Waktu Yang Pudar

Di waktu yang memudar aku menunggu
laksana penumpang menanti kereta
antara garisgaris lurus yang memisahkan
dua jalur di sebuah stasiun

Lalu jam dinding itu memanggil namaku,
"Hey anak muda, apa yang sedang kau tunggu"
Tangannya melebar ke angka sepuluh
dan satu tegak keatas sembilanpuluh derajat

"Hanya sebuah kereta" kataku ringan, berceloteh.
Sejak kapan jam dinding menyapaku,
pikirku tertawa dalam hati

"Karena lelah sudah ku memanggilmu yang ke duapuluhtujuh kali ku berucap"
katanya dengan tatapan bak seorang guru.

"Tapi baru saja ku mendengarmu memanggil"

"duapuluhtujuh kali anak muda, aku memanggilmu
dan dihitungan yang keduapuluhtujuh itulah kau tersadar
"

"Lalu, apa maumu?"

"Tak tahukah engkau jam berapa sekarang?"

"Yah, kenapa?"

"tidak ada kereta yang datang di jam ini"

"lalu.."

"apa yang kau tunggu?"

"bukankah ini stasiun, dan kereta pasti akan datang,"

"Ah, bukalah matamu. Kau lihat di sana?
bus, taksi, ojek, mereka menantimu
"

"tapi kutakberminat"

"Apa kau mau bangun waktu kupanggil lagi
untuk yang ketigapuluhsatu kali
"

"entahlah...
aku hanya ingin duduk di sini"

"Ah, kau akan tertinggal, melihat bayanganmu hilang
tertelan cahaya senja
"

"aku suka senja"

"Kau akan letih. Kenapa menyibukkan dirimu terlantar seperti ini.
Apa kau percaya pada janjijanji kereta?
"

"Aku hanya percaya pada janjijanji seseorang
yang menungguku di sini"

"Hmm.. Dan kenapa sekarang dia tidak datang?"

"Karena kereta belum datang"

"Ah, kau naif sekali, kenapa juga kau menunggu sesuatu yang tak mungkin kau tahu kapan ia datang"

"karena ia naik kereta, dan kereta selalu datang bukan?

"tapi tidak sekarang, mungkin esok, mungkin lusa"

"cerewet!!
Aku hanya ingin melihat kereta yang datang kepadaku
karena di sana ia membawakan waktu yang pudar bersama rindu."

"Gila. Kenapa banyak sekali mereka akhirakhir ini"

"Karena waktu tibatiba berhenti saat kita menjadi gila"

"Dasar manusia!" kata jam dinding.
Dan tangannya menunjuk ke atas duaduanya.

Dan di antara garisgaris lurus yang memisahkan
dua jalur di sebuah stasiun itulah ku menunggu.
Dalam bisikan waktu yang kian lama kian pudar.
Aku cuma menunggu...
Di sini, bersama jam dinding itu.
laksana penumpang menanti kereta

Lalu jam dinding itu memanggil namaku,
"Hey anak muda, tunggulah sampai kegilaanmu reda. Dan lihatlah, karena bukan waktu yang memudar, tapi dirinya"
Dan kedua tangannya pun turun malumalu menunjuk angka enam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar