What If All About This Was Wrong!!

Ada yang menarik dari ungkapan what if dalam bahasa Inggris. Pertama ia mengandaikan sebuah penalaran logis yang dibenturkan dengan sebuah kenyataan faktual. Kata what sendiri mencerap maknanya dari faktualitas, sebuah kenyataan yang kita alami seharihari, ketika ditambahkan dengan kata if, ia mengandaikan sebuah kemungkinan yang sangat tidak terbatas, sebuah pemikiran logis. Dalam bahasa Indonesia, bisa diterjemahkan dengan Bagaimana jika. "Bagaimana jika hujan belum juga reda", "bagaimana jika kereta belum juga datang", dst. Yang lebih menarik, rangkaian kedua anak kata ini bisa diasosiasikan dengan pemikiran logis. Dalam dua kalimat di atas, kita dapat mengandaikan bahwa hujan itu situasi logis, sama seperti reda yang merupakan situasi logis pula dan bukan sebuah situasi faktual. Alhasil, kata what if akan memicu kreatifitas yang sangat tinggi dari seseorang, dan merupakan proses abstraksi yang sangat penting bagi kegiatan pemikiran dan pelamunan.

Basis


Meskipun penalaran what if memiliki kreatifitas yang tinggi, tapi ia akan segera berakhir tatkala berhadapan dengan faktualitas sesungguhnya. Persis seperti yang ditulis oleh Bertrand Russell, fakta dapat menolak logika, tapi logika tidak dapat menolak fakta. Fakta di sini, adalah realitas yang sesungguhnya yang berada di luar kepala kita. Oleh Wittgenstein itu dijabarkan sebagai dunia, das welt, sesuatu yang bukan berada di atas kendali akal manusia. Dalam Tractatus, dunia bukanlah bagian dari sebuah struktur logis karena sifatnya yang, merujuk kepada Sonny: penuh patahan dan kejutan. Lagi memang, siapa sih yang bisa meramalkan hidup kecuali Tuhan!

Sebelum era positivisme logis Russell dan Wittgenstein, orang telah lebih dahulu mengenal Descartes. Filsuf Prancis ini terkenal dengan paham dualitasnya antara tubuh dan pikiran. Meskipun demikian, ketika dihadapkan dengan sebuah pertanyaan, mana yang paling nyata, tubuh ataukah pikiran. Descartes dengan keraguan metodiknya akhirnya lebih memilih bahwa pikiran itu jauh lebih nyata daripada tubuh. (Belakangan saya ketahui dari buku Seife "Sejarah Angka Nol" bahwa ternyata Descartes tidak sepenuhnya total dalam keraguannya. Ia memilih pikiran lebih karena ia seorang Katholik, dan metodenya itu jauh lebih dekat dengan metode St. Agustinus. Lihat, betapa agama sangat berpengaruh terhadap pemikiran filosofis seseorang). Alasan utama, kenapa Descartes memilih pikiran karena secara logis ia dapat membuktikan bahwa hanya pikiran saja yang benarbenar nyata di luar itu tidak. Makanya bagi Descartes, berlaku faham hanya yang logis saja yang nyata, sedang yang tidak logis tidaklah nyata. Dan lebih dikenal sebagai faham idealisme.

Bila kita membandingkan pemikiran Descartes dengan positivisme logis Russell dan Wittgenstein, akan kita dapati sebuah perbedan sudut pandang dalam memandang baik realitas logis dan realitas faktual, padahal sebenarnya tidak. Struktur logis Kata what if bagi Descartes tidak serta merta tertolak ketika dilikuidasi oleh struktur faktual dunia. Dalam kalimat, "bagaimana jika hujan belum juga reda" akan selalu benar karena ia adalah sebuah kalimat yang logis. Kita mengenal situasi ini sebagai kebenaran logis dan kebenaran faktual. Kebenaran logis terletak pada kebenaran struktur katakata sedangkan kebenaran faktual terletak pada kesesuaian sebuah pernyataan dengan keadaan faktual. Jadi memang terdapat dualitas realitas, realitas akali dan realitas jasmani. Lalu, apakah keduanya bisa menyatu?

Adalah Baudrillard yang mengajukan teori menganai simulacrum, ruang simulasi. Dalam masyarakat pra modern, selalu terdapat jarak antara pikiran dengan kenyataan. Seiring perkembangan teknologi, jarak keduanya mulai memudar. Hubungan antara dua manusia yang terpisahkan jarak bisa dihilangkan lewat teknologi komunikasi, baik lewat telpon maupun internet. Kedua media ini adalah sebuah realitas antara yang menghubungkan sebuah realitas dengan realitas yang lain. Tatkala kerumitan sebuah realitas antara menyamai realitas sebenarnya, maka dimulailah sebuah era baru dalam cara manusia memandang kenyataan. Sama seperti matematika yang mampu mensimulasi pergerakan alam semesta, atau software modelling semacam Autodesk Maya yang mampu meniru gerak fisik di alam nyata, realitas yang sesungguhnya tidak lagi penting. Kita cukup menguasai realitas antara itu maka kita telah menguasai realitas sesungguhnya. Dan inilah yang dinamakan sebagai sebuah simulacra.

Awalnya, simulasi dilakukan pada benda-benda mati, lama kelamaan, bergerak menuju simulasi kepribadian dan pikiran manusia itu sendiri, sebuah simulasi kehidupan. Maka lahirlah The Sims,the simulation, yang merupakan game simulasi sosial manusia, lalu berlanjut kepada game bergenre RPG (Role Playing Game) yang bersifat offline. Menarik untuk dilihat, kecenderungan manusia untuk bersosialisasi telah tertarik sepenuhnya pada sebuah simulacrum, dunia simulasi, yang maya. Saat perang sesungguhnya tereduksi kedalam CounterStrike atau MMORPG (Massively Multiplayer Online Role Playing Game) macam Ragnarok kita telah menciptakan realitas baru, realitas tandingan. Dan perkembangan Web 2.0 yang menekankan interaksi benar-benar tercipta, sebuah dunia tanpa tubuh. Di sinilah realitas akali bersatu dengan realtias jasmani.

Ah, Cinta

Kembali ke soal what if. Sebenarnya saya ingin menerangkan apa saja yang terjadi dalam beberapa hari terakhir, terlebih yang berhubungan dengan beberapa posting saya yang terdengar mendayudayu itu. Sabar ya, maaf intronya panjang.

Saya berharap anda dapat membaca beberapa posting saya: Perdjalanan pandjang seboeah boekoe, karena Aku bukan Pacarmu, The chemistry of Love dan karena... Sebagai perbandingan bisa dilihat dalam beberapa posting si "dia" seperti Duh kenapa harus posesif sih dan karena aku perempuan. Semuanya jalin menjalin dalam realitas teks. Jadi, bagi yang mempunyai kemampuan analisis wacana, bisa juga menganalisis posting-posting tadi sekedar memberikan alternatif penafsiran dari yang saya berikan.

Awalnya, setelah copydarat beberapa minggu yang lalu, intensitas pertemuan di alam maya semakin jarang. Tentu hal tersebut menimbulkan kecurigaan tersendiri dalam diri saya, mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Setelah saya analisis, saya sampai pada kesimpulan bahwa ternyata ia memang sudah memiliki pacar, coba baca entry point saya tentang pandangan matanya yang kosong di atas kafe itu. Hanya, saya masih teringat dengan pernyataan dirinya pada beberapa komentar di postingnya yang menyebutkan bahwa dia masih sendiri. Di sini, what if bekerja. Muncul dua argumentasi dalam benak saya. "Bila seandainya dia masih sendiri kenapa ia tidak berkomunikasi dengan saya lagi. Bagaimana jika dia..." dan "Bila seandainya dia sudah berdua kenapa ia tidak berkomunikasi dengan saya lagi. Bagaimana jika dia...". Dua kemungkinan, dan duaduanya mempunyai probabilitas yang sama. Lihat pernyataannya mengenai dirinya yang masih sendiri. Hmmm...

Karena sempat stagnan dan pikiran saya dipenuhi kedua argumentasi ini, saya malah semakin penasaran saja untuk mencari tahu. Alhasil, saya terus menghubunginya melalui telpon, sayang sekali tidak tersambung. Kemudian muncul postingnya yang berjudul Duh, kenapa sih harus posesif, di sini argumentasi kedua menguat. Benar, ternyata ia memang sudah punya pacar. Tapi siapa? Apa katakata menghubungi terus dalam postingannya tersebut merujuk kepada saya? Toh, saya juga termasuk orang yang menghubunginya kan. Bila pacar adalah orang yang terus menghubunginya dan saya adalah sebagian orang yang selalu menghubunginya, berarti saya adalah sebagian orang yang ia sebut pacar, berarti saya sebagian pacarnya. Probabliitas 1/~.

Agar lebih jelas, akhirnya saya kirim pesan dan ia menjawab seperti dalam posting Karena aku bukan pacarmu. Pada titik ini semua seperti berhenti, hingga muncul postingnya karena aku perempuan. Coba perhatikan struktur kata judul kedua posting tadi, serupa bukan? Apalagi di akhir tulisan ia menulis, I Believe, We meet someone is for a reason..!! oleh karenanya saya juga percaya, mungkin belum waktunya dia hadir, membuktikan kalo sebenarnya dia bisa menghadirkan sosok yang nyata. Well, perhatikan juga anak kalimat yang saya garis bawahi. Kalau memang itu merujuk kepada saya, berarti masalahnya berada pada ketidaknyataan saya. Tapi, saya kan nyata. Dan setelah membaca teks sebelumnya mengenai betapa rindunya ia, berarti ada dua kemugkinan di sini bisa jadi orang tersebut bukan saya, dan itu tak masalah, tapi bagaimana bila yang ia maksud itu saya? Nah, argumentasi pertama semakin menguat. telebih kawankawan blogger turut berperan dengan menyumbangkan komentarkomentar agar maju terus pantang mundur.. (:D comment siapa itu ya)

Maka muncul pikiran, barangkali ia tidak mau saya hubungi karena ia rindu saya dan malu, kalau begitu kenapa tidak saya jawab. Istilah Betawi-nya elo jual gua beli. Sesuai teori probablitas, bila memang anggapan saya salah dan dia tidak mencintai saya, pengucapan cinta ini juga tidak ada masalah bukan. Paling dia marah, atau pacarnya yang marah. Selain itu tidak ada masalah. Namun, bila ia memang mencintai saya dan saya tidak mengucapkan cinta, itu dia masalahnya. Bikin tekanan batin dan menggantung! Hee.. halah! Ingin rasanya menanyakan langsung padanya, tapi tidak pernah bisa. Ia tidak pernah menjawab. Barangkali kalau ada hal yang ingin saya salahkan dari dirinya adalah: ia tidak jujur dengan pernyataannya sendiri dan ia tidak pernah menjawab pertanyaan saya. Seandainya saja ia mau menjawab atau berkata jujur, dipastikan tidak akan keluar tiga posting terakhir, dan saya akan lenggang kangkung keluar dari kehidupannya. Tapi apa mau dikata, dikata mau apa, kata orang Betawi, emang elo siapa gua sih!!

Dan saya kirimkan surat cinta saya lewat e-mail, begini isinya:

Dear Shanti,

Bagaimana kabarmu saat ini, kuharap baik-baik saja dan semoga Tuhan melindungimu selalu.

Sudah lama rupanya kita tidak melakukan kontak lagi, aku sering kali bertanya ada apa gerangan. Apa mungkin pertemuan kita ini hanya sebuah lamunan semata, dimana engkau memandangku laksana bayangan yang sesekali ada dan sesekali hilang. Ataukah, kita terlalu naif untuk mengakui bahwa dalam hati kita masing-masing tertanam sejenis rasa rindu yang tak tertahankan untuk bertemu. Aku di sini selalu merindukan masa-masa dahulu waktu kita belum pernah bertemu sama sekali. Ah, seandainya akan seperti ini, aku akan bersumpah tidak akan sekali-kali bertemu denganmu di Malang. Namun, yang terjadi antara kita memang sebuah suratan yang aku maupun kamu sama sekali tidak menduga.

Kurasa jarak bukanlah penghalang dari sebuah kerinduan, ia justru hadir untuk mempertegas kenyataan itu. Hanya hatimu yang kuyakin berusaha menolak kerinduan ini, begitu juga aku. Dan dalam malam-malam kucoba melukis nafasmu dan rupamu. Engkau ada, dalam kemenawanan yang tak mungkin aku lupa. Dan dalam shalat-shalatku selalu bertanya, akankah ini sebuah awal yang indah dari pertemuan dua jiwa? Maka kutanyakan kepada Tuhan tentang dirimu, keluh kesahmu, adakah yang kurang ataukah ada sesuatu yang terlontar dari mulut dan tulisanku yang mengganggu dan meresahkan dirimu. Seandainya kutahu yang ada dalam benakmu, mewujudkan segala keinginan dan harapanmu, kuakan selalu ada tepat di sampingmu.

Aku akui, bahwa aku begitu merindukanmu. Kita sama-sama telah dewasa, banyak hal yang telah kita lalui yang bisa jadi begitu berbeda pengalaman aku dan kamu. Itu bukanlah sebuah kekurangan. Bagiku, itulah kelebihan yang Tuhan ciptakan bagi kita berdua. Dan seperti katamu, selalu ada alasan dibalik sebuah pertemuan. Aku sendiri tak tahu apa itu, karena seakan-akan ada sebuah dorongan dalam diri ini yang begitu besar untuk bertemu denganmu di sana. Akhirnya kuyakin, pertemuan itu bukanlah sebuah kesia-siaan kosong. Dan karena kamu tidak mau membuka dirimu terhadapku, biarlah kemayaan ini tahu betapa aku mencintaimu. Maaf, kalau kutakbisa menyampaikannya langsung dihadapanmu, tapi kuyakin, engkau pun akan mengatakan hal yang sama kepadaku.  Karena cinta tidak pernah butuh alasan, ia hadir begitu saja, seperti kelahiran kita di dunia ini yang terlahir begitu saja tanpa alasan. Maka aku cinta kamu, tanpa alasan.

Semoga hari-harimu menyenangkan dan tetaplah tersenyum, karena aku menyukai senyumanmu itu.

Salam hangat

Himawan Pridityo

Wuih, romantis banget bukan!

Surat itu saya kirim tanggal 8 Desember, yang berarti sehari sebelum saya posting karena... dan waktu yang pudar dan dua hari setelah komentarkomentar semangat dikirimkan. Setidaknya saya telah mencoba bukan!

momen

Sejak tanggal 8 hingga semalam, saya tidak hentihentinya mencoba menghubunginya lewat telepon, tapi tidak ia angkat. Kemarin sore, saya malah berpikir apa mungkin pemikiran saya ini salah. Dan hal itu saya bicarakan dengan temanteman saya, lakilaki dan perempuan, baik yang nyata maupun yang maya, dan jawaban mereka mendukung tindakan saya tersebut kecuali Sonny, he has been broken his heart before :D. Tapi kok, firasat saya berkata lain ya. walau juga ada semacam rasa puas dapat menuliskan surat tadi. Oh, love is all about expression, so express your mind! and feel contented even if you're wrong.

Akhirnya, jawaban itu muncul subuh pagi ini. Lewat sms ia menulis:

Sori.. q skr jarang ol.ud g pasang inet drumah,cz kerjaan lg padet.Kmrn baca2 blogmu,Btw soal rasamu thdpku q sgt menghargai,tp maaf bgt,slama ni aq menganggpmu sbg tman aj.tdk lbh.q hrp km bs terima ini.dan perihal sy nanya (emg qt pacaran?) sampe 5x krn sy pake hp,sinyal jelek,jd pesan sy ga lgs nyampe,makanya sy ulangi terus.maaf bgt y.sy hrp km bs mencopot foto2 sy dblog,krn untk menjaga perasaan cowo sy.sy menghargai perasaanmu,dan sy minta maaf tdk bs membalas,dan tlg hargai keputusan sy dgn mencopo foto sy dr blogmu.bknkah berteman lebih menyenangkan..

Yeah! Betul kan dugaan saya. Ternyata my couriosity yang telah menyeret saya sebegitu jauh hingga berbuat halhal konyol di blog ini. Kemudian saya balas:

Nah itu dia! Yg ingin sy tanyakan.  Krena km ga prnah bs d hubungi, ya sy tulis deh d blog. He..

kemudian,

Pacarmu sakit? Ta doain ya biar lekas sembuh. Tapi gapapa ko, sy kn cm berharap komunikasi aja. Tapi jd lucu, hny gara2 hp rusak ya :D. Iya, nnt ta copot deh. Maaf nh dah bikin senewen. Habis jg, sy kn prvksi tuh d bgian comment. It's nice to knowing you Shanti.

lalu ia menjawab,

Cuma lg masuk angin..kehujanan katanya. Iya gpp,aq lbh menyenangkan jd teman,krn ga smua bs tahan ma sikap manjaku. Hanya yg kujadikan pacar yg uda teruji kesabarannya..

Dan kubalas lagi,

Hahaha.. I pray for you two. Anyway, kl Sbtu ada smpat k Mlg, dtng aja klian brdua. Ada tmnku yg mo nkh d sn. Sy dtg jg kok.

jawabnya,

Insya allah,tp spertinya tdk bs..krn ada renc tlebih dahulu. Maklum,dia d pasuruan jd,weekend km biasanya pergi sendiri..

dan Pembicaraan pun kututup:

Ok. Jgn dpks kl ga bs. Take care!

Begitulah, dalamnya laut bisa diduga, tapi dalamnya hati siapa yang sangka. Cuma pernah kukatakan dulu padanya, meskipun kita tidak tahu apa isi hati seseorang tapi kita bisa mengenalnya melalui bahasa. Baik bahasa lisan maupun tertulis, atau juga isi ujaran, konteks dan cara penggunaan bahasa itu. Dari sinilah kita bisa mengenal seseorang baik kepribadiannya, tingkah lakunya atau bagaimana pandangan hidupnya. Sebuah psikolinguistik dan sosiolinguistik. Kamu adalah apa yang kamu ungkapkan lewat bahasa dan ekspresi. Dan begitulah cara saya menilai seseorang. Truly human.

Epilog

Dan dalam kesenyapan saya merenung, setelah yang pertama dan kedua lalu ketiga dan kempat. Akankah datang yang kelima? Atukah itu sebuah penghujung yang entah kapan akan berakhir. Ah, hidup ini memang seperti jalan, kadang landai dan lurus, kadang pula terjal dan penuh tikungan. Dan dalam kenyataankenyataannya yang mengejutkan, akhirnya kubisa memahami sebuah spiritual lifting yang tidak saja bersifat intelektual dan emosional belaka tapi juga dinamis dan kontemplatif. Lalu kenapa pula tidak kita nikmati saja hidup ini. Hey Sonny, is this when logic conquers everything even love? Life likes rollercoaster, c'mon let's tune in!

6 komentar:

  1. hmmmmm...prolog yang bener-bener panjang..sebelum saya benar2 membaca main coursenya...

    Lagi trend patah hati?

    Kata orang bijak sih..we will never know until we have really try ..dan saya setuju, cinta itu soal mengekspresikan perasaan...

    tenang saja bung..badai pasti berlalu...dan semoga setelah itu kamu bisa menemukan pelangi

    BalasHapus
  2. whew!!!!
    gile ya lo, semua mua dibuka di sini...

    Hah! ini seh lebih mendayu-dayu...

    ehmm....
    sedikit kontradiktif dari sosok "serius" yang membahas what if dengan sebegitu panjang dan gamblang dari berbagai sudut pandang, dengan sikap lo yg lit bit mellow...:-D

    well, tp itulah cinta. bisa mengubah yang biasa jadi luar biasa. yg lemah jd kuat dan sebaliknya.

    btw, klo doi dah punya cowok, kekny g cuman fotoNa aja yg musti diilangin, tp jg bbrapa postingan dengan nama terang dia...

    BalasHapus
  3. serius amat sih mikirin cinta, hehe...

    saran nih...
    jika selama ini dikau yg memburu cinta, bagaimana kalau sekarang ganti strategi; "biarkan cinta yg mengejarmu",(halah!)

    caranya? setiap kali bertemu dg perempuan (ya iyalah perempuan, masak laki-laki, oopss..), tunjukkanlah respect yg tinggi terhadap dirinya dan jangan memburunya dg obralan kata2 gombal. tebarkan pesonamu (baca: ilmu dan iman) terhadapnya. semakin intens dirimu bicara dgnya tanpa sedikitpun kata cinta yg keluar, kan semakin penasaran dia, dan akhirnya dialah yg akan mengerjarmu...

    masih belum paham? nanti ambil kuliah 2 sks di kelas saya, huahaha....

    BalasHapus
  4. iseng pengen ikutan komen
    ky'nya lg tren nih jatuhcinta dan patahhati di dunia maya :)
    ..
    nah, krn didunia maya kita hanya bisa berkomunikasi lwt tulisan yg sialnya sering menimbulkan kesalahpahaman..
    maksud si cew ini, cow nangkapnya laen dan sebaliknya
    rumit memang.

    btw, bawaan pemikir kali yee mau nulis ttg 'patah hati' pengantarnya pake bahasan ilmiah dan panjang bener..
    :p

    BalasHapus
  5. @ Lia, beda gak sama orang yang nulis bahasan ilmiah tapi isinya jeritan patah hati?

    @ Surauinyiak, ya benar tuh. Nilai cinta memang sudah sangat terdevaluasi, mirip nilai tukar rupiah. Tapi kan saya baru menuliskannya sekarang. Jadi, intrinsically masih teteup tinggi tuh. :p

    O ya, Happy birthday!

    @ Dewi, Is it a big problem for a real love? Let's see!

    @ Hesty Wulandari, agree with you then.

    @ Hery Azwan, aye, I've been fixed it up.

    BalasHapus
  6. Intronya menarik bgt. Sesuai dg hipoteasa gw: dalam urusan cinta, pemikir bs mendayagunakan pemikirannya secara defensif saja, tdk ofensif. Kalo bs ofensif, wah wah wah.. gigolo, don juan., cassanova dst bakalan gak laku. Semua filsuf lari dari gelanggang pemikiran mengasyikkan menuju arena cinta yg memabukkan.

    Ya, logika mengalahkan cinta tidak diawal mencintai, tapi di tengah atau mungkin di ujung cinta. Lagi-lagi defense mechanism. Kalo logika mengalahkan cinta sejak awal, cinta para filsuf jd amat "kering." Atau cinta kehilangan daya magisnya. Bias menjadi hanya sekedar proses kimiawi atau proses mekanis semata. Dan gw tidak percaya dg chemistry of love sbg satu-satunya kebenaran ttg cinta. Chemistry bukan esensi dr cinta. Chemistry itu indrawi. Cinta melampaui panca indera: intuitively. Beyond logic, beyond rasio.

    Gw kira lu datang ke Malang itu krn yakin kalian berdua saling mencintai. Atau ada benih cinta di antara kalian berdua. Itu sebenarnya initial outlay yg harus didudukkan terlebih dahulu sbl kopi darat. Tapi gw gak bs nyalahin lu juga. Mungkin dia hanya sekedar nona-nona centil yg lg bermasalah dg hubungannya atau bosan dg hubungannya saat ini dan berusaha mendapatkan lebih. Cewek spt itu tdk layak diperjuangkan.

    Akhirnya harus kita sadari cewek itu butuh kata yg bener-bener harfiah: do u love me? Kita, para pemikir, memang lebih terbiasa dg term-term : implisit, esensi, substansi, realitas. Kita cendrung mengabaikan term-term : harfiah, artifisi, fenomena.

    Gw jg gak bs pny cewek yg hidup gw tersita oleh dia: harus diantar kesana kemari; kesana kemari harus selalu berdua; saban hari ditanya lagi sama siapa; harus disayang-sayang. Capek deeeeh :D Bagi gw, SATU KATA saja cukup sbg tanda ikatan: I LOVE U, U LOVE ME, and WE LOVE-LOVE an. hahahaha... Lagi-lagi substansi vs artifisi :D

    Jika seluruh sistem hidup gw harus macet gara2 cinta, gw lebih memilih sistem hidup gw ketimbang cinta. Buku-buku, komputer & mimpi-mimpi gw jauh lebih berharga. Dan lagi, gw hidup tdk u diri sendiri. Tapi u kemaslahatan umat, setidaknya u kemaslahatan orang-orang di sekeliling gw. Enlightening others..

    OVERALL, Cinta memang tdk dibangun diatas teori. Lagian teori lebih sering datang blkgn kan. Cinta itu tindakan. Dan patah hati itu konsekuensi. Terima aja.. Bukankah keislaman juga berarti ketundukan, kepasrahan, keikhlasan, ketulusan ?

    Coba jelaskan, kenapa surat yg berisi ayat "Qul huwallahu ahad" atau "Katakan bahwa Allah itu SATU" dinamakan AL-IKHLAS ?

    BalasHapus