tadi.

Motif saya menggunakan AMD adalah game. Rumusan merakit komputer adalah dengan membeli prosesor di bawah satu juta atau sekitar 800 ribu-an, mencari motherboard yang bagus tapi dengan harga maksimal yang tidak lebih tinggi dari 1 ¼ juta dan menyisakan dana maksimal 1 ½ juta untuk kartu grafis. Maka dengan budget 5 jutaan, setidaknya saya mampu membangun sistem game murah lengkap yang mampu menjalankan semua game yang ada pada saat itu dengan resolusi 1024 x 768. Dengan rumusan demikian, maka prosesor AMD menyediakan rasio harga per kinerja yang lebih maksimal dari Intel. Hal inilah yang saya ungkapkan kepada kawan saya tadi tentang minatnya saat hendak membeli komputer yang bukan saja mampu menjalankan program office, tapi juga game dengan harga terjangkau.

Selang dua tahun kemudian, ketika Celeron mati, saya merakit komputer yang kedua. Kali ini untuk kebutuhan sendiri dan kembali menggunakan AMD. Prosesornya tidak jauh berbeda dengan rakitan pertama, Athlon XP 2000+, memori serupa, motherboard Gigabyte dengan chipset SiS dan ATi Radeon 9600 sebagai kartu grafisnya. Konfigurasi ini memang tidak lazim, karena kinerja sistem ternyata terhambat oleh kinerja chipset SiS yang lambat. Padahal bila menggunakan chipset Nforce serta memakai GeForce FX 5200, kinerja PC bisa lebih dimaksimalkan. Tapi apa boleh buat, saya ingin merasakan keindahan grafis dari Ati yang dalam beberapa poin lebih bagus dari NVIDIA dengan tradeoff kinerja yang sedikit rendah. Tentu saja asumsi ini hanya berlaku bagi orang yang memiliki budget yang sangat ketat seperti saya. Game favorit saya saat itu adalah seri Elderscroll Morrowind III, sebuah MMORPG yang bebas dengan tampilan grafis DirectX 8 yang memukau, meski tidak pernah saya selesaikan sampai akhir dan Max Payne 2.

Entah karena pemakaian yang eksesif, arus listrik yang tidak stabil atau gabungan keduanya, tidak lebih dari 2 tahun, kartu grafis mulai bermasalah. Awalnya, muncul artefak di layar, disusul sistem yang tidak stabil dan kemudian mati total. Untungnya juga, prosesor dan motherboard baik-baik saja. Saat itu, saya tengah berada di Makassar dan adik saya sedang menyelesaikan skripsi. Setelah mengganti VGA dengan kartu grafis FX 5200, sistem pun berjalan stabil. Sampai saat ini, PC tersebutlah yang saya gunakan untuk komputasi sehari-hari. Tentu saja setelah menambahkan 512 MB DDR dan mengganti monitor dengan layar LCD 17” Samsung serta speaker Klipsch 2.1.

Selama di Makassar, saya sempat pula merakit PC untuk kawan saya di sana. Kali itu saya menggunakan Sempron 2200+ sebagai otaknya dengan kartu grafis NVIDIA berbasis PCIe yang sudah saya lupa jenisnya. Penggunaan Sempron yang hanya berharga 600 ribuan sebenarnya langkah yang berani, mengingat harga kartu grafis pada sistem kali ini hampir dua kali lipat harga prosesor. Penyebabnya apalagi jika bukan anggaran yang terbatas. Dampaknya, untuk program tertentu, tenaga PC ini tidak begitu bagus, meskipun bisa digunakan untuk menjalankan game kelas menengah dengan resolusi 800x600. Alasan lain, karena pada saat itu belum muncul motherboard dengan chipset grafis terintegrasi yang dapat diandalkan yang bisa menjalankan aplikasi dengan DirectX 9.0 c secara lancar, sehingga trade off  dilakukan pada komponen prosesor.

Pengurangan budget pada prosesor didasarkan pada anggapan bahwa sebenarnya kita tidak terlalu membutuhkan prosesor yang  sangat cepat untuk sekedar bermain game. Ditambah, fakta bahwa beberapa prosesor AMD memiliki potensi kinerja yang tinggi, maka upaya merakit PC kelas ekonomis bisa terwujud. Namun sepertinya, situasi yang muncul jauh berbeda dari yang diharapkan. Selepas Pentium IV Intel mulai merajai pangsa pasar gaming. Posisi AMD sebagai pilihan budget gaming PC sedikit terpengaruh, disusul kegagalan prosesor Athlon 64 bit di pasaran. Ketika Intel beranjak kepada sistem komputasi multi core, terasa jarak antara keduanya semakin jauh. Selain itu, pertumbuhan game dengan spesifikasi yang haus resource semakin tinggi. Sebagai perbandingan, pada tahun 2004, rata-rata sebuah game membutuhkan 2-4 GB ruang harddisk. Dua tahun terakhir, ruang hardisk yang dibutuhkan semakin besar hingga lebih dari 20 GB. Dengan jumlah demikian, tentu saja faktor prosesor tidak dapat dikesampingkan lagi.

Beruntung, sejak merger AMD dan ATi, muncul solusi gaming yang lebih ekonomis. Chipset grafis terintegrasi dengan kinerja yang tinggi. Setidaknya itu ditunjukkan oleh dua chipset terakhir, AMD 780G dan 790GX. Hal ini saya rasakan sendiri saat merakit komputer gaming ekonomis terbaru buat sepupu saya beberapa hari lalu. Dengan budget 2,850 juta setidaknya saya mampu memainkan game DirectX 10 dengan resolusi hemat, 1280 X 760. Komponennya apalagi kalau bukan Athlon X2 7750 (2,8 Ghz) dan motherboard Biostar T790GX 128M ditambah Corsair DDR2 2 GB. Sebuah solusi ekonomis mengingat kemampuan ekspansibilitas motherboard yang lumayan tinggi, bisa upgrade hingga Phenom dan menggunakan sistem grafis Crossfirex serta suhu prosesor yang rendah. Bahkan lebih rendah dari prosesor Intel saat ini yang dilengkapi HSF ekstra besar. Mungkin ini strategi jenius dari AMD yang kalah telak dalam soal kinerja dari Intel, tapi menang dalam urusan konsumsi listrik dan suhu operasi yg rendah, serta tentu saja harga yang jauh lebih terjangkau untuk pasar prosesor mainstream dan ekonomis.

Bila dihitung, mungkin lebih dari enam tahun sudah saya bermain game bersama AMD.

catatan kecil:
  • AMD menggunakan kode K bagi arsitektur prosesornya. Athlon XP misalnya, dinamakan K-7, sedangkan prosesor terkini seperti Athlon II dan Phenom II memiliki kode K-10. K diambil dari istilah komik Krypthonite, sebuah unsur yang mampu mengalahkan Superman. Tentu Superman yang dimaksud di sini adalah Intel.
  • Istilah XP pada Athlon XP tidak seperti istilah pada Windows XP yang berarti experience. Oleh AMD, singkatan tadi merupakan kepanjangan dari extra performance, yang berawal dari perang urat syaraf dengan Intel. Ketika keluar Pentium IV Intel membanggakan kemampuan dari prosesor mereka yang memiliki clock yang tinggi. AMD yang tidak mampu mengejar membuat definisi terbaru tentang clock ini dengan menggunakan istilah rating performance. Misalnya Athlon XP 2000+ yang memiliki clock 1,6 Ghz tidak bisa disandingkan dengan Pentium IV 1,6 Ghz, tapi dengan Pentium IV 2 Ghz, yg notabene 4 megaherzt lebih cepat.
  •  Gambar di atas adalah logo bagi prosesor AMD K-10 Phenom X4, dan gambar tersebut saya ambil di sini.


OpenSUSE, Mandriva & GNOME

From Drop Box
Seminggu lebih saya berkutat dengan kesibukan baru, mencoba sistem operasi Linux Mandriva Free 2009.1. Saat kuliah dulu, saya sempat pula memakai Linux sebagai OS bagi komputer lawas saya (Athlon XP 2000+) tapi berhubung kesulitan mengakses informasi di internet, maklum saja saat itu lumayan susah mendapatkan Warnet dengan jaringan yang bagus di sekitar rumah, ditambah keterbatasan media storage (hanya punya floppy disk 3,5) terpaksa niat menceburkan diri ke dalamnya diurungkan. Kalau tidak salah, Linux pertama yang saya pakai saat itu adalah Mandrake 10.0, kelak merek ini tenggelam dan kemudian bertransformasi menjadi Mandriva dengan seri terakhir yang sekarang terinstall di komputer saya.

Awalnya, saya hanya iseng membeli majalah Info Linux edisi Mei yang memuat OpenSUSE 11.1 sebagai cover story. Yang membuat saya excited, ternyata distro tersebut juga disertakan dalam bundel majalah: satu DVD instalasi dan DVD lain yang memuat repository dan program-program tambahan. Karena penasaran, langsung saja saya install kedalam hardisk yang juga telah terinstall Windows XP. Proses instalasi lancar, tapi hasil yang saya dapat ternyata tidak memuaskan. Alasan yang utama adalah, ketidakmampuan OS ini memutar file mp3. Usut punya usut, karena persoalan lisensi, mp3 itu ternyata bukan jenis file terbuka sehingga membutuhkan lisensi khusus, jenis file ini tidak dapat langsung dimainkan. Tapi setelah saya baca ulang petunjuk instalasi di majalah, akhirnya bisa juga membuat Amarok memainkan koleksi mp3 kesayangan, meski membutuhkan waktu lebih dari 3 jam!

Alasan kedua adalah, ternyata performa OpenSUSE 11.1 sangat tidak bersahabat dengan spesifikasi komputer lawas. Berkali-kali komputer hang dan proses pemunculan program juga memakan waktu yang cukup lama. Saya mengira barangkali karena belum optimalnya driver yang ada. Tapi setelah saya mencoba Mandriva 2009.1, dan ternyata berjalan stabil, namun kalah telak dalam eksekusi program-program 3D, saya pikir ini mungkin disebabkan interface KDE 4 yang digunakan kedua distro tersebut. Sayangnya, saya terlanjur menganggap OpenSUSE 11.1 tidak stabil, sehingga langsung saya format ulang harddisk, termasuk di dalamnya instalasi Windows XP yang 'tidak bersalah'.

Memang sih tidak seharusnya saya menghapus XP, tetapi dikarenakan bootloader GRUB Linux yang keras kepala, terpaksa ia juga harus dilibas. Kalau tidak salah, saya langsung menginstall bootloader ini di MBR Windows sehingga XP tidak dapat diboot. Padahal dengan sedikit kejelian, hanya menginstall GRUB di first sector, tidak perlu kerja dua kali. Setelah kejadian itu dan karena takut harddisk saya rusak, maka saya beli harddisk IDE baru. Setelah menginstall XP di WDC yang baru dan Open SUSE 11.1 di Seagate lama, ternyata problem bukan hilang, tapi bertambah. Seagete tidak ter-mount, dan kinerja komputer langsung drop. Karena panik, saya mengira ada crash antara kedua harddisk tersebut, atau paling tidak ada salah satu di antara keduanya yg tidak kompatibel. Langsung saja saya bongkar semua instalasi, dan memasang kembali. Saya bahkan harus mengistall image BIOS baru untuk mengatasi masalah ini. Namun masalah belum dapat terselesaikan.

Kebetulan, saat itu edisi terbaru InfoLINUX telah keluar. Saat saya lihat cover-nya, ternyata Mandriva 2009.1. Langsung saya beli majalah tersebut, dan langsung saya install-kan Mandriva baru ini dual boot dengan Windows XP. Hasilnya bagus. OS dapat berjalan lancar dan tanpa lag seperti OpenSUSE 11.1. Maka mulailah eksplorasi saya kedalam Linux dimulai. Langkah pertama, baca instruksi di majalah yang sangat tidak informatif, meski signifikan. Kedua, mendownload ebook mengenai Linux yang bisa didapatkan cuma-cuma di gigapedia.com. Salah satu buku favorit saya adalah Linux for Dummies dan Mastering Linux second edition, keduanya dalam format PDF. Ketiga, mau tidak mau harus membiasakan diri dengan interface Linux yang berbeda dengan Windows.

Bisa dikatakan, dunia Linux sangat berbeda dari Windows. Saya seperti mendapatkan pengalaman komputer yang baru, meski harus diakui, yang bisa saya lakukan di Linux saat ini masih sangat terbatas. Hanya menggunakan OpenOffice sebagai ganti MS Office, mendengarkan koleksi MP3 dengan Amarok dan Rythmbox, atau menjelajah storage lewat program file manager non-Windows Explorer. Hal yang paling menarik justru ketika berhadapan dengan mode teks. Dalam lingkungan Windows, boleh dibilang sangat jarang sekali masuk kedalam mode teks, tapi di Linux, mode ini berkembang sangat pesat. Saya bahkan mendapatkan keasyikkan tersendiri saat keluar dari XWindow dan mulai bekerja dalam mode teks yang 'njelimet' tapi excited!

Hal lain yang juga berbeda adalah, game. Saya sempat frustasi, karena tidak menemukan game yang asik sebagai ganti Sims 2 dan Civilization 4 yang ada di Windows. Setelah menjelajahi buku-buku petunjuk, website Linux, dan forum-forum online, ternyata semuanya bersumber dari ketidaktersediaan driver yang pas buat kartu grafis. Hal tersebut bukan dikarenakan ketidakmampuan si pembuat Linux untuk menghasilkan driver yang tepat, tapi karena ketidakmauan vendor kartu grafis untuk memberikan source code produk mereka kepada publik. Sebagaimana diketahui, salah satu ide dibuatnya Linux adalah keterbukaan. Tidak ada yang disembunyikan dalam Linux, pengguna Linux bahkan dapat merekayasa sendiri kernel dan sistem operasi mereka, tentu saja bila mereka paham. Sesuatu yang tidak mungkin kita temukan dalam produk-produk Redmond.

Rupanya juga kerahasiaan dua vendor raksasa ATi dan Nvidia, berkaitan dengan usaha mendukung dominasi Microsoft di pasar desktop. Tapi apa mau dikata, setelah menghabiskan berjam-jam duduk di hadapan PC untuk mengatasi masalah tersebut, akhirnya saya download driver Geforce FX 5200 dari situs Nvidia dan menginstall-nya di KDE 4. Usaha pertama gagal, kedua berhasil, ketiga tidak puas. Ternyata, driver resmi ini tidak dapat berjalan lancar di atas KDE 4. Setelah googling, saya mendapat keluhan serupa dari berbagai pengguna Mandriva 2009.1, salah satu opsi yang ada adalah menggunakan GNOME sebagai interface Xwindow.

GNOME, GNU Network Object Environment, adalah sejenis antarmuka grafis bagi Linux selain KDE, Xface, WDM, dll. Sistem Linux yang canggih itu sebenarnya dapat berjalan tanpa antarmuka grafis apa-apa, hal ini dikarenakan sistem kernel yang terpisah dari sistem grafisnya, jadi apabila ada kerusakan pada software grafis, maka hal tersebut tidak berpengaruh secara mendalam kepada sistem utama. Berbeda dengan Windows yang sistemnya satu. Tapi, jaman sekarang, siapa sih orang yang menggunakan komputer hanya dalam mode teks selain geek yang terobsesi dengan binary program seperti pada film Matrix?! Maka dengan berat hati, saya pun migrasi dari desktop KDE 4 yang sangat menawan itu.

Kesan pertama dari GNOME adalah, perasaan janggal, karena seakan saya kembali ke masa Windows 98. Kesan ini tidak berlangsung lama, karena langsung familiar dengan tool-tool baru yang menurut saya terasa ringat dan powerful. Maka setelah menginstall kembali driver Nvidia, kinerja 3D dapat berjalan lancar. Setidaknya, saat saya bandingkan penggunaan game Open Arena di kedua desktop, terasa sekali perbedaannya. Dalam GNOME, game tersebut dapat bejalan dengan FPS yang memuaskan.

Well, meskipun saat ini masih dual boot dengan Windows XP, ternyata saya menemukan kecintaan terhadap Linux di Mandriva 2009.1 dengan GNOME sebagai interface-nya. Saat ini saya sudah instalasikan juga wine untuk menjalankan program windows di Linux, meskipun belum optimal saat eksekusi program dan Virtualbox yang tidak mampu untuk berjalan di atas GNOME, setidaknya saya sudah bisa online kembali melalui Linux dan menuliskan artikel ini di blog.

Welcome GNOME, viva Linux!!