Solilokui

Buku, noda, sserangga. Dan rajanya adalah kecoa. Penghuni setia, yang bangkainya diarak ratusan semut ke liang asrama mereka. Jejaring laba-laba, tumpukan kertas, DVD, film-film bajakan, permainan-permainan yang tidak pernah membuatmu sadar akan waktu. Dua buah speaker, Klipsch Promedia. Layar LCD 17", Julian Barnes, foto copy bukunya Russell, dan bau malam. Benda-benda mati, yang kelak membuatmu kaget saat si empunya terbangun oleh sinar matahari pagi.

Masih sama seperti yang kemarin.

Tidak ada kabar baik. Itu buruknya. Juga kabar buruk. Entah seburuk apa kabar itu akan datang. Kupikir hanya keburukan saja yang ada di otak ini.

Malam yang mendesir. Deru kipas angin yang bilah-bilahnya kotor terkena wabah malas. Kasur yang lembab, tumpukan baju dan celana, yang entah suci, bersih, ataukah dekil dan butuh rendaman air Rinso. Tidak ada yang terkata di kamar ini. Semuanya tentang benda mati. Kematian?

Katakan tentang kematian. Agama? Aku lupa. Siapa yang butuh? Tuhankah?

Mata yang meredup. Leher yang kaku. Paha yang semakin membesar. Langkah memberat. Lingkaran pinggang, celana-celana dari kisah yang telah lalu. Meja kerja yang dipenuhi sampah pengetahuan. Ah, kenapa aku menulis semua? Kau pikir itu diam. Tapi kenapa?

Jangan tanya apa-apa padaku. Sungguh, aku tidak pernah tahu jawabnya. Bahkan meski kucoba membunuh Tuhan. Aku tersentak, lalu apa? Tidak ada apa-apa, sama seperti sebelum kematian itu. Tapi, matikah ia? Tolong, jangan tanya aku tentang soal yang tidak aku pahami.

Slip. Buku tabungan. Proyek-proyek masa depan yang runtuh, bagai terkena lanun, tsunami dan kebodohan para penghuninya. Aku hanya ingin diam. Diam? Diam seperti malam ini, saat tidak tahu apa yang harusnya aku ketahui.

Knowledge is a curse!
How dare you.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar