Apa Grand Design kita?





Sudah beberapa Jumat saya ikut shalat di Istiqlal. Masjid terbesar di Asia Tenggara, dengan beduk yang menurut cak Nur terbesar di seluruh jagad semesta. Tambah hari, suasananya tambah tidak berkenan di hati. Menurut pandangan saya, masjid ini seperti kehilangan rohnya. Hanya kemegahan yang tersisa, kemudian rasa dingin. Di pelataran semakin banyak peminta sumbangan, penawar jasa, bahkan pedagang-pedagang kecil yang lalu masuk ke bagian bawah masjid dan ruang whudu, berantakan. Senasib dengan bangunan publik lain di negara ini yang telah kehilangan kharisma dan daya pikatnya. Bagian utama masjid, yang merupakan tempat shalat berlantai empat juga tidak jauh berbeda. Di berbagai penjuru terlihat jelas transisi zaman yang tidak mampu dilalui dengan mulus oleh Istiqlal. Layar lcd berukuran 42" yang terlihat modern dan artificial bersanding ganjil dengan keluhuran marmer dan tiang-tiang baja klasik yang membawa suasana kontemplatif. Sementara, kabel-kabel terlihat memalukan di antara alat pendingin ruangan yang terlihat kontras dan aneh. Saya jadi bertanya-tanya apakah pendirian masjid ini memiliki sebuah tujuan, sebuah ide dan semangat yang mampu dipahami orang-orang sesudahnya?



Mengalami perasaan tadi, saya jadi teringat dengan percobaan Francois Mitterand dengan Louvre yang ditulis oleh Dan Brown. Sebuah perpaduan antara yang modern, piramida kaca, dengan bangunan Louvre yang klasik. Atau seperti landmark baru London, the eye, yang terlihat maju mengimbangi gedung parlemen dan Big Ben dalam menyambut millenium baru. Semuanya memang kontras, memberikan inspirasi baru, tapi selaras dan bernilai estetik tinggi.



Berbicara mengenai estetika, setidaknya kita harus berbicara juga mengenai desain. Dan karena estetika senantiasa berurusan dengan yang abadi, yang ajeg, yang luhur, maka desain dalam hal ini adalah desain yang abadi, ajeg dan luhur, grand design. Gambaran besar. Kalau dikembalikan kepada Istiqlal tadi, pertanyaannya menjadi seperti ini. Apa Grand Design dari Istiqlal?



Sebenarnya grand design adalah reason d'etre dari segala suatu. Ketika Tuhan menciptakan alam semesta, tentunya Dia memiliki sebuah grand design: penciptaan, manusia, hari akhir, dan surga. Dalam kehidupan sehari-hari konsep ini juga hadir dalam kehidupan kita, seperti tujuan hidup, apa dan siapakah kita, apa cita-cita kita dalam 10, 20 atau 30 tahun mendatang. Semuanya tak lain merupakan blue print dan struktur dari pilihan-pilihan kita setiap hari. Dan kalau kita menerima bahwa dari tiga agama semitik, Yahudi, Kristen dan Islam, Islamlah yang merupakan grand design Tuhan dalam menjawab abad akal ini, karena jauh lebih rasional dan modern- modern karena mu'jizat yang terbesar adalah kata-kata, al-Quran- maka sudah sepatutnyalah kita malu melihat warisan kita yang sangat tidak elok tersebut.



Barangkali, ini juga yang membuat Islam mundur. Karena umat Islam tidak memiliki tujuan yang jelas di masa depan. Pada mulanya kita hanyalah minoritas kecil di Arabia, kemudian menjadi umat yang besar. Di Indonesia, kita hanyalah wong cilik di bawah Belanda, kini kita memimpin bangsa ini. Dan semakin besar kita, semakin besar pula kegamangan yang ada dalam diri kita. Pada akhirnya, kita hanya menerima yang ada, menjadi kerdil dan terkucil, tanpa mampu menjawab apa yang semestinya kita lakukan bila kita menjadi besar dan maju.

3 komentar:

  1. makanya aku dah lama gak ke masjid....:(

    BalasHapus
  2. kalo aku sekarang minimal 3x sehari ke mesjid, subuh, maghrib & isya. tp kalo plg kerja naik bis, gak keburu maghrib di mesjid. Tp d kantor, alhamdulillah hampir sll bs zuhur & ashar berjamaah
    memang Islam indonesia miskin estetika, ya maklum saja sejarahnya Islam Indonesia miskin intelektualisme
    ayo, jamaah k mesjid :)

    BalasHapus
  3. son !, titip tauqi' ya...... :))

    BalasHapus