Al-Quran, Sejarah, dan Mitos (2)

Tiga pendekatan modern
Pertama, mereka yang memahami qashash berdasarkan warisan klasik Islam, dapat dikategorikan kedalam pola pendekatan tradisionalis. Mereka umumnya merujuk kepada karya-karya klasik kuno, macam Thabari, Tsa’labi, dan Ibnu Katsir dalam menceritakan kisah-kisah Al-Quran. Boleh dikatakan, tidak ada yang baru dari isi cerita yang mereka paparkan. Mayoritas penulis hanya menekankan kepada cara penulisan yang memikat agar menarik minat pembaca awam yang belum mengetahui sejarah nabi dan rasul dengan lengkap.

Selepas Perang Dunia Kedua, model pendekatan tradisionalis, mengalami sejumlah perubahan penting berkaitan dengan situasi sosial politik yang berlangsung di Timur Tengah. Pendirian negara Israel diatas tanah Palestina sejak 1948 yang diikuti dengan perang Arab-Israel, membuat pandangan sejumlah ulama terhadap kisah israiliyaat semakin negatif. Mahmud Abu Rayyah (1889-1970) misalnya, salah seorang murid Rasyid Ridha (1865-1935) bahkan menganggap Ka’ab al-Ahbar sebagai seorang Zionis pertama yang menyusup kedalam tubuh umat Islam untuk menghancurkannya dari dalam. Pemikiran ini, secara tidak langsung, berimplikasi kepada cara penulisan qashash oleh kalangan revivalis di awal abad 20 yang lebih banyak menggunakan referensi Al-Quran dan seleksi yang ketat terhadap hadits, mengikuti tradisi Ibn Katsir. Beberapa kisah yang lazim dimasukkan, seperti cerita mengenai Dawwud dan Uriah dikeluarkan dari narasi. Sementara, ayat Q.38:20-25 yang menjadi alasan pemasukkan cerita tersebut, dibiarkan sebagaimana adanya dengan sedikit penjelasan tentang makna ayat. Tindakan ini dilakukan bukan hanya oleh Ahmad Bahjat dalam karyanya yang terkenal Anbiya’ Allah (1973), tapi juga oleh Shalah al-Khalidy yang banyak mengutip Sayyid Quthb dalam bukunya, Ma’a Qashashi al-Sabiqin fi al-Quran (1996). Meski demikian, Bahjat masih tetap menghubungkan Q.2:259, mengenai kisah orang yang dimatikan selama seratus tahun kemudian dibangkitkan kembali oleh Tuhan dalam kisah Ibrahim, dengan sosok Uzayr yang hidup pada masa pemerintahan Cyrus.

Hal lain yang cukup menarik dari karya Bahjat tersebut adalah struktur tulisannya yang sangat permisif soal kronologi dan waktu. Dalam hal ini, ia merubah urutan para nabi yang lazim ditemui dengan memasukkan kisah Ilyas, Ilyasa dan Yunus mendahului kisah Musa dan Harun. Ia juga mengumpulkan tiga nabi minor, Idris, Ilyasa dan Dzul Qifli secara berurutan setelah Ilyas. Bahjat sendiri tidak mempersoalkan kapan penciptaan bumi dan Adam, hal serupa juga ditemui dalam kisah para nabi lainnya seperti Qashash Al-Quran (1969) karangan Muhammad Ahmad Jadul Mawla dkk. Para penulis kisah Al-Quran saat ini jauh memfokuskan tulisan mereka kepada kesinambungan narasi dan fungsi tulisan tersebut yang ditujukan sebagai kisah inspiratif kepada para pembaca awam.

Kedua, berbeda dari kecenderungan tradisionalis, yang berhubungan langsung dengan massa Islam, maka para eksponen pendekatan kritis adalah para akademisi dan kalangan intelektual yang sangat familiar dengan bidang keilmuwan Barat. Mereka menyuarakan pendekatan kritis terhadap teks-teks Al-Quran. Pendekatan model ini, berawal dari gerakan intelektual di Mesir yang bermula sejak paruh kedua abad -19. Dipelopori oleh Muhammad Abduh (w. 1905), yang menyatakan bahwa kisah turunnya Adam ke bumi tidak lain dari sebuah tamsil, parabel, belaka, arus pengkajian Al-Quran memasuki lembaran baru dalam telaah kritik sastra. Beberapa nama, seperti Thaha Husein (w. 1973), yang menyatakan bahwa kisah Ibrahim dan Ismail juga tidak berangkat dari kenyataan sejarah, serta Amin Al-Khuli (1966) yang sangat mengutamakan telaah sastra atas qashash ketimbang telaah kesejarahan, ikut mewarnai perkembangan pendekatan kritis terhadap kisah-kisah Al-Quran. Puncak dari pendekatan kritis ini adalah kontroversial Muhammad Ahmad Khalaf Allah (w. 1998), berjudul Al Fann al-Qashashi fil Al-Quran al-Karim. Dalam karya tersebut, Khalaf Allah membagi model pengkajian Qashash kedalam tiga kategori: aspek kesejarahan, parabel, dan mitos (usthury). Bagi Khalaf Allah, dari ketiga kategori tersebut, maka aspek kesejarahan adalah yang terlemah. Dalam pandangan Khalaf Allah, kisah-kisah dalam Al-Quran bukanlah kisah-kisah historis, melainkan kisah-kisah mitos yang diceritakan demi alasan keagamaan.

Selain dari kalangan Muslim, para pengkaji pendekatan kritis juga datang dari para orientalis yang masuk kedalam kajian Al-Quran. Sejumlah sarjana Barat macam Theodore Noldeke (w. 1930), Wansbrough (w. 2002), dan Luling (l. 1928), yang mengkaji historisitas Al-Quran dan meninjau kembali otentisitasnya. Hasil yang didapatkan ternyata sangat mengejutkan. Noldeke, misalnya, menyimpulkan bahwa Al-Quran tak lain daripada karangan Nabi SAW, sedangkan Luling, mencatat pengaruh Kristen dalam teks-teks Al-Quran. Pemikiran para orientalis ini mendapat reaksi yang sangat keras dari dunia Islam. Sebagian besar mempertanyakan niat baik dan ketulusan mereka dalam meneliti Al-Quran, lainnya ada yang memandang karya-karya mereka sebagai bentuk kolonialisasi baru. Tapi tidak semua umat muslim mengapresiasi penemuan para orientalis ini dengan kacamata negatif. Sejumlah intelektual muslim baru, secara bertahap mulai mengadopsi entah metode yang digunakan oleh para orientalis dalam mengkaji Al-Quran, maupun metode keilmuwan modern yang berkembang pesat di Barat.

Karena merupakan gerakan elitis, maka pendekatan kritis dalam kajian qashash tidak bertransformasi menjadi sebuah gerakan yang populer, kecuali di kalangan sarjana muslim modern saja. Kelemahan gerakan ini, adalah karya-karya mereka yang sulit diakses oleh mayoritas umat Islam. Selain akibat dari perseteruan dengan kalangan tradisionalis yang menganggap tulisan kelompok tersebut sebagai bidah, juga karena ketiadaan usaha dari mereka untuk menerjemahkan ide-ide cerdas tersebut kedalam bahasa yang lebih mudah dipahami.

Ketiga, pendekatan sikretik. Pada mulanya pendekatan sinkretik dalam kajian qashash memiliki kesamaan dengan pendekatan tradisional. Para eksponen arus ini menerima kebenaran ayat-ayat Al-Quran secara bulat tanpa mempertanyakan kevalidannya sama sekali, sehingga menjadikan posisi mereka berbeda dari kelompok yang menggunakan pendekatan kritis. Meskipun demikian, mereka menafsirkan seluruh kisah yang ada dalam perspektif yang jauh berbeda dari yang dilakukan oleh penulis qashash dari arus tradisional. Kebanyakan dari mereka menafsirkan kisah-kisah Al-Quran dari sudut pandang pengetahuan modern, dan berusaha membuktikan kebenaran klaim-klaim yang ada. Dalam banyak hal, cara golongan ini menginterpretasikan qashash sangat mirip dengan kubu Biblical Maximalist dalam tradisi Judeo-Kristen, sehingga mendekati model penafsiran apologis.

Tokoh-tokoh utama dalam model pendekatan ini adalah Maurice Bucaille (w. 1998), Abdul Shabur Syahin , dan Adnan Oktar (l. 1956). Bucaille yang merupakan seorang dokter berkebangsaan Perancis melejit lewat bukunya berjudul The Bible, The Quran, and The Science, dalam buku tersebut ia berkesimpulan, setelah meneliti mumi Merneptah, bahwa Al-Quran tidaklah bertentangan dengan sains modern tapi sangat sesuai dengannya. Sebaliknya, Bible bertentangan dengan sains modern akibat kesalahan penerjemahan dan editing yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Kristen. Sumbangsih Bucaille terhadap kisah para nabi dan rasul terletak pada penelitiannya yang mendalam terhadap mumi Firaun, sekaligus penggunaan klaim-klaim sains modern dalam memahami Al-Quran.

Dua penulis selanjutnya, sama-sama menaruh perhatian mendalam terhadap aspek penciptaan manusia dalam Al-Quran. Meski demikian, kedua tokoh ini, Syahin dan Oktar, mengambil dua posisi yang bertolak belakang. Sementara Syahin mendukung teori evolusi, dalam bukunya yang terkenal Abi Adam, Adnan Oktar atau yang lebih terkenal dengan nama pena Harun Yahya mengambil posisi sebagai Kreasionis sambil menentang evolusionisme dan menganggap bahwa teori tersebut sebagai teori jahat yang harus dijauhi.

Qashash dan Perjanjian Lama
Sebagai sebuah proto-history, skala waktu qashash terentang sejak penciptaan Manusia pertama hingga ke masa kelahiran Muhammad SAW. Para tokoh utama qashash sebagian besar adalah nabi dan rasul yang juga dikenal dalam tradisi Judeo-Kristiani. Nama-nama, seperti Adam, Nuh, Ibrahim, Luth, Ismail, Ishaq, Ya’qub, Yusuf, Ayyub, Musa, Harun, Dawud, Sulayman, Ilyas, Ilyasa, Yunus, Zakariya, Yahya, dan Isa, adalah tokoh-tokoh yang dikenal dalam tradisi dua agama Abrahamik tersebut. Meski turut tersebut dalam tradisi keagamaan Yahudi dan Kristen, tapi tidak semua nabi dan rasul itu, mendapatkan penghormatan yang serupa. Beberapa diantara mereka tidak pernah dipandang sebagai nabi baik oleh masyarakat Yahudi maupun Kristen.

Dalam Perjanjian Lama, Adam dan Nuh, dianggap penting sebagai bapak umat manusia, namun peran mereka dalam menyebarkan agama tauhid tidak pernah disebutkan. Ismail dan Luth, meski masih memiliki hubungan darah dengan Ibrahim, namun peran keduanya dikesampingkan. Ismail memang diakui sebagai bapak bangsa Arab, tetapi pandangan negatif masyarakat Yahudi mengenai suku bangsa tersebut, sangat dipengaruhi oleh anggapan mereka yang menyatakan bahwa Ismail bukanlah anak sah Ibrahim. Satu-satunya keturunan sah Ibrahim bagi masyarakat Yahudi adalah Ishaq dan Ya’qub yang darinya menurunkan 12 suku bangsa Bani Israil. Adapun Luth, hanya dipandang sebagai orang tua bijaksana yang tinggal di luar kota yang lalu melakukan incest dengan kedua putrinya. Perjuangan Luth dalam menyeru kaumnya agar berhenti dari perbuatan homoseksualitas tidak menjadi bagian yang penting dalam narasi Kitab tersebut. Mengenai Dawud dan Sulayman, kedua tokoh ini memiliki peran yang utama dalam meletakkan fondasi kerajaan Yahudi bersatu, namun keduanya hanya dianggap sebagai raja dan bukan nabi oleh masyarakat Yahudi. Sulayman bahkan selalu dilihat dengan kacamata negatif, yakni sebagai anak hasil hubungan yang tidak resmi antara Dawud dengan Bathsheba. Dan karena ia bukan berasal dari keturunan Thalut, maka posisinya sebagai raja turut pula dipertanyakan. Adapun Zakariya, ia hanyalah seorang pendeta biasa yang tidak terlalu penting kedudukannya di mata masyarakat Yahudi.

Kronologi para nabi
Perbedaan persepsi mengenai peran para nabi dan rasul tersebut, dengan sendirinya disebabkan pula oleh perbedaan fokus utama antara Perjanjian Lama dan Al-Quran. Sementara Perjanjian Lama lebih terfokus kepada alur kisah yang runtut, Al-Quran lebih menekankan pada penyampaian nilai-nilai keimanan dan perjuangan yang dialami para tokoh yang dinarasikan. Sehingga, kita sangat jarang mendapati riwayat hidup seorang tokoh yang diceritakan secara lengkap dan linear didalam Al-Quran. Sebaliknya, Perjanjian Lama tampak seperti sebuah dokumen catatan sejarah yang membentang luas mulai dari Adam hingga masa Uzayr. Karena keterbatasan informasi ini, para qushash yang memiliki kepentingan dalam merangkai potonga-potongan kisah Al-Quran kedalam sebuah alur cerita yang kronologis dan berkesinambungan, seringkali menggunakan kerangka historis Perjanjian Lama sebagai rujukan untuk menentukan siapa nabi yang datang lebih dahulu, dan pada zaman siapa tokoh tersebut hidup. Usaha para qushash ini, berkaitan erat dengan usaha mereka dalam menginterpretasikan umur para nabi dan rasul, yang secara umum juga mengikuti tradisi Judeo-Kristiani.

Meski bukan merupakan bidang kajian pokok dalam Islam, akan tetapi sejumlah sarjana Muslim memiliki tradisi mengenai umur para nabi yang disandarkan kepada berbagai riwayat hadits. Salah satu penulis modern, Sami Al-Maghlutz, mengkonversi tradisi silsilah nabi dan rasul ini kedalam sistem penanggalan modern, dan mendapatkan tahun 5872 SM sebagai waktu penciptaan Adam pertama kali. Hasil yang disimpulkan oleh Maghlutz dan kemungkinan besar sarjana muslim lain, masih memiliki kaitan erat dengan tradisi kronologi dalam Judeo-Kristiani. Yang berbeda, disiplin ilmu ini telah berkembang pesat ditangan sarjana Yahudi dan Kristen modern. Dalam menentukan masa hidup seorang nabi, mereka bukan hanya bersandar kepada narasi Perjanjian Lama semata, akan tetapi juga merujuk kepada sejumlah penemuan arkeologis modern, seperti silsilah raja-raja Mesir yang sangat berguna dalam menentukan waktu Yusuf dan Musa, demikian pula berbagai catatan sejarah yang memiliki pertalian dengan para tokoh yang terdapat di dalam buku tersebut.

a. Kronologi Para Nabi Dalam Tradisi Judeo-Kristiani
Para sarjana Yahudi dan Kristen modern, biasanya menjadikan tahun 3761 SM sebagai awal tahun pertama penciptaan Adam. Meski demikian, terdapat banyak sekali variasi dalam menentukan waktu tersebut. Beberapa ada yang maju, beberapa ratus tahun, lainnya ada yang mundur hingga 5501 SM, dan mayoritas sejarahwan menganggap tahun penciptaan Adam sebagai narasi fiktif belaka. Kelompok terakhir ini lebih suka menggunakan pendekatan ilmiah tentang asal-usul manusia. Terlepas dari perbedaan pendapat tersebut, cara utama untuk menghitung masa para nabi adalah dengan merunutkan umur seluruh nabi, dari sejak Adam hingga Zedekiah. Disini, penulis menggunakan model perhitungan yang berdasar kepada Samaritan Pantateuch (SP) sebagaimana dikemukakan oleh Jeremy Hughes. Waktu penciptaan Adam ditetapkan sebagai tahun pertama AM–anno mundi, waktu dunia. Adam sendiri hidup hingga umur 930 tahun. Nuh lahir pada 707 AM dan hidup selama 950 tahun hingga 1657 AM. Menurut model perhitungan ini, banjir besar zaman Nuh terjadi pada 1307 AM. Dan dari Nuh ke Ibrahim, terentang jarak 590 tahun, sehingga kita mendapati tahun 2247 AM, sebagai tahun kelahiran sang nabi.

Sejak kelahiran Ibrahim hingga kepindahan Ya’qub dari Kan’an ke Mesir bersama anak-anaknya di umur 130 tahun, terentang jarak selama 290 tahun. Di kerajaan tersebut, Bani Israil beranak pinak selama 430 tahun hingga masa eksodus. Periode setelah Musa membawa Bani Israil keluar dari Mesir, hingga masa Sulayman, berjarak empat abad lebih 40 tahun, bertepatan dengan masa pembangunan fondasi Kuil Sulayman, yang berlangsung pada tahun keempat pemerintahannya. Biasanya, para sarjana sepakat, bahwa peristiwa itu terjadi pada 997 SM. Dengan demikian, masa nabi-nabi pasca Sulayman dapat ditentukan berdasarkan raja yang memerintah pada masanya. Sebagai contoh, Ilyas hidup pada masa pemerintahan Ahab yang berkuasa antara tahun 877-854 SM. Sedangkan Isa dan Yahya, oleh para sarjana modern ditempatkan tahun kelahiran keduanya pada 4 atau 3 SM.

Kesulitan yang muncul, berkenaan dengan penanggalan Judeo-Kristiani tersebut, berhubungan dengan pemaduan bukti-bukti arkeologis dengan seting sosial historis yang terdapat dalam Perjanjian Lama. Oleh beberapa sarjana modern, sejumlah kejadian dalam buku tersebut dipandang sebagai peristiwa a historis, karena mendahului waktu yang sebenarnya. Sebagai contoh, unta yang dinaiki oleh saudara-saudara Yusuf saat pergi ke Mesir, dipandang fiktif, karena domestikasi unta sebagai binatang angkut, baru marak pada millenium pertama SM. Sedang, eksodus Musa oleh beberapa ilmuwan juga dianggap sebagai imajinasi atau kiasan semata, karena tidak ada bukti arkeologis di Mesir yang dapat membuktikannya. Alhasil, mereka menyimpulkan bahwa perhitungan kronologis para nabi sejatinya hanyalah sebuah epik yang berdasarkan keimanan semata daripada peristiwa faktual.

b. Kronologi Para Nabi Dalam Tradisi Islam
Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, bahwa penyusunan kronologi para nabi dan rasul dalam Islam bersandar kepada metode yang lebih mapan dalam tradisi Judeo-Kristiani. Metode ini secara perlahan tercerap dan terlembagakan secara alamiah kedalam sistem teologi Islam. Sehingga kita menjadi tahu, misalnya, bahwa Ibrahim datang lebih dahulu daripada Musa, dan Dawud adalah pendahulu Ilyas. Meski demikian, sejumlah variasi minor berkenaan dengan identifikasi serta penentuan waktu hidup para nabi juga terjadi dalam tradisi Islam. Beberapa sarjana misalnya, menganggap Idris itu datang setelah era Nuh, dan bukan sebaliknya. Nabi minor, seperti Dzul Kifli, diidentikkan dengan Ezekiel. yang justru datang setelah Yunus dan tidak mendahului Musa, sehingga berlawanan dengan pendapat umum yang menganggapnya sebagai seorang keturunan Ayyub.

Hal lain yang juga sangat penting, berkenaan dengan peletakkan kisah Hud dan Shalih yang kemungkinan besar hidup semasa, atau datang mendahului masa hidup Ibrahim. Dua nabi ini adalah nabi-nabi Arab yang namanya tidak tercantum dalam Perjanjian Lama. Dalam Al-Quran, nama keduanya sering disebutkan secara berurutan, demikian pula kaum keduanya, yakni Tsamud dan Ad. Dalam surat Al-Syuara (26), kisah kedua nabi ini, ditampilkan lebih dahulu dari kisah Luth, demikian pula pada surat Hud (11) yang mendahului kisah Ibrahim, menandakan bahwa waktu pengutusan Hud dan Shalih hadir lebih awal daripada masa Ibrahim dan keponakannya, Luth. Untuk kisah Syuaib, karena narasi Al-Quran sering menempatkannya sebelum Musa (Q. 11:95) maka banyak sarjana yang mengidentifikasi Syuaib sebagai Jethro, bapak mertua Musa. Kedua tokoh ini, meski sama-sama berasal dari Madyan, akan tetapi memiliki perbedaan yang signifikan. Syuaib adalah seorang rasul, sedangkan Jethro tidak pernah disebutkan sama sekali kegiatannya dalam menyeru manusia kejalan yang benar. Oleh karena itu, sejumlah sarjana kontemporer menolak identifikasi ini, dan menganggap Syuaib sebagai seorang nabi Arab sebagaimana Hud dan Shalih yang namanya tidak tercantum dalam Perjanjian Lama.

Batas-batas geografis
Hal selanjutnya yang juga penting dalam pembahasan qashash adalah batas-batas geografis yang melingkupi kisah-kisah Al-Quran. Wilayah geografis yang tercakup didalam qashash Al-Quran membentang luas sejak Asia minor hingga Mesir. Beberapa wilayah tempat tinggal dan menetap sejumlah nabi dan rasul dapat diketahui dengan jelas, seperti tempat dakwah Isa, Yahya, dan Zakariya, yang berlangsung di daerah Judea dan Galilee. Kuil Sulayman, dan juga ibukota kerajaan yang dahulu diperintah oleh Dawud, terletak di kota Jerussalem. Kerajaan Israel di mana Ilyas dan Ilayasa berdakwah dapat diketahui batasan-batasannya lewat narasi Biblikal tentang raja Ahab. Selain itu, banyak yang sepakat bahwa kota tempat Yunus diutus adalah Nineveh, ibukota kerajaan Neo-Assyiria. Juga, Yusuf, Musa, dan Harun, yang ceritanya bersetting Mesir dapat dikenal dengan mudah, meski banyak sarjana yang berbeda pendapat mengenai kota tempat mereka tinggal.

Nabi-nabi Arab, seperti Hud, Shalih, Ismail, dan Syuaib, secara berurutan bertempat tinggal di Arab bagian utara, selatan, Makkah, dan pantai teluk Aqabah di Madyan. Hal ini diketahui berdasarkan tradisi hadits yang menceritakan ketiga nabi tersebut. Selain itu, sejumlah penemuan arkeologi modern juga memberikan petunjuk bagi tempat tinggal kaum Tsamud, yang tertulis dalam inskripsi Sargon II sebagai musuh bangsa Assyiria. Nama-nama lain, seperti Ibrahim, Ishaq, Luth, dan Ya’qub, yang terkenal sebagai para patriark, hidup semi nomaden di wilayah Palestina dan Kanaan. Adapun tiga nabi pertama, yakni Adam, Idris, dan Nuh, tidak diketahui dengan jelas setting tempat mereka tinggal. Khusus mengenai Adam, beberapa riwayat menganggapnya diturunkan Tuhan langsung dari langit, sehingga tempat pertama yang ia injak adalah anak benua India, dimana terletak gunung tertinggi di dunia. Dari India, Adam kemudian bertemu Hawwa di jazirah Arabia, dan dari sanalah mereka mulai membangun peradaban umat manusia. Pandangan ini memang memiliki bobot Arabsentris yang sangat kental, sehingga dipandang sebagai sebuah mitologi daripada fakta historis yang sesungguhnya. Pun, tempat di mana Adam diturunkan, tidak dirinci dengan jelas oleh Al-Quran. Nama-nama selanjutnya, seperti Ayyub dan Dzul Kifli, juga tidak diketahui dengan jelas tempat mereka tinggal.

Barangkali, tidak ada nama tokoh, yang begitu fenomenal melebihi Dzul Qarnayn dalam tradisi qushash. Dari berbagai mitologi dan cerita rakyat, identifikasi tokoh ini dengan beberapa tokoh dunia, turut pula membawa spekulasi yang luas berkenaan dengan tiga arah perjalanan yang ia tempuh. Keberadaan tembok Dzul Qarnayn, bahkan menjadi penting, karena ia merupakan kunci bagi kemunculan makhluk apokaliptik, yakni Ya’juj dan Ma’juj. Mayoritas sarjana muslim, menganggap tembok yang dibangun Dzul Qarnayn untuk menahan penyebaran makhluk tersebut terletak di pegunungan Kaukasus. Sementara, dua makhluk apokaliptik tersebut sering diidentifikasi sebagai bangsa-bangsa bar-bar yang kerap menyerang kota-kota muslim, seperti bangsa Hun atau Mongol.

Daerah lain yang juga penting dalam qashash Al-Quran adalah wilayah Arab bagian Selatan. Selain Hud, di wilayah ini terdapat kerajaan Ratu Saba’, demikian pula riwayat negeri Saba’ yang dilumpuhkan perekonomiannya oleh Tuhan melalui keruntuhan dam Ma’rib. Selain itu, peristiwa penyiksaan kaum Kristen Najran oleh Ashhabul Ukhdud serta rombongan ekspedisi Abrahah ke Makkah, keduanya berasal dari ujung Selatan jazirah Arabia. Bahkan, karena posisi Arab bagian Selatan yang menjadi pusat peradaban pra-Islam dan menjadi titik temu tiga agama Abrahamik, mayoritas periwayat kisah para nabi, atau qushshash, berasal dari wilayah ini.

Metodologi
Mengkaji sejarah dan riwayat para nabi, rasul, serta tokoh-tokoh terdahulu yang tertera dalam Al-Quran bukanlah sebuah perkara yang mudah. Terdapat banyak term dan istilah yang tidak dapat dijelaskan asal-usulnya, demikian pula keterangan yang yang tidak dapat lagi diklarifikasi kebenarannya. Sehingga, beberapa nama seperti Ashhabul Rass atau Raqim, sengaja tidak dibahas dalam buku ini. Demikian pula berbagai detil yang hadir dalam kisah-kisah tertentu, seperti riwayat tentang Tabut, Kuil Sulayman, maupun kisah kepergian Ibrahim dan Sarah ke Mesir. Beberapa nama nabi seperti Idris, Dzul Kifli dan Ilyasa, juga tidak mendapat elaborasi yang dalam, selain karena Al-Quran sendiri memposisikan mereka secara minor, kita pun hanya dapat berspekulasi tentang ketiga nabi tersebut. Ilyasa memang dikenal sebagai salah seorang nabi Biblikal, tapi perannya dibandingkan Ilyas tidaklah seimbang. Kita juga dapat membandingkan Idris dengan Hermes atau Enoch dalam Perjanjian Lama, tapi analogi ini tidak seratus persen terjamin. Hal serupa juga dialami sewaktu kita mengidentifikasi Dzul Kifli. Alhasil, banyak dari tafsir yang berusaha menjelaskan hal-hal tersebut yang berakhir sebagai hipotesis semata.

Al-Quran sendiri, menganggap bahwa kisah para nabi dan rasul sebagai bagian berita-berita ghaib dengan demikian mengkategorikannya kedalam ayat-ayat mutasyabihat, ambigu. Atas dasar inilah, maka penulis menggunakan model kronologi standar sebagaimana yang telah familiar di Indonesia sebagai patokan dalam menulis kisah para nabi. Posisi Idris memang ditempatkan terbalik setelah Nuh, semata demi kelancaran narasi, adapun kisah penciptaan alam semesta ditinggalkan, karena tidak memiliki relevansi apa-apa terhadap kisah para nabi dan rasul. Sedangkan riwayat-riwayat yang berkenaan dengan penciptaan Adam akan mengalami revisi besar-besaran, menyesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan saat ini. Secara umum, kisah yang ada dalam buku ini akan dimulai dari Adam, yang kemudian dilanjutkan oleh Nuh, Idris, Hud dan Shalih. Setelah itu kita memasuki era para patriark, yang dimulai dari Ibrahim, Ismail dan Ishak, Luth, Ya’qub, lalu Yusuf. Dua nabi dan rasul minor, ditempatkan dalam satu judul, yakni Syuaib, Ayyub dan Dzul Kifli. Narasi setelah itu akan lebih banyak berbicara tentang kisah para nabi dan rasul dari kalangan Bani Israil, yang dimulai dari Musa dan Harun, Dawud, Sulayman, Ilyas, Ilyasa, Yunus, Zakariya, Yahya dan diakhiri oleh Isa. Kisah Nabi Muhammad SAW sengaja tidak dicantumkan, karena menurut hemat penulis, kita membutuhkan sebuah buku khusus yang berbicara mengenai biografi Rasulullah SAW.

Selain nabi dan rasul, beberapa kisah para tokoh yang namanya tersebut dalam Al-Quran juga dimasukkan kedalam kronologi utama. Kisah mengenai Luqman, Dzulqarnyn, dan Uzayr, penulis tempatkan menjadi satu dalam satu bab khusus mengenai zaman aksial. Lainnya, seperti kisah Ashhabul Kahfi, Ashhabul Ukhdud, dan Ashhabul Fil, ditempatkan setelah era Isa hingga menjelang masa kelahiran Nabi Muhammad SAW. Adapun, kisah masyarakat Saba’ yang mestinya pula berkaitan dengan epik di Yaman pada masa Ashhabul Ukhdud, penulis tempatkan setelah kisah mengenai ratu Saba’. Sejumlah kisah yang tidak dapat diidentifikasi dan diterangkan dengan jelas, penulis tempatkan di bagian akhir buku ini.

Agar dapat mengerti pesan yang hendak disampaikan, sebagian besar alur cerita yang ada di buku ini, merujuk kepada ayat-ayat Al-Quran secara langsung. Tidak jarang, terdapat beberapa versi cerita yang tampak berbeda untuk sebuah tokoh atau even. Guna mengatasi hal tersebut, penulis merangkum seluruh ayat yang ada, kemudian membandingkannya kedalam sebuah tabel sehingga dapat ditarik garis kronologis yang logis. Hasil dari metode ini dapat dilihat lewat cara penulis menafsirkan ayat-ayat mengenai penciptaan Adam dan epik Musa, yang merupakan dua tokoh yang memiliki kemungkinan tafsir yang luas.

Sejumlah penemuan ilmiah terbaru yang dilakukan oleh sarjana Biblikal dan Muslim dicantumkan sebagai latar belakang dan kerangka waktu yang menyusun rangkaian kisah para nabi. Pengetahuan modern yang menjadi basis pemahaman tentang sejarah saat ini memang menjadi isu utama yang berusaha ditampilkan. Mayoritas kisah para nabi dan rasul, karya ulama modern tidak memasukkan bidang keilmuan ini sebagai bagian penting dalam epik proto-history, sehingga terdapat jurang yang dalam antara epistemologi Islam dan sekuler. Untuk itulah, buku ini hadir sebagai sebuah upaya untuk memadukan kedua domain pengetahuan tersebut. Langkah awal menuju sintesis ini adalah dengan menafsirkan kembali ayat-ayat tentang penciptaan manusia dari sudut pandang pengetahuan modern, diikuti oleh sinkronisasi epik para nabi dengan pengetahuan sejarah modern.

1 komentar:

  1. Menarik sekali utk bisa membaca dan memahami sejarah asal muasal manusia dari tulisan Mas Himawan yang sangat populer dan mudah dimengerti. Dari cara pandang dan berpikir menurut agama Islam berdasarkan al quran dibandingkan dengan cara pandang agama lain. Bagiaman pandangan ilmu pengetahuan pada posisi manusia purba terhadap manusia modern (Adam AS.) apakah pada masa penciptaan awal manusia turunan adam bertemu manusia purba?
    salam
    Haneda SM.
    Bogor

    BalasHapus