Proyek Filsafat Saya

Tiga bulan terakhir ini saya sibuk menulis buku, yang boleh jadi merupakan bentuk kekecewaan saya saat mahasiswa dahulu. Waktu itu, saya menulis sebuah skripsi yang berkaitan dengan perbandingan sistem pemikiran filsafat Ibn Taymiyyah dengan Wittgenstein. Bagi yang belum mengenal Ibn Taymiyyah, saya hanya memberikan penjelasan ringkas, bahwa beliau adalah seorang ulama terkenal abad pertengahan. Pemikirannnya sebagai seorang ulama, sepandan dengan kemampuan beliau sebagai seorang aktivis, meski tindakannya tidak seberilian pemikirannya. Sebagai seorang ulama, tentu saja Ibn Taymiyyah menolak pemikiran filsafat yang berkembang saat itu, macam teori ketuhanannya Ibn Sina dan Al-Kindi. Hanya saja, cara beliau menolak adalah dengan mengkritik dasar dari pemikiran filosofis, yakni logika. Bukunya yang terkenal tentang hal tersebut adalah al-Radd ala al-Manthiqiyyin, sanggahan terhadap para logikawan.

Al-Radd, lumayan tebal, sekitar 300-an halaman dan memiliki tesis utama, bahwa prinsip logika yang digunakan para filsuf itu bermasalah. Di kampus saya dahulu, UIN, ada dua jenis buku al-Radd. Yang pertama adalah buku aslinya yang ditulis dalam bahasa Arab, dan kedua buku terjemahan dalam bahasa Inggris, oleh Wael B. Hallaq. Selain kedua buah referensi utama ini, terdapat sebuah disertasi yang secara khusus membahas pemikiran logika Ibn Taymiyyah, karya Zainun Kamal yang sekaligus menjadi dosen pembimbing saya pada saat itu. Sayang sekali, meskipun memiliki banyak kesempatan untuk mengenal lebih dekat pemikiran sang tokoh dari ahlinya langsung, tapi kemampuan saya dalam mengolah pemikiran Ibn Taymiyyah boleh dibilang tidak terlalu berhasil.

Ada beberapa hal yang saya kira menjadi batu sandungan bagi keterbatasan pemahaman ini, namun yang paling utama adalah ketidakmampuan saya untuk menguasai logika dengan baik. Tentu saja, mata kuliah logika diajarkan di UIN. Tapi mempelajari logika itu jauh berbeda dari mempelajari ilmu kalam. Logika itu sebuah seni berpikir yang butuh banyak repitisi agar kita dapat menguasainya dengan matang. Sedangkan, ilmu kalam, hanyalah pengetahuan biasa yang dapat diketahui dengan mudah, cukup dengan membaca buku-buku tertentu. Analogi yang paling pas dari penguasaan akan logika barangkali mirip dengan penguasaan akan bahasa asing, yang harus selalu dilatih setiap hari.

Ya, pihak universitas rupanya tidak mampu melacak kelemahan saya dalam bernalar. Singkat kata, baik mata kuliah logika maupun skripsi yang saya buat, keduanya sama-sama mendapat nilai A. Bagi saya sendiri, nilai tersebut bukanlah nilai yang dapat dipercaya, karena setelah saya pelajari lebih lanjut beberapa pemikiran saya mengenai perbandingan logika Ibn Taymiyyah dengan Wittgenstein, tidak berdiri diatas fondasi keilmuan yang kokoh. Pandangan saya ini terbukti, tatkala tahun lalu saya berkunjung ke tempat kerja kawan saya, Idham, di bagian psikologi UI. Saat itu, saya sebenarnya tengah membicarakan kemungkinan untuk menerbitkan skripsi saya menjadi sebuah buku. Akan tetapi, dalam sebuah perbincangan singkat dengan Bagus Takwin, yang kebetulan lewat, ternyata saya tidak bisa memberikan argumentasi yang kuat sama sekali.

Pertanyaannya sederhana, kenapa saya harus membandingkan antara pemikiran Ibn Taymiyyah dengan Wittgenstein, padahal pemikiran keduanya benar-benar berbeda. Kala itu saya memberikan jawaban bahwa kedua orang tokoh tersebut memiliki pola pikir yang sama, yakni nominalisme. Nominalisme sendiri adalah sejenis realisme, yang membuat seseorang tidak mempercayai eksistensi dari kata-kata universal. Rupanya, Takwin tidak terlalu setuju dengan pemikiran saya tersebut, meski ada beberapa pemikiran Wittgenstein yang bercorak nominalis, tapi Wittgenstein sendiri bukalah seorang nominalis, begitu menurutnya. Terus terang, saya yang pada saat itu telah 4 tahun meninggalkan bangku kuliah, gelagapan menjawab tanggapan tersebut. Dari sinilah, muncul penyesalan yang cukup dalam pada diri saya, kenapa tesis saya dapat dengan mudah dipatahkan, padahal dahulu saya cukup sukses dalam menjawab pertanyaan tersebut.

Dari peristiwa inilah, saya memutuskan untuk mendalami kembali apa yang seharusnya saya dalami enam tahun yang lalu. Beruntung, kali ini usaha saya tidak berjalan kosong. Berbeda dari masa kuliah dahulu dimana saya sangat kesulitan untuk menemukan buku-buku referensi, untuk menemukan Tractatus karya Wittgenstein pun, saya harus menjadi anggota perpustakaan Goethe Institute karena buku tersebut tidak ada di perpustakaan kampus. Ya, kawan saya itu rupanya berbaik hati memberitahu cara paling jitu dalam mengakses buku-buku gratis di internet. Jadilah sejak saat itu, internet menjadi sumber referensi saya yang paling utama.

Rupanya butuh setahun untuk dapat mewujudkan keinginan merevisi kembali pemikiran saya tentang filsafat. Di akhir tahun itu, sampai Juni tahun ini, saya bergelut dengan proyek saya bersama kawan saya yang lain, Bowo, dalam menulis sebuah buku tentang riwayat para nabi dan rasul. Tentu saja, saya menggunakan sumber-sumber yang diberitakan kawan saya tersebut sebagai referensi utama. Dan meskipun tidak terlalu berat, rupanya buku tersebut baru dapat saya selesaikan setelah hampir enam bulan meriset dan menulis. Sebenarnya pula, saya sempat menulis sebuah buku kecil mengenai sejarah singkat Filsafat Alam, yang dapat saya selesaikan dalam waktu satu setengah bulan, namun rupanya belum ada yang menandingi kerumitan yg saya alami dalam usaha come back to philosophy ini.

Untuk mempersempit pembahasan, maka saya pun memilih untuk mempelajari langsung logika modern daripada berkutat dengan logika Aristotelian. Sayangnya, saya benar-benar buta akan masalah ini. Ada memang buku-buku teks tentang logika, tapi tidak ada satupun yang mampu menjawab pertanyaan saya dengan tuntas. Tentu saja, saya bukan orang yang cerdas yang dapat dengan mudah memahami set simbol-simbol aneh. Saat melihat sebuah notasi, pikiran saya akan bertanya, kenapa ia dinamakan dengan X dan Y, padahal kita dapat menggunakan abjad A, sebagai penanda akan sebuah variabel. Lebih dari itu, saya juga bertanya, bagaimana sebuah logika dapat berkembang dari semata pembahasan akan kopula menjadi rumusan-rumusan aritmetika yang membingungkan itu.

Karena tidak mendapatkan jawaban, maka usaha saya pun beralih, dari mempelajari logika simbolik kepada pembahasan tentang Wittgenstein. Ah, tampaknya saya tidak benar-benar memahami pemikirannya. Tentu saya tahu jika dalam Tractatus ia menerapkan teori deskripsi ala Russell, tapi maksud Tractatus sendiri, saya bahkan tidak dapat mengerti. Jika Russell dan Wittgenstein menyatakan telah menolak metafisika, kenapa dalam tractatus terdapat metafisika? Cara Wittgenstein dalam menyamakan logika dengan dunia, bukankah itu bagian dari metafisika? Tapi tractatus bukan apa-apa, dalam Philosophical Investigations dengan bahasanya yang menjebak itu, saya hampir kehilangan tujuan dalam memahami pemikiran sang filsuf. Saya pun menyimpulkan bahwa terdapat bagian yang hilang dalam pemahaman saya tentang Wittgenstein, dan lebih luas lagi mengenai Filsafat Analitik.

Meskipun merupakan sebuah gerakan mainstream dalam filsafat abad keduapuluh, akan tetapi di Indonesia, Filsafat Analitik bukanlah sebuah model pemikiran yang diterima secara luas. Memang dalam beberapa buku populer tentang Filsafat Sains, macam bukunya Jujun Suriasumantri, nama Russell dan Wittgenstein tersebut beberapa kali. Demikian pula di dalam buku Kees Bartens yang berjudul Filsafat Barat Kontemporer itu, riwayat hidup dan pemikiran keduanya disebutkan dengan cukup memadai. Namun jika dibandingkan dengan pemikiran Sartre yang terkenal di dunia seni itu, nama Russell dan Wittgenstein tampak tenggelam. Satu-satunya buku yang lumayan bagus hanyalah karya Rizal Mustansyir berjudul Filsafat Analitik.

Dapat dikatakan, sejak saya menulis skripsi enam tahun yang lalu, belum ada buku yang sepandan dalam bahasa Indonesia yang dapat menggantikan karya Mustansyir tersebut. Bagi saya, hal ini jelas sebuah kekurangan yang sangat disayangkan. Bagaimana mungkin pemikiran kedua orang tersebut tidak sampai ke negara kita dengan memadai, bahkan setelah tujuh puluh tahun berlalu. Tapi mengatakan buku Filsafat Analitik sebagai karya terbaik untuk mengenal aliran filsafat tersebut, menurut saya juga salah. Terdapat beberapa kekurangan mendasar dalam buku tersebut yang tidak mampu dijelaskan oleh sang penulis. Dalam hemat saya, kemungkinan besar Mustansyir tidak memiliki bibliografi yang memadai dalam membahas perkembangan dan kelahiran Filsafat Analitik. Jelas ini hanya asumsi saya semata, toh sang penulis adalah dosen filsafat aktif di UGM, yang tentunya memiliki akses yang jauh lebih luas kepada literatur pokok tentang Wittgenstein. Atau barangkali, ada beberapa buku bagus yang mebahas masalah tersebut namun lolos dari pengamatan saya. Apapun itu, akhirnya saya memutuskan untuk mendalami lebih lanjut tentang Filsafat Analitik.

Maka sejak tiga bulan lalu, saya pun kembali bergelut dengan karya-karya utama dan sekunder tentang Russell dan Wittgenstein. Dari sanalah, satu persatu kabut yang menutupi pemikiran saya mulai hilang. Dari beberapa literatur, saya menemukan jika Russell dan Wittgenstein sangat terpengaruh oleh pemikiran Frege. Siapakah Frege? Pikir saya. Dan kenapa namanya hampir hilang dalam catatan buku-buku filsafat di Indonesia? Saya pun mencari tahu, dan mendownload salah satu bukunya yang terkenal dari internet. Begriffsschrift, judul buku tersebut. Tidak terlalu tebal, hanya delapanpuluh delapan halaman, mirip Tractatus. Tapi yang tertera dalam buku tersebut jelas sangat berbeda daripada membaca 400-an halaman Harry Potter. Inilah awal pertemuan saya dengan akar dari Filsafat Analitik. Sebuah penyelidikan yang rigor, presisi, dan memusingkan. Ia mengingatkan saya kembali akan ketidakberdayaan saya dengan logika simbolik modern. Ah, ternyata betapa bodohnya saya selama ini.

Dari Frege, pikiran saya berkelana ke Lingkaran Wina. Sebuah grup filosof yang berusaha menyatukan metode filsafat dengan sains. Nama-nama sepert Schlick, Godel, Carnap, Ayer, menyelinap di benak saya tanpa ada satupun yang saya pahami. Berteens memang membantu saya dengan artikel di bukunya itu, tapi pemikiran mereka tentang Aufbau, second order logic, sungguh saya tidak benar-benar mengerti. Namun belum tuntas rasa penasaran saya akan filsuf Austria tersebut, kembali saya menemukan nama-nama aneh seperti Quine, Putnam, Davidson, dan Kripke. Semua orang ini adalah filsuf Amerika, dan mereka begitu terpengaruh dengan Filsafat Analitik. Tapi, bagaimana caranya? Bagaiman Quine dapat mengenal pemikiran filsafat Carnap dan membawanya ke AS? Dari pertanyaan, menghasilkan pertanyaan baru hingga saya pun bertanya, darimana harus memulai seluruh sejarah filsafat yang tampak carut marut ini.

Akhirnya saya melihat sebuah petunjuk dalam pemikiran filsafat Kripke. Ya, boleh dibilang ia adalah generasi terakhir filsuf Analitik. Yang ia bahas tampak sederhana, persoalan referensi. Apa sih sebenarnya referensi itu? Ketika seseorang mengatakan Hesperus, dan seorang lagi mengucapkan Fosforus, apakah yang ia maksud itu sama? Bagi Frege, Hesperus dan Fosforus itu adalah dua makna yang berbeda, tetapi memiliki referensi yang sama. Frege menamakan makna itu sebagai Sinn, dan referensi sebagai Bedeutung. Dalam bahasa Jerman, kedua kata ini bermakna sama, tapi Frege memberikan definisi yang berbeda. Makna sebuah kata adalah bagaimana kita memahami kata tersebut, sedangkan referensinya adalah wujud yang dirujuk oleh sang kata. Dalam hal ini, referensi dari Hesperus dan Fosforus adalah sama, yakni Venus. Menurut Kripke, referensi itu bersifat rigid, getas dan tidak pernah berubah. Sekarang muncul pertanyaan, bagaimana seseorang dapat yakin jika Venus itu adalah referensi dari kedua kata sebelumnya? Tentu saja, kita dapat menjawab jika sains dapat menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan bintang sore dan pagi itu tak lain daripada Venus. Ya, sains adalah pengetahuan yang kebenarannya dapat diterima dengan meyakinkan. Namun, coba kondisi berikut, dimana kita belum tahu bahwa Hesperus dan Fosforus adalah Venus, kita bisa dengan pasti mengatakan bahwa bintang pagi adalah Hesperus, dan bintang sore adalah Fosforus. Definisi ini memulangkan kita pada pembagian Kant tentang proposisi a priori dan a posteriori. Bahkan tanpa harus ada penyelidikan ilmiah bahwa kedua bintang itu adalah planet Venus, kita dapat dengan yakin mengatakan jika Hesperus adalah bintang pagi. Dalam hal ini, kita dapat mengetahui makna sebuah proposisi tanpa harus mengetahui kebenaran referensinya. Bagi Kant sendiri, kebenaran proposisi a priori itu bersifat wajib, sedangkan kebenaran proposisi a posteriori itu bersifat mungkin. Dengan kata lain, kemampuan kita untuk mengenal makna Hesperus, jauh lebih pasti dari kemampuan kita untuk mengetahui referensinya.

Bagi sebagian orang, pemikiran seperti ini hanyalah sampah belaka. Tapi coba dengar kritik Ibn Taymiyyah atas logika. Dia menulis hal yang hampir serupa. Dalam bahasa, kita nyaris mengetahui sesuatu tanpa harus menerjemahkannya kedalam proposisi logika. Di sini, proposisi a priori dapat kita samakan dengan pengetahuan linguistik yang memberi kita kerangka berpikir pra-ilmiah. Dengan demikian, pengetahuan kita akan bahasa sebenarnya cukup mumpuni untuk memberikan kita kebenaran. Lalu, apa hubungan penemuan ini dengan penyelidikan saya tentang sejarah Filsafat Analitik? Tentu saja, semuanya kembali kepada Kant! Baik Kripke dan Frege, semua membahas dasar pemikiran Kant tentang hubungan antara proses kognisi manusia dengan cita-citanya untuk menjadikan filsafat sebagai model pengetahuan yang rigor, dan kebenaran proposisinya dapat setara dengan sains. Dari keinginan untuk menjadikan filsafat setara dengan sains, sebagaimana Kant, Filsafat Analitik kemudian berusaha mendefinisikan batas-batas dari filsafat, proposisi macam apa pengetahuan filsafat dapat diterima, dan dalam kondisi apa sebenarnya filsafat itu beroperasi. Pada titik inilah Tractatus hadir untuk memberikan batasan bagi filsafat dan kemudian tugas apa yang harus ia emban. Dapat dikatakan bila tractatus melengkapi pencapaian Kant dalam Critique of Pure Reason.

***

Tiga bulan terakhir ini, saya menulis buku yang mencerminkan kekecewaan saya selama menjadi mahasiswa filsafat. Bahwa selama empat tahun kuliah, saya tidak menguasai logika dengan memadai. Saya berpikir, hanya logikalah yang dapat mengantar pemikiran filsafat ketaraf yang jauh lebih layak. Ia dapat berfungsi sebagai kritik atas sains, sebagaimana kritik yang selama ini ia alamatkan kepada pola pikir masyarakat sehari-hari, juga agama. Dan sebagaimana telah saya sampaikan sebelumnya, ternyata logika pulalah yang menjadi hambatan saya dalam menulis buku ini. Buku yang saya dedikasikan untuk menjelaskan perkembangan Filsafat Analitik: kelahiran, masa jaya, dan kemundurannya, serta seperti apa pemikiran para filsuf kontemporer post-analitik.

Dalam arti yang lebih luas, buku yang tengah saya tulis ini juga berhubungan dengan ambisi saya yang lain, yakni hubungan antara filsafat, sains dan agama. Pengalaman Filsafat Analitik, yang telah menyadari batas-batasnya dan telah merumuskan tujuan dari sebuah penalaran filsafat, memberi saya inspirasi tentang penyelidikan-penyelidikan lebih lanjut dari garis demarkasi antara filsafat, agama, dan sains. Sampai sejauh ini saya sendiri tidak terlalu percaya dengan filsafat agama. Bagi saya, argumentasi Al-Quran sudah sangat memadai untuk membuktikan kebenaran agama dari dalam dirinya sendiri. Yang saya maksud, berikanlah wewenang kepada teks-teks agama tanpa perlu menganulirnya.

Posisi saya ini dalam banyak hal bertentangan dengan para islamisis yang berusaha mencari akar dari Islam secara ilmiah. Dalam hemat saya, pencarian tersebut tidak akan memecahkan persoalan yang sesungguhnya, bahwa ada entitas bernama Islam yang saat ini tengah berhadapan dengan realitas modern-sekuler. Pembuktian bahwa Al-Quran bukanlah wahyu Tuhan, sebagaimana dilakukan para islamisis, hanya akan membawa kita pada usaha yang kontra-produktif. Karena, semua jenis pengetahuan, entah sains maupun agama, selalu memiliki aksioma yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Selalu terdapat pra-konsepsi yang diterima begitu saja dalam setiap jenis pengetahuan tersebut, yang menjadi dasar bagi keberadaannya. Yang dibutuhkan sekarang bukanlah menolak kebenaran agama, tapi membuat jalinan yang logis dan rasional antara ketiga jenis pengetahuan tadi dalam sebuah model epistemologi yang holistik.

Barangkali terdengar ambisius. Namun jika anda menyelidiki dengan seksama karakter setiap, pengetahuan, dan menyadari kebutuhan mendesak untuk mendefinisikan Islam dalam dunia sekuler saat ini, tentu anda akan sependapat dengan saya. Kunci dari semua penyelidikan ini tentu saja adalah logika kontemporer yang telah dikembangkan oleh para filsuf analitik, serta pemahaman mendalam akan segi linguistik Al-Quran.

1 komentar:

  1. Like it! pengen rasanya berbincang2 dengan anda. siapa tahu bisa mendapat ilmu yang menarik

    BalasHapus