Membaca Al-Quran

The Qur'an (Oxford World's Classics)
Al-Quran terbitan Oxford
Ada banyak cara dalam membaca Al-Quran. Pertama, dengan menaruh perhatian yang mendalam terhadap aspek kesejarahannya, atau yang biasa kita kenal dengan pembacaan melalui konsep asbab al-nuzul. Pembacaan model ini, bertumpu pada sejumlah dokumen kesejarahan atau yang biasa kita kenal dengan sunnah dan hadits. Meski model pembacaan seperti ini menjanjikan kontekstualitas yang tinggi, sayangnya kepresisian makna menjadi buram. Ia cenderung terikat dengan konteks yang diutarakan oleh hadits-hadits yang berkaitan dengannya, yang sayangnya, validitas hadits-hadits tersebut lebih meragukan daripada konsep yang ditawarkan oleh Al-Quran sendiri.

Cara kedua adalah model penalaran fiqh yang menitikberatkan pada atomitas kata dan kalimat yang menurut penilaian sejumlah sarjana Muslim, memiliki nilai hukum yang bersifat positif dan dengan demikian mengikat seluruh komunitas masyarakat Muslim. Model penalaran ini, adalah model penalaran yang banyak digunakan dalam membaca ayat-ayat Al-Quran. Sejumlah pernyataan yang muncul dalam sebuah ayat, kemudian dijadikan aksioma tertutup yang dengannya seseorang memulai mendeduksi sejumlah implikasi logis yang lahir dari premis awal yang ia ambil dari dalam frase tersebut.

Umumnya, makna yang muncul dari pembacaan model fiqh bersandar pada kosa kata Arab yang biasa dipahami masyarakat awam. Tatkala Al-Quran berbicara tentang buku, misalnya, maka makna kata tersebut akan diambil dari pengetahuan yang lazim ditemui dalam masyarakat Arab. Makna buku dengan demikian adalah buku dalam persepsi masyarakat Arab, dan bukan buku dalam persepsi Al-Quran. Dampaknya, konsep Arabsentris dalam model penalaran fiqh menjadi sangat utama, dan hampir menutupi konsep Al-Quran sendiri yang boleh jadi berbeda dari dipahami oleh masyarakat luas.

Kelemahan selanjutnya yang timbul dari penalaran model fiqh adalah, fleksibilitas makna yang terlalu longgar, bahkan sangat relatif, karena teks telah tercerabut dari kontekstualitasnya untuk kemudian ditempelkan begitu saja dengan realitas kekinian yang jauh berbeda. Walhasil, pembacaan Al-Quran seakan mengalami alienasi dengan gagasan-gagasan universal yang dibawa. Dan karena penalaran fiqh juga bersandar pada logika Aristotelian, maka sejumlah keputusan yang dihasilkan benar-benar dibatasi oleh konsep-konsep logika yang sangat terbatas itu.

Kekurangan model fiqh sebenarnya dipahami betul oleh para sarjana Muslim, sayangnya untuk membenahi kekurangan yang ada, mereka seringkali mengambil jalan pintas dengan membuat sejumlah pengecualian yang bahkan tidak memiliki dasar rasio yang mantap. Jadilah, dalam beberapa tafsir dan produk hukum yang dihasilkan kita menemukan banyak sekali jalan buntu dalam penalaran. Disini, teks memang telah mengambil otoritas penalaran, tapi atas dasar yang tidak jelas bahkan tidak rasional. Tentu saja, saya selalu menganggap pemahaman kita atas sebuah teks haruslah dibangun di atas fondasi rasionalitas. Alasannya jelas, karena hanya dengan ketertiban berpikirlah kita akan sampai pada konklusi yang tepat dan dapat dipertanggunjawabkan. Lalu, bagaimana cara agar kita sampai kepada hasil yang kita cari itu?

Analisis semantik. Ya, model analisis inilah yang saya pikir dapat memperjelas cara pembacaan kita atas Al-Quran. Dengan menganggap Al-Quran sebagai sebuah buku dengan sistem pemaknaan yang tertutup pada dirinya sendiri, dimana semua ayat saling berhubungan antara satu dengan lainnya, kita akan mendapatkan sebuah pemahaman yang jauh lebih objektif akan pemaknaan Al-Quran. Model pembacaan inilah yang saya gunakan dalam menafsirkan beberapa tema dalam Kitab Suci tersebut, dan saya ajukan sebagai model pembacaan baru atas Al-Quran yang memiliki keunggulan dibanding dengan metodologi lainnya.

catatan:
  1. Ilustrasi sampul al-Quran di atas diambil di sini

Solilokui

Buku, noda, sserangga. Dan rajanya adalah kecoa. Penghuni setia, yang bangkainya diarak ratusan semut ke liang asrama mereka. Jejaring laba-laba, tumpukan kertas, DVD, film-film bajakan, permainan-permainan yang tidak pernah membuatmu sadar akan waktu. Dua buah speaker, Klipsch Promedia. Layar LCD 17", Julian Barnes, foto copy bukunya Russell, dan bau malam. Benda-benda mati, yang kelak membuatmu kaget saat si empunya terbangun oleh sinar matahari pagi.

Masih sama seperti yang kemarin.

Tidak ada kabar baik. Itu buruknya. Juga kabar buruk. Entah seburuk apa kabar itu akan datang. Kupikir hanya keburukan saja yang ada di otak ini.

Malam yang mendesir. Deru kipas angin yang bilah-bilahnya kotor terkena wabah malas. Kasur yang lembab, tumpukan baju dan celana, yang entah suci, bersih, ataukah dekil dan butuh rendaman air Rinso. Tidak ada yang terkata di kamar ini. Semuanya tentang benda mati. Kematian?

Katakan tentang kematian. Agama? Aku lupa. Siapa yang butuh? Tuhankah?

Mata yang meredup. Leher yang kaku. Paha yang semakin membesar. Langkah memberat. Lingkaran pinggang, celana-celana dari kisah yang telah lalu. Meja kerja yang dipenuhi sampah pengetahuan. Ah, kenapa aku menulis semua? Kau pikir itu diam. Tapi kenapa?

Jangan tanya apa-apa padaku. Sungguh, aku tidak pernah tahu jawabnya. Bahkan meski kucoba membunuh Tuhan. Aku tersentak, lalu apa? Tidak ada apa-apa, sama seperti sebelum kematian itu. Tapi, matikah ia? Tolong, jangan tanya aku tentang soal yang tidak aku pahami.

Slip. Buku tabungan. Proyek-proyek masa depan yang runtuh, bagai terkena lanun, tsunami dan kebodohan para penghuninya. Aku hanya ingin diam. Diam? Diam seperti malam ini, saat tidak tahu apa yang harusnya aku ketahui.

Knowledge is a curse!
How dare you.