Inklusivitas Beragama, Klaim Keselamatan, dan Millat Ibrahim: Tafsir atas ayat 2:120

Barangkali tidak ada ayat Quran yang begitu populer dalam persoalan hubungan antar umat beragama melebihi ayat 2:120. Ayat ini, yang sering kita dengar di setiap khutbah yang berhubungan dengan penjajahan atas bangsa Palestina, hingga konflik-konflik horizontal antara Islam-Kristen di tanah air, seakan menjadi argumen utama yang direproduksi terus menerus untuk membenarkan kepercayaan sekelompok orang bahwa umat beragama lain selalu menaruh rasa benci, dan curiga kepada umat Muslim dan senantiasa mempengaruhi mereka untuk meninggalkan ajaran Islam yang luhur dan lurus.

Sayangnya pretensi buruk ini sering diterima begitu saja tanpa kritik, dan menjadi raison d'etre bagi sejumlah pelaku tindak kekerasan yang mengatasnamakan agama. Bahwa apa yang mereka lakukan merupakan sebuah pernyataan resmi Islam, dan dengan begitu segala bentuk negativitas mendapatkan justifikasinya. Tentu, saya tidak menampik fakta bahwa terdapat banyak luka sejarah yang melatarbelakangi hubungan antar ketiga agama Abrahamik ini. Namun bukan berarti pembacaan atas ayat tersebut harus dilakukan berdasarkan beban sejarah yang tidak mengenakkan itu, karena jika kita teliti lebih lanjut, masih banyak ayat-ayat Quran yang justru menyuburkan rasa saling percaya dan toleran dengan umat beragama lainnya macam 5:82 dan 5:44. Jika demikian, dengan cara apa semestinya kita menafsirkan ayat tersebut?

Struktur pembacaan
Sebagaimana permasalahan lainnya dalam penafsiran ayat-ayat Quran, akar utama dari pemahaman yang keliru atas ayat 2:120 adalah bagaimana kita membaca ayat tersebut. Mereka yang menerima teori mengenai kebencian, biasanya membaca ayat ini secara terpisah dari lingkungan ayat tempat ia berada, atau lebih parah, hanya membaca frase pertama dari ayat kita ini dan mengabaikan dua frase terakhir yang membentuk kesatuan ide, atau lebih tepat petunjuk bagi pengungkapan makna yang hendak disampaikan. Cara pembacaan seperti ini bisa kita gambarkan dengan notasi [120] atau 1[120]. Pembacaan satu frase ini, jelas sangat tidak memadai untuk digunakan sebagai cara memahami ayat Quran. Kita membutuhkan model pembacaan yang jauh lebih konfrehensif, untuk mengerti maksudnya.

Salah satu fakta tekstual yang tidak bisa kita abaikan dari ayat 2:120 adalah, keberadaan kata penghubung di awal kalimat, wa. Hal ini secara logis menandakan bahwa ayat tersebut merupakan bagian dari sebuah paragraf yang memiliki kesatuan tema yang lebih kuat, dan bukan tema tersendiri yang terpisah begitu saja dari rangkaian ayat yang mendahului atau datang sesudahnya. Ayat yang paling mungkin menjadi pendahulu dari ayat ini jelas ayat 119. Ayat tersebut memiliki 2 frase, dengan frase pertama sebagai pembuka, sedang frase berikutnya sebagai penjelas.

Meski demikian, jika kedua ayat ini digabungkan menjadi satu kalimat utuh, kita akan melihat paduan komposisi kalimat yang tidak seimbang, karena penekanannya yang sangat berlebih pada karakter Ahli Kitab sebagaimana diwakili oleh seluruh frase yang terdapat di ayat 120. Hal ini menunjukkan bahwa makna kalimat [119,120] bergantung pada kalimat lain yang menjadi bagian dari narasi yang jauh lebih luas. Yang saya maksud adalah, bahwa ayat-ayat yang berada pada rentang 2:104 hingga 2:141 saling terhubung satu sama lain, sehingga untuk menafsirkan makna ayat [119,120] mau tidak mau kita harus menempatkannya kedalam konteks rangkaian 37 ayat tersebut. Untuk itu saya akan memecah [119,120] kedalam 5 bagian sesuai dengan jumlah frase yang membangunnya dan membuat sebuah daftar indeks ayat yang berkorelasi dengannya.
1[119] Kami mengutusmu dengan Haqq sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan
2[119] dan kamu tidak akan ditanya tentang penghuni neraka.
1[120] dan tidak akan pernah rela umat Yahudi dan Kristen kepadamu hingga kamu mengikuti millat mereka.
2[120] Katakanlah, sesungguhnya petunjuk Allah adalah Petunjuk.
3[120] Dan seandainya kamu mengikuti ahwa mereka, setelah datang padamu al-'ilm, maka kamu tidak akan mendapat perlindungan dan pertolongan dari Allah.
Pada bagian pertama, frase 1[119] yang menjadi frase pembuka menerangkan kepada kita tentang misi Nabi SAW, yakni sebagai pembawa kabar baik dan pemberi peringatan. Term ini memperkuat pernyataan di 2:104 untuk tidak mendebat wahyu yang diterima oleh beliau. Perdebatan soal wahyu bagi Quran jelas akan membuat umat Islam kehilangan anchor untuk mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, padahal mereka tidak akan dimintai pertanggungjawaban apapun dengan apa yang dikerjakan oleh umat-umat sebelumnya. Oleh karena itu, kenapa harus membandingkan wahyu yang diterima Nabi SAW dengan ajaran-ajaran dua agama sebelumnya, Yahudi dan Kristen.

Term dimintai pertanggungjawaban, tus`al, yang menjadi tema utama dari frase 2[119] muncul beberapa kali di rangkaian ayat-ayat ini. Yang pertama hadir di ayat yg sama, 2:119 dan merujuk kepada perilaku penganut Yahudi dan Kristen yang kafir. Oleh Quran, mereka digambarkan sebagai penghuni neraka, ashhabul Jahim. Adapun dua term lainnya, muncul di dua ayat berbeda, 2:141 dan 134, dan secara definitif merujuk kepada Ibrahim dan anak cucunya, yang dalam tradisi Judeo-Kristen dikenal sebagai para patriark. Para patriark ini menempati posisi yang khusus dalam konsep keberagamaan Quran. Mereka digambarkan sebagai para hanif, yang menganut agama, millat, yang lebih murni dari Yahudi dan Kristen.

Kemurnian millat para patriark inilah yang membuat Quran membedakan posisi mereka dari agama Yahudi dan Kristen. Bagi Quran, para patriark bukanlah Yahudi apalagi Kristen, mereka merupakan entitas berbeda, yang tidak serupa dengan keduanya. Hal inilah yang membuat umat Yahudi dan Kristen tidak pernah rela dengan definisi Quran tersebut. Dalam frase 1[120] kita menemukan term tardha 'anka, merujuk kepada misi kenabian Muhammad SAW yang tertera secara implisit di frase 1[119]. Membawa kembali kepada pengulangan tema di 2:104, ketika para sahabat mengalami kebingungan akibat informasi yang berbeda soal agama yang mereka dapatkan dari komunitas Yahudi di Madinah.

Karena ada beberapa ajaran Islam yang tidak dapat didamaikan begitu saja dengan ajaran Yahudi dan Kristen, maka umat Islam pun diperintahkan untuk mengikuti ajaran agamanya saja. Bagaimana pun kebenaran hanya milik Tuhan dan Dialah yang akan menilai perbuatan semua manusia di akhirat kelak. Tema ini menjadi ide utama dari frase 2[120]. Secara semantik ia berkorelasi dengan ayat 2:115 yang menggambarkan relativitas kebenaran dalam satu rumpun agama Abrahamik, sekaligus memperkuat teologi lakum dinukum wa liy al-din, yang juga tertera secara simbolik di ayat 2:139 dan menjadi tema sentral Islam dalam berhubungan dengan penganut agama-agama serumpun.

Namun alasan paling utama mengapa Quran mengambil posisi yang berseberangan dengan tradisi Judeo-Kristen adalah, karena para penganut kedua agama ini telah mengikuti hawa mereka dalam beragama. Kata hawa yang lebih tepat diartikan sebagai spekulasi dalam soal agama, dirinci pengertiannya oleh Quran kedalam: Perilaku  ra'ina umat Yahudi yang berujung pada kekafiran dan kedengkian (108); eksklusivitas keselamatan di akhirat (111); perilaku merendahkan dan mengkafirkan satu dengan lainnya (113); penolakan terhadap kebebasan beragama(114); Trinitas (116); serta antropomorfisme atas Tuhan (118). Keenam jenis hawa inilah yang menjadi tema utama dari frase 3[120] yang diakhiri dengan pernyataan jika Nabi SAW melakukan hal serupa, maka beliau tidak akan mendapatkan perlindungan dan pertolongan dari Allah.

Narasi besar
Dari survey singkat atas ayat 2: 120 tadi kita menuju kepada tema utama yang membangun narasi besar ayat 2:104-141. Narasi ayat-ayat ini dibuka dengan perintah kepada umat Islam agar tidak berkata, ra'ina, kepada Nabi SAW berkenaan dengan wahyu yang diturunkan kepadanya, dan disarankan untuk menunjukkan sikap lain: lihatlah kami, dan dengarkan apa yang dikatakan Tuhan kepada Nabi SAW, unzhurna wa isma'u (2:104). Kata ra'ina yang berasal dari akar kata r ' y, menggembala, setidaknya termaktub dua kali dalam Quran, ayat lain yang mencantumkan kata ini adalah 4:46. Keduanya merujuk secara definitif kepada perilaku Bani Israil yang membangkang kepada rasul dan nabi mereka.

Tabari dalam tafsirnya, memberikan beberapa makna dari Ra'ina, diantaranya: bertolak belakang, khilaf, dan perilaku demokratis, isma minna wa nasma' minka-- dengarlah pendapat kami maka kami akan mendengarkan pendapatmu. Larangan mengatakan ra'ina kepada Nabi SAW terkait dengan sejumlah keputusan agama yang sedikit demi sedikit mulai berpaling dari semangat Judeo-Kristen, seperti perubahan waktu shalat yang berevolusi menjadi shalat lima waktu, hingga perubahan arah kiblat dari Jerussalem ke Makkah. Perubahan aturan-aturan agama ini dijelaskan dengan rendah hati di ayat 106, yang menjelaskan bahwa Tuhan memberikan yang lebih baik kepada umat Islam atas aturan-aturan agama, ayat, yang telah di hapus, mansukh.

Perubahan-perubahan yang terjadi dalam aturan agama, bagi sebagian orang tentu memunculkan tanda tanya besar. Apa sebenarnya yang diinginkan oleh Tuhan dengan perubahan tradisi keagamaan ini? Namun efek yang paling utama dari rasa penasaran yang berlebihan bukanlah diskusi segar yang saling mencerahkan, melainkan tumbuhnya rasa sangsi atas kebenaran agama. Di ayat 108, Quran memberikan analogi Musa yang tidak kuasa menghadapi kritik, pertanyaan, dan permintaan Bani Israil kepadanya. Bahkan meski semua permintaan kritis itu dapat dijawab dengan tuntas, tetap saja sebagian besar dari mereka berpaling dari ajaran yang ia sampaikan. Hal serupa juga dialami Nabi SAW yang juga mendapat kritik pedas atas aturan-aturan agama yang ia terima.

Pada titik ini umat Islam dihadapkan pada dua otoritas yang saling bersaing, otoritas agama Judeo-Kristen yang lebih mapan dan mayoritas, serta otoritas agama yang diterima oleh Muhammad SAW melalui wahyu yang masih belia dan minoritas. Sementara Islam tidak menolak kebenaran yang ada dalam tradisi Judeo-Kristen, di lain pihak terdapat beberapa aturan dalam Islam yang bertentangan dengan ajaran kedua agama tersebut. Menghadapi masalah pelik ini, Quran kemudian memberikan sebuah solusi keagamaan yang inklusif dan pluralis. Di ayat 115 secara metaforik dijelaskan bahwa kepunyaan Allah-lah Timur dan Barat, dan kemanapun seseorang menghadap, maka akan ditemukan Wajah Tuhan di sana.

Metafora Timur dan Barat di ayat tersebut secara tidak langsung merujuk kepada polaritas tradisi keagamaan yang mungkin terjadi antara Islam dan Judeo-Kristen. Penekanan bahwa ada banyak wajah Tuhan di berbagai penjuru mata angin, menyiratkan keberadaan banyak jalan untuk menuju Tuhan. Jalan-jalan yang banyak inilah yang digunakan oleh berbagai tradisi keagamaan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Implikasi utama dari pluralitas jalan kebenaran ini adalah, tidak satupun tradisi yang mampu mengklaim bahwa dirinyalah yang paling berhak atas surga. Tema utama ini kita temukan ekspresinya di ayat 111 serta 113, dan kembali diulang pada ayat 135, menjelaskan eksklusivitas kebenaran yang dibawa oleh tradisi Judeo-Kristen.

Meskipun jalan Tuhan itu banyak, tapi bukan berarti semua ajaran yang terdapat di setiap jalan direstui oleh Tuhan. Ajaran yang sama sekali tidak direstui Tuhan adalah ajaran yang menurut Quran muncul berlandaskan hawa para pengikutnya sebagaimana telah kita bahas sebelumnya.

Millat Ibrahim
Apabila tradisi Judeo-Kristen tidak benar-benar layak untuk dijadikan pedoman bagi keberagamaan tiga agama Abrahamik ini, lalu tradisi keagamaan apakah yang ditawarkan oleh Quran sebagai titik temu keberagamaan Yahudi, Kristen dan Islam? Jawabnya adalah, tradisi agama yang dipelopori oleh Ibrahim, yang dalam bahasa Quran dinamakan sebagai millat Ibrahim.

Kata millat dalam Quran memiliki makna yang mirip dengan kata din, keduanya secara sederhana merujuk pada satu makna yang sama, agama. Dari 15 kata millat dalam Quran, setengah diantaranya selalu merujuk kepada nama Ibrahim. Sisanya, dengan merata merujuk kepada agama Yahudi, Kristen, dan pagan Arab. Millat Ibrahim dalam Quran dikenal juga dengan kata hanif. Kata ini, yang secara sederhana berarti condong, mayl, dan sering digunakan oleh masyarakat Arab pra-Islam untuk merujuk kepada pola peribadatan yang hanya menyembah satu Tuhan yang dilawankan oleh kultur politeis yang menjadi pola keberagamaan utama masyarakat Arab pada saat itu.

Dalam tradisi Judeo-Kristen, sosok Ibrahim dan anak cucunya, asbath, hanya menempati fungsi biologis sebagai keluarga yang darinya bangsa Israel berasal. Fungsi teologis yang dibawa Ibrahim hampir tidak dikenal oleh masyarakat Yahudi dan Kristen. Berkenaan hal ini, kedudukan Musa bagi agama Yahudi, dan Isa bagi agama Kristen jauh lebih sentral. Problem teologis yang muncul kemudian, apakah Ibrahim dan anak cucunya itu dapat disebut sebagai orang beriman ataukah tidak, karena ia tidak pernah menjalankan perintah Taurat, juga tidak percaya bahwa Isa adalah juru selamat (pada kasus Islam, ia tidak pernah bersaksi bahwa Muhammad SAW adalah rasul Allah)?

Pemecahan atas persoalan ini adalah penetapan Ibrahim dan asbath sebagai orang-orang beriman. Keberimanan Ibrahim dan anak cucunya yang dalam perspektif ketiga agama tidak sempurna justru memberikan implikasi teologis yang sangat besar. Apa yang ia tunjukkan dengan kepasrahannya dalam menyembah Tuhan, ketulusannya dalam berdoa, dan concern yang ia berikan kepada keturunananya, sebagaimana terbaca dalam  2:124-133 menjadi model utama dalam beragama yang patut ditauladani oleh para penganut ketiga agama serumpun ini. Dengan indah Quran menggambarkan orang-orang yang hendak meniru perilaku Ibrahim tersebut (entah ia seorang Yahudi, Kristen maupun Muslim) sebagai mereka yang telah dimurnikan jiwanya, terpilih di dunia, dan di akhirat mereka termasuk orang-orang yang shalih (2:130).

Kesimpulan
Model pembacaan kontekstual sebagaimana saya demonstrasikan dalam tulisan ini menunjukkan bahwa ayat 2:120 bukanlah sebuah ayat permusuhan dan kebencian sebagaimana dipahami oleh banyak pihak, melainkan sebuah petunjuk untuk bersikap yang benar dalam pluralisme beragama. Ketika setiap tradisi agama berkeras kepala dengan kebenaran yang ia bawa, maka tidak ada jalan lain bagi umat Islam selain berpegang teguh pada ajaran agamanya sendiri. Karena bagaimanapun juga, setiap agama telah mengambil cara tersendiri yang berbeda satu sama lain dalam usahanya menuju Tuhan.

Wa Allah A'lam bi al-shawwab.

Menafsir Surat al-Fil: Sebuah Tinjauan Historis & Semantik (2)

Salah satu problem dalam tafsir tradisional seputar surat al-Fil adalah interpretasi berlebihan terhadap kata ababil. Sementara bahasa Arab tidak mengenal perbedaan penulisan antara noun dan proper noun, kata ababil hampir tidak memiliki indeks relasi sama sekali dalam Quran. Kata ini terbilang hanya sekali termaktub sehingga tidak memiliki referensi makna dengan ayat-ayat Quran lainnya. Meski demikian, sejumlah ahli tafsir yang menganggap ababil sebagai sebuah kata sifat, menafsirkan kata tersebut sebagai berbondong-bondong, berlapis-lapis, atau gelombang demi gelombang. Dalam kasus ini, term yang terkait dengan ababil, seperti thayr, burung, diterima taken for granted.

Lain halnya dengan mereka yang menafsirkan ababil sebagai proper noun (Ababil). Mereka terjebak pada imajinasi liar tentang burung besar yang membawa bebatuan panas dari neraka. Beberapa menjelaskan secara rinci karakter burung tersebut, menceritakan kisah-kisah legendaris dan menarasikan mitologi baru akan sosok algojo adi kodrati yang diutus Tuhan untuk menghukum Tentara Gajah. Penafsiran tipe kedua yang lebih populer inilah yang berusaha dikritik oleh sejumlah sarjana modern. Arthur Jeffery misalnya, menyatakan bahwa para filolog Arab hampir tidak memahami makna dari kata ababil yang menurutnya berasal dari akar kata asing, ibalah, yang berarti rombongan. Ia kemudian mengutip pendapat Burton yang menyatakan bahwa kata tersebut berasal dari bahasa Persia abilah yang berarti bisul. Hal ini juga diyakini oleh Sprengel beberapa abad sebelumnya, yang menerangkan bahwa kata itu berasal dari gabungan dua kata, ab (bapak) dan abilah (kesedihan), sembari menerangkan bahwa masyarakat Persia menggunakan kata abilah untuk merujuk kepaa kata cacar. Sayangnya, pendapat Sprengel dan Burton ini bermasalah, karena kata abilah sendiri adalah sebuah kata pinjaman dari bahasa Arab, sehingga diragukan keasliannya teorinya.

Menafsir Surat al-Fil: Sebuah Tinjauan Historis & Semantik (1)

Setiap pembacaan atas surat ke-105 dalam Quran ini benar-benar penuh intrik. Permasalahan yang utama adalah posisi surat Al-Fil yang berada di penghujung Quran membuat surat ini begitu populer. Bahkan sejak usia dini, hampir seluruh umat muslim telah hafal surat tersebut. Kisahnya yang imajinatif direproduksi terus menerus oleh guru agama, dan menjadi bagian dari pop culture yang terus dipahami demikian, bahkan hingga dewasa. Beberapa ada yang mempertanyakan historisitas kisah ini berdasarkan logika dewasa mereka, namun sebagian besar masih memegang makna yang mereka cerap saat kanak-kanak. Disparitas makna yang lebar inilah yang membuat setiap penafsiran terhadap surat Al-Fil bermasalah. Adakah burung Ababil? Bagaimana burung itu mencapai neraka dan membawa bebatuan dari sana? Haruskah kita memahami surat tersebut secara figuratif atau literal? Pertanyaan-pertanyaan sederhana tapi penting inilah yang membuat usaha untuk memaknai surat Al-Fil dalam nalar modern menjadi penuh tantangan. Namun sebelum kita beranjak kedalam diskusi menarik mengenai state of affair ayat tersebut, ada baiknya kita melakukan survey singkat atas wilayah geografis dimana semua kejadian ini bermula, Yaman.

Memahami Narasi Al-Quran tentang Hari Raya (1)

Untuk hadits online dalam bahasa Indonesia
dapat dibuka di http://id.lidwa.com/app/ 
Berapa harga sebuah hari raya? Dalam dunia modern yang penuh dengan komodifikasi, pertanyaan yang mengemuka tentang makna hari raya memang pantas kita lontarkan. Mulai dari latar belakang ekonomi yang spektakuler; klaim dan otoritas; perpindahan manusia, barang dan jasa; hingga ingar bingar wacana di layar kaca dan dunia maya. Hari raya Idul Fitri jelas sebuah perayaan akbar yang menyita perhatian banyak pihak di negara ini. Bukan saja karena makna hari tersebut yang sangat penting bagi miliaran umat Islam (terutama di Indonesia), tapi juga keterputusan semantik term 'idul fithri dalam Quran.
Terdapat kontras yang tajam antara Idul Fitri sebagai sebuah fenomena sosial, dengan Idul Fitri sebagai fenomena kitab suci. Kita akan segera memahami keretakan epistemologis ini tatkala kita mencari ayat-ayat Quran yang berhubungan dengan kata 'id, atau setidaknya memuat tema tentang hari raya. Dari 63 kata 'wd, yang menjadi akar dari kata 'id dalam Quran, hanya ada satu ayat yang merujuk secara jelas makna literal kata tersebut, yakni Q. 5:114. Itupun tidak menandakan hubungan apa-apa dengan hari raya umat Islam, karena mengacu pada permintaan Isa agar Tuhan menjadikan peristiwa perjamuannya dengan para hawari sebagai festival, hari raya dan 'id, bagi para pengikutnya. Ketiadaan penyebutan kata 'id membawa masalah tersendiri dalam pendefinisian makna kata tersebut, apalagi jika kita benar-benar berhasrat untuk mengetahui geneologi perayaan Idul Fitri. Jika demikian, lalu darimana asal makna perayaan Idul Fitri sebagaimana kita persepsi saat ini?

Jejak Arkeologis Puasa dan Ramadhan dalam Al-Quran dan Sejarah

Kenapa berpuasa? Pertanyaan ini secara alamiah akan muncul saat kita membaca ayat-ayat Quran yang berhubungan dengan perintah untuk berpuasa. Dari enam serial ayat yang mengandung perintah untuk melakukan ibadah tersebut, lima diantaranya merupakan ayat-ayat penalti. Yakni ayat-ayat yang mengatur hukuman bagi seseorang yang telah melakukan kesalahan. Dua diantara ayat penalti ini berhubungan dengan ritual haji (Q. 2:196; 5:95), dua lainnya berkaitan dengan hubungan sosial: hubungan suami-istri (Q. 58:4) dan janji (Q. 5:89), serta satu berkaitan dengan tindak pidana pembunuhan (Q. 4:92). Yang menarik, perintah berpuasa dalam kelima ayat tersebut selalu menjadi alternatif terakhir, dari satu atau dua opsi pertama yang jauh lebih sulit yang secara umum berkaitan dengan uang dan makanan. Yakni mengeluarkan sedekah dalam jumlah tertentu, membebaskan budak, atau memberi makan orang-orang miskin.

Dari statistik Quran ini, kita dapat menarik hipotesis pertama kita, bahwa tindak berpuasa pada awalnya adalah suatu bentuk hukuman primordial, bagi seseorang yang tidak memiliki sarana apa-apa untuk menebus kesalahan yang ia perbuat. Ia adalah hukuman fisik orang pertama, yakni hukuman yang berasal dari kesadaran diri sendiri, untuk membedakan dengan hukuman fisik orang kedua, seperti hukuman potong tangan, dan cambuk, yang memerlukan keberadaan orang kedua sebagai eksekutor pelaksanaan hukuman tersebut. Atau hukuman non fisik, macam denda membebaskan budak, dan memberi makan orang miskin, yang semuanya bersandar pada uang dan harta yang dimiliki si terhukum. Singkat kata, dalam jenis hukuman primordial ini, subjek diposisikan sebagai orang yang paling lemah, yang tidak mampu menebus kesalahan yg diperbuat selain melalui disiplin diri sendiri.

Masuk UGD (1)

Semuanya bermula pada hari Sabtu lalu (16/7), ketika saya, adik, dan sepupu menghabiskan akhir pekan di kolam renang. Kondisi badan saya saat itu memang tidak benar-beanar fit. Malam hari, sepulang dari kantor, saya tidak lekas istirahat, tapi sibuk membenahi masalah driver di komputer yang baru bisa diatasi pada pukul 3.35 dini hari. Setelah itu, saya hanya tidur sebentar dan hampir saja lupa kalau pada pagi harinya saya ada janji untuk pergi ke kolam renang bersama sepupu. Akibat jam istirahat yang kurang, maka mudah saja saya terpapar flu. Jadilah hingga pukul 8 pagi saya belum beranjak dari tempat tidur. Sementara adik dan sepupu saya dengan suka cita pergi ke kolam renang.

Rupanya, niat untuk berenang mengalahkan kondisi tubuh saya yg kurang fit saat itu. Saya pun berusaha semampu mungkin untuk dapat pulih dengan melakukan gerak tubuh ringan di kamar. Untungnya, tubuh saya dapat segera beradaptasi dengan keinginan otak saya. Setelah merasa mampu untuk beranjak dari tempat tidur, saya pun segera meraih sepeda dan memulai pemanasan 20 menit sambil menuju ke kolam renang untuk bergabung dengan adik-adik saya di sana, dan jadilah pada pukul 9 pagi hari itu saya memenuhi janji saya untuk berenang bersama.

Memang tidak ada yang dapat menebak apa yang akan terjadi pada diri kita. Namun mengingat kondisi tubuh yang belum benar-benar fit, saya pada mulanya beranggapan jika saya hanya akan duduk-duduk saja di pinggir kolam menonton dua bocah itu dengan senangnya berenang-renang di depan saya. Rupanya, daya pikat kolam sekali lagi mengalahkan suasana tubuh yang belum siap itu. Dengan serta merta saya pun turut bergabung untuk berenang bersama mereka, melupakan kondisi tubuh yang tidak disetting untuk berolahraga. Hasilnya ternyata sangat menakjubkan. Saya bisa berenang dengan menggabungkan gaya bebas dan gaya punggung untuk pertama kalinya tanpa terputus. Hari itu juga, saya sudah dapat berenang gaya punggung tanpa harus menggunakan penjepit hidung. Benar-benar sebuah kemajuan yang pesat, mengingat pada Kamis sebelumnya, saya sama sekali tidak dapat melakukan kedua hal tersebut. Hidup ini benar-benar penuh dengan kejutan.

Entah karena terlalu bersemangat atau karena saya sangat enjoy pada saat itu, tanpa saya sadari, saya telah memforsir tenaga saya melakukan kedua penemuan baru tersebut--meski masih enggan berenang di kolam 2 meter. Saya pikir itu cuma masalah waktu saja, tapi tidak untuk saat itu. Jadilah sekeluar dari kolam saya mulai merasakan rasa sakit di dada kiri saya. Seperti biasa saya menganggap itu sakit dada biasa, tapi setelah beberapa hari lewat tidak kunjung sembuh, saya jadi curiga ada yang bermasalah dengan jantung saya. Kebetulan, pada hari Ahad keesokan harinya, saya mendapat musibah kecelakaan di depan kantor. Memang tidak ada luka yang tergolong parah, hanya lecet-lecet di jemari dan telapak tangan saja. Tapi yang saya takutkan bukan soal kecelakaan itu, melainkan masalah sakit di dada kiri yang masih tetap ada, bahkan tambah parah paska kecelakaan. Untuk meyakinkan diri bahwa tidak ada masalah yang berarti, maka pada Selasa (19/7) saya pun segera pergi ke dokter untuk memeriksakan kondisi tubuh.

Sebagai orang yang pernah bekerja di dunia farmasi, saya tahu jika rasa nyeri di dada tidak boleh diabaikan begitu saja. Ia bisa merupakan indikasi dari penyakit serius macam jantung, meski ada kemungkinan lain yang lebih ringan, macam spasma otot dada. Hanya, mana dari dua kemungkinan ini yang benar-benar menimpa diri saya? Memang ada orang yang mampu membedakan antara rasa nyeri akibat ketegangan otot dengan rasa nyeri akibat infark miokard di jantung. Tapi siapa sih yang mampu membedakan kosa kata nyeri dan sakit yang menimpa dirinya? Iya, kita tahu apa itu rasa nyeri dan bagaimana sakit, tapi perasaan kita kan tidak serta merta mengkorelasikan apa yang kita alami dengan kapasitas linguistik yang kita kuasai. Dalam kondisi subjektif ini, kita pasti akan terjerat kedalam solipsisme. Dan sungguh, debat filosofis ini tidak akan memecahkan masalah yang terjadi pada diri saya. Saya butuh penilaian yang lebih objektif dan empirik untuk mendiagnosis kondisi yang terjadi di dada kiri saya itu. Tempat paling tepat untuk mengetahui jawabannya adalah rumah sakit.

Selepas Isya, saya pun segera berangkat ke RS. Global untuk mengecek kondisi dada saya itu. Kebetulan saya pernah berobat di sana sebelumnya, dan rumah sakit tersebut masuk dalam daftar asuransi kesehatan kantor. Jadi tidak terlalu risau soal biaya pengobatan. Setelah menyelesaikan soal administrasi, saya pun diminta untuk menunggu giliran masuk ke kamar dokter. Sambil menunggu, suster melakukan pengecekkan tekanan darah dan menimbang berat badan saya. Saya tidak terlalu risau mendengar penjelasan suster yang mengatakan TD saya diatas rata-rata normal, toh saya memiliki riwayat tekanan darah tinggi. Yang membuat saya risau, justru hasil timbangan badan saya yang lebih tinggi 5 kilogram dari pengukuran berat badan di rumah. Terus terang, saya mendapat kesan buruk dari kalibrasi alat penimbang berat badan di rumah sakit ini. Sebelumnya, saya sempat menimbang di alat timbangan yang berbeda di rumah sakit tersebut, dan hasilnya berat badan saya lebih ringat 5 kg dari hasil yg saya peroleh di rumah. Padahal, jeda waktu antara menimbang di rumah dan di rumah sakit hanya 3 hari. Bagaimanan mungkin dalam tiga hari saya bisa mengalami perubahan berat badan drastis. Hal yang sama juga terjadi pada malam itu, berat badan saya tiba-tiba naik 5 kg hanya dalam jangka waktu 2 hari saja!

Mendengar argumentasi saya itu, si suster malah tertawa dan memberikan pertanyaan aneh. Jadi bapak mau berat badan berapa? D'oh! Baru kali ini ada tawar menawar soal berat badan. :D. Well, saya serius dengan pernyataan saya itu. Ketika tidak adalagi benda eksternal yang dapat kita percaya untuk mendapatkan kondisi objektif, bisa dipastikan kita tidak akan mampu keluar dari jeratan solipsisme. Dalam dunia modern yang sepenuhnya bergantung pada mesin, ketidakakuratan pengukuran jelas sebuah bencana. Contoh nyata saat kita kehilangan orientasi waktu dalam ruang tertutup, meski ada jam dinding, tetap kita tidak tahu waktu yang sebenarnya pada saat itu. Karena dalam jam analog, representasi pukul 02:00 pagi serupa dengan representasi dari pukul 14:00. Apakah saat itu pagi dini hari atau tengah hari, alat pengukur waktu itu tidak mampu memberikan jawaban yang memuaskan. Kasus yang lebih serius adalah soal keakuratan altitumeter pada instrumen pesawat. Dalam kondisi cuaca yang buruk, dengan jarak pandang yang sangat minim, ketidakakuratan alat pengukur akibat kalibrasi yang salah jelas sebuah bencana. Untungnya, saya tidak sedang dalam pesawat, dan pada malam itu saya memenangi argumentasi dengan si suster. Hehehe...

Akhirnya waktu saya pun tiba. Setelah dipanggil masuk, saya bertemu dengan dokter yang tengah praktek pada saat itu. Dokter umum ini masih muda, dan kemungkinan besar umurnya di bawah saya. Begitu saya mendeskripsikan problem kesehatan saya, seperti yang saya duga, ia membeberkan dua kemungkinan infark dan spasme kepada saya. Dan karena ia tidak memiliki alat yang objektif untuk mencapai kesimpulan itu, ia pun segera merujuk saya ke UGD guna melakukan pemeriksaan lebih lanjut dengan EKG. Ya, pada malam itu untuk pertama kalinya saya masuk ke ruang gawat darurat dan melakukan pengecekkan jantung. Tapi sungguh bukan itu permasalahannya. Asosiasi kita tentang UGD rupanya sangat berpengaruh dalam cara kita bertindak dan merespon. Saya sebenarnya tidak begitu panik dengan keputusan si dokter umum itu, karena tindakannya benar-benar textbook, tapi lain halnya dengan suster yang tadi menimbang berat badan saya yang jadi tampak sibuk dan cekatan. Asosiasi semantik dari kata UGD rupanya telah memicu sekresi hormon fight and flight dalam dirinya. Ya, linguistik rupanya benar-benar mempengaruhi biologi tubuh manusia.

Namun, yang muncul dalam benak saya bukanlah kondisi si suster yang agak panik itu. Yang saya pikirkan saat itu hanyalah, apakah saya benar-benar tidak panik? Saya mencoba bertanya pada diri sendiri, apakah saya panik? Dan secara positif saya memperoleh jawaban bahwa tidak ada masalah apa-apa dengan diri saya saat itu. Saya menganggap mampu menguasai keadaan. Sayangnya, afirmasi sepihak ini tidaklah objektif, karena jawaban sesungguhnya dari pertanyaan saya tersebut baru saya ketahui ketika masuk ke ruang UGD. Di ruang ini, tekanan darah saya kembali diukur oleh petugas jaga ruang emergency tersebut. Tensimeter yang digunakan untuk pengukuran memang berbeda dari tensimeter si suster yg dalam bentuk digital. Begitu juga angka yang dihasilkan. Pada tensimeter manual ini, saya mengetahui jika sistolik saya meningkat dengan tiba-tiba sebesar 20 mmHG hanya dalam kurun waktu 8 menit. Bagi saya, perubahan drastis tersebut dapat dianggap sebagai jawaban bahwa sistem tubuh saya bereaksi secara negatif dengan tiba-tiba dari asosiasi kata UGD. Dengan kata lain, saya saat itu tengah panik, meski kesadaran saya menolak mentah-mentah atribusi tersebut.

Memang sih, kalau mau kritis bisa saja kita meragukan keakuratan kalibrasi kedua alat ukur tersebut, tapi dalam kondisi saat itu saya tidak terlalu mengambil pusing. Toh, dalam dunia medis, fenomena ini juga dikenal sebagai sindroma kerah putih, "white collar Syndrome", yakni peningkatan tekanan darah tiba-tiba oleh kondisi psikologis yg disebabkan rasa takut, terkejut, atau bahkan wow, saat kita melihat petugas medis berbaju putih yang seksi itu. :p Dan rupanya saya benar-benar mengalami sindroma tersebut. Bukan karena perawat tadi seksi, tapi karena suasana dari ruang UGD yang membenarkan konsepsi semantik saya tentang tempat tersebut. Dingin, dan sepi.

Kolam Renang

Saya masih ingat pembicaraan saya dengannya di YM beberapa bulan yang lalu. Tentang bagaimana dirinya memulai untuk belajar berenang. Mengambang katanya, ia sudah dapat mengapung dan sedikit demi sedikit membiasakan dirinya untuk tidak takut lagi kepada air. Dan itu ia lakukan karena sadar bahwa kota tempat ia tinggal sangat rentan sekali terhadap bahaya tsunami. Sehingga jika dirinya dapat berenang setidaknya ia mampu menyelamatkan diri sendiri, seandainya bahaya air bah itu datang menerjang.

Saya mengikuti penuturannya itu dengan takjub. Meski belum mampu mencerna apa iya seorang perenang yang hebat dapat selamat dari kejaran air bandang yang kecepatannya hingga 80 km/ jam? Bahkan jika si perenang hebat itu tengah menghadapi kedatangan tsunami, barangkali ia akan berpikir sama dengan mayoritas penduduk kota, pergi mengungsi ke tempat yang tinggi dan berusaha untuk tidak tertelan oleh gulungan ombak liar tersebut. Dan pastinya, berenang di atas terjangan tsunami jelas bukan ide yang keren untuk dilaksanakan. :)

Namun pemikiran rasional tadi tidak serta merta muncul di benak saya, sama seperti kata renang yang tidak memiliki bekas apa-apa dalam kesadaran diri. Kegagalan untuk dapat berenang 3 tahun lalu rupanya yang menyebabkan saya menjauhkan diri dari olah raga air tersebut dan tetap berdiri di pinggir kolam menyaksikan dengan iri orang-orang yang bergembira ria dengan cipratan air. Saya tidak dapat berenang, dan itu adalah sebuah cela yang tidak bisa saya maafkan. Maka kuceritakan padanya tentang asal-usul aquaphobia dan kegagalan saya untuk dapat mengatasi rasa takut tersebut.

"Semua bermula pada saat saya masih belia", saya sampaikan kalimat ini kepadanya dengan rasa enggan.

Saat itu saya diajak oleh tante saya untuk belajar berenang di sebuah kolam renang umum. Tentu saja saya sangat senang. Meski mempelajari teknik-teknik dasar renang seperti mengapung, bukanlah perkara yang bisa saya pelajari dengan mudah. Saya tergolong murid yang bodoh. Tante saya yang rupanya tidak sabaran justru memilih jalur pintas, memaksa saya menyelam dengan menenggelamkan saya kedalam air. Sekuat tenaga saya memberontak dan berusaha keluar guna menarik napas. Tentu saja saya berhasil, dan ia tidak lagi melakukan tindakan bodoh tersebut. Satu-satunya hal yang tersisa hingga saat itu hanya rasa trauma dan takut. Disadari atau tidak, perlakuan tersebut telah membuat saya trauma untuk mendatangi kolam renang hingga saya dewasa.

"jadi kamu tidak pernah belajar renang lagi?" Katanya penuh selidik.

"Meski trauma dengan air, tapi saya masih memiliki keinginan untuk dapat berenang. Sayangnya, les renang yang ditawarkan oleh guru olah raga saya di SD, pak Bandi tidak bisa saya ikuti." Kali ini masalah yang muncul datang dari luar diri saya. Ibu benar-benar sibuk, sehingga ketika ia pergi bekerja, sayalah yang disuruh menjaga rumah dan adik. Maka les renang yang biasa dilakukan setiap sore hari, tidak pernah saya hadiri. Lagi, ibu juga tidak benar-benar memiliki uang buat membayar uang les yang hanya 7500 rupiah saat itu. Dan saya hanya bisa membiarkan angan-angan itu terbang begitu saja.

"Saya memang anak rumahan, seperti katamu. Benar-benar penurut" sambil membubuhkan tanda senyum di layar komputer.

"ya, dan pemalas, sehingga tidak mau mengejar cita-citanya." dia menulis tanda melet di atas layar. :p

"Dan di pondok, yang kolam renang terdekat berjarak 15 km, mempelajari olah raga ini di masa-masa remaja adalah omong kosong. Bahkan ketika ada beberapa teman yang mengajak pergi ke kolam renang di hari Jumat, saya hanya dapat mengeles bahwa tidak memiliki uang yang cukup untuk pergi ke kota."

"Tapi itu kisah masa lalu" tulisku melanjutkan. "Usaha saya untuk dapat berenang yang sebenar-benarnya justru terjadi pada saat saya merantau ke Makassar."

"O ya?" tulisnya, menimpali.

"Saat itu kantor kami mendapatkan voucher gratis dari pihak hotel di Makassar untuk menggunakan fasilitas kolam renang milik mereka. Alasannya, perusahaan telah berkali-kali menyelenggarakan acara di hotel tersebut. Kesempatan ini pun ikut saya manfaatkan. Sayangnya, saya hanya sempat pergi ke kolam renang hotel sebanyak 4 kali. Dan di setiap kunjungan itu, saya benar-benar tidak bisa mengatasi fobia terhadap air. Singkatnya saya belum dapat berenang"

"ya, sayang sekali. Mungkin kalau saya jadi kamu, saya sudah bisa berenang saat ini :p"

"I know. you're smart enough to learn swimming :)"

Ujarannya membekas di otak saya sejak saat itu. Perempuan yang aku sukai ini tengah belajar berenang, dan saya tidak bisa apa-apa kecuali hanya memandang dari jauh ke kolam renang yang sedang ia gunakan. Tiba-tiba saya merasa iri sekaligus malu. Bagaimana mungkin saya tidak bisa berenang, sedang ia dengan suka cita berenang-renang di dalam air. Jika ia meminta tolong, siapa yang harus menyelamatkannya? Hati saya pun tergelitik, dan perlahan-lahan kuucapkan dalam diri untuk bisa berenang. Saya harus bisa, karena ia bisa.

***

Langit pagi begitu cerah. Ini adalah kali pertama saya pergi ke kolam renang sendirian. Sebelumnya, saya selalu pergi bersama adik yang telah terlebih dahulu menguasai teknik-teknik renang. Perjalanan kerja yang ia lakukan, termasuk diving di kepualauan Raja Ampat, membuatnya mahir berenang. Menyalib saya yang lebih awal memulai usaha untuk berenang tapi gagal. Harus saya akui, jam terbang yang ia miliki memang jauh lebih tinggi, tapi bukan itu kan permasalahannya. Untuk dapat berenang, kita harus merasa nyaman terlebih dahulu dengan air, dan pada saat itu saya masih belum mampu lepas dari jerat aquaphobia.

"Terlalu banyak teori!", katanya menertawakan saya yang sibuk membaca tata cara berenang di sebuah buku.

"Ya, bagaimana mungkin kita bisa berenang kalau tidak tahu cara yang seharusnya untuk berenang bukan?" tangkis saya, sambil terus membayangkan ilustrasi cara mengapung pada buku di hadapan saya.

"Renang itu soal praktek, bukan hanya teori. Begitu kamu masuk ke air, secara alamiah tubuh kamu akan menyesuaikan diri untuk berenang dengan cara apapun. Jadi percuma saja baca buku", timpal ibu yang ikut mentertawai kerajinan saya yang tidak kunjung membuahkan hasil itu.

"Ah, apapun itu. Tetap, teori yang paling utama. Kita harus memulai dari sana bukan?", jawab saya yang tidak mampu menahan tawa mengolok-olok kebodohan diri sendiri soal renang. Apa yang lebih bodoh dari membaca buku Renang Untuk Pemula selama tiga tahun tanpa sekalipun berhasil untuk berenang. Tiga tahun, dan yang ada di kepala saya hanyalah teori bagaimana mengapung, mengambang, dan menghentakkan kaki membelah lautan air, tapi bukan berenang.

"Cukup!" Kataku dalam hati,  sambil mengambil ancang-ancang untuk melakukan kayuhan pertama. "Hari ini saya pasti bisa!"

Tidak banyak momen yang mampu kau hafal sepanjang hidupmu. Suasana saat pertama kali dirimu mulai dapat mengendarai sepeda atau berciuman dengan seorang perempuan, mungkin diantara momen-momen yang tidak mudah untuk terlupa. Tapi bagiku, suasana ketika berat air menghantam wajah, menyaksikan lantai kolam dengan bening dari atas, merasakan sekujur tubuh terangkat oleh massa jenis air, adalah bagian dari momen yang tidak terlupakan itu. Untuk pertama kalinya saya mampu mengambang dan berenang membelah kolam renang. Hari itu, saat tidak ada orang yang mengenalku menyaksikan momen terindah ini, saya dapat berenang.

"Kakimu terlalu kaku", kata seorang kakek kepadaku. "Cobalah untuk mengikuti ritme air. Seperti ini", katanya sembari menekuk lurus telapak kakinya seperti penari balet. Ia kemudian menghentakkan kedua kakinya di dalam air memperagakan gerakan flutter kick  kepada saya.

"Tidak terlalu susah bukan?"  Sambil memperhatikan gerakan kakiku.

"Memang, hanya saja jadi cepat lelah. Lagi paha saya tidak terlalu kuat untuk melakukan gerakan seperti itu"

"Kalau sudah mengerti cara berenang, kamu tidak perlu mengayunkan kakimu sesering mungkin. Cukup menggerakkannya secara ritmik dan biarkan bagian tubuh lainnya yang mengambil alih. Tanganmu. Ayunkan dengan mantap seperti ini" dengan gerak perlahan kakek itu masuk kedalam air, mengayuh perlahan dengan kedua kakinya dan muncul kembali ke permukaan air dengan gerakan mendayungnya yang mulus. Ia memperlihatkan pada saya cara renang gaya bebas yang sangat baik.

"Oi! Saya belum dapat berenang dengan baik sepertimu!" 

"Tidak masalah. Ayo susul saya ke pinggir sebelah sini!" Teriaknya sambil melambaikan tangannya ke arah saya.

Memang bukan masalah, yang jadi soal hanyalah bagaimana mengambil napas kedua dan tetap berenang tanpa harus tenggelam. Saya pun mengikuti gerakan kakek itu ke pinggir kolam sebelah Timur. Setelah mengambil napas panjang dan menahannya kuat di muluat, saya pun mulai menyelam. Dengan refleks kaki saya menendang-nendang keras kebelakang menciptakan riak yang sedikit demi sedikit mengangkat saya ke atas. Kini giliran kedua tangan saya yang mulai mengayuh kedepan. Membelah air dan mendorong gerakan tubuh jadi lebih cepat. Saya melaju. Petak-petak lantai kolam perlahan-lahan berjalan mundur kebelakang mengikuti luncuran badan yang maju kedepan. Tidak ada yang saya perhatikan di dunia ini selain pergerakan lantai kolam tersebut. Dan saat dinding telinga berderak seperti kapal selam, dan oksigen yang saya telan telah habis, tiba-tiba muncul rasa takut yang membayang. Bagaimana saya akan bernapas? 

"Streamline! Streamline!" teriak si kakek di luar sana.

Ya, saya tahu. Menjaga kepala agar sejajar dengan badan dengan memandang lurus ke bawah. Tapi bagaimana saya bernapas dalam posisi tersebut? Dengan sia-sia saya menengadahkan kepala saya keatas mencoba mengabil napas. Sayang, refleks tubuh saya terhenti dan lagi, saya tercebur jatuh kedalam air.

"Hoa! Ini teknik yang sangat susah!" Teriakku padanya setelah mengeluarkan air yang tertelan saat tenggelam tadi.

"Caramu mengambil napas salah. Daripada mengangkat kepala keatas, cobalah menoleh dan putar tubuhmu kesamping mengikuti aksis sehingga bagian kanan atau kiri lebih tinggi dari bagian lainnya. Kamu harus belajar renang dengan posisi miring dan berputar sejajar poros tubuh." Ia mengatakan itu seolah semudah membalikkan telapak tangannya. Tapi tidak bagiku, yang baru saja memulai sebuah loncatan yang lumayan hebat, renang gaya bebas dengan satu tarikan napas kemudian tenggelam. 

"Saya masih harus banyak belajar dan berlatih".

"Bukannya demikan." Ia mendatangiku sambil tersenyum.

Jadi katakan padaku, kenapa baru pada umur setua ini saya harus belajar berenang? Jangan katakan jika aku melakukannya demi dirinya. Meski aku tahu mungkin saja dengan berenang aku bisa menarik perhatiannya. Semoga saja. Tapi bukan itu kan yang hendak aku capai? Bahkan jika ia memang sudah dapat berenang, toh kecil kemungkinannya kamu dapat menyaksikan ia berenang. Ia masih terlalu jauh untuk aku capai. Tapi renang, bukankah aku bisa menguasainya? Ya, menguasai cara berenang gaya bebas dengan satu kali tarikan napas, sedikit menyerupai bunuh diri singkat, dan aku terbangun dengan tenangnya di tengah ayunan tangan yang membelah air. Menopang tubuhku dengan lembut, membiarkan segala ingatan dan harapan mengalir keluar dengan mudahnya. Seperti air. Merendam diriku dalam bak raksasa, memaksa kotoran-kotoran keluar dari ujung sinap, memberiku kata "ya" yang tidak pernah aku kumandangkan. Aku tiba-tiba tertarik kepada air, tergila-gila dengan sensasinya, kasmaran dengan rasanya yang basah. Meski tidak sekasmaran diriku dengan dirinya. Yang mana? Bahkan kali terakhir, tiada pesan tersampai. Aku ingin bertemu dengannya. Aku ingin berenang kearahnya. Aku ingin mengatakan ini padanya, "aku bisa berenang".

"Jadi begitulah, air bisa membawa efek yang menyenangkan dan membuatmu mantap. Ia membangun rasa percaya diri dan mengikis efek sakit atau patah hati. Dan renang, akan menjadi olahraga favorit sepanjang hidupmu" Ujar si kakek memandang lurus kepadaku

"Kau terlalu banyak bicara." Kataku, sambil berusaha untuk terus mengapung.

"Tidak juga. Kau yang terlalu banyak berkhayal, dengan menganggap misimu untuk dapat berenang sebagai misi romantik. Dan mencoba mencampuradukkan antara imajinasi dan kenyataan". Ia kini menyelam ke bawah dan muncul kembali ke permukaan, memperagakan gaya aneh yg tidak pernah saya lihat, dog paddler.

"Kenyataan bahwa dirimu tidak ada?" Saya menyusulnya dengan terngah-engah, sambil terus menjaga kestabilan.

"Bukan. Kenyataan bahwa sebenarnya kamu memiliki bakat untuk berenang." Ia membelok ke kiri dan berotasi dengan unik

"Yang tidak pernah dapat saya capai hingga momentum romantik itu?" Aku masih heran melihat gerakan-gerakannya.

"That's your answer. Why don't you tell her about that." Katanya bergema, meninggalkan cipratan keras di muka saya. Ia menghilang.

***

Siang hari terik, usai pengalaman pertama itu, saya untuk pertama kali mencoba mencari tahu tempat ia belajar. Mendatangi lembaga budaya itu dan dengan malu-malu meminta izin untuk membaca buku-buku di perpustakaannya yang dingin, tapi tidak basah. Sejam dua jam saya terus menunggu, dan kini tinggal 4 menit lagi aku akan bertemu kembali dengannya. Bukan penantian yang lama memang, tapi waktu seakan berhenti selama setahun. Kebekuan yang memaksa saya untuk membaca komik berbahasa aneh ini. Yang maknanya sama sekali tidak mampu aku pahami. Selain dua nama itu, Tintin dan Herge. Ah, saya sudah membaca komiknya dalam bahasa Inggris. Tapi bukan komik ini, yang entah bagaimana membicarakan komik favoritku itu dalam bahasa yang sangat berbeda.

"Perpustakaan sini hebat juga, Buku-bukunya banyak" tulisku dalam SMS kepadanya.

"Great! Enjoy then. I prefer the other yang lebih lengkap" balasnya.

"Are you there?" Tidak ada jawaban. Hanya sepi sesaat, sebelum riuh suara mengelilingi ruangan. Ada langkah kaki berlari pelan kearahku. Dia di sini.

"Saya pulang bersama yang lain. Kamu tidak keberatan bukan?" diam.

"Naik motor bisa lebih cepat." singkat.

"Tapi naik mobil lebih nyaman." tidak ada jeda.

"ya." dan ia berlari keluar, meninggalkan saya yang masih duduk ternganga melihat bayangnya berlalu.

"Hai, saya bisa berenang sekarang."

Menjadi 30

Apa bagusnya mencapai umur 30 tahun? Well, jika kamu hidup di Inggris pada Abad Pertengahan, itu berarti kamu telah mencapai batas terakhir dari usia harapan hidup yang dicapai rata2 penduduk Inggris pada masa tersebut. Atau jika kamu tinggal di Swaziland saat ini, berarti tinggal 1,8 tahun lagi dan kamu akan melampaui batas harapan hidup di negara Afrika itu. Lain halnya apabila kita membandingkan dengan usia harapan hidup di negeri ini yang berada pada kisaran 71.8 tahun, maka bisa dikatakan bahwa kamu telah menjalani 41% usia harapan hidup rata-rata penduduk Indonesia di tahun 2009.

Sungguh, pencapaian ini tidak benar-benar buruk. Apalagi jika kita menghitung jumlah sperma yang harus mati saat proses pembuahan diri kita berlangsung, belum ditambah yang mati sia-sia di luar waktu pembuahan. Kita mungkin akan berpikir, bahwa keberadaan kita benar-benar sebuah anugerah diantara kemubaziran potensi hidup yang disediakan Tuhan (atau alam, jika anda benar-benar agnostik dan ateis) di alam semesta ini. You have been elected to live and experience this wonderful world. Life then in itself is a grace.

Sayangnya, pemikiran perenial ini tidak serta merta menjadi hawa penyejuk. Evolusi ras manusia dan peradaban selama ratusan ribu tahun tidak mengajarkan kepada kita statistik agung tadi sebagai sebuah barometer dari kata baik. Kita pun dipaksa oleh arsip-arsip zaman yang melekat di memori kolektif kita untuk menjawab pertanyaan yang menyulitkan dan tendesius. Berapa saldo di rekeningmu saat ini? Siapa yang akan kamu ajak untuk tinggal di rumah baru yang belum kau buat itu? Kapan ibu menjadi seorang nenek? Sekarang gabungkan pertanyaan-pertanyaan sosial tadi dengan pertanyaan idealis macam: Kamu hidup selama tiga puluh tahun di bumi ini, lalu apa? Jutaan dan miliaran manusia di bumi juga pernah merasakan hidup pada usia tersebut, maka apa yang membuat kamu berbeda dari mereka? Dan keluarlah sekian checklist yang membuat segalanya jadi tampak runyam.

Tentu bukan salah kita apabila masyarakat dan orang-orang terdekat mempertanyakan checklist standar tadi. Tanpa mengabaikan fakta bahwa setiap kita memiliki jam biologis yang sangat terbatas (macam umur reproduksi perempuan yang berakhir di pertengahan 30-an atau menjelang 40, dan kemampuan memproduksi sperma yang terus menurun hingga usia 60-70 pada laki-laki), semua kecemasan yang kita alami adalah hasil konstruksi sosial dimana kita hidup. Siapa suruh usia harapan hidup masyarakat dahulu sangat rendah, yang menyebabkan mereka telah berkeluarga bahkan pada usia yang sangat dini. Seandainya saja rata-rata penduduk Indonesia di masa lalu hidup hingga usia 100 tahun, mungkin mereka masih menganggap umur tiga puluh sebagai masa-masa puber remaja belaka?--pemikiran absurd. Abaikan saja.

Apa yang hendak saya sampaikan adalah, tidak semua orang menganggap "kebutuhan" sosio-biologis tadi sebagai prioritas utama dalam hidup mereka. Memang akan sangat naif jika kita mengabaikan semua faktor alam dan lingkungan tadi, karena bagaimanapun juga perasaan dan emosi yang kita alami setiap harinya dipengaruhi baik oleh kondisi sosial maupun biologis tubuh kita. Kita dipengaruhi hormon-hormon dalam tubuh kita sendiri yang hadir, entah karena faktor internal, seperti siklus hormonal, maupun faktor eksternal, macam interaksi dengan orang lain yang memicu sekresi hormon-hormon tertentu dalam tubuh kita. Jika kondisi ini merupakan keumuman, maka satu-satunya hal yang menjadi penghalang atau bemper yang membuat segalanya menjadi lebih "berkelas" dan membedakan kita antara satu dengan lainnya, hanyalah pendidikan dan latihan yang kita peroleh.

Lalu apa sebenarnya, makna hidup di usia ketigapuluh tahun ini? Berdasarkan kriteria apapun yang patut disematkan, tampaknya saya belum mampu memiliki sebuah kehidupan yang benar-benar "normal" di awal dekade ketiga kehidupan saya di planet bumi. First thing first, I am still single. Kedua, saya masih hidup menumpang--that is embarrassing. Ketiga, belum ada satupun karya yang berhasil saya hasilkan--huh. Terdengar pesimis? Tidak juga. Terlebih jika membacanya berdasarkan konteks kehidupan saya yang sangat tidak hebat itu. Alasannya, karena pada akhir 29, saya berhasil meraih "kehidupan" yang sempat hilang dan saya abaikan selama 1,8 tahun. Memang bukan pekerjaan yang pantas dibanggakan, namun setidaknya saya memiliki tabungan yang lumayan dari hasil jerih payah selama ini.

Kedua, indikator kesehatan saya lumayan baik. Berat badan yang sangat berlebihan pada tahun kemarin, perlahan-lahan menunjukkan tren menurun dan bergerak ke arah ideal, sedang kebugaran badan saya juga mulai meningkat. Di tahun ini pula saya mulai belajar renang kembali dan memiliki kemajuan lumayan bagus. Setidaknya sekarang saya bisa mengambang dan renang gaya bebas untuk pertama kalinya, meski hanya dengan satu tarikan nafas saja. Untuk tarikan nafas selanjutnya masih belum bisa. :) Benar kata sebuah situs, swimming is about technic, technic, and technic! Dan saya selalu belajar memperbaiki teknik renang saya.

Isu selanjutnya adalah urusan mencari gen terbaik untuk dipasangkan dengan gen yang saya miliki. Rupanya saya memang tidak bisa mengacuhkan tuntutan biologis satu ini, meski tidak serta merta membuat segalanya menjadi mudah, sebagaimana perjalanan cinta saya yang jatuh bangun di pertengahan kedua periode dua puluhan. The important thing is, I still fall in love to a woman, and it's obvious. Semoga saja dia mau menerimanya. I really feel quite optimistic with this matter, even if the sign still come to me in its blurry message. Still, I have hope and faith in God. Mungkin karena itulah banyak orang yang menganggap pernikahan sebagai sebuah institusi sosial yang sangat spiritual dan suci. Perhaps I can prove it and be a witness of that.

Meskipun urusan cinta cukup menyita perhatian dan pikiran saya, tapi sesungguhnya yang saya khawatirkan adalah soal melanjutkan studi magister saya yang selama ini terbengkalai. Pemikiran saya ini sangat berdasar, karena ada batasan usia dalam soal memperoleh beasiswa, yakni 32 tahun. Yang membuat segalanya bertambah parah, ternyata saya belum dapat memutuskan untuk mengambil bidang apapun untuk ditekuni. Dahulu saya sempat berpikir untuk mengambil gelar dalam bidang bisnis, karena selalu berpikir mengenai keamanan finansial. Sayangnya hati saya tidak sinkron. Maka saya pun mulai mencari kajian lain yang sekiranya berkenan. Salah satu bidang yang saya sukai adalah psikologi dan linguistik. Saya pun mempelajari kembali kedua bidang kajian tersebut, hingga tiba pada satu titik yang membuat saya berkesimpulan bahwa kedua bidang itu terlalu jauh untuk saya dalami.

Entah kenapa saya tiba-tiba teringat dengan janji saya dahulu untuk menulis sebuah tafsir Al-Quran. Tafsir yang menggunakan metodologi dan pendekatan baru yang berbeda dari tafsir konvensional maupun tafsir modern yang terlalu bertumpu pada hermeneutika. Saya menamakannya sebagai sebuah pendekatan literalisme radikal terhadap teks-teks Al-Quran. Tolong jangan tanya saya tentang definisinya, karena saya juga masih belum tuntas dalam perumusan istilah tersebut. Yang jelas, contoh dari penggunaan metodologi ini bisa ditemukan dalam beberapa artikel saya tentang kata kunci Al-Quran. Literalisme radikal, dalam hemat saya, bertumpu pada korelasi antar kata untuk menguak makna asli dan memahaminya dari sudut pandang filsafat (analitik) dan sains modern.

Menggunakan istilah sains modern bukan berarti saya melakukan sebuah apologi, seperti banyak ditemukan dalam karya-karya Harun Yahya atau penulis muslim modern lain yang berusaha membuktikan bahwa Al-Quran tidak bertentangan dengan pemikiran ilmiah. Saya sering menganggap ide-ide tersebut sebagai sebuah blunder pemikiran yang kehilangan ruh sainsnya. Apa yang saya lakukan barangkali lebih mirip kajian ala Chomsky yang bersifat analitik untuk kemudian menemukan prinsip-prinsip umum yang bisa dipahami dalam perspektif yang jauh lebih luas. Itu paradigmanya, semoga saja saya tidak keliru, dan semoga Tuhan selalu membimbing pemikiran saya ini. Dan semoga saja saya bisa membuktikannya dengan meraih gelar di bidang tersebut.

Menjadi 30 dengan demikian adalah memulai lembaran-lembaran baru dalam hidup ini. Memulai dengan awal dan niat yang baik, memulai dengan semangat dan optimisme. Semoga Tuhan selalu merestui dan membimbing saya. What I hope is only to see Your smile in this life and day after.

Tentang Nama

Berapa harga sebuah kerinduan?
Memandang hingga larut wajah terkasih
Mencumbu malam dengan doa-doa panjang
Menyebut nama yang entah kali berapa kau ucap.

Namanya yang satu
Dalam waktu-waktu tanpa henti
Di setiap tarikan nafas yang tak mampu kau usir
Malam dan siang
Dalam sadar dan mimpi
Dan keterjagaan yang menyergap
Namanyalah yang kau sebut kali pertama dan terakhir.

Sejak kau ucapkan itu dalam dadamu
Membuncah ia dalam setiap degup jantungmu.
Mengalir keselasar pembuluh darah
Tersambung diantara akson dan dendrit
Dalam setiap sel-sel tubuhmu.
Dibalik lipatan otakmu.
Berlipat ganda dari waktu ke waktu
Bagaikan serbuan virus, trojan dan malware
Menyatu dengan setiap mantra yang kau harap.

Aku cinta kamu
Aku rindu kamu
Aku dan aku
Kamu dan namamu
Dan segala sesuatu tiba-tiba menjadi kamu
Jalanan ini
Rintik hujan ini
Air yang berderai dan mengalir
Bahkan cipratan comberan
Alam semesta pun berubah menjadi kamu

Tapi sungguh, hatiku tak kuasa menjagamu
Sosokmu yang pernah hinggap di memori mataku
Perlahan-lahan mulai memudar hilang.
Entah jika kita bertemu,
Mampukah aku mengenali dirimu.
Dirimu yang dulu, atau dirimu yang akan datang
Tiba-tiba tidak relevan bagi jiwaku.
Aku tidak tahu lagi kamu.
Tapi namamu, hanya namamu
Jua yang mampu bertahan melewati batas waktu.

Dalam nama
Dengan nama
Bersama nama
Dan nama
Namamu
Semua terukir.

Hening

Ada pagi di sini, terang dan tidak
sama seperti pagi di sana, redup dan cerah.
yang menaungi cahanya mentari
yang jari-jarinya merayap membelai bumi.
Parkit, jalak dan gereja
berkicau menggantikan lamunan galau para jangkrik
bersama putaran roda dan mesin
berlomba mengatakan, ini pagi.
Pagi yang menawarkan rasa
aroma embun yang bercampur dengan rekahan tanah
warna-warna pastel
taburan partikel di bawah sinarnya yang teduh
berenang bebas bagaikan amoeba di kehidupan yang lampau

Pagi ini, di mana kamu?
sudah sepekan kita tak bertemu
tambah dua pekan sejak kau mulai malumalu
atau tambah beberapa pekan lainnya
sejak diriku sendu melihat datangnya hari.
Hari yang katanya berbeda dari yang lalu
tak lebih dari pengulangan yang membosankan akan takdir.
Yang merayap yang memanjat
dalam doadoa di malam pekat
seakan si buta yang berjalan tanpa arah
hancur kau diterpa lanun.
Maka kehadiran mentari hanyalah detak yang menyakitkan
seakan Tuhan menggantung waktu
yang terserak tanpa aturan
"Seberapa jauh kau berharap?"
kataNya dengan wajah poker.

Sayang kutakpandai dengan permainan itu
kurasa kejujuran bukanlah harga yang pantas bagiNya
Dia pun meminta lebih
dan kugadaikan jiwaku padaNya, setelah setan dengan enggan
menolak proposalku.
Tapi wajah Tuhan begitu susah untuk ditebak
Dia berpaling penuh selidik,
berharap diriku karam dan tak mampu menjaga arah.
Kukatakan, "Kau bisa memegang katakataku".
Dia tersenyum, meski hanya sebentar,
karena kumulai berpaling dariNya.
"Ah, aku berhasil menipuMu Tuhan!"
Ketidakjujuran ini, dan tarik ulur tanpa akhir
antara aku denganNya
hanyalah keterulangan yang membosankan yang tidak pernah
membawaku kemanamana.
Sama seperti pagi yang datang dengan tibatiba
atau kenggananmu yang duduk statis di ujung sana.

Selamat pagi!
Bonjour!
Hanya itu yang mampu kukatakan padamu
dalam keheningan yang bisu
dihadapan dedaunan beku, yang kini mulai menjadi sahabat setiaku.
Tanpa tahu di mana kamu
berderai tawa atau suka cita
"Itukan hanya ada di dirimu. Dan aku,
baikbaik saja tuh!" katamu dulu.
tentang hormonhormon yang sama sekali
tidak bisa kutransfer ke rekening milikmu.
Hanya mengendap dalam benakku, busuk.
Kuharap bisa merubahnya kedalam mantramantra sakti
tapi katakata hanyalah kepasrahan tanpa nada
ia ada karena kau ada.
Tanpamu, dirinya mati.
Laksana menawarkan Hamlet pada seekor keledai
"to be, or not to be!"
Apa itu? Makanan?

Jadi, sekali lagi kutawarkan pada Tuhan
untuk membacakannya buatmu.
Puisipuisi yang tak pernah keluar dari ujung jariku
yang tak pernah mampu kusampaikan padamu.
Puisipuisi tanpa kata, tanpa nada
tanpa ekspresi, tanpa intonasi.
Puisi yang lahir dalam diam
yang berbicara dalam diam
yang menyampaikan pesannya dalam diam.
Ketika katakata tak lagi meresap
tumpul dia dalam lautan keabaian
mungkin hanya anti-kata yang bermain.
Sama seperti diammu,
diamNya
dan diamku.
Suasana yang selalu kau temukan di setiap pagi:
hening.

Putih

aku memandanginya dengan wajah terbuka
bukan siang yang merayap
atau malam yang malumalu tersipu
dalam tumpuan putih yang menggelayut manja
satin meraba sekujur badan
berhias mutiara, wajahnya tersenyum

katakan sayang arti potongan rambut
lurus tergerai, pendek, dengan leher berjenjang
akankah itu pesan terpendam yang tak pernah tuntas
akan jiwa yang terkurung di menara gading
kesempurnaan, kesempurnaan, ah betapa bencinya kau
dengan kata itu

seperti ketika kukatakan dirimu, "cemen!"
tersenyum lebar hendak berkata,
Semoga itu aku! Semoga itu aku!
Penghormatan katamu, atau bunuh diri intelektual?
"aku tidak pintar
aku tidak cerdas"
dan, aku memang tidak pantas menyandang dua kata itu

kata-kata yang ditorehkan leluhur dalam darahmu
dalam capaian-capaian langit yang tinggi
mengawang jauh keselasar kesadaran
yang kemudian hinggap dalam dua kata terakhir
tentang ketinggian dan kebesaran
arti namamu.
sayang sekali jika mesin pencari tidak tahu

Maka kau pilih kata yang lain
yang lebih menjejak,
yang menyerupai warna yang kini membalut tubuhmu
mengingatkanku akan sekuntum aster
dengan kelopak-kelopak putih
segaris, selurus, pakaianmu.
kesederhanaan

tapi aster tidak putih
bahkan jika demikian, selalu ada jejak mentari di dirinya
sama seperti kamu
meski cipratan air membawa warnawarna sinar itu menjadi putih
dalam bingkai mata yang mengabur
kau tetap bercahaya

Katakan, kenapa kumenyukaimu?
Jangan diam, atau mengalihkan perhentian
soal ketidakjelasan dan tiga nama yang muncul kemudian
apakah itu kebetualan?
Kau tahu artinya?
ah, bahkan jika kau tahu kau takkan memberitahuku bukan
Jadi, itu memang bukan masalahnya
sama seperti hari-hari yang lain
saat kau berlari tanpa pesan
"aku takut"
bukan soal itu bukan?
Jadi katakan, kenapa kau menyukaiku?

tentang kisah yang terpenggal
dan waktu yang sebatas berlalu
berusaha menyendiri dalam diam
tanpa kata, tanpa cerita
hanya lautan menit yang berkisah
dalam ingatan-ingatan yang tersisa
di kepalaku tentang dirimu
dalam keheningan yang menggoda
wajah wajah buku yang berdiri tanpa dosa
estetika modern tentang kehalusan dan kesombongan
meja tebal berpoles kayu
atau ruang makan yang bercerita tentang kita

"aku takut"
luka itu mengeluarkan merah
membasahi putih bajuku
luka yang belum sembuh dalam ingatan masa lalu
meninggalkan kotor di atas kebersihan yang kau damba.

Kukatakan,
bilakah putih menjadi putih di atas tanah ini?
yang penuh debu, noda, dan peluh
kecuali jika kau kembali ke langit sana
yang penuh dengan kesempurnaan yang kau benci.
atau memang dirimu tidak sesederhana yang kau katakan
serumit membersihkan noda di atas kain putih.
maka potongan rambut itu
dan nyanyian-nyanyian aneh yang kau suka
hanyalah tangga Escher
yang menuntunmu kebawah
padahal kakimu naik keatas

aku memandanginya dengan wajah terbuka
sekilas ia bercerita tentang waktu
sekilas ia memantulkan diriku dari pancaran matanya
sekilas ia tersenyum
sekilas aku mengungkapkan, betapa
aku menyukainya.

Mati

Apa yang lebih nikmat daripada kematian?
Aku berpikir tentang mati
ketiadaan, tanpa kesadaran
tertutup tanah yang menimbun
terurai bersama mineral-mineral yang menyelimuti
meresap bersama luruhan air hujan
kembali keasal

saat kau percaya ada Tuhan di sana
yang berjanji akan dunia yang berbeda
kau akan melihat kematian sebagai sebuah gerbang
yang membuka tangannya menerimamu
menyambut dengan sukacita
senyum wajah Tuhan?

Wajah yang barangkali tidak mungkin kau lupakan
bahkan bila ribuan kekasih memelukmu
ia adalah genetika masa lalumu
yang diturunkan melalui beribu generasi
yang lebih dahulu mati
terurai kedalam bumi.

Tiada jejak, hanya rekam perbuatan
yang tersimpan dalam memori zaman
tentang laku dan perilaku
serta kebodohan dan kepongahan
yang lalu tercerai saat napas terakhir itu melunglai
terkesima dirimu, dunia apa ini?

Dan waktu, yang bayangnya menyempit
membangkitkan tubuh-tubuh kotor dari kubur
pengadilan agung, miliaran jiwa
apakah ini kematian?
Jika iya, kenapa aku sadar bahwa aku telah mati
deja vu atau bukan
barangkali hanya artefak-artefak mimpi
yang tersisa di dinding otakmu
yang menyeruak sementara dalam ketidaksadaran
tapi kenyataan,
yang panas membakar, ada rasa sakit!

Tidak seperti sakit yang membuatmu mati
kemurungan, rasa bersalah, banjir bandang ingatan
bagaimana bisa!
Lalu kau merindu pada kehidupan,
dan memang kau hidup
untuk kali kedua
tapi tetap kau merindu kematian
jika saja, andaikata,
bukan horor yang kaudapatkan di atas padang tandus
ini

Aku rindu kematian
kematian yang membawaku pada kehidupan
meski hanya sesaat
atau keabadian di mulut surga
Kumerindu wajahMu
ah, seandainya Kau mau memperlihatkannya saat kuhidup
di wajahnya
entah apa mungkin kan kurindu kematian
meski ia pasti datang
dalam persinggahannya yang tanpa lelah
ia pasti datang.

Cinta, Al-Quran & Sains (2)

Jadi, apa yang terjadi saat kita jatuh cinta? Otak secara teratur melepaskan sejumlah hormon seperti Feromon, Dopamin, Norepinefrin dan Serotonin ke seluruh tubuh. Di jantung, kimia tubuh ini meningkatkan heart rate yang membuat dada kita berdebar-debar. Sedang di kepala, keinginan untuk makan dan tidur pun perlahan-lahan mulai hilang, berganti dengan rasa rindu memikirkan orang yang kita cinta.

Hormon-hormon lain, macam Oksitosin dan Vasopresin membuat kita merasa dekat dengan orang yang kita cinta. Seandainya orang tersebut hadir dihadapan kita, kedua hormon ini langsung mengalir memberikan stimulus rasa tenang dan nyaman. Stimulus ini memberikan efek ketagihan, yang membuat kita merasa merana dan kosong tatkala efek dari hormon ini menghilang. Sayangnya, tidak ada yang mampu memicu kemunculan hormon ini kecuali kehadiran orang atau objek yang kita cintai. Otak kita dengan demikian telah terkondisikan dan belajar untuk mengatributkan kehadiran orang yang cinta dengan kehadiran rasa nyaman dan tenang. Hormon terakhir yang juga bekerja saat seseorang jatuh cinta adalah hormon seks, Testosteron dan Estrogen. Hormon inilah yang membuat kita terangsang dan merasa lebih siap untuk terlibat dalam tindak seksual.

Dari ketiga model hormon yang bekerja saat seseorang jatuh cinta ini, Helen Fisher (seorang antropolog evolusionis yang mendidikasian waktunya selama lebih dari 30 tahun untuk mempelajari kata cinta) mendefinisikan tiga tahapan cinta yang saling tumpang tindih: hasrat, ketertarikan, dan keterikatan. Tahap pertama, yakni hasrat, adalah keinginan untuk berpasangan dengan seseorang. Pada tahap ini, hormon yang bekerja adalah hormon seks yang hanya mampu bertahan dalam hitungan minggu dan bulan saja. Di tahap berikutnya, ketertarikan, hormon yang bekerja adalah kimia tubuh yang membuat jantung kita berdebar-debar dan kehilangan nafsu makan. Ia berlangsung lebih lama dari tahap pertama, dan efeknya mampu membekas dalam diri kita antara 1,5 hingga 3 tahun. Tahap ini juga dikenal sebagai awal tahap cinta romantik yang intens.

Yang terpanjang dari tiga tahapan cinta tersebut adalah tahap keterikatan, yang terkait secara langsung dengan hormon Oksitosin dan Vasopresin. Tahap inilah yang menurut Fisher menjadi dasar dari hubungan cinta jangka panjang macam pernikahan atau hubungan orang tua dengan anak-anak mereka, kerena efek yang membekas bisa berlangsung hingga puluhan tahun. Apabila tahap keterikatan merupakan tahapan cinta yang paling panjang, maka tahapan cinta yang paling kuat terjadi pada tahap cinta romantik. Orang yang ditolak cinta romantiknya, lebih mungkin terkena depresi bahkan melakukan tindak bunuh diri daripada orang yang ditolak berhubungan seksual. Fakta ini menunjukkan betapa kuat pengaruh dari tahapan cinta kedua tersebut.

Well,  sepertinya kita harus mengakui bahwa pada awalnya semua yang kita artikan sebagai cinta tak lain adalah reaksi kimia tubuh belaka yang secara subjektif terjadi dalam diri kita. Ia hanyalah kondisi eksklusif yang tidak ada hubungannya dengan orang lain, sehingga hanya kita seorang yang merasakannya. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, apakah memang demikian yang disebut dengan cinta? Bisakah definisi cinta Fisher membedakan sebuah cinta yang bertepuk sebelah tangan dengan cinta yang terjawab? Bukankah cinta adalah kesatuan kerja antara dua manusia, dan bukan fenomena tunggal? Untuk menjawab hal ini, kita berpaling kepada psikologi dalam mendefinisikan macam-macam cinta.

Salah satu teori yang paling terkenal tentang macam-macam cinta adalah teori segitiga cinta yang digagas oleh psikolog Robert Sternberg. Berbeda dari Fisher yang memfokuskan diri pada aspek neuro-hormonal, Sternberg mengkaji cinta dalam konteks hubungan interpersonal. Menurut Sternberg, cinta memiliki tiga komponen yang saling terkait yang bernama: keintiman, hasrat, dan komitmen. Keintiman adalah kondisi yang membuat seseorang merasa terkait, dekat, dan terhubung dengan orang yang ia cinta. Ia mengikat dua orang untuk saling berbagi rahasia yang tidak akan ia ungkapkan selain kepada orang yang benar-benar intim dengannya.

Hasrat, sebagaimana Fisher, juga diartikan sebagai ketertarikan seksual kepada seseorang. Sedangkan komitmen, adalah keputusan untuk menetap dan berbagi pencapaian serta rencana dengan orang yang kita cinta. Ketiadaan tiga unsur cinta ini oleh Sternberg dinamakan sebagai kondisi tidak ada cinta. kondisi tersebut berlawanan dengan Cinta Sempurna yang merupakan kondisi ideal dari sebuah cinta, yang menurutnya berlangsung singkat dan sangat susah dipertahankan dalam jangka panjang. Jika demikian, jenis-jenis cinta apa yang mungkin terjadi dalam sebuah hubungan?

Sternberg mengemukakan 6 jenis cinta berdasarkan ada tidaknya ketiga komponen cinta tadi dalam sebuah hubungan:
  1. Persahabatan. Dalam persahabatan, komponen utama yang muncul adalah keintiman, sedangkan 2 komponen cinta lainnya tidak hadir. Dalam persahabatan, kita tidak merasa tertarik untuk berhubungan seksual kepada orang yang kita intimi, tidak juga tertarik membangun sebuah komitmen bersama.
  2. Birahi. Dalam birahi, komponen utama yang hadir adalah hasrat, sedangkan keintiman dan komitmen absen didalamnya.
  3. Cinta Kosong. Adalah cinta yang hanya bersandar pada komitmen semata. Cinta jenis ini biasanya hadir dalam pernikahan yang berlangsung begitu lama sehingga setiap pasangan sama-sama telah kehilangan keintiman dan hasrat.
  4. Cinta Romantik. Berbeda dari Fisher, cinta romantik dalam definisi Stenberg adalah cinta yang berdiri atas dasar keintiman dan hasrat, serta tidak memiliki komitmen sama sekali. 
  5. Cinta Kesetiakawanan. Yakni cinta yang hadir didalamnya unsur keintiman dan komitmen, tapi bukan hasrat. Cinta jenis ini biasanya hadir antar sesama anggota keluarga atau antara dua orang sahabat dekat yang tumbuh dalam diri masing-masing sebuah cinta platonik.
  6. Cinta Dungu. Adalah cinta tanpa kehadiran unsur keintiman. Cinta jenis ini mudah sekali goyah dan berakhir dalam perceraian.
Sebagaimana psikologi modern yang sangat tergantung kepada matriks kuantitatif dan bukan kualitatif, maka tidak ada yang benar-benar tahu pada level apa atau jenis cinta yang mana hubungan kita dengan orang yang kita cinta berada. Bahkan apabila kita sudah yakin sekalipun, selalu saja ada perubahan dalam setiap indikator dari hari kehari, sehingga diperlukan nilai median yang bisa dipercaya, atau kembali kepada perasaan kita masing-masing. Pada cinta jenis apa kita menyukai seseorang?

Cinta, Al-Quran & Sains (1)

Aku bertanya kepada Tuhan tentang arti cinta. Dia hanya dapat berkata, "Wahai Rasul, katakan kepada orang-orang Mukmin, "Apabila kalian lebih mencintai bapak, anak, saudara, istri, kerabat serta harta yang telah kalian dapatkan, juga perdagangan yang kalian takuti kerugiannya serta rumah yang kalian pakai untuk beristirahat dan bertempat tinggal daripada Allah, Rasul- Nya dan berjihad di jalan-Nya, sampai-sampai itu semua lebih menyibukkan kalian daripada menolong Rasul, maka tunggulah sampai Allah menjatuhkan keputusan dan hukuman-Nya atas kalian. Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang keluar dari batas-batas agama-Nya." (Q. 9:24).

Kata ahabba yang diterjemahkan dengan term "lebih mencintai" di ayat tadi, merupakan bentuk superlatif dari kata hubb, yang secara sederhana dapat diartikan menyukai. Kata hubb sendiri adalah sebuah kata generik yang sangat banyak digunakan dalam Al-Quran untuk menggambarkan kesukaan manusia entah kepada Tuhan, keluarga, harta benda, serta kebiasaan dan tindakan tertentu. karena merupakan kosa kata generik, hubb tidak serta merta dapat kita samakan dengan kata cinta, terlebih jika kita menggunakan istilah ini secara khusus kepada eros. Jika demikian, dengan kata apa sebenarnya kita memaknai cinta dalam al-Quran?

Ada beberapa kosa kata lain dalam Al-Quran selain hubb yang dapat kita terjemahkan sebagai cinta. Saya akan memulai dari kata yang sudah sangat terkenal, mawaddah. Kata ini kerap kita temui dalam setiap hajatan pernikahan, dan akan kita temukan ekspresinya yang metafisis di ayat 30:21 "Dan di antara tanda-tandaNya adalah bahwa Dia menciptakan bagi kalian, kaum laki-laki, istri-istri yang berasal dari jenis kalian untuk kalian cintai (sakan). Dia menjadikan kasih sayang antara kalian dan mereka. Sesungguhnya di dalam hal itu semua terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir tentang ciptaan Allah. "

Sebagaimana kata hubb yang memiliki medan semantik yang sangat luas, kata mawaddah yang diartikan sebagai kasih sayang dalam ayat di atas, juga tidak digunakan secara eksklusif untuk memaknai hubungan cinta seseorang dengan pasangannya. Kata mawaddah dalam Al-Quran bahkan digunakan dalam konteks hubungan sosial antara sesama umat muslim, atau dengan umat beragama lainnya, membuat kata tersebut lebih dekat maknanya dengan kata toleransi dan sikap kasih sayang antar sesama manusia, humanisme, daripada cinta dalam budaya modern.  Sehingga, atribusi sejajar antara kata cinta yang mengandung eros tidak berhasil kita sematkan dalam kata mawaddah yang menampakkan keluhuran.

Apabila kita simak kembali ayat 30:21 diatas, maka kita akan menemukan sebuah kejanggalan penterjemahan. Yang saya maksud adalah menyamakan term litaskunu ilayhi dengan kalimat "untuk kalian cintai".  Kata kerja sakana yang menjadi akar term tadi, sebenarnya lebih tepat diartikan sebagai "tinggal bersamanya" atau "tenang bersamanya". Tapi penerjemahan sakinah sebagai cinta dalam terjemahan diatas juga tidak sepenuhnya salah, karena salah satu manifestasi dari cinta adalah ketenangan, meski tidak semua "ketenangan" dapat kita artikan sebagai cinta. Yang membuat ayat ini menarik, kita menemukan ekspresi ketiga dari kata cinta dalam Al-Quran yaitu sakinah.

Kata sakinah secara diakronik bukanlah term khas Al-Quran. Kata ini bahkan digunakan dalam Bibles Ibrani dalam bentuk shekhinah yang berarti kehadiran Tuhan di muka bumi. Secara semantik, makna sakinah dan shekhinah memiliki beberapa kesamaan. Dalam Al-Quran kita menemukan ekspresi sakinah saat Rasulullah dan Abu Bakr berhasil lolos dari kejaran kaum Quraisy. Sebelumnya, kedua sahabat ini mengalami rasa cemas yang tinggi hingga kemudian Tuhan menenangkan keduanya dan dapat melanjutkan proses hijrah ke Madinah. Hal serupa bahkan kita temukan dalam adegan penemuan tabut, yang membuat bala tentara Yahudi merasa tenang dan percaya diri sehingga mampu memenangkan pertempuran. Dari kedua konteks diatas, kita dapat memahami bahwa ketenangan yang dihasilkan oleh sakinah adalah ketenangan yang membawa pencerahan, dan sangat berbeda dari cinta yang memabukkan dan membutakan pikiran.

Apa dengan demikian, kita tidak dapat mendefinisikan kata sakinah sebagai sebuah ekspresi kecintaan dalam Al-Quran? Sebelum menjawab hal tersebut, ada baiknya jika kita mencari tahu bagaimana Al-Quran mengekspresikan bentuk kecintaan yang sangat memabukkan lagi membutakan itu. Petunjuk akan hal ini dapat kita temukan jejaknya dalam kisah Yusuf dan kaum Luth. Tidak dapat dipungkiri, kisah Yusuf menjadi referensi paling luas dalam Al-Quran saat berusaha menjelaskan detil hidup yang penuh warna dan emosional. Terdapat banyak sekali kepentingan individu, ego, dari setiap tokoh yang terlibat. Ada rasa takut, hasrat, dan juga harapan. Diantara sekian ekspresi emosional, terdapat sebuah cuplikan ayat yang secara gamblang memotret hasrat seksual.
Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat petunjuk (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.(Q. 12:24)
 Ayat di atas memberikan gambaran kepada kita tentang intensi dan gairah yang dirasakan baik oleh Yusuf maupun istri Al-Aziz. Intensi ini tidak digambarkan secara vulgar oleh Al-Quran yang lebih memilih menggunakan kata kerja generik hamma yang berarti berkeinginan kuat untuk melakukan sesuatu. Karena tidak memberikan petunjuk apa-apa, maka kita membutuhkan penafsiran lain akan ayat tersebut. Ayat yang paling pas untuk menafsirkan ayat 24 tadi tak lain adalah kelanjutan dari kisah Yusuf yang tertera di ayat ke-30. Di ayat ini kita menemukan term baru yang sangat khas menggambarkan intensi mental istri Al-Aziz, syagafaha hubban.

kata syagaf seperti termaktub pada term diatas memiliki makna tersergap dan terkuasai secara tiba-tiba. Kata ini secara intrisik menggambarkan perasaan eros yang kuat pada seseorang atau sesuatu. Namun, sebagaimana term-term cinta sebelumnya, kata syagaf tidak mampu berdiri sendiri. Oleh Al-Quran ia dipasangkan secara paralel dengan kata generik kita yang pertama, hubb. Ya, kata hubb tampaknya telah tampil sebagai kata kunci utama Al-Quran dalam menggambarkan perasaan suka yang berada di dalam dada. Lalu, bagaimana Al-Quran menggambarkan sebuah tindak mencinta yang penuh dengan hasrat seksual? Jawaban akan hal tersebut terdapat dalam gambaran tentang kaum Luth.

Dalam Q. 7:81 kita mendapati teguran Tuhan yang sangat keras terhadap perilaku homoseksualitas kaum Luth. Al-Quran menggambarkan perbuatan keji mereka dalam sebuah kalimat interogatifa ta'tuna al-rijal syahwatan min duni al-nisa, yang dapat diartikan: "apakah kamu mendatangi syahwat kepada laki-laki bukannya perempuan?" Di sini, kata kunci utama yang sangat berperan adalah syahwat. Kata syahwat sendiri berarti gairah atau passion. Dalam Al-Quran ia selalu tampil dalam bentuk noun dan tidak pernah dalam bentuk verbal. Sehingga untuk menggambarkan sebuah keinginan atau tindakan yang dipenuhi oleh syahwat, Al-Quran senantiasa menggandengnya dengan kata lain, macam ata, yang berarti mendatangi, atau hubb yang berarti menyukai.

Salah satu ayat Al-Quran yang memuat relasi hubb al-syahawat ini adalah Q. 3:14 "Dijadikan indah pada manusia kesukaan (hubb) kepada syahawat (sing. syahwat), dari wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)." Yang menarik dari ayat ini adalah, syahwat tidak digunakan secara eksklusif dalam pengertian seksual, tapi meliputi segala jenis objek yang didefinsikan sebagai mata' atau kesengangan hidup manusia.

Sampai di sini, saya berkesimpulan bahwa ternyata kata cinta dalam arti hasrat dan gairah seksual, tidak mendapat definisinya yang memadai dalam Al-Quran. Semua kosa kata yang telah kita bahas, selalu memiliki relasi inklusif dengan bentuk emosi lain di luar kriteria cinta sebagaimana kita pahami.  Sehingga kita tidak menemukan satu pun kata yang secara eksklusif digunakan Al-Quran untuk menggambarkan dan mendefinisikan cinta. Dengan kata lain, cinta kepada perempuan sama umumnya dengan cinta kepada anak-anak, harta benda, dan kendaraan.

Hal lain yang juga patut kita perhatikan adalah posisi setiap objek tadi dihadapan syahwat dan hubb. Al-Quran selalu menempatkan mereka pada posisi sebagai objek tidak langsung dari kondisi mental tersebut.  Seperti pada kalimat "menyukai syahwat dari wanita", kata wanita di sini tidaklah menjadi objek langsung dari hubb, tapi menjadi objek sekunder dari kondisi mental bernama syahwat. Apabila kita ingin berspekulasi, maka kita dapat memahami bentuk Quranik ini sebagai pernyataan bahwa rasa cinta itu, suka atau tidak suka, pada awalnya adalah sebuah perasaan subjektif yang lahir dari sebuah kebutuhan naluriah dalam diri manusia. Apakah spekulasi ini benar? Satu-satunya cara untuk mengecek hal tersebut adalah dengan meneliti bagaimana pandangan sains modern terhadap cinta.

Membaca Surat Al-Jum'ah

Kata al-jum'ah yang menjadi judul dari surat ke-62 dalam al-Quran, merujuk secara literal kepada hari Jumat. Hari ini dalam tradisi Islam dikenal sebagai salah satu hari peribadatan, sebagaimana hari Sabtu bagi umat Yahudi, dan Ahad bagi umat Kristen. Sebagai hari peribadatan, yang ditandai dengan dijalankannya shalat Jumat berjamaah sebagai pengganti shalat zuhur, maka surat yang turun di Madinah ini dibuka dengan pernyataan singkat tentang puja dan puji yang dikumandangkan seluruh makhluk kepada Allah.

Allah sendiri, dalam ayat pertama digambarkan sebagai raja yang maha suci, perkasa, lagi bijaksana. Penegasan mengenai karakter Tuhan tersebut diimplementasikan pada ayat selanjutnya yang menjelaskan bahwa hanya Tuhanlah yang mampu menurunkan seorang rasul ditengah komunitas ummy, yang tidak memiliki tradisi kenabian. Kesalingterkaitan antara ayat pertama dan kedua ini, memunculkan pertanyaan dalam benak kita, kenapa Tuhan membuktikan kemahasucian, keperkasaan, dan kebijaksanaannya dengan mengirimkan seorang rasul ditengah-tengah komunitas ummy?

Petunjuk bagi pertanyaan ini dapat kita temukan dalam frase kedua ayat tersebut yang berbunyi, "...rasul yang membaca kepada mereka ayat-ayatNya, mensucikan diri mereka, sekaligus mengajarkan al-Kitab, hikmah, saat masyarakat tempat nabi tersebut diutus tengah berada dalam kesesatan yang nyata (Q. 62:2).  Tentu saja, frase kedua tersebut tidak akan dapat kita pahami sebagai jawaban atas pertanyaan sebelumnya. Bahkan, keberadaan ayat ketiga yang masih dapat dimasukkan sebagai anak kalimat dari ayat kedua, juga tidak menjelaskan secara utuh arti dari pengutusan rasul kepada sebuah komunitas ummiy Ia hanya memberikan penegasan tambahan, bahwa kenabian maupun kerasulan adalah manifestasi atas kemahakuasaan dan kebijaksanaan Tuhan.

Jika demikian, dengan cara apa kita memaknai pengutusan rasul di komunitas ummy ini sebagai manifestasi dari kemahasucian, keperkasaan dan kebijaksanaan Tuhan? Jawaban pertama akan hal tersebut tertera pada ayat keempat yang memaknai kerasulan sebagai sebuah karunia, fadhl, yang diberikan Tuhan kepada orang-orang yang Dia kehendaki. Dalam makna yang berdekatan, ayat keempat juga memberikan perspektif baru tentang karakter Tuhan, yakni Dia yang memiliki karunia lagi agung.

Term fadhl dalam surat al-Jumah sendiri memiliki dua bidang makna yang saling melengkapi. Di satu sisi, ia merujuk kepada kepada agama atau kondisi mental, sedang di sisi yang berbeda ia merujuk kepada rejeki, penghidupan, yang dapat kita rumuskan sebagai kondisi material dan fisik. Namun sebelum memahami makna kedua dari kata fadhl itu, ada baiknya kita pahami terlebih dahulu maknanya yang pertama.

Mereka yang belum terbiasa dengan gaya bahasa al-Quran yang seakan meloncat-loncat dan tidak memiliki kesatuan tema, tentu akan bertanya, kenapa tiba-tiba muncul sebuah sindiran terhadap umat beragama di luar Islam, tepat ketika kita hendak memahami arti dari fadhl? Jawaban yang paling mungkin atas pertanyaan ini adalah, Al-Quran hendak mengkontraskan antara dua tipologi masyarakat beragama. Masyarakat pertama adalah masyarakat Arab yang tidak memiliki tradisi kenabian sama sekali, sedang masyarakat kedua adalah masyarakat Yahudi yang dikenal luas selama berabad-abad memiliki tradisi kenabian yang sangat kuat.

Masyarakat pertama, sebagaimana telah kita ketahui dari ayat kedua, dikenal sebagai masyarakat yang mengalami revolusi mental yang sangat signifikan. Yakni masyarakat yang dahulu berjalan pada jalan yang sesat, tiba-tiba berubah 180' menjadi masyarakat yang tersucikan jiwanya dan melakukan kebajikan. Sedangkan masyarakat kedua, meski mereka telah memiliki sebuah kitab suci, Tawrat, yang dipelajari secara turun temurun ribuan tahun, ternyata tidak serta merta menjadikan mereka lebih baik dari masyarakat pertama tadi. Karena, meski telah memiliki kitab suci, tapi mereka tidak menganggapnya seabagai panduan yang harus ditaati. Al-Quran bahkan memberi perumpamaan masyarakat kedua ini seperti keledai yang hanya dapat mengangkat buku tapi tidak mampu memahami apalagi mengaplikasikan pengetahuan yang termaktub dalam buku-buku tersebut.

Perumpamaan mengenai keledai yang tercantum di ayat kelima tadi, diperjelas kembali di ayat berikutnya yang memuat kesombongan orang Yahudi yang merasa sebagai bangsa terpilih. Al-Quran dengan hati-hati merumuskan tuduhan tersebut dengan merujuk kepada klaim masyarakat Yahudi yang menganggap komunitas mereka sebagai komunitas yang mewakili kehendak Tuhan di muka bumi ini, awliya Allah. Akan klaim yang tidak memiliki dasar kebenaran yang valid itu, Al-Quran memberikan argumentasi logis yang sangat menarik.

Mari kita anggap sebuah komunitas adalah wakil Tuhan, jika dan hanya jika komunitas itu memahami arti penting dari realitas kehidupan di dunia Dibandingkan dengan kehidupan di akhirat, kehidupan dunia tidak lebih dari sebuah fatamorgana yang penuh kepalsuan. Mereka yang memahami makna ini, tentu akan berpikir bahwa tidak ada gunanya mengejar kenikmatan hidup di dunia, karena apa yang kita kejar itu bukanlah sesuatu yang nyata. Ia hanyalah kepalsuan yang tidak dapat memberikan kepuasan sama sekali. Jika demikian, maka buat apa manusia hidup? Tentu akan lebih baik jika tidak ada kehidupan di dunia ini, karena memang tidak ada gunanya. Makna yang tersirat dari kesia-siaan hidup di dunia ini, hanya dapat dipahami oleh mereka yang menganggap dirinya sebagai wakil Tuhan di muka bumi. Oleh sebab itu sudah sewajarnyalah masyarakat Yahudi yang menganggap dirinya sebagai wakil Tuhan untuk meminta kebinasaan, karena bukankah itu jawaban paling logis atas fatamorgana dunia.

Rasionalisasi atas realitas hidup ini, rupanya tidak dianggap serius oleh komunitas Yahudi. Alih-alih memohon agar Tuhan segera mencabut nyawa mereka, justru masyarakat beragama ini berusaha agar tidak segera mati dan terus menikmati kesenangan duniawi. Kemunafikan kaum Yahudi tersebut oleh Al-Quran dikategorikan sebagai sebuah perbuatan yang zalim, yang tidak pantas untuk diikuti. Seraya menegaskan bahwa, setiap manusia pasti akan mati dan akan ditimbang perbuatannya selama di dunia pada hari akhir nanti. Jadi buat apa menyombongkan diri dengan kebenaran yang sudah jelas itu?

Pandangan ekstrim tentang kefatamorganaan dunia yang muncul pada agama Yahudi membuat persepsi mereka tentang agama menjadi ambivalen. Muncul ketidaksinkronan antara apa yang harus dan apa yang sebenarnya ada dalam pikiran mereka. Cara keberagamaan yang tidak wajar ini jelas tidak sehat, dan harus dijauhi. Pada titik inilah, keberagamaan masyarakat ummi yang baru dibentuk oleh Tuhan muncul sebagai sebuah karunia yang harus disyukuri. Ia memberikan kita contoh bagaimana beragama yang semestinya, tanpa harus terjebak oleh simbol-simbol agama yang menipu. Bahwa tidak ada satu orang pun yang merasa lebih berhak atas Tuhan dibanding orang lain. Bahwa agama adalah soal etika, praktik dan perbuatan, serta bukan klaim politik apalagi kekuasaan.

Karakter keberagamaan Islam sebagai sebuah fadhl, atau karunia Tuhan, diperkuat maknanya pada ayat ke-9 dan 10 yang menjadi inti dari surat al-Jum'ah, sekaligus memberikan pemahaman baru kepada kita tentang arti kata fadhl yang kedua.
Wahai orang-orang beriman, jika kalian telah dipanggil untuk shalat Jumat maka bersegeralah mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Apa yang diperintahkan itu lebih bermanfaat bagi kalian jika kalian mengetahuinya.

Apabila kalian telah melakukan salat, maka bertebaranlah untuk berbagai kepentingan. Carilah karunia (
fadhl) Allah dan berzikirlah kepada-Nya banyak-banyak, dalam hati maupun dan dengan ucapan. Mudah-mudahan kalian beruntung. (Q. 62:9-10)
Sangat menarik jika kita membandingkan visi Al-Quran atas hari Jumat dengan visi penganut agama lainnya tentang hari utama mereka. Sebagaimana kita ketahui, baik umat Yahudi maupun Kristen, sama-sama menganggap hari besar mereka, yakni Sabtu dan Minggu sebagai hari yang hanya dikhususkan untuk beribadah semata. Pada kedua hari tersebut, masing-masing komunitas meliburkan diri dari kegiatan duniawi dan hanya berfokus kepada kegiatan beribadah semata, baik di sinagoga maupun di gereja. Bagi Al-Quran, hari utama umat Islam berbeda dengan hari utama umat Yahudi dan Kristen--bukanlah sebuah hari yang dikhususkan untuk libur.

Frase pertama ayat 9 yang mencantumkan nasehat untuk meninggalkan kegiatan perekonomian saat azan zuhur berkumandang, memberikan petunjuk kepada kita akan ketiadaan fungsi beristirahat pada hari Jumat. Dalam kasus ini, hari jumat sama seperti hari-hari lainnya yang diisi oleh kegiatan mencari penghidupan. Perbedaan satu-satunya hanya ada dalam bentuk ibadah shalat Jumat berjamaah, yang berlangsung singkat dan tidak mengambil jatah seharian penuh. Bentuk keagamaan yang sangat praktis inilah yang menjadi karunia bagi umat Islam. Mereka tidak kehilangan semangat religiusitas, juga tidak sepenuhnya tercerap kedalam remeh temeh hidup sehari-hari. Karena bagaimanapun juga, keuntungan yang didapat dari kegiatan perekonomian, serta bekerja, dapat dikategorikan sebagai fadhl dari Tuhan, sebagaimana keberagamaan itu sendiri yang merupakan karunia dariNya.

Meski demikian, tidak selamanya keseimbangan "dunia-akhirat" ini berjalan langgeng. Ada beberapa kasus dimana umat Islam lebih condong kepada urusan dunia daripada akhirat. Contoh yang paling utama ketika Rasulullah SAW ditinggalkan sahabat-sahabatnya saat tengah khutbah Jumat, hanya karena ada kesempatan jual beli yang sangat sayang untuk ditinggalkan. Perilaku tersebut kemudian disindir oleh Al-Quran di ayat terakhir surat Al-Jum'ah, seraya menegaskan bahwa meski keuntungan yang diperoleh dari perdagangan tersebut adalah karunia dari Tuhan, tapi tindakan beribadah dengan mendengarkan khutbah Jumat jauh lebih baik. Bukankah Tuhan yang yang memberi kita rejeki, maka kenapa tidak kita patuhi perintahnya?

Dalam maknanya yang terluas, surat al-Jum'ah memberikan kepada kita visi tentang masyarakat baru yang mampu menyeimbangkan kehidupan sekuler dan agama. Masyarakat baru ini bukanlah masyarakat yang terjebak dalam simbol-simbol keberagamaan, tapi masyarakat progresif yang mampu bergelut dengan kehidupan dunia, tapi tidak terlena olehnya. Progresifitas masyarakat baru ini, tidak akan mungkin terjadi seandainya pola keberagamaan mereka tidak dirubah. Dari yang berbasis keagamaan simbolik, menjadi keberagamaan yang berorientasi praktis-etik. Selain itu, keberhasilan masyarakat baru dengan pola keberagamaan yang progresif ini jelas merupakan campur tangan Tuhan, yang melaluinya membuktikan kepada kita kemahkuasaan, kesucian, dan kebijaksanaan-Nya di muka bumi ini.

Wa Allah a'lam bi al-shawwab

Warna

Kuning dan ceria
senyum dan bahagia
aku berpikir tentang keduanya
ceria dan bahagia.

Dalam bingkai mungil
dari balik sudut 45'
warna adalah kata
mimik adalah pesan

goresan tanah,
ranting dan dedaunan
yang jatuh terserak,
atau rengekan kera

hanyalah konteks yang menguap
pergi tak berduka
meninggalkan raut halus
yang semakin lama semakin nyata

sedang wajah itu,
dan senyum yang mengiringinya
melekat kuat dalam ingatan
sebagaimana kuning dan bahagia

Hati siapa yang kau tutupi.
Dalam kerapuhan nan retak
reruntuhan harapan
yang kau bangun lalu hancur?

Jelaga yang tergores dalam
yang masih bisa kau lihat jejaknya
bahkan setelah ribuan polesan
senyuman dan senyuman

Bisakah jarak ribuan mil
yang berkisah tentang birunya laut
pasir putih di pantai
aroma hutan dan pesisir

mengoles luka itu
dengan warna-warni baru
yang bukan kuning yang bukan putih
warna lain yang belum ada padamu

yang berkata tentang
keindahan, senyuman
kebahagiaan
dan kejujuran

yang membangun kembali batu bata jiwa
mengairi lagi ladang-ladang harapan
tunas baru nan hijau
dedaunan mungil yang siap berfotosintesis

dan desahan angin
yang tidak ribut, lagi tenang
menemaninya tanpa lelah
menghela tanpa perdaya

hijau di sini
tumbuh bersama klorofil
mensintesis kuning menjadi putih
melahirkan manis

Aku masih melihat wajah itu
yang terpampang jelas
di depan wajahku
ia tersenyum
bahagia.

Klise

Darimana datangnya cinta? Apakah bisa kita menamakan hasrat untuk memiliki sesuatu sebagai asal-usul dari cinta? Bukankah menyamakan cinta dengan kepemilikan itu sebagai sesuatu yang egois. Seperti mengatakan, aku ingin baju itu karena baju itu cantik. Dan aku ingin memilikinya karena aku ingin ia menjadi bajuku. Maka cinta pun sinonim dengan kepemilikan.

Tapi bukankah orang yang saling mencintai itu merasa saling memiliki satu sama lainnya. Tatkala kamu melihat orang yang kamu cintai membutuhkan sesuatu, maka dengan senang hati pula kau akan membantunya, bahkan tanpa harus diminta. Ekspresi kepemilikan dengan demikian terletak pada keinginan untuk menjaga. Jika kembali kepada baju, mungkin kesadaran tersebut sangat mirip dengan sikap kita dalam merawat baju tersebut. Mencucinya jika kotor, mensetrikanya agar rapih, dan menyimpannya dengan tepat agar tidak dirusak serangga. Dan ketika saatnya tiba, kau akan memakai baju itu dengan bangga dihadapan semua orang.

Benarkah itu? Lalu apa yang akan dikatakan oleh baju kepadamu? Apakah ia merasa senang diperlakukan seperti itu? Seandainya ia bisa bicara, apakah ia akan berterima kasih atas caramu memperlakukannya. Mungkin ia ingin tampil lecek, agak longgar dan memberimu kenyamanan daripada kepantasan. Tapi apa yang bisa dilakukan oleh baju. Kalau kau mencintaiku, kenapa kau tutup mulutku. Menyandera keinginan dan hasratku, lalu mengatakan hasratmu sebagai satu-satunya hasrat yang pantas untuk ditampilkan.

Untungnya, cinta kita pada seseorang tidak mirip dengan cinta kita terhadap baju, walaupun terkadang cara kita memperlakukannya sama seperti cara kita memperlakukan barang yang kita punyai. Kita mempersepsi orang yang kita cinta dalam perspektif dan pola pikir kita semata. Kita membuat mereka yang kita cintai laksana objek, dan menjadikan cinta laksana aturan-aturan yang mengikat, yang hanya menguntungkan kita semata. Itukah cinta? Bagaimana jika kita mengatakan, aku mencintai kamu dan dengan begitu aku hanya ingin melihatmu bahagia, entah dengan cara apa kebahagiaan itu datang, dan dalam kondisi apa ia berlaku.

Mungkin terdengar klise. Mungkin juga agak menyedihkan. Ketika cinta tidak serta merta tumbuh di antara kedua pihak. Jika ia hanya menghampiri yang satu, dan meninggalkan yang lain. Membuat gundah yang satu dan membuat yang lain bingung, terbengong-bengong, atau bahkan tersinggung. Bisakah kita menggunakan ke-klise-an tadi untuk kondisi seperti ini, atau malah berlalu pergi dengan patah hati, meninggalkan segala yang kau bangun terbengkalai, karat kemudian lapuk?

Ah, aku tidak tahu darimana datangnya cinta atau apa itu cinta, tapi jika ia datang kembali, bisakah kau dengan senang hati singgah diujung sana. Memberitahu yang satu dan menghampiri yang lain, karena bangunanku masih utuh berdiri hingga nanti.