Richard Stallman, GNU/Linux dan Sumpah Pemuda


Beberapa minggu yang lalu, dari sebuah milis saya mendapat informasi mengenai kedatangan pendiri dari GNU (GNU Not Unix) Richard M. Stallman ke Indonesia. Berhubung acara tersebut gratis dan tidak mensyaratkan hal lain, selain mencantumkan nama lembaga yang diwakilkan, saya pun mendaftarkan diri untuk menghadiri acara tersebut. Sebagai basa-basi administrasi, saya 'meminjam' sebentar nama lembaga tempat dahulu saya belajar diskusi. Untungnya juga tidak ada keterangan tambahan sehingga email pendaftaran yang saya kirimkan disetujui oleh panitia. Berarti tinggal hadir tepat waktu di venue.

Nyatanya, ketika hari H tiba, saya datang terlambat. Penyebabnya, ketika memasuki area Menteng menjelang Bundaran HI, tiba-tiba kompas di kepala saya sedikit terganggu. Terpaksa harus putar-putar dahulu selama kurang lebih 15 menit hanya untuk masuk ke jalan MH. Thamrin ke gedung BPPT. Untungnya juga masih dapat hadir, meskipun telat hampir satu jam. Di sanalah, untuk pertama kalinya saya bisa melihat langsung dedengkot Free Software Movement (Gerakan Perangkat Lunak Bebas) itu.

Nama Richard Stallman bagi kalangan awam memang tidak begitu menarik untuk disimak daripada nama lain yang begitu terkenal dari dunia IT macam Bill Gate, yang begitu terkenal sebagai pendiri Microsoft dan milyarder kelas dunia. Bahkan, bagi mereka yang pernah mendengar kata Linux, nama orang ini masih kalah pamor dibandingkan Linus Trovalds, yang darinyalah kernel Linux dibangun. Tapi bagi peminat dan pengguna perangkat lunak bebas Richard Stallman adalah dewa.

Bagi saya sendiri, setelah akrab dengan GNU/Linux, Stallman termasuk diantara orang-orang yang paling inspiratif. Sama seperti duo pendiri Google, Sergey Brin dan Larry Page, atau sang penyelamat Apple, Steve Jobs serta yang sedikit ngepop tapi masih tenggelam dalam alam bawah sadar saya, Mark Zuckerberg, pendiri Facebook. Bisa dibilang, merekalah orang-orang yang mampu memberi warna tersendiri dalam peradaban dunia.

Ambil contoh Google. Bermula dari sebuah perusahaan kecil hasil joint dua mahasiswa komputer, pencapaian Google benar-benar spektakuler. Ia berubah menjadi perusahaan kelas dunia dan menempati ranking pertama sebagai perusahaan terbaik dunia fersi Fortune 100. Pun, produk-produk utama mereka disamping search engine macam Gmail, Google Earth, Androids, Google Chrome OS, benar-benar sangat imajinatif dan user friendly. Dan semuanya mereka hadirkan dengan cost yang sangat rendah bahkan gratis.

Adapun Steve Jobs yang dahulu pernah didepak keluar dari Apple, justru hadir sebagai sosok penyelamat perusahaan, melalui terobosannya lewat Ipod, Iphone, dan Macbook Air. Untuk urusan software para pengguna Macbook tentunya akan berbangga dengan Mac Os X mereka dibanding Windows Vista yang boros resource itu. Zuckerberg? Ah, pasti tiada hari yang anda lewatkan tanpa membuka Facebook bukan. Lalu apa sebenarnya yang saya kagumi dari Stallman?

Membandingkan Stallman dengan konglomerasi Gates dan kekayaan empat orang di atas, sungguh sebuah kekeliruan. Maksud saya, baik Stallman, Gates, duo Google, Jobs dan Zuckerberg sama-sama dilahirkan oleh peradaban Barat yang Kapitalis. Dalam dunia ini, keberhasilan seseorang tentu saja dinilai dengan modal. Tapi apa yang dilakukan oleh Stallman dengan GNU-nya benar-benar berbeda. Alih-alih membangun sebuah korporasi yang menguntungkan, ia justru membangun asas solidaritas dan komunitas yang menjunjung tinggi kebebasan dalam, menggunakan, merubah dan mendistribusikan sebuah perangkat lunak.

Perangkat lunak saat ini yang didominasi oleh Microsoft Windows sebenarnya merupakan jenis perangkat lunak proprietary (baca: tertutup). Pengguna perangkat lunak ini, tidak memiliki kebebasan untuk merubah dan mendistribusikan software yang mereka beli, karena yang mereka miliki sebenarnya hanyalah hak untuk menggunakan saja bukan keseluruhan software-nya. Berbeda dengan perangkat lunak terbuka, yang ketika kita membeli perangkat lunak tadi (bahkan bisa jadi gratis) si pengguna berhak melakukan apa saja atas software yang mereka miliki, termasuk didalamnya mendistribusikan dan membagi-bagikan secara gratis.

Sebagai seorang idealis, Stallman memandang bahwa penggunaan lisensi tertutup pada software proprietary sebenarnya merupakan tindakan yang jahat, evil. Dia berargumentasi, apa yang mereka sebut sebagai software proprietary tak lain daripada pengembangan software terdahulu yang sebenarnya telah ada. Dengan demikian, apa yang mereka kerjakan tak lebih dari melengkapi kekurangan software tadi daripada membuat yang baru. Dengan kata lain, perangkat lunak sebenarnya hasil jerih payah ribuan orang yang nilainya terlalu rendah untuk diukur dengan komersialisasi. Lalu bagaiman seharusnya industri perangkat lunak dijalankan, dari mana misalnya sang programmer mendapatkan penghasilan mereka?

Menurut Stallman, industri software mendapatkan pemasukan lewat dua cara. Pertama, melalui hasil penjualan software yang mereka produksi, kedua, lewat servis dan customisasi software tersebut sesuai pesanan para klien. Faktanya, pemasukan terbesar produsen software (sekitar 60% - 70%) justru berasal dari layanan dan customisasi tadi. Dan bagi Stallman melalui cara inilah justru industri perangkat lunak berkembang.

Dengan sebuah software yang benar-benar terbuka, mau tidak mau masyarakat luas dapat berpartisipasi dalam mengembangkan software tadi sehingga menumbuhkan sense of belonging yang tinggi di antara mereka yang pada akhirnya mampu menambal kekurangan yang kerap terjadi pada perangkat lunak tertutup, seperti kahadiran crack dan malaciuous thread.  “tidak ada software yang sempurna” katanya, “untuk itu kenapa kita tidak bergotong-royong untuk membangun bersama, daripada hanya memuaskan ego semata” protes Stallman.

Solusi yang diberikan Stallman mengenai pelayanan dan customisasi dalam industri software sebenarnya merupakan langkah adaptif dalam menghadapi tantangan dunia digital. Hal serupa juga dialami oleh industri musik dan film. Ketika proses copy-mencopy menjadi lumrah dan produk yang dihasilkan sepenuhnya digital, batas antara hak milik dan hak cipta menjadi kabur. Beberapa mensiasati dengan melakukan copy protection, lainnya malah merelakan hasil karya mereka ke pasar dan meraup untung dari live performance dan merchandise. Satu yang harus ditiru dari fenomena ini adalah berkembangnya komunitas-komunitas seaspirasi yang memberikan warna sekaligus sumber pemasukan bagi industri kreatif. Istilah marketingnya, loyalitas pelanggan. Dan itulah yang diharapkan oleh Stallman dengan Gerakan Perangkat Lunak Bebas-nya.

***

Pagi sebelum berangkat, saya menyaksikan di televisi laporan dari sejumlah tempat akan peringatan Sumpah Pemuda yang jatuh pada hari itu. Dari segi isi, memang tidak ada kaitan antara kredo para pemuda pribumi Hindia Belanda akan tanah air, bahasa dan bangsa yang satu dengan definisi para penggiat Free Software Movement. Namun dari segi semangat, apa yang mereka suarakan merupakan sebuah idealisasi dari keinginan yang mendalam.

Pada Sumpah Pemuda politik identitaslah yang mengemuka. Di sini, kata Indonesia dirumuskan melalui tiga butir pokok yang mereka ikrarkan. Adapun, FSM meletakkan politik moral sebagai kelanjutan politik identitas. Bahwa apa yang mereka perjuangkan melalui gerakan tersebut tak lain dari sebuah sintesis akan kebebasan individu dan tanggung jawab sosial. Filosofinya mengkaitkan kata 'kebebasan untuk' bukan 'kebebasan dari'.

Perjuangan bangsa ini dari penjajahan, bisa diartikan sebagai 'kebebasan dari', dan itu merupakan jenis kebebasan pertama yang kita kenal. Seiring dengan perubahan jaman, kata kebebasan tidak bisa terus menerus diartikan dalam bentuk negativitas. Kebebasan membutuhkan kreativitas dan positivitas, untuk itulah muncul istilah 'kebebasan untuk'. Yakni sebuah praxis, ikhtiar untuk membangun peradaban yang lebih solid dan bertanggung jawab. Dan dalam titik tertentu, demokrasi.

Selamat datang di masyarakat post-kapitalis.

Untuk Sebuah Nama (3)

Butuh beberapa hari saja bagi si pria tanpa nama itu untuk bisa menyelesaikan dua bab pertama novel yang ia kerjakan. Sebenarnya, ada satu bab yang khusus ia sediakan untuk menggambarkan karakter dan kepribadian si gadis berjilbab ungu itu. Tapi ide untuk menuliskan hal tersebut tampaknya masih ia tangguhkan. Ia memilih menyelesaikan terlebih dahulu bab ketiga novelnya yang berjudul “Surat dari Langit”.

“kupikir surat dari langit merupakan titik tolak dari kegelisahan sang tokoh utama, dan keinginannya benar-benar mengutarakan cintanya pada sang gadis. Hanya, aku enggan untuk mengungkapkan namaku di dalam cerita tersebut.”

Baginya nama hanya akan membawa pikiran pembaca kepada seorang tokoh. Dan tokoh tak lebih dari sebuah karakter yang terpenjara dalam dunia buku. Ia sendiri lebih senang membiarkan si tokoh ini keluar masuk di antara realitas naskah dan realitas dirinya, saling jalin menjalin menciptakan sebuah model kehidupan yang berbeda tapi jauh lebih dekat dan intim. Satu-satunya yang membuat dia gelisah adalah kenyataan apakah novel yang ia tulis ini sampai kepada tujuan dari segala tindakannya itu. Apakah si perempuan berjilbab ungu akan mengerti bahwa ia merupakan subjek sekaligus objek yang tumbuh dalam cerita ini.

“Aku juga tidak terlalu mengerti. Barangkali aku juga subjek sekaligus objek dalam cerita ini juga”

Dan perasaan yang sesungguhnya dari cinta yang mulai tumbuh dan bersemi di dalam dirinya memaksanya untuk kembali membuka pikirannya akan diri sang perempuan. Yang dia tahu, perempuan berjilbab ungu itu seharusnya lembut dan indah. Ini juga bukan omong kosong belaka. Ia sudah mencoba mengartikan namanya yang secara unik terdiri dari campuran khas nama berbahasa Arab dan Indonesia. Meskipun dari sudut gramatikanya banyak sekali kesalahan.

“memang begitu orang Indonesia, mereka selalu membuat hukum tersendiri tentang sebuah nama”, ia bahkan ingat bahwa nama keluarga yang ia miliki sebenarnya juga merupakan campuran dari nama kedua orang tuanya. “di sini, nama bukan doa. Seperti yang orang-orang Arab lakukan dalam memberi nama anak-anak mereka 'dengan yang terpuji' atau 'bermartabat tinggi'. Kita justru lebih senang mengartikan nama sebagai sebuah monumen.” bahwa dahulu kala, pernah ada seorang laki-laki yang jatuh cinta kepada seorang perempuan. Mereka kemudian memadu kasih dan ingin mengabadikan kisah cinta mereka kedalam sebuah monumen yang hidup.

Dan sebagaimana monumen hidup lainnya, novel yang tengah ia tulis ini merupakan perpaduan unik antara hidup dan keabadian. Dia hidup karena subjek tidak terpenjara di dalam naskah, dan dia abadi, karena memang begitulah sebuah naskah dibuat.

“kring...kring...kring...”

rupanya itu adalah telepon dari dokter Burhan. Mitra kerjanya itu mengabarkan bahwa si gadis berjilbab ungu telah mengunjunginya dan dia juga telah menyerahkan draft novel tersebut kepadanya.

“Dia terkejut saat membaca kisah pertama novelmu. Seandainya saat itu kamu ada di sini barangkali kamu akan tertawa, menyaksikan raut wajahnya yang beberapa kali nyaris berganti rupa. Dari wajah seorang gadis yang sangat lugu, kemudian mulai curiga, penasaran, kaget dan bertanya lagi kepada saya 'lalu siapa dok, gerangan orang tersebut?'”

si pria tanpa nama hanya tersenyum tipis. Ia lalu berterima kasih kepada sang dokter yang berkenan memberikan naskah tersebut kepada sang perempuan, dan berjanji akan memberikan satu eksemplar novelnya apabila cerita tersebut selesai dicetak.

“ah, sekarang apa yang akan aku kerjakan?”


***

Sebuah akun email baru saja terbuka. Di dalamnya tertera surat-surat yang masuk ke dalam inbox akun tersebut. Sebagian besar berasal dari akun Facebook yang terforward secara otomatis. Tidak ada yang menarik dari surat-surat elektronik tersebut. Hanya ada ringkasan komentar tentang status yang tersandang di dinding halaman muka Facebook, dan semuanya juga telah terbaca. Urutan berikutnya adalah email dari perusahaan, isinya mengenai tetek bengek pencapaian sales, revisi target dan sebuah permintaan ukuran baju dari setiap pegawai untuk acara outing tahun ini. Tidak ada yang menarik, lagi pula pekerjaan kantor bisa ditunda. Urutan terakhir baru sebuah email pribadi. Kursor komputer itu mengklik kalimat ber-hyperlink, dan terbukalah sebuah surat.

Assalamualaikum,

Mungkin kamu sudah menerima draft novelet saya dari dr. Burhan, saya minta maaf karena tidak bisa menyerahkannya langsung kepada kamu. Sebenarnya, maksud saya mengirimkan naskah tersebut adalah ingin meminta pendapat dan masukan dari kamu seputar novelet tersebut.

Saya akan sangat bersuka cita jika kamu mau melakukan hal tersebut.

Wassalam.

Beberapa saat diam, dan kursor tadi bergerak kembali mengklik kotak bertuliskan reply di bagian bawah badan surat. Sebuah form kosong penulisan surat baru terbuka, dan mulailah bermunculan kata-kata baru di atas form kosong tadi.

Waalaikum salam,

saya pikir siapa yang menulis kertas-kertas tadi, ternyata kamu toh mas.. bagaimana keadaan sekarang. Oh ya.. saya baru sedikit membaca novelet kamu. Nanti kalau ada waktu akan saya baca sampai habis.

Dahulu, saya punya teman sekos yang pandai menulis. Sayang aku lupa namanya dan aku juga lupa membeli novelnya. Padahal sudah aku cari di Facebook tapi tidak ketemu. Untuk itu saya ingin menghargai kawan saya yang mau menulis novel termasuk mas.

Oke nanti di sambung lagi

“your message has been send” sebuah tanda pesan terkirim muncul di atas layar, dan beberapa detik kemudian layar komputer tersebut mati.