Casablanca


Setiap komuter, tentunya mempunyai sejumlah rute favorit yang dapat diandalkan dalam rutinitas kerja setiap hari. Rute favorit saya saat berangkat kerja adalah sebuah jalur sepanjang 20-an kilometer yang membentang dari Roxy Tanahabang hingga Pondok kelapa, namanya Casablanca. Awalnya saya tidak begitu mengerti, kenapa rute ini dinamakan Casablanca. Setelah googling, baru tahu bahwa penamaan jalan ini adalah hasil kerjasama pemerintah kota Jakarta dengan kota Casablanca di Maroko dalam hal sister city, yang juga terdapat sebuah jalan bernama jalan Jakarta di sana.

Ada banyak alasan kenapa saya menyukai rute ini, salah satunya karena jalurnya yang rapih dan arahnya yang langsung ke tempat tujuan. Berbeda misalnya dengan rute Kalimalang yang semerawut tanpa pembatas jalur, atau rute Pulogadung yang polutif dan kotor berdebu. Jalan di rute Casablanca memang begitu mengasyikkan, dari arah Bekasi ke bilangan Kuningan, kita akan disuguhi dua lajur yang bebas hambatan. setidaknya hanya ada tiga perempatan saja, selebihnya kita akan disuguhi atraksi rolercoster melewati empat fly-over dan dua buah underpass tanpa henti. Deretan pepohonan hijau  sepanjang Tebet hingga gedung Sampoerna, begitu enak dipandang. Apabila jalanan lenggang, selepas perempatan ketiga, jarang saya dapati kendaraan yang memelankan lajunya, semua berjalan cepat dan rapih. Satu poin penting lain yang membuat saya menyukai rute ini, rapih bila dibandingkan cara berkendara di Kalimalang atau Pulogadung, mungkin karena mereka yang menggunakan rute ini banyak pekerja kantoran di Kuningan.

Sayangnya, karena pertambahan kendaraan yang ekpansif, rute ini kian lama kian tidak bersahabat dengan penggunanya. Jarak tempuh yang standar bisa dilalui dalam waktu 45 menit saja, melebar menjadi 1,5 jam bahkan 2 jam saat rushour. Di musim hujan seperti sekarang jalan begitu bergelombang dan di sebagian ruas, lubang-lubang menganga lebar. Di kisaran Kampung Melayu, sering tergenang banjir setinggi betis atau lebih dari itu bila aliran Ciliwung meluap tinggi. Tapi setidaknya semua masih jauh lebih baik dibanding dua rute yang saya sebut di atas. Istilahnya, dengan mata terpejam pun saya bisa sampai di Bekasi dengan selamat. Bravo Casablanca.

IMG_1485 IMG_1492 IMG_1484

IMG_1483 IMG_1527 IMG_1499 IMG_1517

'Jalanan adalah karya seni instalasi yang sempurna.
Ia lurus, berhiaskan lampu dan bunga, menikung, menanjak, dan kadang-kadang buntu.
Ia mengarahkan, meloloskan, menjebak dan menyesatkan.

Jalan tempat berparade, pamer kejayaan, juga tempat menggelandang.
Jalan tempat lari dari kenyataan, tempat mencari nafkah.
Orang hilir mudik di jalan, mereka bergerak indah, melamun, riang dan berduyun-duyun,
siapa mereka?
Ke manakah mereka?'

F. Sommer - dalam Edensor

5 komentar:

  1. On this road,
    halt is out place
    A static condition means death.
    Those on the move,
    have gone ahead
    Those who tarried,
    even a while got crushed
    (Mohammad Iqbal)

    Ungkapan Iqbal yang populer di Gontor itu sepertinya lebih tandas menggambarkan hidup sebagai sebentuk jalan yang gegap gempita, semisal hidup di Jakarta.

    Sementara ungkapan Sommer lebih romantik, realis.

    Seperti hidup, jalan berarti pilihanpilihan, trade-off, opportunity cost. Ketika kita memilih untuk berbelok, menikung, saat itu pula kita kehilangan peluang yang ditawarkan jalan "seharusnya." Masalahnya kemudian, apakah kita menikung dengan perasaan bahagia, atau sebaliknya meracau tentang hidup yang menyebalkan ? Sometime, there is no point of return. The show must go on. Tawakkal & doa mengiringi segala muara

    BalasHapus
  2. Hhh....

    Sonny banget!
    Begini yah, hasil Johari Window.

    BalasHapus
  3. tampaknya waktu itu saya gak berhasil ngirim comment

    anyway, coba lihat ini

    "Setahu saya, kawasan itu dinamai Kasablangka (bukan Casablanca) karena memanjang dari Kampung Melayu Sampai Belakang Karet. Kalau Puri Casablanca itu silakan saja menamai dirinya dengan huruf-huruf itu, karena mungkin yang bikin tuh orang Maroko. Tapi kenapa orang-orang jadi menyebut kawasan Kampung Melayu Sampai belakang Karet itu dengan Casablanca dan bukannya Kasablangka (Kampung Melayu Sampai Belakang Karet)? Kan kita bukan di Maroko..."

    http://erincipta.blogspot.com/2004_08_01_archive.html

    jadi yg bener yg mana ya? tergantung keywordnya kali ya

    mungkin benar dua2nya, tapi tidak jelas mana yg duluan. saya percaya dgn "kasablangka" karena kakak saya, warga pondok kelapa, kalau mau nunjukin jalan ke tamu yg mampir ke rumah, selalu bilang "lewat jalan perpanjangan kasablangka aja" means jalan kasablangka memang sampai kampung melayu aja, bukan pondok kelapa?

    ohya, kalau tidak salah puri casablanca itu sudah ganti nama menjadi puri kasablangka? atau itu gedung lain, yg jelas namanya kasablangka :)

    BalasHapus
  4. Dear Alia,

    Nice critcs! Orang Indonesia, lebih khusus, orang Jakarta itu punya kecenderungan mengasimilasi budaya dan bahasa orang lain ke dalam pola pikir mereka. Mungkin, ada yang lebih enak mengeja dengan kasablangka (Kampung Melayu Sampai Belakang Karet), seperti juga orang Jawa yang salah mengeja Hasan menjadi Kasan, atau mengartikan singkatan asing macam ATM (Automated Teller Mechine) dengan Anjungan Tunai Mandiri. Lalu, apakah Casablanca ataukah Kasablangka? Kekacauan pengejaan ini, saya pikir, lebih dari kesalahan, itu adalah sebuah kreatifitas dan juga, meminjam terminologi Saussure, pola pembentukan bahasa yang arbriter. Semena-mena.

    Mengenai ruas Casablanca, yang memang dari Kampung Melayu sampai belakang Karet, officially itulah yang ditunjukkan di atas peta. Sebenarnya juga saya ingin mengusulkan di blog ini macam penamaan jalan seperti di AS dengan nama rute 22, 43, dsb. Jadi dalam benak saya, kenapa pula membeda-bedakan nama ruas jalan yang benar-benar menyambung dan lurus. Bukankah itu jauh membingungkan daripada menyebut jalan lurus dari kawasan Kuningan hingga Pondok Kelapa dengan sebutan Casablanca, serta jalan raya sepanjang Kali Malang?

    Yah, usul sih. Tapi kan sama seperti perubahan dari Casablanca menjadi Kasablangka. Hei, saya nih orang Indonesia! Arbitrer. Hhhhh...

    Anyway, nice insight!

    BalasHapus
  5. saya baru tau tuh kalo rute bernomor itu maksudnya begitu hehehe good idea you know
    kalo jalan di sini, kepotong anak sungai aja lgsg ganti nama jalan deh hehehe

    BalasHapus