Tiga hari pertama Ramadhan





Di negeri kita ini, kedatangan Ramadhan selalu disambut dengan euforia kecil. Stasiun televisi swasta mulai berlomba-lomba menyiarkan acara-acara religius, baik yang serius, santai, hingga yang amburadul; anak-anak sekolah bergembira karena mendapat jatah libur mendadak; para pegawai memperpendek jam kerja, entah untuk menghormati kedatangan Ramadhan ataupun menghormati keinginan mereka. Singkat cerita, Ramadhan adalah bulan untuk keluarga dan bercengkrama. Bagi orang seperti saya yang harus setia menunggui klien sampai akhir jam "tayang" mereka, kadang muncul perasaan rindu untuk berbuka bersama keluarga di rumah. Tapi, karena waktu yang seringkali bermusuhan, maka biasanya saya berbuka puasa di jalan, atau kalau sempat pergi ke masjid dan berbuka bersama di sana. Kisah ini adalah pengalaman pribadi di tiga hari pertama puasa, yang entah kenapa masih membekas di benak saya hingga sekarang.





Hari pertama





Setelah meeting konsolidasi sales di Pasar Baru, saya bergegas kembali ke area kerja di kawasan Kuningan. Di tugu pak Tani, azan telah berkumandang, jalanan lenggang. Ini hari pertama puasa dan semua orang sepertinya bergegas buka di kediaman mereka masing-masing. Berniat membatalkan puasa, saya kemudian mampir di Masjid Cut Mutia, Cikini. Di sana, selepas memarkir motor dan membeli NU Green Tea untuk berbuka, saya menitipkan tas dan alas kaki untuk kemudian bergabung dengan jamaah lain menunaikan shalat maghrib. Usai shalat, beberapa pemuda masjid menghampiri saya untuk memberikan bungkusan yang ternyata nasi putih beserta lauk pauk. Dengan gembira saya terima bungkusan tadi dan melahapnya dengan nikmat di beranda masjid. Pikirku, kalau setiap hari buka puasa seperti ini, lumayanlah dapat meringankan uang makan harian. Dan timbul di pikiran saya sebuah ide untuk keliling masjid guna mendapatkan ta'jil "gratisan".





Hari Kedua





Keesokan harinya, saya berniat untuk berbuka puasa di masjid yang jauh lebih besar, Masjid Sunda Kelapa, Menteng. Hari itu, Selasa, sejak pukul 16.00 pekerjaan saya telah usai, dan akan diteruskan di malam hari setelah pukul 18.00. karena masih banyak waktu tersisa, saya berencana menunaikan shalat Ashar dan I'tikaf hingga maghrib di masjid tersebut. Kala itu, masjid sudah ramai dengan manusia. Masjid ini bagus, peralatan multimedia terpasang dengan pas di seluruh penjuru, menayangkan gambar sang qari yang tengah melantunkan ayat-ayat al-Quran dengan indahnya. Tidak selazimnya masjid lain yang pernah saya kunjungi, dimana garis pembatas jamaah pria dan wanita diletakkan melintang di tengah-tengah masjid, di sini ia membujur. Bagian kanan untuk jamaah pria dan bagian kiri untuk jamaah wanita. Hmm… emansipasi pikir saya.





Selesai shalat Ashar, dengan khusyu saya dengarkan bacaan al-Quran dari sang qari. Orangnya belum terlalu tua, pertengahan tiga puluhan atau awal empat puluh, bacaannya tepat meskipun cara membacanya tartil dan tidak dilagukan. Saya sangat menikmati lantunannya itu. Setelah lebih dari sejam membaca, akhirnya ia mempersilahkan temannya untuk menggantikan dirinya membaca al-Quran. Si pengganti sepantaran dengannya, dan sepertinya ia berasal dari Hadramaut atau daerah sekitar itu. Lelaki ini tinggi besar tapi bacaannya lembut, dan jadi idola ibu-ibu yang turut mengeraskan suara mengikuti bacaan ayat-ayat suci. Di sini, perhatian saya terpecah. Mungkin bosan karena sudah duduk lebih dari satu jam, saya keluarkan handphone dan mulai menjelajah internet. Berbagai macam situs saya jelajahi saat itu dan saya tenggelam didalamnya. Tanpa saya sadari, petugas masjid telah bergerak membagi-bagikan makanan kotak untuk berbuka. Entah kenapa, saya tidak mendapatkan jatah (mungkin yang membagi agak sebel juga, di dalam masjid bukannya baca al-Quran kok malah browsing internet) padahal posisi saya saat itu tepat di tengah-tengah bagian masjid. Saya lihat sekeliling semuanya telah menerima jatah, tinggal saya sendiri yang belum, dan anehnya tidak ada yang menyadari hal tersebut. Ingin rasanya mengangkat tangan menunjukkan diri belum mendapat jatah, tapi malu (ini kan cuma-cuma, dan bukan hak, jadi tidak perlulah untuk dikejar).





Akhirnya dengan sedikit "kecewa" saya keluar dari masjid, untuk berwudhu dan masuk kembali ke dalam, seakan-akan jamaah yang baru datang. Apesnya juga tidak ada yang menanggapi. Dari sudut mata saya tampak beberapa jamaah memperebutkan jatah terakhir nasi kotak. Saya diam saja, entah apa maksud Tuhan menguji kesabaran saya hingga detik-detik terakhir. Beberapa menit menjelang berbuka, karena tidak enak menjadi satu-satunya orang yang tidak memegang makanan, saya memutuskan untuk membeli Nu Green Tea di penjaja makanan depan masjid. Saya pun kembali lagi ke dalam. Beberapa jamaah asyik berbincang dengan temannya, semuanya terlihat bahagia tapi kelihatannya mereka tidak mau berbagi. Saat azan berkumandang, kulihat beberapa orang berlomba berebut hidangan air teh dalam jerigen. Kulihat wajah mereka, entah apa yang ada dalam benak dan pikiran mereka, seakan-akan keberadaan mereka menghilang seiring habisnya air teh tadi. Saya jadi teringat, betapa watak manusia akan tampak jelas saat mereka sedang terpepet atau terdesak, tapi sepepet itukah mereka? Untuk sekedar berbuka bahkan dengan uangnya sendiri? Dan memikirkan keberadaan saudaranya barang sedetik? Saya masih tidak mengerti. Hingga kemudian saya buka tutup botol minuman kemasan dan menenggaknya perlahan. "Allahumma laka shumtu…."





Sebuah irama tenang melandaku, nafasku yang tersendat-sendat menahan emosi kembali lancar, dunia kembali tertata rapih di hadapanku. Egoisme tadi perlahan memudar, tergantikan keceriaan yang entah mengapa mengubah pandanganku saat itu juga. Tentu saja, ku masih melihat perilaku mereka, namun mengapa seolah-olah hal itu tidak berarti lagi buatku. Aku tenggelam oleh ektase. Seperti Layla yang bersua Majnun. Aku hilang. Sayup-sayup kudengar hadis Nabi, ada dua kebahagiaan yang diberikan Tuhan kepada mereka yang berpuasa, salah satunya saat berbuka. Tuhan, inikah kebahagiaanMu itu?





Hari Ketiga





Dalam berbisnis, saya sering menanyakan pengalaman pribadi klien saya tentang produk yang saya bawakan, dan biasanya mereka merespon dengan baik. Ramadhan seperti ini, saya menanyakan pengalaman mereka saat berbuka. Seorang klien dengan antusias menceritakan pengalamannya bersama kakak saat berbuka di masjid Astra Sunter. Menurutnya, menu di sana itu sangat enak, dengan tersipu ia menambahkan betapa kakaknya pada saat itu, tidak malu-malu meminta jatah untuk yang kedua kalinya kepada panitia. "enak lo" promosinya. Mendengar uraiannya tersebut, saya jadi penasaran untuk berbuka puasa di sana. Dan sore itu, di hari ketiga, saya mencoba membuktikan perkataannya tadi.





Dilihat dari sudut pandang manapun, untuk mencapai Sunter dari tempat saya berdiri saat ini (sekitar Pasar Baru) dalam tempo tiga puluh menit saat lalu lintas sedang berada di puncak kemacetannya dan tidak memiliki pengetahuan yang tepat mengenai letak masjid Astra Sunter (kecuali petunjuk si klien "Tikungan kedua ke kiri setelah fly over MAG, masuk kedalam sebelah kanan jalan..") saya rasa mustahil. Tapi berbekal rasa penasaran tadi, saya berusaha sebisa mungkin berbuka puasa di sana. Namun, jalanan yang macet sepertinya tidak pernah berbasa-basi dengan khayalan gila. Betul saja, di pertengahan jalan danau Sunter Timur, suara azan maghrib lamat-lamat terdengar. Tapi cerita belum berakhir. Saat panggilan suci itu berkumandang, saya mendapati diri saya di penghujung kemacetan, saat itulah seakan jalan merekah dengan lebarnya. Kupacu motor saya ke arah perempatan MAG dan mulai mengikuti saran si klien. Tikungan pertama, tikungan kedua, hampir saja saya menyumpahi kebodohan saya karena tidak mencek terlebih dahulu di peta (sekedar informasi, di handphone saya juga tersedia peta Jakarta, tapi pada saat-saat genting macam demikian saya rasa peta sudah tidak ada gunanya lagi). Astaga, petunjuknya benar! Tepat di hadapan saya berdiri dengan kokohnya Masjid Astra Sunter itu dan saya sampai di sana tepat setelah azan maghrib selesai berkumandang – well, thank God for your guidance.





Kawan, ini adalah Jakarta, di kota macam ini niat baik sering tidak sejalan dengan kenyataan di lapangan. Bukannya pelit, tapi untuk melaksanakan ibadah di tempat ramai macam masjid-masjid besar, kamu setidaknya harus menyiapkan beberapa lembar uang seribu rupiah. Seribu untuk bayar parkir, seribu untuk titip sepatu, dan di Istiqlal bisa tambah seribu lagi untuk penitipan tas. Belum lagi para peminta yang berduyun-duyun datang di kaki masjid (sekedar info, selama enam tahun saya menyantri dan setahun mengabdi tidak pernah saya dapati kotak amal berjalan, ke masjid itu gratis, kecuali kalau kamu kehilangan sandal. Itu baru apes namanya). Yah di sini, kamu harus kaya untuk bisa pergi ke masjid, atau setidaknya harus punya modal dulu (Tuhan, Kamu mau berbisnis yah?). Dan memang itulah yang saya alami. Setelah berbuka puasa dengan sebotol Joy Tea di warung depan masjid, saya pun segera bergegas mengambil wudhu dan ikut shalat berjamaah. "Allah Akbar…"





Masjid ini bagus, tapi tidak sebagus Masjid Sunda Kelapa, standar masjid-masjid lain di tanah air, selalu punya masalah dengan jiplakan telapak kaki kita seusai berwudhu. Sehingga, saat memasukinya kita dapat mersakan aroma "segar" bercampur air itu di setiap pintu masuk. Seusai shalat, saya sudah tidak memikirkan lagi tujuan saya shalat di sini, mendapat ta'jil gratis. Pikiran saya melayang ke arah pengeras suara yang saya rasa kurang mantap dalam memperjelas suara sang imam (dalam psikologi itu dinamakan kompensasi :D). Namun, saat bangkit dari doa, saya dapati para jamaah tengah berbaris mengantri sesuatu di bahu kiri masjid. Wah, kebetulan nih dapat ransum gratis. Dengan suka cita saya pun segera masuk kedalam barisan panjang tersebut.





Dalam masa penantian ini, kuamati rupa-rupa jamaah masjid. Di depanku tampak anak usia sekolah dengan baju bebas dan sarung yang dililitkan di pinggangnya. Seorang lagi sepertinya pegawai pabrik dengan celana panjangnya yang masih dilipat di atas mata kaki. Tepat dibelakang saya berdiri mengantri warga setempat dengan potongan jamaah pada umumnya, berpeci, berbaju koko yang agak pudar warnanya lengkap dengan sarung berwarna hijau. Sedang petugas pembagi jatah itu pemuda usia awal dua puluhan tahun, beberapa saya kira masih remaja karena tulang-tulang mereka tampak memanjang, dan kurus. Lima meter dari tempat pembagian, saya membayangkan diri saya saat membagikan jatah daging kurban tiga tahun silam, tak disangka saya bisa ikut ke dalam barisan tersebut. Tiga meter menjelang, kubayangkan keikhlasan di mata mereka, baik yang mengantri dan yang memberi. Satu meter menjelang, kulihat tangan di depan saya memegang sebuah kupon berwarna hijau tua. Lalu saya lihat kebelakang, satu persatu kulihat, mereka semua memegang juga kupon-kupon itu. Tepat di hadapan panitia, kulihat tanganku tidak memegang apa-apa. Dengan sebuah gerak lambat, kutengadahkan tangan saya ke atas, berharap sebuah probabilitas 50:50, dan saya mulai dilanda cemas.



"kuponnya?" tanya pemuda tadi,



"eh, anu, tidak ada" jawabku lugas



"ya sudah tunggu dulu hingga semua kebagian" ujarnya tegas





Kupon, oh kupon. Betapa saya tidak menyadarinya! Apa mungkin, kehidupan ini telah melenakan saya? Jadi ingat saat di Gontor, menjadi anggota setia dapur umum. Peraturannya jelas, tidak ada kupon, berarti tidak ada makan. Ada dua kupon, berarti ada dua kesempatan mengambil jatah makanan. Dan saat itu, saya merasa tidak memiliki apa-apa, saya seperti anak kemarin sore yang kehilangan kesempatan makan enak. Lebih parah lagi, bagaikan Oliver Twist yang tertangkap basah mencuri dompet. Betapa bodohnya saya, inikan bukan jatah saya, ini punya mereka. Mereka yang jauh lebih berhak dari saya. Samar-samar kuteringat ucapan klien tadi pagi "minta jatah hingga dua kali!", dua kali dari Hongkong!





Saya pun keluar barisan dengan kepala tertunduk malu. Kucuripandang isi jatah makan tadi, ternyata masakan Padang! Lalu, kuperhatikan cara mereka memakannya. Betapa nikmatnya. Wajah-wajah ceria itu, sinaran puas di mata mereka, kegembiraan yang terpancar di maghrib itu. Sepasang kekasih, anak-anak jalanan, para gelandangan, buruh pabrik, siswa siswi SMU, ada semacam kehangatan di sana. Kehangatan yang menjalar ke lubuk hati ini, sebuah kebersamaan. Sebuah kebahagiaan yang tulus, dari sebuah perjalan panjang di terik Ramadhan. Dan dalam langkah-langkahku meninggalkan masjid, kumasih merasakan getaran-getaran itu. Getaran rasa yang sama seperti seperti kurasakan di hari kemarin. Barangkali, inilah imbalan yang ditawarkan Tuhan kepada hamba-hambaNya setiap Ramadhan. Sebuah euforia ringan, sebuah eudaimonia ala Aristoteles, sebuah Utilitarianismenya Jeremy Bentham dan John Stuart Mill. Sebuah al-Birr masyarkat Arab pra Islam. Sebuah berkah.

 





***





Setelah peristiwa tadi, saya belum pernah lagi berbuka puasa di masjid. Barangkali, setelah tulisan ini saya publikasikan, saya akan kembali melakukan ritual berbuka itu kembali. Dengan niat baru tentunya. Dan kejutan-kejutan baru yang siap menanti. Tuhan, Kau begitu Lucu!

1 komentar:

  1. Cut Meutia di Cikini. Sunda Kelapa di Menteng. Ntar gw cari di peta. Masjid2 tua itu punya kesan lain, kan?

    Kalo gw buka puasa di mesjid belakangnya Standard Chartered Bank, dekat Sampoerna Strategies. Ketimbang al-Azhar, suasananya lebih khusyuk.
    Rakyat jelata mulai dari supir taksi, buruh dan gw ada di sana. Ta'mir masjid-nya orang jama'ah tablig kayaknya. Baik sekali & ramah2.

    Walau cuman hidangan nasi+telor+sayur tapi lumayanlah.

    BalasHapus