Why People Having Sex After Funeral?

Semalam, salah seorang nenek saya meninggal dunia. Umurnya 68 tahun dan meninggal akibat sindroma Parkinson yang telah lama diderita. Pagi hari, seluruh anggota keluarga pergi melayat ke rumah duka. Saya yang paling akhir berangkat, dan masih beruntung sempat menshalatkan jenazah beliau, sebelum bersamasama mengantar ke tempat pemakaman umum terdekat. Tepatnya TPU Malaka di Pondok Kelapa. Suasana mendung dan jalan lumayan becek. Dua puluh menit dari rumah duka kami sampai di kompleks pemakaman tersebut dan grimis masih turun.

Rupanya, senin siang ini, ada tiga jenazah lain yang bersamaan waktu penguburannya. Dua tenda terpasang di sebelah Selatan dari liang lahat nenek saya dan dua makam sebelah Barat, juga ada satu jenazah yang akan dikuburkan. Proses pemakaman lancar. Tiga orang anak si almarhumah turun ke dalam liang lahat yang sempit itu, kemudian mereka bertiga mulai menanamkan jasad ibu mereka dan melepas seluruh ikatan kain kafan. Setelah menempelkan pipi si mayat ke tanah, dan mengganjal tubuhnya dengan gumpalan tanah sehingga posisi tubuh almarhumah berbaring miring dengan bahu kiri berada di bagian atas. Setelah dianggap pas disertai instruksi dari juru makam, maka posisi jenazah tadi ditingkapi oleh papan yang memiring membentuk ruang kecil segitiga sikusiku.

Usai ditanamkan, sejumlah kuli pacul menguruk kembali tanah liang lahat tadi dan menimbunya hingga rata oleh tanah. Sekarang giliran berdoa. Awalnya paman saya menunjuk saya untuk memimpin doa, tapi karena pakaian saya full jacket dan tidak begitu pantas, maka saya persilahkan adik saya yang saat itu berpakaian lebih rapih yang tampil untuk berdoa. Dan mulailah kami berdoa. Dimulai dengan membaca surat al-Fatihah, shalawat, dan diakhiri dengan doa penguburan. Semuanya lancar, dan pemakaman pun ditutup oleh pidato singkat dari koordinator pemakaman ini.

***

Sekedar informasi, sebelum meninggal, saya ingat keluarga nenek saya ini mengikuti sebuah yayasan kematian yang fungsinya apabila ada anggotanya yang meninggal, semua prosesi pemakaman akan diurus oleh yayasan tersebut. Mulai dari pemandian jenazah, pengafanan, penshalatan, hingga penguburan semuanya sudah taken for granted. Maka demikian juga prosesi pemakaman pada siang hari ini, semua dikoordinisir oleh pengurus yayasan.

Terus terang, baru kali ini saya melihat langsung proses penguburan dari jarak dekat. Dan baru kali ini pula saya menyadari betapa minimnya pengetahuan saya mengenai cara menguburkan jenazah. Mulai dari administrasi, ritualritual, hingga penanaman mayat. Sebelumnya, saya hanya tahu iringiringan pembawa jenazah yang ngebut dan memecah arus lalulintas sebegitu hebohnya. Atau pelajaran fiqh tentang itu semua yang sudah sedikit yang masih saya ingat, kecuali cara shalat Janazah karena sering dipraktekkan. Mengenai bagaimana memandikan atau mengafani juga menguburkan, koodinator yayasan kematian saya kira jauh lebih fasih daripada saya mengenai soal ini.

Apa saya salah? Bagi mereka yang mengenal dekat agama Islam, tentu mafhum bahwa ketiadaan kelas pendeta dalam agama ini, menjadikan setiap anggota ummat bertanggungjawab terhadap agamanya. Dengan kata lain, setiap ummat harus mampu menjadi pemimpin dalam prosesi keagamaan. Entah itu dalam shalat, khutbah Jumat atau dalam peristiwa kematian seperti ini. Itu idealnya. Sayang sekali, ketrampilan umum ini mulai terkikis ketika pola kehidupan kita menjadi terspesialisasi. Karena ada yang bertanggungjawab terhadap keuangan dan pemerintahan, maka demikian pula dengan urusan keagamaan. Maka mulailah orang menunjuk individu tertentu agar tampil sebagai pemimpin agama yang dalam banyak hal posisinya malah menyerupai pendeta.

Mungkin karena itu pula keluarga almarhumah nenek saya menunjuk keluarga kami untuk memimpin doa. Alasannya sederhana, karena kami bertiga samasama lulusan pesantren. Mereka tidak mau tahu, kalau yang saya pelajari lebih menjurus persoalan intelektual semata, mengenai ideologi, perdebatan mazhab-mazhab fiqh atau pemikiran-pemikiran para ulama. Yang mereka pahami, agama adalah praktek. Membaca al-Quran secara literal, shalat jamaah, zikir bersama, dan semua urusan kematian. Itu saja, dan hanya dalam bidangbidang itu saja pendapat kaum pesantren didengar. Dan bagi mereka yang memiliki insitng bisnis yang tinggi, halhal seperti itu kemudian menjadi sebuah profesi. Maka bermunculanlah lembagalembaga kematian, atau juga lembagalembaga yang menyediakan para da'i muda untuk pengajian dan khotbah Jumat yang semuanya bertindak laksana profesional. Namanya juga profesional, tentu ada tarifnya dong. Apakah fenomena ini bisa disebut sebagai sekularisasi?

Seculum, zaman, adalah anak sah dari modernitas. Modernitas adalah anak sah dari rasionalits. Isinya, pembagian tugas secara logis dan spesialisasi. Ketika tugas keagamaan terspesialisasikan dengan cermat dari tugastugas non agama, maka sejatinya sekularisasi telah dijalankan. Makanya saya tidak mengerti ceramahceramah para khatib di setiap shalat Jumat yang begitu menentang sekularisasi, padahal titel mereka adalah khatib profesional?! Apa dengan begitu kita meniadakan lembagalembaga tersebut? Tentu saja tidak. Di satu sisi, ummat tidak mau ambil pusing dengan persoalan agama. Toh, mereka sudah capai mencari nafkah. Di sisi lain, kita membutuhkan institusi ini. Apa ada yang bisa merumuskan agama tanpa pendeta di zaman modern sekarang ini?

***

Seusai pemakaman, saya dan adik balik lagi ke rumah. Ditengah perjalanan, tibatiba saya teringat sebuah tag dalam sebuah film yang sudah tidak saya ingat lagi: "Why people havings sex after funeral?" Dalam hati saya tertawa mendengar ungkapan tersebut. Pertama, karena secara faktual saya belum pernah melakukannya, dan kedua, karena secara logis saya telah berada dalam situasi tersebut: setelah pemakaman, after funeral. Saya jadi bertanyatanya, apa mungkin intensitas emosi mendorong orang berbuat hal tersebut. Atau mungkin tindakan ini dihasilkan oleh sebuah gen purba yang mendorong kita melakukan seks setelah pemakaman. Alasannya rasional. Ini hanya soal supply and demand. ketika ada anggota keluarga yang meninggal dunia, tentu saja kebutuhan tenaga kerja untuk menggarap lahan dan mencari makanan meningkat. Makanya mereka melakukan prokreasi untuk menghasilkan tenaga kerja baru. Tentu saja, saat itu seks selalu dipahami sebagai prokreasi, tidak seperti sekarang yang hanya rekreasi saja. Tapi karena saya tidak dapat menunjukkan adanya partner seks yang legal, tentu saja saya tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut dengan presisi. Karena pusing, malah beli sebungkus nasi Padang dan makan sepuasnya sampai kenyang.

Hmm... defend mechanism? Proyeksi emosi? atau filosofi Timur: setelah kematian muncullah kelahiran? Siklus tanpa akhir dari daur kehidupan? Atau, mati satu tumbuh seribu? Maybe, those it why people having sex after funeral. Somebody help me?

10 komentar:

  1. Sorry, can't help you. :D

    *tumben, notes di fb ga pake tagging. :D *

    BalasHapus
  2. *AArggghhh ... lupa!*


    Turut berduka cita, ya ....

    BalasHapus
  3. klo defend mechanism, jelas enggak dweh. mo defend dr apa lagi...

    proyeksi emosi, lebih cucok tuh. karena dirimyu belom py partner yg sah, makanya beli nasi padang trus makan sepuasnya sampek kenyang.
    gimana rasanya?

    yaaa...itulah jawabannya ^o^

    [btw, turut berduka cita. allahummaghfirlaha warhamha wa'aafiiha wa'fu anha...]

    BalasHapus
  4. @ Mona, iya, biar lebih aktif saja berkelana di Fb. Thank you.

    @ Dewi Yuhana, Proyeksi itu kan termasuk kedalam defend mechanism. Kalau tidak salah, ia termasuk level kedua. Sebenarnya yang saya maksud bukan proyeksi pada diri saya. Melainkan proyeksi kesedihan pada kata people dalam statement "why people having sex after funeral?" Dan karena yang komentar di sini, single semua, saya kira misteri tersebut masih belum terungkap. :D

    Thank you.

    BalasHapus
  5. wah, saya malah baru dengar ungkapan ini sekarang. padahal, saya sudah seringkali mengikuti ritual2 pemakaman seperti itu. namun, sama sekali tak pernah masuk dalam benak saya ttg ungkapan2 itu. bisa jadi ini keawaman saya atau juga pengaruh kultur masyarakat tempat saya dibesarkan yang nyaris tak pernah berpikir ke hal2 seperti itu. salam kenal mas himawan, postingannya reflektif dan mencerahkan.

    BalasHapus
  6. Untuk mengetahuinya hal pertama yg harus dilakukan adalah segera mencari partner legal :)

    some post-funeral romps are “diversions” from dealing with death. Menikmati surga dunia sebelum ajal menjemput kali...

    BalasHapus
  7. secara kebetulan, saya juga baru saja menghadapi prosesi kematian tetangga. meski islam tidak mengenal sistem kependetaan, tapi kultur masyarakat kita mengharuskan ada pemimpin agama (baca: ritual) yg selalu dipercaya dan digunakan pada waktunya. dari proses jalan hidup yg panjang, akhirnya saya "diposisikan" pada tempat itu. sehingga, semua ritual keagamaan di masyarakat yg dulu tidak pernah kita pelajari di pondok, mau tidak mau harus dipelajari.

    sex after funeral...? hmmm... baru dengar tuh... :)

    btw, turut berduka cita ya...

    BalasHapus
  8. terimakasih semua. Yah, sekali lagi saya masih belum menemukan dalam film mana istilah itu muncul. Tapi kalau mencoba googling, sepertinya memang kegiatan tersebut murni budaya Barat. Dan entah kenapa tibatiba muncul begitu saja dalam otak saya. :D

    @ Pak sawali, salam kenal juga. eh, bukankah sudah pernah berkunjung kemari sebelumnya.

    @ Hendri, it's my priority but not in top right now. Ente kan sudah menikah, so pasti lebih tahu daripada saya bukan. :)

    @ uda Vizon, ini sebenarnya paradigma semata. Entah pada akhirnya pola keberagamaan kita menganut sistem oligarki atau representatif, semuanya akan berpulang kepada kekhasan setiap daerah. Tapi sejujurnya, bila kita cermati prinsip kekhasan Islam, tentu itu menjadi sebuah tantangan bagi kita dalam mengaktualisasikan agama saat ini.

    BalasHapus
  9. bos, akan semakin indah kala dekat Tuhan, sangat sedikit yang kita tau tentang Tuhan, tidak cukup hanya dengan rasa, kita tidak akan benar-benar mengenal-Nya tanpa benar-benar mengenal tuntunan-Nya.

    BalasHapus
  10. Naluri untuk meneruskan keturunan/generasi kali. Jadi ada kematian dan ada kelahiran.

    BalasHapus