Kegilaan & Maut di Sulawesi



Saya seringkali keliru saat menyebut kata "diary" dan kata "dairy", hampir sama sih. Keduanya sama-sama berkaitan dengan zat yang bernama air. Hanya kalau dairy berupa air susu, sedangkan diary seringkali berupa air mata – Hahaha… kalau diuraikan dengan lebih jelas, diary saya itu memang lebih banyak berisi air mata, mulai dari kekecewaan, amarah, sedih, kehilangan, perpisahan, tawa, dsb. Yang jelas, semua hal yang berkaitan dengan emosi dan membuat saya menangis, seringkali memacu saya untuk menulis. Hebat juga ya, kekuatan negatif itu. Dalam teori humoral psikologi disebut black bile, empedu hitam, yang merupakan sumber temperamen melankolis. Demikianlah, dari kehitaman, kegelapan dan kesuraman itulah kita menulis dan mencipta. Melihat blog tetangga yang sedang sibuk dengan kenangannya akan kematian, jadi teringat pengalaman saya waktu di Sulawesi dua tahun yang lalu – nih pulau sudah saya kunjungi Son, meski hanya Sulawesi Selatan dan Tenggara saja. Tepatnya waktu Idul Fitri (karena males pulang kampung, saya lebih memilih "menjelajah" bagian terselatan pulau huruf K besar itu) dari pantai Barat, Makassar, menuju pantai Timur, Sinjai. Tidak lama sih, hanya seharian saja, tapi itu sudah cukup memuaskan dahaga akan resiko. Tulisan ini saya ambil dari diary lama saya:

***

Seorang anak laki-laki tidak pernah beranjak dewasa. Yah, laki-laki tidak seperti wanita yang mengalami transformasi tubuh yang begitu mencolok. Ia, paling-paling hanya menyempurnakan yang sudah ada, bukan membuat hal baru. Makanya sifat laki-laki itu sama saja, senang bermain. Saya laki-laki dan saya kemarin bermain, permainan yang saya sukai: mencari masalah dan menaklukkannya.

Berjalan sejauh 365 km, tentu dengan motor. Kebut-kebutan dengan kendaraan umum, pribadi, serta sesama motor lain di malam hari. Huuhh, untung selamat dan untung juga bisa menang – itu sih ulah adrenalin! Menuruni bukit dan lereng yang jalannya selebar jalan setapak, beraspal tipis, dan dipenuhi batu-batu gunung yang siap menghadang dan lagi-lagi, saya melibasnya dengan kecepatan di atas 60 km/jam – tuh kan adrenalin lagi! Tanpa perencanaan, dengan modal hanya 100 ribu rupiah, melewati bekas bencana banjir dan tanah longsor. Di Sinjai, semua dipenuhi oleh pohon-pohon yang bertumbangan bercampur tanah yang enggan mengering. Kelokan-kelokan tanpa putus, kepenatan, rasa tertekan dalam medan yang belum pernah saya kenal, bercampur aduk dengan perasaan takut kehabisan bensin serta ban bocor – maklum saja, selama perjalanan selama empat jam melewati sinjai, saya hanya melihat satu buah pom bensin, dan tiga tempat tukang tambal ban, berjauhan di antara bukit-bukit yang saling bercerai.

Menuju Malino

Pagi itu, pukul 10.23 pagi, udara mulai terasa panas, meski sisa-sisa subuh sedikit terasa. Saya memacu kendaraan keluar Sungguminasa – awalnya hendak mencari rumah Muli atau Eli untuk bersilahturrahmi, tapi karena tidak ketemu, aneh juga, akhirnya saya lanjutkan rencana semula. Sebelum ini saya belum pernah keluar kota ke arah Timur, sendirian lagi, dengan demikian hanya mengandalkan ingatan tentang peta Sulawesi Selatan yang saya pelajari selama 10 menit di Gramedia dan petunjuk jalan yang tidak terlalu tepat, dan ini jugalah yang membuat saya tersasar beberapa kali dari jalan utama, tapi dengan semangat yang menggebu-gebu, sampai juga ke jalan poros Malino.

Saat itu, jalan poros Malino begitu rusak, lubang ada di mana-mana, dan sudah dua kali pula ban motor menghantam tonjolan batu besar, untung tidak apa-apa. Sangat kontras dengan ruas jalan menuju Bantimurung yang sangat mulus dan landai, di sini seluruh tubuhku terpental-pental tidak karuan. Setelah percabangan jalan, yang tidak ada rambu sama sekali dan sama lebarnya – benar-benar definisi yang sulit!, motor saya menanjak ke atas mengikuti alur perbukitan, dengan latar sebelah kanan berupa danau besar yang kering. Saya tidak tahu apakah itu sebuah waduk atau ngarai besar yang telah dipersiapkan. Tapi, jejak-jejak truk tanah semakin menghalangi pemandangan dan memperburuk suasana – baru tahu, ternyata danau tesebut adalah proyek PLTA …. Yang membendung DAS sungai …



Struktur geografis ke arah Malino seperti huruf "U", kau masuk dari sebelah kiri menemui ceruk besar di bagian kanan, yang memanjang sejajar dengan kokohnya perbukitan permai Latimojong. Ceruk yang sangat besar, tampak seperti peninggalan Sulawesi di masa lampau – dari penjelasan Muli, kawan saya, bahwa gunung-gunung di Sulawesi sebenarnya sudah tidak aktif lagi – namun melihat langsung dengan mata kepala sendiri, jutaan bongkah batu sebesar rumah terserak luruh sepanjang alur sungai yang lebar tapi dangkal, terbayang betapa pernah ada suatu letusan dahsyat yang memuntahkan ribuan kubik tersebut. Di ujung dari rangkaian bukir berbentuk "U" inilah tempat Malino berada. Dari jalan saya berada saat ini, ia tampak hijau dengan halimun tipis yang menyelimuti, laksana siluet dari situs Macchu Picchu di Andes dan gunung-gunung Himalaya orang Tibet, cuma yang ini jauh lebih pendek.

Lewat setengah jam perjalanan, pucuk-pucuk cemara itu tampak jelas berganti dengan batang-batang kering yang sangat khas, aroma pinus. Udara menipis, mengangkat rasa panas yang telah menyengat semenjak Makassar. Jalanan belum juga landai dan hanya ada satu pom bensin di Malino, saya harap masih buka meski saya tahu takaran bensinnya tidak begitu pas. Setiba di Malino, rasa lapar sudah tak terbantahkan. Rabu itu seluruh tempat pemondokan dan restoran tampak ramai. Yang mencolok dari keramaian itu adalah orang-orang Cina peranakan yang memenuhi restoran dan vila bersama sanak keluarga mereka. Kelak, saya tahu bahwa setiap lebaran mereka selalu mengisi liburan di daerah macam Malino ini. Entah mengapa, saya jadi merasa asing. Bukan menegaskan bahwa saya ini rasis – terus terang saja itu jauh dari konsepsi pribadi - tapi kalau kamu menjadi saya saat itu, tentu akan memilih tempat makan yang tidak ada orang Cina-nya. Cara mereka makan, bagimana bahasa mereka yang tidak dapat saya mengerti, saya seperti Hayy di negeri para liliput. Akhirnya setelah lama mencari, saya menyantap sepiring nasi campur yang tidak begitu enak di sebuah rumah makan depan pasar Malino. Lumayan untuk menghapus rasa lapar.

Tempat yang pernah menjadi tuan rumah perundingan kerusuhan etnis dan agama di Sulawesi Tengah ini, Malino, berada di sebuah bukit. Jalan masuknya curam dan berkelok tajam, khas sebuah kota perbukitan. Restoran dan wisma penginapan berdiri sepanjang kiri kanan jalan. Selepas tikungan di depan Polres Malino, jalan melandai dan tampak lebar membelah pusat kota dengan makodim Wirabuana berdiri sebelah kiri. Selepas itu, kita akan kembali mendaki ke sebuah taman rekreasi. Saya tidak tinggal lama di sini, karena memang tujuan saya adalah berkelana bukan bermalam, jadi saya lanjutkan perjalanan dengan motor.

Suharto memang orang besar, mengingat beliau saya jadi teringat TNI. Tentara kita itu, sejak dulu memang sudah hegemonik, kuku-kukunya tajam mencengkram kuat struktur terdalam masyarakat. Bahkan, di tempat terpencil sekalipun, jejak-jejak kekuasaan itu terlihat jelas. Tapi Malino bukanlah sebuah daerah terpencil, ada banyak latihan tentara di sana, mulai lapangan tembak, tempat lempar granat, hingga taman rekreasi di atas bukit ini yang sepertinya juga milik tentara. Saya bayangkan, di tempat macam Malino, betapa nikmatnya jadi bagian dari TNI. Taman rekreasi itu membentang sepanjang lima ratus meter. Pintu masuknya berupa sebuah gerbang kayu biasa dengan loket di tengah. Mobil-mobil terlihat berserakan terparkir dalam pagar pembatas, sementara isinya tumpah ruah menikmati kesejukan gunung. Di bagian depan, berdiri kafe-kafe yang menjajakan makanan yang nyaris sama, mie instan, air mineral, telur, krupuk, yang sedikit khas barangkali coto dan rawon. Bila diperhatikan lebih seksama, taman rekreasi itu tak lebih dari sebuah bumi perkemahan dangan kantor pengawas kebakaran hutan, yang bikin terkenal mungkin pamflet awas kebakaran yang tersebar di mana-mana.

Antah berantah

Di taman ini, saya juga tidak mengaso, atau turun dua kilometer kebawah, ketempat air terjun, tapi melanjutkan kembali perjalanan. Yang ada dalam pikiran saya saat itu adalah mencari sebuah scene perkebunan teh. Terus terang, saya terpana melihat gambar sebuah foto yang diberikan oleh teman kepada saya. Hampir tidak percaya, kupikir tempat dalam foto itu adalah tanah Eropa, di pegunungan Alpen atau Blackforrest antara Swiss dan Jerman. Tapi katanya, foto tersebut diambil di sini, di Malino. Karena masih belum bertemu, saya terus saja melawati bukit demi bukit, hingga tak terasa saya telah tiba di sebuah tempat antah berantah. Sebuah dataran tinggi, sebuah pleatau. Sungguh tidak menyangka udara siang bolong itu begitu sejuk terasa, bahkan lebih dingin daripada Malino. Teman, ini adalah sebuah perkampungan, penduduknya hidup dari berkebun dan bertani, berbeda dengan Malino yang merupakan sebuah resort, dan penduduknya hidup dari usaha dagang dan jasa wisata. Saya tidak ingat nama desa tersebut, ada banyak sekali anjing kampung berkeliaran. Ia begitu sepi, begitu sunyi seperti Dieng, sejuk dan menyegarkan juga Basonya yang gurih dan gadis-gadisnya yang manis.



Selepas shalat Dzuhur di sebuah surau yang kotor dan bau, saya pun kembali berjalan. Kali ini, ruas yang saya lewati semakin sempit dan rusak. Jalanan terus menurun tajam, menarik turun sadel motor yang berzig-zag menghindari lobang, semakin kuat terus seperti melawan gaya gravitasi. Setelah itu, bisa ditebak, ada beribu kelokan dan tanjakan yang melelahkan. Semakin jauh meninggalkan Malino, semakin kabut menipis dan terangkat lepas, menyisakan hamparan perbukitan kering nan mencekam. Kalau kamu pernah berkunjung ke bukit-bukit di Ponorogo, yang saya lihat di sini tidak jauh berbeda. Beberapa kali bersilangan dengan pengendar motor dari arah berlawanan, tapi semuanya terdiam tanpa sapa sibuk dengan urusannya masing-masing bahkan untuk sekedar membunyikan klakson pun enggan. Suasana benar-benar senyap.

Tuhan, bila neraka muncul lebih dahulu di muka bumi ini, barangkali tempat yang kulalui saat ini lebih tepat dinamakan demikian. Kucoba mengusir penat dengan bersenandung, tapi tidak berhasil. Lalu kucoba membayangkan seorang teman perjalanan tempat mencurahkan segala keluh kesah, dengan getir tentunya karena ia tidak hadir di sana, hanya ada dalam pikiran yang jauh menerawang dan kosong. Oh, kesendirian itu betapa sulit kulupakan hingga sekarang. Lalu, satu persatu mulai kulihat rumah, semakin lama samkin banyak. Jangan kau bayangkan rumah-rumah di daerah tinggi macam Semarang atau Magelang, di sini mereka terbuat dari kayu. Sepanjang jalan, bergelayutan di atas tonggak-tonggak yang menopang dari bibir jurang, sebagian tergantung di atas tebing berdiri dengan gagahnya di atas saya. Dari papan penunjuk yang kulihat, kutahu daerah ini bernama Sinjai. Sinjai Barat persisnya. Jadi teringat dengan berita-berita di koran, dua atau tiga bulan yang lalu, tentang peristiwa banjir dan tanah longsor. Dan segera kuamini pikiranku itu.

Bukit-bukit berwarna tanah karena tidak ada pohon yang tumbuh, terlihat di kejauhan. Laksana puncak sebuah ice cone berlapis cokelat tipis yang lama tak tersentuh meleleh patah menyisakan lapisan putih vanilla yang berdiri telanjang tanpa malu. Di Sinjai, lapisan tipis cokelat itu adalah pepohonan hijau dan vanilla adalah tanah. Sebuah ekosistem yang benar-benar rusak dan hancur. Gelontoran tanah bertumbuk erat dengan gelondongan kayu yang patah bertemu bongkahan-bongkahan batu gunung terjun bebas terseret air yang sangat perkasa, meninggalkan setiap tikungan dalam bayan-bayang teror. Begitu dalam, guratan-guratan yang tertinggal, seperti sebuah eskavator raksasa tak terlihat telah menggiris bukit-bukit ini tanpa dosa. Oh manusia, tak sadarkah engkau!?

Kulihat kehancuran merajalela, bagaikan kuburan massal yang siap merenggutmu setiap saat. Berkubik-kubik lumpur dan ketidakberdayaan. Entah apa yang ada di dalam benak setiap orang yang tinggal di sana, tapi untukku yang baru pertama kali ke sana, tanpa persiapan, tanpa petunjuk, aku merasa kecil. Sepintas terbesit betapa nikmatnya mengendarai motor di kala hujan, tapi di Sinjai ini, saya berdoa semoga hujan tiada turun. Sungguh tak terbayangkan bila hal tersebut terjadi, apakah saya mempu keluar dari sana hidup-hidup. Tanpa kusadari betapa perkasanya Tuhan di saat-saat seperti ini.

Malam-malam panjang

Langit di atas semakin gelap, untung tidak hujan, sementara saya semakin letih. Betapa nyaman membayangkan ranjang empuk yang siap menyambut kelak di kamar kos saya. Untuk saat ini, itulah yang menjadi mimpi. Seperti kerbau yang dicocok hidungnya, kuterus berkendara mengikuti jalan yang sepertinya tanpa ujung. Sinjai Tengah mulai kutinggalkan, beberapa menit kemudian sebuah jalan lurus terbentang dihadapanku. Hatiku berdesis, peradaban! Akhirnya ku bersua lagi denganmu.

Jalan ini sungguh berbeda, begitu halus, begitu empuk. Markanya terlihat jelas, begitu kontras dengan wajah aspal yang hitam legam. Kendaraan yang lewat begitu terhormat, muka mereka berseri meskipun lelah tersimpul cukup jelas. Kadangkala maghrib sering membawa nuansa tersendiri, begitu kontemplatif, hening dan penuh dengan pencerahan. Konon, karena suasana itulah yang membuat para Yogis banyak melakukan hatsa yoga di waktu sekitar matahari terbenam. Juga para rahib Katholik, dan Rabi Yahudi yang banyak beribadah pada waktu tersebut. Dan kami, umat Muslim juga shalat pada saat itu. Hanya yang bersinar di mataku tak lain dan tak bukan, sebuah harapan yang muncul begitu kuat. Tentang kehidupan dan kematian yang terlihat begitu tipis dalam jarak yang tak lebih dari satu dua sentimeter. Tuhan, terima kasih atas rahmatMu. Dan saat ini, kubertermakasih kepada maut yang urung merenggutku – oh, doa yang sangat absurd.

Sama seperti saat kepergian, sore itu, saya hanya mengandalkan insting semata. Bila jalan ini adalah jalan utama di sebelah selatan Malino, tentunya ia berada, kalau tidak di bagian Timur pasti di bagian Selatan Sulawesi. Jalan kekiri pasti menuju timur, karena ada Watampone dan arah yang berseberangan terdapat Bulukumba. Berarti saya berada di daerah antara Watampone dan Bulukumba, dan memang di sanalah letak Sinjai. Dengan demikian, untuk kembali ke Makassar saya harus ambil arah ke kanan, karena ia menuju Bulukumba. Dan demikianlah, akhirnya saya mengambil arah kanan, setelah mencek kebenaran deduksi tadi dengan warga sekitar.

***

Saya memiliki seorang teman di Bulukumba, namanya Syahrul Khair – bulan baik - ia teman sekelas di Gontor tepatnya 4B. Sewaktu diary ini saya tulis, saya tidak berhasil menemukan tempat ia tinggal, sehingga saya langsung meneruskan perjalanan ke Makassar. Beberapa bulan kemudian, dalam perjalanan dinas saya ke Bulukumba, saya berkesempatan berkunjung ke rumah kawan lama itu. Tak disangka ia sudah berkeluarga, punya dua orang putra lagi yang saat itu berumur enam tahun dan empat tahun. Hebatnya, dia sudah menikah dua kali – oh, sepuluh jempol saya angkat deh (kalau punya). Di rumah tua itu saya tidak bertemu dengannya ataupun istrinya yang saat itu tengah pergi ke kota. Hanya bertemu dengan ibunya yang menceritakan riwayat putra tercintanya. Menurut beliau, si Syahrul Khair saat ini tengah berada di Papua untuk mengadu nasib di sana (saya tidak ingat persis pekerjaannya di sana). Dalam ingatan saya, saat di Gontor, kawan lama ini jarang sekali berbicara. Dan kalau sudah mulai, yah semuanya pasti berbau pelajaran atau cerita-cerita hebat dari negeri sula besi (bosen juga sih), tapi saat melihat rumah itu, raut ibunya, saya jadi terharu. Betapa nasib telah membawa kita ke kedalaman yang berbeda-beda. Kawan, semoga kamu sukses di sana. Kecuali untuk nikah dua kali itu! And your kids, oh, I felt so old that day (astaga, jangankan nikah, kawin saja saya belum!!)

***

Poros Bulukumba – Makassar adalah jalan panjang tiada henti, sejauh Jakarta – Cikampek. Saya katakan tiada henti, karena jalan yang menghubungkan kedua kota tadi sangat mulus, lurus, lagi landai. Tampaknya, model jalan seperti ini selalu memberi ilusi kepada para pengendara bahwa tujuan mereka sudah dekat. Ah, hanya beberapa kelokan, juga sudah sampai di Makassar. Nyatanya, untuk sampai ke sana, kamu harus menyusuri pesisir pantai hingga Bantaeng. Terus, sedikit menanjak ke savana sempit di Jeneponto, dan kembali turun menjauh dari laut di Takalar. Baru setelah itu, jalanan kembali melebar memasuki gerbang Makassar di Sugguminasa. Ini adalah rute yang lebih jauh daripada ruas Makassar – Malino. Saya tidak menyadari hal tersebut, yang saya tahu, Makassar sudah dekat, peradaban telah datang.



Selepas Bulukumba, saya beristirahat sebentar di pantai sebelum memasuki Bantaeng. Waktu saat itu sudah jam enam lebih, tapi karena pantulan sinar matahari di laut, seakan akan baru jam lima sore. Sebenarnya saat itu saya juga tengah mengalami disorientasi waktu. Kulihat ke arah laut yang sangat luas di depan, kubayangkan ada Jawa di sana, beribu-ribu kilometer hanya terpisahkan oleh deburan ombak dan keheningan air – baru tahu, prediksi saya meleset beberapa derajat, sebenarnya 90 derajat di seberang Sulawesi Selatan adalah Lombok bukannya pulau Jawa. Saya jadi ingat Jakarta dan rumah di Bekasi, kedua kota itu begitu metropolitan begitu semerawut, dan begitu rusak jalannya. Ah, andai jalannya mulus seperti di sini!

Malam tiba, jalanan tidak terlalu ramai, motor kupacu di atas 80 km/jam, tidak ada saingan dan kecepatan terus bertambah. Anehnya, semakin cepat laju motor, semakin tidak bergerak juga posisi motor saya, hanya keterbatasan sorot lampu motor yang membuat saya harus menurunkan kecepatan. Hingga sebuah iring-iringan kendaraan hadir di depan, minibus, mobil boks, truk-truk berukuran sedang, dan Kijang. Kendaraan-kendaraan ini berlari dalam kecepatan 90 km/jam. Di ujung barisan, sebuah Kijang sudah tidak sabaran menyalib truk gandeng empat mobil di depannya. Sayang sekali, setiap usaha menggeser mobil ke tengah badan jalan tidak berhasil, karena dari arah berlawanan selalu muncul kendaraan lain dengan kecepatan tinggi. Melihat usaha si pengemudi, saya jadi tersenyum, barangkali, kalau saya kasih contoh, dia akan ikut. Setelah menurunkan gigi motor satu tap, dengan perlahan, saya tarik grip gas hingga dalam. Motor saya meraung-raung keras. Sebuah momentum tergambar jelas di mata, segera saya masuki sebuah celah kecil antara Kijang dengan sebuah kendaraan yang datang dari arah depan. Melihat saya, sang pengemudi Kijang tadi mengayunkan mobilnya ke kiri, jalan kemudian semakin terbuka. Di pertengahan barisan kumasukkan gigi empat, kontan kecepatan motor bertambah, 103 km/jam, dalam satu dua detik iring-iringan itu telah saya lewati.

Dari kaca spion, kulihat Kijang tadi telah memisahkan diri dari hambatan si truk besar. Dengan cepatnya ia menyalip laju motor saya, sayang ada tikungan tajam, ia pun melambat hingga berada kembali di belakang. Musuh terbesar kalau kamu tahu di jalan macam ini bukanlah kendaraan lain, tapi kontur jalan dan ego sang pengemudi. Melihat caranya berkendara, seperti melihat kepribadian orang Sulawesi pada umumnya, yang menurut saya memiliki semangat yang sangat tinggi, tapi gegabah dan tidak taktis. Dalam beberapa kelokan, jarak antara kami semakin menjauh. Dalam kegembiraan kecil itu, muncul sebuah Ninja dari belakang. Pengemudinya sangat lihai berkendara, hingga kuberi jalan untuk mendahului. Pikirku, Vega R ini tidak akan mampu bersaing dengan motor ber-cc di atas 150. Tapi, si pengendara rupanya berpikiran lain, ia melambatkan laju Ninjanya. Aha, dia butuh lawan pikirku.

Kematian dan kelahiran

Dalam keadaan normal, mengendarai motor seperti meniti hidup satu persatu, selangkah demi selangkah, begitu lama dan begitu panjang. Namun, saat kau mengenal kecepatan, jarak menjadi sumir dan lampu-lampu jalan menjadi blur, tertarik ke belakang oleh sebuah kekuatan besar, lalu muncul dihadapanmu jenis kehidupan yang berbeda. Sebuah utopia, di mana waktu melambat, dan benda-benda berterbangan dengan cepat. Mereka bisu, wajah mereka kosong, dan maut, dengan setianya berada di sisimu. Kalau kau melewati tikungan di depan dan melenceng beberapa derajat dari jalur kehidupan, jiwamu akan bersamaku. Atau, lihat! Pengendara itu begitu bodohnya, mungkin kau dapat memberinya pelajaran barang sedikit, agar bibirku dapat menyentuh nafasnya yang mulai hilang itu, kata maut dalam otakku. Dan dalam balapan di malam itu, saya tidak menyadarinya. Si laki-laki ber-Ninja tadi juga merasakan derasnya adrenergik sama seperti saya, dan kami terus bersaing untuk sesuatu yang saya pun tidak mengerti seberapa besar nilainya (saya tahu dia laki-laki dari siluet tubuhnya. Kadang-kadang saya merasa dapat mengetahui rupa seseorang dari bentuk badannya, atau kalau lagi senang, setiap hari saat naik motor untuk berangkat kerja, saya main tebak-tebakkan. Apakah wanita berpostur ramping di depan sana sama cantiknya dengan bentuk tubuhnya? Wanita ini memiliki sifat feminin karena suka sekali warna pink, agak manja karena ada gambar tweety di kaos kaki kuningnya, dan sedikit tomboy, karena rambut sebahunya berkibar kasar di bawah helm full face? Wah berani sekali naik motor seperti itu, pasti agresif ya?)



Kami berpisah di sebuah persimpangan, dan saat itu saya merasa seperti sendiri lagi. Dan angin, tampaknya menerbangkan saya begitu keras, karena tiba-tiba saya telah sampai di Makassar. Kota ini kok berubah menjadi anggun ya, padahal, sehari-hari ia begitu hancur, semrawut, dan gila. Tapi inikan Idul Fitri, sebuah kelahiran kembali telah melanda seluruh tanah Makassar. Dan kurasa, aku telah kembali dari kematian. Sebuah kehidupan, selalu lahir dari kematian.

***

Saya tidak memiliki pretensi apa-apa saat menulis blog ini, hanya ingin mengatakan, betapa kematian dan kelahiran telah menjadi siklus dalam kehidupan kita. Dalam diri kita, siklus tersebutlah yang menjadi penyadar akan kemana langkah kita menuju. Dalam kajian psikologi …. Saat kita bermimpi akan kematian, itu merupakan sebuah pertanda baik, karena mengindikasikan datangnya sebuah kesadaran baru. Kesadaran yang tidak akan pernah kita dapat kecuali setelah "mengalami" kematian. Sungguh Tuhan mengajarkan kita dengan cara yang berbeda-beda.

2 komentar:

  1. hhh..
    dasar konyol, dulu aku pikir Minangkabau itu yg plg berbahaya kontur jalannya krn hampir sulit menemukan dataran. (Pny gunung berapi terbanyak di Sumatera). Tp ketika melewati Malino, luar biasa tuh. Bulukumba? Sayang sekali aku belum pernah lewat sana. Katanya pesisir itu bgt cantik, plus jalannya yg asoi ketimbang Makassar - Watampone yg edan.

    BTW, aku pernah tinggal di perkampungan nelayan, makan ikan & kepiting SEGARRR. Jg nginap di rumah santri di pegunungan. Saking kenyangnya makan kelapa muda, air nya yg enak itu buat cuci tangan doang seember :p

    Selama 3 bln di Darul Huffadz aku mampu mghapal 8 juz. Sayangnya dah lama gak diulang :(
    Tp hidup disono emang seru. Makanannya rata2 dari pisang dan ubi. Jg konronya. Dulu aku sempat berpikir u kuliah saja disana sembari jd ustadz di IMMIM di Tamalanrea

    Ah, aku jadi kangen..

    BalasHapus
  2. Bro, biar bacanya lebih enak, paragrafnya dirapikan dong...Kalau nyambung semua, yang baca jadi pusing. Nggak jelas, udah sampe mana tadi bacanya.
    Btw, ceritanya sangat menarik, Bro...
    Teruskan ceritamu.

    BalasHapus