Taka' ka a'

"Ma Lakum Taka' ka'tum 'alayya ka Taka'kui'kum 'ala Dzi Jinnatin. Infaraquu 'Anni, Infaraquu"

Post script :

  • Saya tidak tahu kenapa saya menulis paragraf tadi, yang kira-kira mempunyai arti sbb: "Kenapa kalian terpana (melihat) saya seperti keterpanaan kalian kepada orang yang kemasukan jin. Menjauhlah dariku, menjauhlah".
  • Yang membuat saya tertarik adalah kalimat tersebut merupakan satu dari sekian banyak kalimat dalampelajaran Sharf yang masih saya ingat sampai saat ini, meskipun saya masih tidak mengerti kenapa kalimat ini ada, konteks dan maksud dibuatnya kalimat tersebut. Yang masih lekat setidaknya adalah ini merupakan bagian dari permainan akar kata "ta ka' ka'" "yata ka' ka u'" yang juga sudah lupa! (maaf yah :))
  • Sharf sendiri adalah bidang ilmu yang sangat teknis, sehingga lumayan sulit dipelajari (nilai saya tidak pernah lebih dari 6,7), tapi kalau sudah menguasainya, dijamin bakal mampu mengotak atik bahasa Arab. Dalam pelajaran Linguistik mungkin ia sepandan dengan Filologi yang juga mempelajari sejarah dan akar dari sebuah kata. Dalam Filologi, setiap kata selalu memiliki sejarah, hal ini kemudian dimanfaatkan juga oleh ahli arkeologi untuk menggali ingatan masa lalu. Secara psikologis, cara kita bertutur dan berbicara merupakan gambaran yang pas dari keadaan jiwa kita. Arkeologi dalam hal ini berurusan dengan psikologi massa yang menyelidiki akar kata dari konteks masa lalunya kemudian menganalisis perkembangan kata tersebut , cara ia digunakan dan macam pengertian yang didapat dari dulu hingga sekarang. Jadi jangan heran kalau orang yang menguasai arkelologi filologis ini dapat mengambil kesimpulan yang lugas dari seseorang yang sering bicara "kebun binatang" tentu memiliki pengalaman traumatis dengan kekerasan psikis di masa kecilnya. Dalam filsafat dua orang ahli dalam bidang ini adalah Nietszche dan Foucault (Keduanya agak gila dan memiliki orientasi seksual yang menyimpang, Foucault misalnya meninggal karena AIDS dan Nietszche bunuh diri) - kita bisa membuat meta wacana, apa kira-kira yang membuat mereka demikian? - Apa sejarah Barat tidak terlepas dari dua kata tadi?
  • Kegandrungan Filologis, membuat beberapa orang antusias mempelajari bahasa agama. Beberapa Orientalis awal memiliki dasar pendidikan Filologis yang kuat, dan berusaha "membaca" al-Quran dengan metode tersebut. Saya sendiri juga tertarik mengadakan kajian al-Quran dengan metode tadi, yang saya sayangkan, hasil studi para orientalis tersebut jarang yang berusaha mengkaji al-Quran sebagai sebuah sistem terpadu yang terpisah dari akar pre-Islamnya. Usaha yang bagus dilakukan oleh Toshihiko Isuzu, tapi belum dalam dan pas. Belakangan usaha cak Nur dan tim yang menyusun Ensiklopaedia Islam Tematis berkembang maju. Tapi ya itu, pertanyaan-pertanyaan dasar seperti konsep epistemologis al-Qur'an belum terjawab tuntas, mungkin mereka masih terpana di bawah bawang-bayang sistem teologi Islam yang hegemonik dan orthodox.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar