Kisah Seekor Ayam (1)

Aku tidak tahu, kapan tepatnya aku tinggal di ruangan pengap ini. Tubuh-tubuh berdesakkan seakan meminta kesempatan untuk bisa menjejak bumi. Tanah, yang sebenarnya hanyalah potongan-potongan bambu di belah memanjang, yang kemudian tertutupi oleh tumpukan kotoran yang silih berganti tanpa henti terus dihasilkan oleh para penghuni yang tidak tahu malu, bercampur dengan aroma pesing dan najis yang tersebar merata memenuhi udara. Barangkali hanya sedikit dari kami yang benar-benar menikmati kejemberan itu. Atau mungkin aku salah. Karena telah terbiasa menjadi makhluk paling bawah dalam rantai makanan modern, kami tidak pernah ambil pusing dengan segala kejorokan yang kami alami. Seperti chick di ruangan sebelah yang tanpa henti, siang dan malam mengeluarkan suara-suara saru yang tidak layak didengar oleh putra dan putri kami yang tinggal beberapa meter dihadapannya. Ah, mungkin kau tidak akan mengerti, betapa nasib telah memberlakukan kehidupan kami sedemikian buruk.

Perkenalkan, namaku…Entahlah. Aku tidak ingat kalau aku pernah memiliki sebuah nama. Biasanya, para pengurus hanya cukup membawa spidol menandai benda-benda bulat yang keluar dari perutku. Menimang-nimang dengan tangan mereka yang lengket seperti karet, kemudian menaruh benda-benda itu kembali di tempatnya semula. Kadang, mereka menyalakan lampu, yang bersinar memberikan kehangatan kepada para calon bayi itu. Benar-benar sebuah solusi modern. Padahal, kata kawanku, bukan begitu cara kami dahulu mengembangkan keturunan. Tubuh hangat kami telah tergantikan oleh cahaya lampu pijar yang panasnya kadang membuat malam semakin gelisah. Mungkin demi alasan efisiensi, mungkin juga, mereka takut kekurangan tenaga baru yang menghasilkan butiran-butiran emas ke kantong mereka. Tapi begitulah, semua yang kami kerjakan di sini hanyalah duduk di sebuah ruangan bersekat. Menghabiskan waktu sambil merumpi, membicarakan tetangga sebelah yang entah kenapa hilang begitu saja dari tempatnya.

Adegan yang selalu menyita perhatian kami, hanyalah tatkala ransum makanan diberikan satu persatu. Dengan sekuat tenaga kuhabiskan mekanan yang ada dihadapanku tanpa tersisa. Rasanya seperti adonan yang belum jadi. Terasa apek dan tidak mengundang selera. Tapi lambat laun, perut dan indera penciuman serta mulutmu akan terbiasa dengannya. Yah, penderitaan ini akan jauh lebih ringan untuk dijalani dengan perut yang kenyang. Dan ketika mata kami sudah mulai mengantuk, tiba-tiba pintu belakang dibuka. Tanpa kami sadari datanglah sosok asing yang langsung menyergap tubuh kami. Mendekap dengan sekuat tenaga dan melakukan perzinahan yang tidak pernah kami inginkan. Pertama kali mengalami perlakuan buruk itu, tentu saja aku memberontak. Sekuat tenaga kucoba lepas dari cengkeramannya yang kuat. Sayang sekali, aku kalah. Dan memang sepertinya aku selalu dibuat kalah. Karena itu, dan sesudahnya, aku belajar untuk dapat menerima perlakuan itu dengan lebih ikhlas. Dan aku menikmatinya.

Terus terang, aku tidak pernah tahu, siapa sebenarnya yang melakukan perbuatan keji itu. Karena si pelaku sepertinya banyak dan berbeda-beda. Terakhir kali, aku bahkan merasakan tekstur kulitnya tidak seperti ras kami pada umumnya. Ia lengket, seperti tangan-tangan yang dahulu mengambil anak-anak kami. Terus terang, aku tidak dapat mengetahui apa namanya. Yang kupahami, setiap kali kejadian itu berlalu, perutku tiba-tiba kembali membesar, dan dalam hitungan hari dan minggu, aku sudah bisa melahirkan keturunanku entah yang keberapa kalinya.

Oh, jangan kau pikir aku tidak pernah peduli dengan keturunanku. Saat pertama kali keluar, aku menjaga buah hatiku itu dengan sepenuh hati, melindungi mereka dari gangguan yang tidak diinginkan, dan bila perlu mempertahankannya hingga titik darah penghabisan. Seperti ibu lain, aku sangat protektif terhadap mereka. Meski akhirnya, dengan berat hati, tangan karet itu dapat mengambilnya dengan paksa dariku. Tentu saja aku menangis. Meski harus kuakui, bahwa mereka bukanlah anak yang kulahirkan dengan sah. Tapi, apalah arti sah di ruangan muram dan terkutuk ini? Seumur hidup kami tidak pernah mengenal lembaga pernikahan. Semuanya terjadi begitu saja, hari demi hari. Percuma kau bicara tentang norma dan etika di sini. Ah, nikmatilah hidupmu selagi bisa. Tak perlu terlalu banyak pikiran yang hanya membuatmu pusing setengah mati.

Aku tidak bercanda. Kabar terakhir yang kuterima, bahwa kami hidup untuk menunggu mati! Kisah ini baru aku ketahui lima hari yang lalu. Saat itu, penghuni di ruang paling ujung tiba-tiba berteriak minta tolong. Si tangan karet telah menangkapnya dan menyeretnya keluar dari ruangan. Kami, para ibu yang senasib, berteriak keras memohon pertolongan, agar sesuatu, atau siapapun, mau bermurah hati menolong makhluk lemah ini. Sayangnya, tidak ada yang menjawab teriakan kami. Dan begitulah, selama sehari itu, ruang paling ujung tadi tetap kosong, dan si penghuni belum pulang ketempatnya kembali. Kami semua tercekat karenanya.

Betty si gendut, yang tinggal dua bilik di sebelah kiriku, mulai membuka cerita.

“nyonya tirus itu akan berakhir hidupnya malam ini.” Sontak, kami semua menoleh kearahnya. Dari mana gerangan, ia mengetahui nasib buruk yang menimpa penghuni paling ujung ruangan ini?

“Sok tahu, kamu. Dari mana kamu bisa mengetahui ide sebodoh itu?” tuding nyonya paling putih yang tinggal di bilik sebelahnya.

“Aku tidak berbohong kok.” Jawab si Betty membela diri. “Apa kalian tidak memperhatikan, jika kinerja nyonya tirus itu semakin lama, semakin buruk saja?” suaranya terdengar lantang.

Semua penghuni ruangan saling menoleh satu sama lain. Berminggu-minggu mereka tinggal, tapi tidak ada satu pun yang menyadari pemikiran si Betty.

“Kinerja apa maksudmu gendut?” si hitam, dengan tajam menatap ruang tempat Betty berada.

“Hahaha…menurut kalian, untuk apa kalian tinggal di tempat sempit seperti ini? Menikmati makanan gratis yang disediakan kepada kalian, atau kesempatan intim yang dengan rutin mengunjungi kita selang beberapa hari? Tidakkah kalian berpikir, adakah makhluk di dunia ini yang begitu terhormat dilayani dan dipelihara setengah mati, tapi terlalu bodoh untuk bertanya, untuk apa kita diperlakukan sedemikian terhormat?” semua terdiam mendengar ceramah Betty.

“Dulu aku pernah bertanya kepada nyonya merah, yang telah mendahului nyonya tirus dua bulan yang lalu. Saat itu kalian belum ada, dan aku adalah penghuni paling yunior di ruangan ini. Nyonya merah sendiri adalah sesupuh kami. Sudah berbulan-bulan ia tinggal dan ketika waktunya hampir sampai, ia merasa bahwa nasib akan membawanya kepada kematian. Karenanya ia membisikkan sebuah rahasia kepadaku. ‘Betty, tahukah kamu kenapa kita berada di sini?’ ia bertanya dengan lirih. Aku, yang tidak mengetahui apa-apa hanya bisa geleng kepala mendengar pertanyaannya.”

“’kenapa kita diciptakan Tuhan sebagai ras terhormat?’

Ah, nyonya tua, aku benar-benar tidak mengerti apa sebenarnya yang kau maksud.

‘lihat makananmu, cara kita hidup, dan anak-anak yang kita lahirkan dan dirampas dari kita entah kenapa’. Sungguh, aku tidak mengerti maksud ucapanmu.

‘Betty, aku tahu kamu akan mengerti, selalu ada keseimbangan di dunia ini. Kalau kau merasa nyaman, ingat suatu ketika saat dirimu menyesal dengan segala yang telah diperoleh.’ Ia membisikkan kata-kata itu penuh gelora. Ah, tapi aku terlalu muda untuk dapat mengerti nasehat perempuan tua itu”.

Semua terdiam.

3 komentar:

  1. dongeng yg menyeramkan. 18+ :p

    BalasHapus
  2. Benar kisah ayam ras :)
    Salam kenal, kunjungan dipagi hari.

    BalasHapus
  3. ente kan bahkan sudah 29+ Son. :p

    Salam kenal juga PakOsu. Kunjungan malam hari.

    BalasHapus