Solusi “Kendaraan Hijau” Terjangkau dari Daihatsu

Green technology atau biasa disebut teknologi hijau adalah istilah populer dari pemanfaatan teknologi berwawasan lingkungan. Sebuah arus balik dunia industri yang selama ini akrab dengan teknologi abu-abu yang polutif, boros, dan tidak manusiawi, menjadi teknologi hijau yang bebas emisi, hemat bahan bakar, dan ramah lingkungan.

Global_Temperature_Anomaly_1880-2012.svgBerdasarkan data dari The Carbon Dioxide Information Analysis Center (CDIAC), setidaknya terjadi peningkatan level karbodioksida di seluruh dunia dari rata-rata 180-300 ppm menjadi sekitar 390 ppm pada tahun 2008. Itu berarti level CO2 saat ini 30% lebih tinggi dibandingkan periode apapun dalam kurun waktu 800.000 tahun.

Peningkatan level CO2 berdampak besar bagi meningkatnya rata-rata suhu udara global sebesar 0,5 derajat Celcius per dekade. Seandainya laju pertumbuhan suhu ini tidak mampu ditekan, diperkirakan pada tahun 2100, rata-rata suhu dunia akan meningkat 1-4 derajat Celcius lebih panas. Dengan kata lain, pada dekade kedepan kita akan menghadapi ancaman badai tropis, banjir, tanah longsor, abrasi, hingga kekeringan dan bencana kelaparan yang lebih banyak dan lebih berat ketimbang tahun-tahun sebelumnya dalam sejarah umat manusia.

Fenomena pemanasan global sebagaimana ditunjukkan oleh data-data tadi sebenarnya hanyalah ekses dari aktivitas manusia sejak era Revolusi Industri yang mengeksploitasi bahan bakar fosil secara berlebihan. Emisi rumah kaca yang dihasilkan oleh bahan bakar jenis ini merupakan penyumbang terbesar, atau sekitar 75%, bagi meningkatnya level karbondioksida di seluruh dunia yang 28% diantaranya dihasilkan oleh sektor transportasi.

Transportasi di sini adalah kendaraan bermotor seperti pesawat, mobil, motor, kereta api dan kapal laut. Kendaraan inilah yang semakin hari semakin bertambah jumlahnya seiring dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat untuk berpindah tempat dengan nyaman dan cepat. Pertanyaan yang muncul kemudian, jika kita tidak mampu berkompromi untuk menekan kebutuhan berpindah tempat dengan nyaman dan cepat, lantas dengan cara apakah kita menekan laju pemanasan global yang sudah kita akui efek buruknya bagi masa depan bumi kedepan?

Well, ada beberapa skema di sini. Pertama, anda bisa naik transportasi umum atau bersepeda untuk mengurangi emisi gas buang selama perjalanan anda berpindah tempat. Kedua, anda bisa mengendarai mobil “zero emision” berbahan bakar alternatif, non-fossil, yang tidak berbahaya bagi lingkungan sekitar. Ketiga, anda bisa melakukan teleportasi melalui portal-portal tertentu untuk tiba di portal lain tanpa harus terjebak oleh jarak dan waktu perjalanan yang lumayan jauh. Kira-kira opsi mana yang anda pilih?

Baiklah, saya hanya bercanda di opsi ketiga. Teleportasi hingga kini hanya eksis di ranah sci-fi. Lagi jika pun teknologi teleportasi telah ada, belum ada satu manusia pun yang berani menguji keamanan moda transportasi ini pada manusia. Jika demikian, berarti kita hanya memiliki dua opsi saja yang sayangnya keduanya memiliki kelemahan tersendiri.


Kelemahan paling menonjol dari opsi pertama adalah soal jangkauan dan fleksibilitas waktu serta tujuan. Hanya segelintir orang yang berani menempuh perjalanan lebih dari 30 KM menggunakan sepeda setiap hari. Belum lagi kualitas transportasi massal di negara kita yang tidak memadai, membuat kendaraan pribadi sebagai solusi paling diminati, terutama bagi mereka yang tinggal di daerah sub-urban yang membutuhkan mobilitas tinggi tanpa harus dibatasi oleh waktu dan tujuan.

Sebuah kendaraan pribadi dengan mesin berpenggerak listrik yang tidak mengeluarkan polusi, tampak seperti sebuah mimpi ideal. Nyatanya, tidak semua orang mampu memilikinya, terutama warga negara dunia berkembang yang tidak diberi insentif apa-apa oleh pemerintah. Faktor paling utama adalah harga yang masih sangat tinggi. Sebagai gambaran, mobil listrik rakitan lokal ternurah saat ini dibanderol dengan harga 200 juta per unit. Belum lagi ketersediaan infrastruktur pendukung macam stasiun pengisian listrik juga kualitas dan harga listrik yang tergolong mahal, serta isu suku cadang. Menjadikan mobil berteknologi listrik maupun hibrid, sebagai solusi transportasi yg tidak efisien di Indonesia untuk saat ini. Jika demikian, adakah win win solution yang mampu menengahi kebuntuan ini? Fortunately, yes.
eco-bagan

Salah satu diantaranya adalah adaptasi teknologi hijau secara gradual sebagaimana dilakukan oleh Daihatsu. Ketimbang langsung memperkenalkan teknologi mobil listrik ke tanah air, Daihatsu lebih memilih memperkenalkan road map green tech kepada masyarakat melalui pengembangan teknologi “mobil hijau” secara bertahap.

Tahap pertama yang dilakukan oleh Daihatsu adalah meningkatkan efisiensi konsumsi bahan bakar kendaraan hingga 30 KM/ liter. Untuk mencapai target ini, Daihatsu melakukan inovasi pada tiga sektor berbeda secara bersamaan:
  1. Pembenahan di sektor power train dengan meningkatkan rasio kompresi dari 10,5 menjadi 11,3. Untuk menunjang kompresi yang tinggi tersebut Daihatsu memperbaiki sistem sirkulasi gas buang konvensional menjadi i-EGR1, aplikasi sistem transmisi CVT2, dan mengurangi beban mesin melalui optimalisasi rasio persneling.
  2. Pemangkasan beban kendaraan sebesar 60Kg dengan cara pengaplikasian Shell body framework, penggunaan bahan plastik pada bidang interior, efisiensi tata ruang, dan penggunaan mesin yang lebih ringan.
  3. Pembenahan pada manajemen energi dengan menggunakan sistem eco-IDLE3 terbaru yang mampu mengurangi konsumsi bahan bakar sebesar 10% pada saat macet.
Hasil yang didapatkan pada tahap pertama ini bukan saja menciptakan kendaraan yang hemat bahan bakar, tapi juga membuat produk-produk Daihatsu mampu bersaing secara komersiil karena dapat memangkas ongkos produksi secara signifikan.

Pada tahap kedua, mulailah Daihatsu melakukan pembenahan secara total pada sektor mesin. Paling utama adalah penggunaan 2 silinder besar untuk mengganti tiga silinder kecil sebagaimana banyak ditemukan pada banyak city car. Ketika terobosan ini digabungkan dengan sistem pengapian elektronik berfrekuensi tinggi dan kapasitor batere yang lebih besar, hasilnya adalah mesin yang lebih ringan sekaligus lebih responsif dan hemat energi. Pada tahap ini, konsumsi bahan bakar diharapkan dapat ditekan lebih rendah lagi hingga 35 kilometer per liter! Bandingkan dengan konsumsi BBM motor sport yang tidak terpaut jauh. 

Setelah kedua tahapan evolusi teknologi itu tercapai, barulah Daihatsu melangkah kepada tahap ketiga yang bertujuan untuk mencapai level zero emision, yakni penggunaan teknologi bahan bakar hidrogen, fuel cell. Langkah Daihatsu mengembangkan teknologi kendaraan berbasis hidrogen sendiri boleh dikatakan sesuatu yang berani. Saat perusahaan otomotif lainnya melakukan pengembangan dibidang kendaraan elektrik maupun hibrid yang berbasis batere, Daihatsu tetap berkomitmen untuk mengembangkan teknologi fuel cell yang oleh sebagian perusahaan dipandang sangat mahal dan tidak cost efficient.

Rahasia dibalik kepercayaan diri Daihatsu adalah pengembangan teknologi fuel cell terbaru bernama PMfLFC4 yang tidak menggunakan platinum, yang nota bene berharga sangat mahal, sebagai katalis bagi reaksi hidrogen dan oksigen. Sebaliknya, Daihatsu menggunakan kobalt dan nikel sebagai pengganti platinum sehingga diharapkan mampu menekan ongkos produksi semaksimal mungkin. Katalis ini kemudian dibanjiri dengan hydrazine hydrate yang merupakan olahan hidrogen cair yang kemudian bereaksi secara kimiawi menghasilkan listrik yang digunakan untuk menggerakkan mesin. Hydrazine hydrate sendiri berbeda dari jenis hidrogen cair lainnya dan diyakini jauh lebih aman karena non-flammable pada suhu normal serta memiliki kepadatan energi yang tinggi sedang disaat bersamaan tidak menghasilkan emisi karbondioksida. Spesifikasi ideal bagi bahan bakar masa depan.


Mira e:S
Namun membangun kendaraan hidrogen yang murah tidak sama dengan membangun kendaraan hemat BBM   yang murah. Masih ada faktor lain yang harus diperhatikan oleh produsen, yakni ekosistem. Maksud saya, meskipun hidrogen sangat berlimpah di muka bumi ini, tapi dibutuhkan industri hulu yang mampu mengolah sumber daya alam yang banyak itu menjadi produk siap pakai. Hal mana juga berlanjut kepada sistem pendistribusian dan ketersediaan hydrazine hydrate, serta infrastruktur penunjang lainnya yang tidak mungkin bisa tercapai jika belum ada kerjasama yang bagus dengan para pemegang kebijakan, pemerintah.

Pertanyaan yang mengemuka sekarang, sampai dimana sebenarnya realisasi road map green tech Daihatsu? Apakah peta jalan teknologi hijau yang mereka cetuskan hanya berhenti pada level concept car semata yang hanya ramai pada setiap ajang pameran Motorshow? Jawabnya mungkin bisa kita lihat di website utama Daihatsu Jepang. Dari empat mobil utama yang menjadi highlight (Move, Mira e:S, Tanto dan Cocoa Mira) semuanya telah mengusung teknologi penghematan bahan bakar terkini. Konsumsi BBM Move misalnya, telah mencapai 29,02KM/l. Sementara Mira e:S jauh lebih irit lagi, hingga 32KM/l!

Barangkali efektivitas penggunaan bahan bakar mobil-mobil terbaru Daihatsu masih belum mencapai target yang telah mereka tetapkan pada peta jalan teknologi hijau. Namun jika kita bandingkan dengan produk Daihatsu yang telah beredar di Indonesia saat ini, seperti Luxio, Terios, dan Xenia, penghematan yang dicapai bahkan melampaui ekspektasi mereka sendiri yang hanya berada di level 30% saja, tapi telah mencapai level efisiensi BBM hingga 58%. Dari data ini kita dapat memperkirakan, jika posisi Daihatsu saat ini telah berada pada tahap kedua dari road map green tech yang mereka tetapkan.

Tentu kita tidak bisa berharap terlalu banyak jika target tahap ketiga Daihatsu dapat tercapai dalam waktu dekat. Selain karena persoalan infrastruktur stasiun pengisian bahan bakar hidrogen yang belum ada di tanah air, juga keberadaan teknologi fuel cell sendiri yang belum terlalu populer ketimbang mobil listrik.

Terlepas dari segala kekurangan itu, kemampuan Daihatsu untuk menekan konsumsi BBM di kendaraan terbaru mereka patut mendapat apresiasi yang tinggi, mengingat harga minyak dunia yang kian hari kian mahal juga penghematan yang dihasilkan pada setiap liter bahan bakar fosil ini berpengaruh besar bagi upaya menekan laju pemanasan global yang kian hari kian memprihatinkan.

Semoga kendaraan hijau Daihatsu ini segera hadir di Indonesia.


Referensi
  1. Teknologi terkini dari Exhaust Gas Recirculation yang dikembangkan Daihatsu
  2. Continously Variable Transmission
  3. Sistem penyalaan dan pematian mesin dalam waktu singkat sehingga mengurangi kebutuhan BBM saat kendaraan terjebak macet.
  4. Precious Metal-free Liquid Feed Fuel Cell.


DecorativeJI, satu app beragam ambisi

Branded app atau aplikasi perusahaan yang menjadi perluasan marketing di dunia maya, kian hari kian marak. Setidaknya sembilan dari 10 merek ternama dunia saat ini telah memiliki app untuk pasar smartphone maupun tablet. Hal ini menunjukkan betapa pasar mobile telah menjadi ladang bisnis baru yang tidak bisa dilewatkan begitu saja, entah untuk membangun citra perusahaan, memperkuat brand image, atau bahkan meraup keuntungan. Salah satu platform yang saat ini menjadi favorit bagi pengembangan branded app adalah Android. Nama-nama terkenal, mulai dari Samsung hingga BCA telah memiliki app resmi yang dapat diunduh di Google Play secara gratis. Fenomena global inilah yang rupanya ditanggapi serius oleh Jotun, perusahaan multinasional asal Norwegia, yang melalui anak perusahaan mereka di Indonesia membuat app cat pertama bernama DecorativeJI. Bisakah branded app mereka sukses di platform Android? Mari kita lihat.

SC20130415-144207File instalasi DecorativeJI sebenarnya tidak terlalu besar, hanya 4,6 MB. Sayangnya jumlah tersebut membengkak hampir dua kali lipatnya ketika aplikasi cat ini terinstall kedalam sistem. Bagi mereka yang memiliki memory utama yang lega, hal tersebut bukanlah masalah. Lain halnya jika memory utama pas-pasan, opsi untuk menginstal di memory external jelas sebuah keunggulan yang tidak bisa dilewatkan begitu saja. Sayangnya, faktor ini serasa dilewatkan begitu saja oleh pihak pengembang.

Bagian muka DecorativeJI sendiri terbagi kedalam 12 kartu yang tersusun rapi dalam grid tiga baris yang secara umum dapat dibagi kedalam tiga kategori. Pertama, kartu yang berfungsi sebagai link dan terhubung ke server utama Jotun yang menampilkan informasi teraktual seputar event dan promo, artikel-artikel terkait arsitektur, forum konsultasi, serta akun soc-med perusahaan. Kedua, kartu yang berfungsi sebagai ensiklopedia mini tentang produk dan tema-tema arsitektural juga desain. Ketiga, kartu berisi sub-aplikasi seperti harmonisasi warna, pencarian lokasi Jotun Multicolor Center, hingga games. Dari beragamnya fitur yang disediakan aplikasi ini, saya mendapat kesan jika DecorativeJI tidak lebih dari sebuah versi mobile website Jotun.

Menjadikan aplikasi mobile sebagai substitusi website perusahaan sebenarnya bukanlah strategi yang bagus, selain karena ponsel cerdas saat ini telah memiliki sederet browser yang mumpuni, para pemilik ponsel cerdas juga cenderung menganggap apps sebagai sebuah utility ketimbang portal. Saat saya hendak mencari informasi mengenai warna dan efek psikologisnya bagi manusia misalnya, secara refleks saya akan membuka browser kemudian googling. Hal serupa juga akan saya lakukan bahkan jika saya ingin mengetahui event apa yang akan dilakukan Jotun minggu depan. Saya hanya akan membuka apps jika aplikasi tersebut benar-benar memberikan sesuatu yang berguna bagi saya. Macam kemudahan dalam mengakses berita-berita terkini di apps detik, atau mencari aplikasi terbaru di Samsung Apps. Jika demikian, alasan apa yang semestinya saya berikan untuk mempertahankan DecorativeJI di ponsel saya?SC20130421-182012

Sejujurnya, ada beberapa bagian dari DecorativeJI yang berpotensi menjadi pemimpin di kelasnya seandainya Jotun fokus pada potensi tersebut dan melupakan fitur lain yang tidak diperlukan. Pertama adalah menjadikan Jotun Geomancy sebagai sole application bagi DecorativeJI. Pada sub-app ini kita bisa menemukan berbagai informasi dasar mengenai Feng Shui yang mungkin berguna untuk diterapkan pada kediaman kita masing-masing. Kita bahkan memiliki kesempatan untuk berkonsultasi secara langsung kepada pakar Feng Shui soal penataan ruangan rumah kita saat ini. Yang patut disayangkan dari sub-app ini hanyalah (sekali lagi) ketergantungannya kepada website asal, dimana setiap kali kita mengakses data yang ada, aplikasi hanya menampilkan website saja, tanpa mengolahnya terlebih dahulu agar lebih terintegrasi.

Potensi selanjutnya yang tidak bisa diabaikan begitu saja adalah Let’s Colour, sebuah sub-app yang memungkinkan kita untuk menaksir tipe, warna, hingga jumlah kaleng cat yang dibutuhkan saat hendak mendekorasi ruang berdasarkan luas dan materi ruangan tersebut. Apabila sub-app ini disatukan dengan aplikasi Store Locator yang cerdas dan lengkap itu serta Product Info, maka kita akan mendapatkan aplikasi terintegrasi yang bukan saja berguna bagi customer dalam merencanakan program pengecatan mereka, tapi juga bagi marketer Jotun sendiri saat memberi advise ke pelanggan mereka. Kekurangan yang mungkin ada hanyalah interface yang tidak intuitif dan cenderung membosankan. Jika kelemahan tersebut dibenahi, dan mengintegrasikan Let’s Colour, Store Locator, serta Product Info dibawah aplikasi baru yang berdiri sendiri, atau menjadikannya fitur utama dari DecorativeJI, tentu akan menjadi pilihan menarik bagi segmented market yang memiliki concern terhadap dunia desain.

Kemungkinan terakhir adalah menjadikan DecorativeJI sebagai sebuah aplikasi game. Tentu saya tidak bermaksud merujuk ide ini kepada ColourPop, sebuah sub-app di DecorativeJI yang mengingatkan saya pada game kuno Minesweep di Windows. Melainkan game Audi A4 Driving Challenge yang dikeluarkan oleh produsen mobil Audi yang konon telah mencapai 3,5 juta download. Meski demikian, menyulap branded app menjadi sebuah game viral yang disukai banyak orang jelas sebuah pertaruhan yang sangat riskan. Hanya sedikit perusahaan juga developer yang berhasil menempatkan produk mereka dalam kategori ini. Pengecualian bisa saja terjadi, seandainya ada ide segar yang mampu melecut segenap potensi yang ada. Pertanyaannya, apakah Jotun dan pihak developer sudah memilikinya? Who knows.

DecorativeJI adalah aplikasi resmi Jotun. Untuk walkthrough silahkan melihat cuplikannya di bawah ini.

DecorativeJI Walkthrough


Profil Aplikasi

Nama DecorativeJI
Developer 7Langit
Versi terkini 1.0.4
Requirement Android 2.2 keatas
Kategori Books & Reference
Instalasi 1.000 – 5.000 download
Harga Gratis
URl https://play.google.com/store/apps/details?id=com.langit7.jotun

Cukupkah Menjadi Cerdas Saat Membeli?


Beberapa waktu yang lalu, saya dan istri pergi berbelanja ke sebuah pusat perniagaan. Targetnya, sebuah mesin cuci front loader dengan harga yang masih masuk akal bagi pasangan muda yang baru menikah. Kami pun meneliti satu persatu mesin cuci yang terpampang di display, mulai dari kapasitas, fitur, konsumsi daya, hingga yang terpenting soal harga. Pilihan pun jatuh pada sebuah merek asal Negeri Ginseng yang menurut kami layak untuk dimiliki karena produk yang mereka hasilkan itu memiliki fitur teknologi tercanggih yang tidak dimiliki oleh produk pesaing.

Sejujurnya, keputusan untuk membeli sebuah mesin cuci jauh lebih susah ketimbang membeli telepon genggam. Dibandingkan produk teknologi informatika macam PC dan telepon genggam, produk home appliance seperti televisi, kulkas, dan mesin cuci, adalah sebuah ranah antah berantah yang keberadaannya sangat tergantung pada memori jangka panjang kita akan merek dan segala mitos yang berada di sekelilingnya. Sebut saja merek S yang masyhur dengan kehandalan produk-produk televisinya di era 80-an, sehingga ketika kita berfikir tentang televisi, nama yang pertama kali muncul di benak kita adalah merek tersebut, tanpa peduli bahwa dunia pertelevisian telah mengalami evolusi teknologi yang panjang, mulai dari CRT, LCD, LED, hingga plasma.

Selain itu, beragamnya variasi produk yang dikeluarkan para oleh para produsen home appliance, berbanding terbalik dengan minimnya informasi yang diserap masyarakat. Kita misalnya, bisa dengan mudahnya menemukan perbandingan ponsel low end dengan harga dibawah 1,5 juta ketimbang perbandingan mesin cuci top loader dengan harga yang hampir sama. Keterbatasan inilah yang memaksa kita para konsumen untuk menilai produk-produk home appliance hanya berdasarkan fitur semata, yang seringkali bersembunyi dibelakang istilah-istilah teknis yang tidak memiliki relevansi apa-apa dengan kebutuhan kita.

Contoh yang paling nyata adalah pemaparan yang diberikan oleh seorang pramuniaga di toko pertama yang kami kunjungi, yang dengan bersemangat menjelaskan bahwa mesin cuci yang ada di display-nya sudah menggunakan teknologi direct drive, dengan motor yang langsung menempel pada tabung cuci. Menurutnya, mesin cuci dengan teknologi ini memiliki keunggulan dibandingkan mesin cuci dengan motor terpisah yg masih menggunakan pulley untuk mendistribusikan gerakan ke tabung, karena jauh lebih senyap dan minim getaran. Bagi kita orang awam yang tidak tahu sama sekali sejarah mesin cuci, boleh jadi kita akan termakan mentah-mentah oleh kampanye teknologi ini dan menganggap bahwa hanya mesin cuci merek inilah yang  menggunakan mesin yang menempel langsung di tabung, tanpa peduli tujuan utama membeli mesin cuci: menghasilkan cucian yang benar-benar bersih tanpa noda. Sayangnya, saya sudah terlanjur termakan rayuan teknologi si pramuniaga.

Apa Saya Salah?
Jika kita membaca anjuran yang diberikan Kementerian Perdagangan mengenai cara menjadi konsumen yang cerdas, apa yang telah saya lakukan sebenarnya tidak salah dan sudah sesuai dengan aturan umum cara berbelanja yang baik dan benar. Alasan paling utama adalah, saya sudah melakukan tip dan trik yang telah mereka anjurkan: (a) teliti sebelum membeli (b) memperhatikan label dan buku manual, juga garansi (c) memastikan produk yang dibeli sesuai dengan standar mutu kesehatan, keselamatan, keamanan dan lingkungan hidup (K3L) (d) membeli barang sesuai kebutuhan bukan keinginan. Lantas apa yang kurang?

Baiklah, mungkin saya baru mengamalkan poin pertama saja. Namun kalau mau ditilik lagi, tiga poin lainnya juga tidak benar-benar membantu dalam menentukan mesin cuci apa yang semestinya saya beli. Label dan buku manual berbahasa Indonesia misalnya, hanya berguna bagi pemahaman operasional suatu produk tapi bukan cara kita memilih produk tersebut. Secara praktis, keduanya tak lebih dari penanda sekaligus ensiklopedia mini produk yang keberadaannya baru dibutuhkan tatkala kita telah membeli produk tersebut. Bukankah sangat jarang buku manual yg dipajang bersama produk yang disertainya.

Lagi, bagi mereka yg paham bahasa Inggris, penggunaan bahasa Indonesia dalam sebuah manual seringkali terasa janggal karena mengalienasi kita dari bahasa jargon yang seringkali kita gunakan saat berinteraksi dengan sebuah produk. Salah satu contohnya adalah manual produk-produk IT dalam bahasa Indonesia, seperti penggunaan kata salin sebagai substitusi dari kata copy, atau pasang sebagai substitusi dari kata paste. Yang harus diperhatikan justru kualitas dokumentasi yang ada dalam manual. Dalam hal ini, manual yang tertulis dalam bahasa Inggris namun memiliki kualitas dokumentasi yang baik dan lengkap, jauh lebih bermanfaat ketimbang manual dalam bahasa Indonesia tanpa disertai dokumentasi yang memadai.

Jauh lebih penting ketimbang label dan manual berbahasa Indonesia adalah kartu garansi, karena ia menjadi bagian paling utama dari layanan purna jual yang menghubungkan pelanggan dengan produsen. Pada masyarakat post-industri, hampir tidak ada satu perusahaan besar pun di luar sana yang menjual produk mereka tanpa disertai kartu garansi. Persoalannya industri masa kini telah sangat matang dalam memprediksi umur produk mereka, maka ketika produsen merancang suatu produk untuk dapat bertahan selama 5 tahun penerapan garansi hingga 3 tahun tak lebih daripada gimmick yang memberikan konsumen rasa aman palsu.

Terkait standardisasi, apabila kita bandingkan negara-negara berkembang lain seperti Brazil dan India, maka proses standardisasi produk di negara kita ini masih tergolong lamban. Sebagai perspektif, dari sekitar 8.500 produk impor yang masuk ke Indonesia setiap tahun, hanya 500 produk saja yang kualitasnya telah sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). Angka masuk produk impor dengan kualitas dibawah standar tersebut masih jauh lebih tinggi ketimbang total merek yang telah tersertifikasi yang jumlahnya baru mencapai 7.000 buah saja.

Hal lain yang juga harus diperhatikan adalah cakupan dari SNI sendiri yang lebih banyak tertuju pada produk-produk industri ketimbang ketimbang consumer good, menjadikan SNI lebih populer di kalangan produsen semata ketimbang khalayak konsumen yang lebih luas. Dari daftar 87 produk wajib SNI, hanya 12 item saja yang benar-benar familiar di masyakat umum, macam produk air mineral alami, kloset duduk, sepeda roda dua, ban kendaraan, dan helm. Sisanya adalah produk-produk industrial seperti baja, kawat baja, tali baja, yang tidak memiliki signifikasi apa-apa pada masyarakat umum.

Sampai disini muncul pertanyaan, apakah barang yang memiliki komponen berstandar SNI secara otomatis telah memenuhi standar kualitas yang diminta atau tidak? Katakan perusahaan C mengimpor mesin blender dari Cina. Mesin tersebut tidak memiliki label SNI karena memang belum ada standar untuk blender di Indonesia, namun kabel power yang digunakan telah berstandar SNI. Jika saja konsumen mendapati bahwa produk blender ini tidak sesuai harapan, seperti hasil pengolahan yang tidak halus, apakah dengan demikian kita bisa mengatakan bahwa kualitas produk yang memiliki komponen standar SNI itu jelek? Setidaknya hal itulah yang saya temui pada produk blender merek lokal berkabel standar SNI yang saya beli beberapa hari sebelumnya. Untuk mesin cuci sendiri, hingga tulisan ini saya buat imho masih belum ada yang bersertifikat SNI.

Konsumen yang Cerdas?
Kembali ke mesin cuci. Setelah terkena bujuk rayu teknologi si pramuniaga, saya dan istri pun sepakat untuk memilih mesin cuci tersebut. Tapi kata memilih tidak selalu sinonim dengan kata membeli, terlebih jika menyangkut soal harga. Sebagai konsumen yang cerdas, kami berusaha membandingkan harga mesin cuci tadi ke toko lain yang juga menjual produk yang sama. Kami pun mengunjungi beberapa toko elektronik untuk melakukan riset kecil-kecilan hingga mencapai kesimpulan bahwa toko G merupakan toko dengan harga jual produk L termurah yang kami kunjungi. Implikasi berikutnya, kami memutuskan untuk membeli produk mesin cuci tadi di toko tersebut.

Kisah ini semestinya bisa berakhir bahagia. Kami puas dengan produk dan harga yang tepat, demikian pula penjual dan produsen, karena mampu memberikan deal terbaik buat pelanggan mereka. Nyatanya, sampai di rumah mesin cuci tersebut bermasalah. Air tidak juga masuk ke bilik pencucian, meski selang telah teraliri air. Kami pun mencoba menghubungi customer service produsen mesin cuci tadi, dan dijanjikan akan dikirim mekanik keesokan harinya untuk mengatasi masalah. Hari berlalu, dan genap 6 hari sang mekanik belum juga tiba. Pada hari ketujuh, kami benar-benar marah dan pihak produsen baru menunaikan kewajibannya 2 hari kemudian.

Apa sebenarnya yang bisa dipelajari dari kejadian ini? Well, menjadi konsumen yang cerdas di negara ini tidaklah cukup. Untuk mendapatkan produk dan layanan yang prima serta memuaskan, kita harus menjadi ekstra cerdas. Apa yang dilakukan oleh pemerintah dengan mengadakan kampanye konsumen cerdas hanya berguna setelah kita memutuskan untuk membeli suatu barang. Parameter-parameter yang diberikan, macam SNI juga label dan manual berbahasa Indonesia, tidak bisa dijadikan dasar utama dalam menentukan baik buruknya suatu produk. Ada banyak produk yang beredar saat ini yang tidak memiliki parameter tadi, namun memiliki kualitas barang yang bagus. Demikian pula banyak produk bersertifikat SNI juga berlabel dan bermanual bahasa Indonesia, tapi tidak memiliki kualitas barang yang bagus, demikian pula sebaliknya.

Pada akhirnya, anjuran paling awal dari pemerintahlah yang sebenarnya berguna bagi kita semua. Teliti sebelum membeli. Termasuk pada pasal-pasal menyangkut layanan purna jual yang sangat menentukan tingkat kepuasan kita pada produk yang telah kita beli. Karena jikapun kita salah dalam membeli, kita masih bisa mendapatkan hak-hak kita yang terabaikan.

Selamat Hari Konsumen Nasional 2013!