Baudelaire, Beberapa Cuplikan

The Flowers of Evil
Entah siapa yang mulai, tapi ternyata banyak filsuf Eropa abad ke-19 bahkan 20 yang tertarik dengan saja dan syair Charles Baudelaire. Sebut saja nama Heidegger, mungkin juga Foucault, Baudelaire selalu menarik untuk dibahas oleh para filsuf Perancis dan Jerman. Tapi apa yang menarik dari lelaki kontroversial ini? Kata saya, sajaknya. Sajak-sajak Baudelaire selalu menginspirasikan kedalaman kata dan makna. Ia jujur, terlalu bahkan. Pemilihan kosa kata yang sangat variatif dan bernuansa, membuatnya, sebagaimana judul buku Nietzsche, melampaui baik dan buruk, Beyond Good and Evil. Ah Baudelaire, satu yang kutahu dari sajakmu itu, sangat tepat digunakan untuk memutuskan cinta. Lewat kata-kata ia melampaui kedengkian dan penghayatan akan diri sendiri. Betapa kata-kata, betapa sakti, mandraguna sekali.

Berikut sajak-sajak sang penyair yang saya terjemahkan dari Les Fleurs du Mal yang diterjemahkan kedalam bahasa Inggris oleh Edgar Allan Poe dan bermakna Bebunga yang Jahat, sebagai alegori atas wanita. Saudara, inilah Baudelaire!


Himne untuk si Cantik

Apakah kau turun dari langit atau muncul dari dalam jurang
oh Cantik? Bukan Dewi tapi bidadari, tatapanmu
acuh memancarkan kemurahan hati dan rasa malu
dan karenanya beberapa menyamakanmu dengan anggur.

Matamu memantulkan cahaya senja dan fajar
kau taburkan parfum laksana angin malam;
Kecupanmu adalah candu, mulutmu kendi
yg meneteskan ketakutan bagi para pendekar, semangat bagi bocah.

Entah dilahirkan oleh neraka atau diperanak bintang gemintang
Nasib bagaikan anjing kecil yg setia mengikuti langkahmu;
kau semai keberuntungan dan keputusasaan dengan sembrono
menguasai segalanya, bertanggung jawab bukan siapa.

Kau jalan diatas mayat, Cantik, tanpa cemas,
dan Horor gemetar diantara permatamu
pembunur, salah satu manik-manikmu, berdenyut
diatas perut indahmu: buatlah ia menari!

Terpesona, kumbang berkibas sekelilingmu
merenggas, bergejolak dan menangis: aku berkati obor ini!
Sang pecinta yg merana untuk kasihnya pingsan
Bagaikan sekarat memuja kuburnya.

Siapa peduli jika kau datang dari surga atau neraka,
Cantik yg mengejutkan, alami dan dahsyat,
Kecuali jika matamu, senyummu atau kakimu mengungkap
Ketakterhinggaan yg aku cinta dan tak pernah kuketahui?

Datang dari setan, datang dari Tuhan - siapa peduli,
Malaikat atau Iblis, irama, wewangian, cahaya,
asal kau menjelma - Oh ratuku satu!
di semesta yg seram ini, waktu sibuk ini?


Mimpi Aneh Seorang Lelaki

Untuk Nadar

Pernahkah kau merasa - aku pernah - rasa sakit yang kau nikmati?
Apakah mereka berkata tentangmu juga: 'betapa anehnya dia'
-aku tengah sekarat dan rasa perih yang sangat
merajam jiwaku yang tak sabar: ragu dan berhasrat,
cemas dan berharap- tak ada keinginan untuk memberontak.
Semakin dekat aku dengan akhir,
Semakin pedih siksaan dan semakin kumenerimanya;
hatiku terpuntir lepas dari dunia biasa.
Aku seperti bocah di depan panggung,
Khidmat pada tabir yg seakan ada dihadapanku.
Akhirnya, kebenaran yg dingin terungkap:
Aku telah mati dan fajar yang mengerikan
mengirimku. Akankah ini kubur?
Tabir pun terangkat, dan aku masih terus menunggu.


Kau Akan Tidur Dengan Semua Orang

Kau akan tidur dengan semua orang, kau sundal!
(sebuah penanda betapa bosan dirimu dan juga
betapa brutal kebosanan menjadikan jiwamu) untuk selalu
mengerti setiap bentuk olahraga ini,
kau tuntut perputaran harian dari....hati yang segar!
Matamu, mabuk seperti toko menjajakan barang dagangannya
atau kembang api di taman saat musim libur,
tanpa malu memanfaatkan tenaga pinjaman
dan tak pernah belajar (kau akan berkata, 'dalam kejahiliyahan')
entah hukum apa yang mengatur penampilan baik mereka.

Buta dan tak mampu merasa sakit,
penghormatan munafikku, bagaimana mungkin kau gagal
melongok kesetiap cermin yang kau lalui.
Kemilaumu kian pudar jika tidak kosong oleh kesia-siaan....
Bagaimana kau dapat berkerenyit pada seluruh
tipu daya yang kau tahu dan kau lakukan.
Saat Waktu, menunjuk tipuan terhebat,
menyelamatkan diri darimu, Ratu Dosaku
- darimu, jahanam! - untuk memelihara kejeniusan?
O, gengsi kotor....aib yang luhur!

 Alegori
Itulah wanita cantik, berbusana mewah,
rambut panjangnya menyapu cawan
arak sundal dan lenguhan keras berahi
telah menodai kulitnya yg seputih pualam.
Dia abaikan Susila dan bercumbu dengan Maut,
raksasa yg terluka bila tidak tunduk dan rebah,
dan sekarang cakar mereka tidak takut menistai
secuil keagungan dari daging yg membanggakan ini.
Jalan semerbak, gundik tengkurap,
ia sembah kenikmatan dengan segala bakti
lalu memanggil ras lelaki kedalam pelukannya
dan memperbudak mereka dengan binar hangat matanya.
Gadis yang mandul, sebuah perintah
pada dunia lalu berlakulah yang ia ketahui:
keindahan tubuh adalah anugerah terhebat
yang akan membuat sesal seluruh orang bejat.
Apalah penyucian diri, apalah neraka
baginya? Ketika malam memeluk
Kedua matanya akan menatap wajah sang Maut
tanpa benci, tanpa salah - seperti bayi yang baru lahir.

***

Baudelaire adalah sosok penyair Bohemian yang hidup layaknya penyair pada masanya, tidak memiliki pekerjaan yang jelas, familiar dengan dunia malam, berhubungan dengan para PSK dan mengabadikan pandangan dan pengalaman pribadinya dalam berbagai sajak yang kadang vulgar, sedikit menyerempet, sinis, atau malah mistis. Dalam Baudelaire nafsu dan moral menyatu. Ia meninggal pada 31 Agustus 1867.