Hitam

Aku capai, aku lelah. Ingin kututup mata ini, menghempaskan seluruh beban yang tertanam dalam benak jauh keluar angan-angan mimpi. Terbuang dalam kesendirian tanpa konteks, tanpa sejarah, seakan sebuah anakronisme yang dapat diabaikan begitu saja. Ah, lihatlah aku! Bocah kecil yang hilang dalam permainan nakalnya. Mengembara di ruang  tanpa ada, waktu tanpa realitas, hirau dia dunia, dan sibuk dengan serpihan-serpihan keingintahuannya yang tinggi.

Aku hilang bersama putaran waktu yang terbuang, beku, lalu mati. Mendingin dia, menjadikan umurku berhibernasi lalu meluncur melewati lubang cacing dan hinggap di masa bukan masa. Cerita tanpa plot dan fragmen-fragmen yang tak logis. Saling berhubungan, menjalin, tapi tanpa linearitas. Akibat tanpa sebab, ada tanpa pengada, pelarian tanpa konsekuensi. Adakah?

Aku capai, aku lelah. Ingin kutidur 300 tahun. bukan apa-apa. Kuharap ada yang menungguku di sana. Saat kesepian menyelimutiku di sini, memejan, menusuk-nusuk perih dalam cairan otakku yang bodoh. Melihat dunia seperti mimpi dan saat kulihat diriku, mimpi buruk.  Tanpa nalar, kuharap tanpanya aku ada. Dan tumpukkan kata yang memapar jiwaku, mereka tiada. Saat ada yang berbisik: “hilanglah, maka hilanglah.” Sekuntum mawar yang jatuh patah terinjak. Hitam. Oh, akankah keindahan itu kelam? Sekelam surat ini yang ingin kutuliskan namamu di atasnya.

Aku capai, aku lelah. Ingin kutenggelam dalam mimpi sebentar. Dan saat kubangun, kuingin kau ada di sisiku, selamanya.