Totally Heavier

Saya bangun pagi ini dengan sebuah ide besar, menulis personal statement untuk aplikasi beasiswa S2. Apa yah yang akan saya tulis? Pertama, tentang moralitas. Biasanya orang gampang tersentuh bila kita mendengungkan ide moral, Hirata sendiri menyarankan hal tersebut. Membangun bangsa ini, mengentaskan kemiskinan, wah.. seakan seorang Sukarno. Tapi yah, itu. Ide besar kadang harus dimulai dari yang kecil. kejujuran. dari yang lebih kecil lagi, kesadaran. Nyatanya, itu juga belum saya dapatkan. Barangkali, kalau dimulai dari mimpi-mimpi jauh lebih gampang, dan ini yang kedua. Saya rapalkan mimpi-mimpi saya selama ini, dari yang paling gelap, kotor, hina dina, hingga yang besar nan muluk bersanding dengan bintang-bintang di atas sana. Hingga akhirnya muncul pertanyaan, Bagaimana anda melakukannya? Bagaimana?! Nah, ini bagian yang agak rumit. Kita kembali ke atomisme logis. Anggap saja itu sekedar balok-balok lego yang harus kita susun. palang demi palang, blok, mewujud menjadi bentuk-bentuk dasar. Kemudian berkembang kepada kompleksitas. ternyata yang rumit itu terbangun dari unsur yang Maha dasar. Biner, hitam dan putih, ya atau tidak. Tapi semuanya belum berakhir. Kompleksitas mengandaikan sebuah sistem, aturan-aturan baku yang kalau dipisah-pisah tentu membuat kening kita berkerut. Dan ini yang ketiga, realitas. Pertanyaan yang muncul, apa kita terpengaruh oleh realitas ataukah kita yang membuat realitas itu? Hmm... Secara personal, kehidupan saya jauh panggang dari apa yang saya tulis di atas secarik kertas tersebut. Tapi, kalau saya bersikap jujur, bisa dipikirkan, siapa sih yang mau memberikan uangnya secara cuma-cuma kepada orang yang hidupnya berdasarkan tiupan angin dan irama siang malam tanpa rasa bersalah? Mungkin akan lebih enak bila kita sendiri saja yang menciptakan realitas tersebut. Brilian! Akhirnya kutuliskan bentuk-bentuk ideal dari lingkaran, segitiga sama sisi, garis yang benar-benar garis. Semua tentang gambaran-gambaran Platonik yang kurasa tak sanggup menahan terpaan rasa lapar di pagi hari. Lalu kumelangkah, dengan sedikit pengharapan, ini hanyalah realitas yang lain. Kurasa saya jujur di dalamnya. Setidaknya kalau saya berkata A padahal apa yang seharusnya terucap adalah Q, saya masih saja jujur, karena dalam realitas ini yang benar adalah A bukan yang lain. Dan demikianlah, kutulis A besar-besar dalam realitas tadi. AAAAAAAAAAA.... dan seterusnya. Hingga akhirnya muncul perlawanan dari dalam diri. Kenapa tidak ada yang lain? Jika A adalah yang sempurna, apalah artinya ia tanpa BCD dan seterusnya. Ia seperti Tuhan, yang Maha Anggun, Wibawa, tapi tanpa hamba. Tuhan pengangguran! Semuanya musnah. Kuletakkan kembali pena yang tadi kugunakan, kutermenung sejenak. Tuhan, menurutMu kenapa harus ada ketidaksempurnaan? Apa itu sekedar korelasi relatif semata, karena jika demikian, tidak ada yang benar-benar disebut sempurna. Ah, barangkali hanya inkonsistensi logis semata, tapi kumasih berpikir. Berarti ini hanya simulacra? Kita buat realitas sendiri, dan masing-masing orang membuat realitas versi mereka, tidak ada kebenaran mutlak, Tuhan mutlak, yang ada hanyalah kebenaran relatif. Seberapa konsistenkah ia dengan aturan-aturan baku logika. Dan inilah rahasianya, kalau mau berbohong, berbohonglah yang logis. Dan kalau mau jujur, jujurlah yang logis. Sayangnya kadangkala kenyataan tidak selogis itu. Dan tentu saja tulisan ini tidaklah logis, karena ia berada dalam jangkauan logika yang hanya berkuasa di kepala kita saja. Jika demikian, yang akan saya tulis berikutnya adalah: "MY CONFESSION" by Himawan Pridityo P.S.Kadangkala lebih mudah berbicara jujur, tapi siap-siap saja dengan segala kejutannya. Kenyataan itu tidak sesempurna logika.

1 komentar:

  1. ayo Himawan !
    Kejar beasiswa S2 itu..
    jgn sampai membusuk di dunia kerja

    aku sendiri skrg jg dlm dilema antara menjadi profesional atau mengabdikan hidup pada pengetahuan

    Ismail Raji Faruqy meninggalkan kemewahan hidup seorang developer real estate demi mendapatkan kebahagiaan sbg FILSUF.
    Einstein menampik tawaran mnjd presiden Israel. MATEMATIKA jauh lbh penting ktmbg politik !

    BalasHapus