My Statistics at Gontor

Bulan puasa 2 hari lagi, jadi kangen bertandang ke Gontor. Padahal sewaktu di sana rasanya seperti neraka, setiap hari pasti ada masalah. Sekarang, genap 8 tahun tidak bersua, rindu rasanya berebutan kamar mandi, makan Indomie di ember (baru tahu kalau orang luar menganggap itu jorok), sport jantung menjelang lonceng pergi ke masjid, ngumpet di kamar karena tidak shalat jama'ah, atau bersepeda ontel dengan gagah (jujur saja di luar sana tidak pernah saya dapatin orang naik sepeda ontel dengan sangat bangganya, maklum di Gontor yang naik kan orang berjas rapi dengan sarung yang disetrika sampai licin, punya tongkat keramat dan senter yang membutakan mata - untuk interogasi!). Just to fulfill my miss, here you are my statistics selama mondok di Gontor:


Nama: H.P.

Consulat: Kars Jakarta

Origin: Shigor (sepertinya ditakdirkan begitu, karena semenjak a'dho sampai mudabbir Qism Lughah di rayon shigor terus sih. Hasilnya lumayan bagus, jadi ga pernah kenal sama rokok, he..)

Affiliation: ITQAN (di sini nih belajar diskusi, mengetik10 jari, bikin mading, masarin Afkari -yang ini ga punya andil besar, cuma numpang nama saja, buat majalah ITQAN. Eh, ada yang ingat tidak kepanjangan dari ITQAN? Sudah lupa nih)

Pengabdian: Darul Ma'rifat Kediri, jaga WARTEL -tempat paling tentram sepondok, bisa jalan-jalan ke Malang, bisa ketemu cewek lagi (kalau ga salah sampai ada yang kirimin surat cinta segala), sekarang sih biasa aja-, bikin bulletin tahunan -ini percobaan murni, dan sepertinya ga ada yang ikut jejak saya dalam buat bulletin yang rada aneh seperti tahun1999. Yess! Originally absurd.

Karir guru: Mengajar Matematika, Bahasa Indonesia & Fisika! (ya ampun, perasaan juga itu mata pelajaran yang saya benci, anehnya bisa juga ya. Pengecualian untuk Matematika, anak-anak kelas 1 exp. itu pinter-pinter, jadi enak ngajarnya. beda dengan anak kelas 2 yang... susah sekali! akhirnya malah ngajar filsafat deh (Dunia Sophie tuh memang penuh inspirasi))

Main list


1. Dibotak: 0 (sebenarnya saya hampir saja dibotak karena tidak shalat Tarawih di masjid, tapi beruntunglah jadi mantan anggota Seksi Kantin Pelajar OPPM, punya banyak kantor untuk sembunyi dan bayak kesempatan untuk tidak hadir di pengadilan bawah masjid -nih pengadilan paling menyeramkan yang ada di pondok)

2. Kelas B: 2 (1KPA, 3G, 4B, 5B, 6C - Masuk kelas B sebenarnya bukan jaminan mapan kok, jadi ga usah khawatir. Yang jelas, di kelas ini banyak orang berbakat, dan untuk membuktikannya paling tidak harus tunggu 15 tahun lagi. Hm.. berarti tinggal 7 tahun lagi nih. kita lihat saja)

3. Masuk mahkamah: 12 (bukan angka pasti, tapi rata-rata lah per tahun selama jadi a'dho)

4.Kena tampar: 6 (juga bukan angka pasti, yang pasti tamparan paling keras itu datang dari Bag. Keamanan. Shitt!!.. Untung sekarang sudah dihapuskan)

5. Kehilangan sandal: 28 (kalau seperti ini benar-benar sial)

6. Kehilangan Pakaian: 7 (heran juga ada yang mau ambil pakaian saya)

8. Jadi manager: 4 (pertama bag. Penggerak Bahasa, kedua bag. Kantin Pelajar, ketiga bag. Kebersihan (nih pas Ramadhan, jadi maskot lagi), Keempat, bag. Perpustakaan Pelajar (paling enjoy, ga ada kerjaan, punya kantor sendiri, dan pas Syawwal! jadi bisa makan di kamar)

9. Rayon: 4 (Gedung Baru Shigor, Indonesia 4 (banyak premannya, anaknya agak nakal), Saudi III (nih sudah senior, tenang), trus balik lagi ke GBS (lumayan, satu-satunya anak kelas VI yang tinggal di rayon tersebut, sampai ada insiden. Tapi ga pindah ko, cuma numpang tidur dan mandi aja di ITQAN)

10. Pramuka: ? (Yang ini memori saya sudah terhapus)

11. Friend lost: 2 (waktu di Panggung Gembira, meninggal karena kesetrum, & di Darul Ma'rifat, kecelakaan mobil. Sorry I miss your names, may God forgives your sins).




Freaks:

1. Katanya di GBS itu ada hantunya, bahkan ada cerita lucu di mana ada manager yang diusilin. Katanya hantu cewek dan ngajak begituan lagi, tapi sayangnya belum pernah ketemu sih.

2. Kelas V dan VI itu tidurnya kan diemperan rayon, cuma beralaskan tiker, jaket tebal, sarung dan tumpukan buku sebagai bantal. kasihan juga kalau pagi-pagi pada kedinginan. apalagi kalau musim kemarau, terlebih yang tidur di masjid.

3. rekor santri yang di keluarkan secara tidak terhormat selama saya mondok adalah 12 orang secara bersamaan. Diumumkan di masjid dengan pengamanan ketat: bag. Keamanan Pusat, Bag. Bahasa Pusat, Ustadz "kolong Masjid". Tuduhannya: Nonton di Bioskop!! (Apa? saya tidak salah ketik kok. Kalau sekarang rasanya rada aneh ya. Tapi, trust me, pada masa itu, hal-hal demikian merupakan dosa besar loh)

4. Prom night di Gontor tuh ada dua. Kelas V namanya Drama Arena, Kelas VI Panggung Gembira. Dua-duanya heboh. Persiapan sekitar 3 bulan, dekorasi maksimal, panggung setinggi 1 meter lebar 30 meter, sound lengkap, kursi untuk seluruh santri ~1800an, para ustadz 30an, undangan 50an. Acara mulai setelah Isya sampai jam 12.00 malam. Isi acaranya beragam, mulai band tunggal, pantomim, puisi, volk song, penampilan dari setiap daerah, dan ***, agak lupa nih. yang pasti bukan prom night seperti di SMU, karena dilakukan pertengahan semester dan dilakukan oleh anggota kelas V dan VI.

5. Perlombaan paling akbar yang menguras tenaga selama 2 bulan lebih: Lomba Volk Song dan Drama (lupa namanya, dan pake bahasa asing lagi). Ini perlombaan antar rayon, banyak perang mulut, sorak-sorai dan olok-olokan. Kalau menang itu serasa di surga, mengangkat piala tinggi-tinggi, sambil berkeliling gedung pertemuan dan bangga memajangnya di depan rayon. Terlebih waktu hari jumat setelah lari pagi.

6. Tawuran sih tidak ada di Gontor, dan itu juga termasuk dosa besar, jadi tidak ada yang berani melakukannya. Cuma, pada hari Kamis sewaktu Pramuka, momen yang paling ditunggu-tunggu ya itu.. Banyak orang gila sih, apalagi yang jadi pentolan di grup Pramuka masing-masing (apa yah namanya lupa juga) Berlarian mengusung bendera kelompoknya, lomba teriak sampai kering, adu badan, dan tidak akan selesai sampai Bag. Keamanan Pusat ikut campur. (Lucunya juga kadang-kadang Bag. Keamanan Pusat itu malah berantem dengan Bag. Pramuka Pusat, kalau begini yang turun tangan yang Ustadz kolong masjid).

7. Kenaikan kelas V ke kelas VI itu punya tradisi potong rambut, (di Gontor tukang cukur paling ada 4 orang, dan sepertinya selalu laris, meski gayanya jadul bangat, dan hanya 2000 perak) dan tinggal di pondok "mukim" selama Ramadhan dan Syawwal, tidak pulang ke rumah.

8. Interaksi biasa menggunakan 2 bahasa resmi: Arab & Inggris. Bicara Bahasa Indonesia, kecuali dalam pelajaran yang menggunakan bahasa tersebut, masuk mahkamah bahasa. Bila berbahasa daerah, lebih parah lagi, bisa dibotak. Cuma, rata-rata kemampuan berbahasa sehari-hari tidak bagus. Maka bahasa yang pertama kali harus dipelajari ya bahasa tarzan, habis itu bahasa Arab ala Gontor (percaya deh, orang Arab saja pasti gak bakalan ngerti kalau santri Gontor sudah bicara demikian).

9. Gontor itu tidak punya lambang, tapi punya bendera (kalau gak salah merah, putih, hijau).

10. Ujian di Gontor itu paling murni (nih yang saya respek banget) kalau dapat 2 ya ditulis 2 juga di raport. Sangat ketat, tidak boleh contek (nih juga dosa besar, ketahuan bisa dikeluarkan). Pake kertas buram dan lemnya dari sagu (yang lucu, setelah ujian pada berebutan lem, dari sagu sih, tinggal kasih gula sedikit, dan dimakan deh. Lumayan, hemat-hemat uang jajan).

Yah, itulah sekelumit pengalaman selama 5 tahun + 1 tahun pengabdian. Kalau ada yang mau tambahin masukin saja ke Comment. See you Pondok!

3 komentar:

  1. hhh.. statistik dodol !
    masuk mahkamah cuman 12x ? Maksod lo..
    btw, gw botak 3x, hebat kan..
    overall 6B ttp lebih keren drpd 6C :p

    BalasHapus
  2. 12, itu angka rata2 per tahun. Lagi juga gw suka angka itu. Botak 1 kali saja tdk keren, apalagi 3! Ha..2x Ga tau y, anak 6c, rada edan. Kira-kira kapan keluar legenda baru Gontor, generasi Nurwahid ga terlalu hebat, hanya bisa jadi anggota dewan. Untuk sebuah lembaga yg mengklaim sumber kaderisasi, yg terjadi saat ini sebenarnya memalukan. Gontor, Kayaknya butuh revitalisasi. Gw pnsrn sm rekor u yg lain Son

    BalasHapus
  3. bendera gontor tu merah-hijau-putih, bukan merah-putih-hijau... :)

    gara2 keseringan tidur di luar kamar sewaktu kelas V dan VI membuat tubuh saya jadi "kebal", sehingga sekarang gak gampang masuk angin, soalnya badan ini dah penuh dg angin.... hehehe...

    nice story bro... :)

    BalasHapus